kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Komorebi

“Semua itu bisa tampak oleh mata, karena tertimpa cahaya, lalu mereka memantulkannya, seringkali mengurungnya di dalam balok.”


Oleh Herman Attaqi

Empat tahun kurang empat bulan saya tak pernah lagi bangun pagi dengan menyingkap jendela dan menggeser kain gorden. Memberi laluan kepada sinar mentari menerobos ruang yang ditinggal malam. Meskipun saban pagi adalah pagi yang begitu-begitu saja.

Saya membuka mata. Dan yang selalu teringat alih-alih menyingkap gorden dan jendela, kulit wajah tersengat. Pori-pori membuka diri oleh rangsangan yang hangat. Cahaya menyintas malam-malam yang kelelahan. Ia menyelusup melewati jeruji dengan lelanya. Ada balok-balok panjang dan transparan terbentuk dari cahaya itu. Di dalamnya saya lihat butiran debu melayang-layang berkejaran satu sama lain. Tapi, tak ada yang keluar dari balok itu. Mengapung tanpa tiupan angin yang berhembusan.

Butiran debu itu tak punya kekuatan sendiri untuk melayang dan turun memijakkan kakinya ke lantai. Ia tak memiliki kuasa terhadap cahaya matahari. Seluruh tubuhnya dan takdir bukan miliknya. Ia hanya titik-titik yang membentuk serat pada lukisan pointilism. Memanipulasi mata manusia yang tak sensitif melihat kumpulan titik secara detil.

Begitu pula tidur saya yang renyap, barangkali debu di dalam kotak cahaya pun sama, merodan raga lalu titik-titik berterbangan itu adalah caranya memperbaiki urat syaraf yang rusak. Ia mesti melayang mencari kehangatan, bangkit bagai serbuk sari baru dari pohon jambu di halaman depan kamar, mencari udara di waktu cahaya pagi jatuh menyentuh.

Tak ada yang menyukai kekerasan. Tapi, kita tumbuh dari tangannya, yang merajam hari-hari seekor induk betina burung gereja, yang mematuk biji-bijian dan bunga-bunga. Membawanya terbang ke sarang. Kepada cericit anak-anak menanti Ibu pulang. Ia mengolah kekerasan menjadi kelembutan dan memamah saripatinya kepada anak-anak burung gereja. Anak-anak itu melompat girang mengelilingi Ibunya. Di sanalah tempat paling nyaman, yang kelak membentuk kenangan paling menenangkan. Satu persatu anak-anak disuapi. Mereka berebutan masing-masing menanti gilirannya. Ketika sampai giliran, suapan Ibu adalah penyerahan piala. Kita, anak-anak yang juara dari satu suapan Ibu. Juara dari satu suapan Ibu berikutnya. Dan begitu selalu selagi Ibu kuat untuk terbang, dan hinggap di pokok pohon jambu, dan terbang rendah di antara rerumpun padi, mematok biji-biji, melompat-lompat dengan ringan dan membawanya pulang.

Saya masih berbaring dan sesekali memejam. Tercium aroma nasi goreng putih dengan taburan bawang goreng dan ikan teri. Tidak hanya aroma, derak renyah goreng bawang yang ditabur di atas sepinggan nasi goreng adalah suka cita. Begitu juga ikan teri yang dibelah dua, lalu digoreng hingga matang, dan mengkriuk bagai gesekan jendela ketika dibuka.

Saya begitu menyukai nuansa sungai yang tenang. Duduk di tepian dan di bawah sebatang pohon rindang. Alurnya kata-kata yang menderu-syahdu. Batangnya kokoh, dan daunnya rimbun ke hati dan menjulang ke bibir sungai. Sesuatu yang biasa nyatanya tersimpan kuat dalam ingatan. Ibu memasak dengan bumbu dan cara yang biasa saja. Tapi, nasi gorengnya abadi. Seperti sungai Batang Sosah di kampung dulu, tempat pertama kali belajar berenang dan menangkap ikan.

Saya, bukanlah anak burung gereja yang juara, ini hanya seorang anak lelaki malang yang semenjana. Dua kali ia hanyut terseret di arus sungai itu, barangkali sebagai syarat kurban dirinya untuk pandai mengayuh tangan dan mengapung. Menyeberangi sungai menuju rerumpun gelagah, penahan erosi, penjaga abrasi, meski ia tak mampu menahan limbah pabrik kelapa sawit yang menghitam. Gelagah punah, ingatan mengeras dalam endapan. Kebanggaan-kebanggaan saya tertinggal di sana, tak jauh dari makam Ibu yang sudah empat tahun tak lagi dikunjungi, menyusuri jalan setapak menurun, di bawahnya ada anak sungai sekarat dan hampir kering, di pinggir hutan pohon karet, suara-suara unggas yang mencari makan buat anak-anaknya, dan bau getah karet itu, semua kembali hadir dalam ingatan seperti jendela yang tak pernah lagi saya singkap.

Ingatan bagai ruang penjara yang gelap dan dingin, dan gerah di musim kemarau. Ia menjelma seekor anjing hamran yang terlelap di goa haizam. Seluruh kesadarannya adalah matahari yang tenggelam dalam satu malam, merapalkan mimpi-mimpi menjelang cahayanya kembali membentuk sebuah kotak persegi panjang, dengan butiran debu dan membangunkan saya yang lena. Nasi goreng Ibu, dimasak oleh dadanya yang lembut, tempat dulu saya tertidur dan terbangun. Bulir-bulir air yang jatuh dari sudut mata itu, ia bukan air mata, melainkan peluh sesudah lelah mengeluh. Ia juga debu yang lena, tanpa pegangan kecuali takdir yang mengapung tak berjejak.

Saya masih saja telentang di atas dipan. Dada menghadap ke loteng, dan mata menyamping mengikuti posisi diagonal cahaya matahari. Ada debu yang bertahan di jejaring yang menutupi jeruji. Ia tak ikut mengapung bersama butiran lainnya. Menempel ketat tubuhnya, kakinya menekuk tubuh yang menua di dalam kurungan besi, dan tangannya lekuk daun-daun kering, dan memeluk erat tiang jeruji. Bergumulan bersama yang lain bagai kumpulan tawanan yang ketakutan. Apakah ia telah mati? Tak punya jiwa, daya dan upaya, dan memegap-megap seperti waktu itu saya yang terseret di arus sungai. Debu yang malang, dan ia tak pandai mengapung. Begitu kelesahnya ia menikmati lemak-lemak tubuhnya dalam pancaran cahaya pagi, seperti gumpalan benang tergulung, yang lapuk dan tak menarik dijadikan kain model apapun, denyut-denyut nadi meraba udara, betapa kehangatan ada bersama sentuhan cahaya.

Kali ini saya berusaha duduk. Berselonjoran kaki dan juga kemalangan yang tak habis-habis. Kemalangan ini terlalu lama ditekuk, hingga sekujur kaki mengebas, lutut jadi sedikit nyeri, meski ia tak menyangga apa-apa. Ketiadaan seringkali membuat orang malah limbung. Manusia memang selalu begitu. Mereka terlalu banyak ingin, terlalu keras berjuang untuk keinginannya itu, dan setelah semuanya berhasil diraih, mereka malah seperti tak menginginkannya lagi, hingga semua luput, dan kehilangan membuat mereka masygul. Antara manusia dan takdir berkejar-kejaran bagai butiran-butiran debu. Kadangkala ia menempel di jeruji atau jendela. Seringkali ia terombang ambing dalam labirin cahaya. Bahkan saya tidak tahu pasti apa warna debu-debu ini. Apakah ia berwarna? Atau serupa bunglon yang senantiasa membentuk warna sesuai obyek tempelannya? Barangkali ini semua hanya sebentuk permainan pencahayaan belaka.

Saya jadi bertanya-tanya ——- dari setengah jam yang diperlukan memperhatikan debu, sembari berbaring, sekali-kali memicing, dan membuka katup mata kembali, lalu duduk, dan berselonjor kaki ——- apakah yang nyata itu? Atau sama sekali apa-apa itu sungguh hanya permainan belaka. Ruang dan waktu itu tidak ada. Hanya permainan cahaya. Sebentuk puisi The Last Toast-nya Nicanor Parra yang saya terjemahkan semalam;

Suka atau tidak, kita hanya punya tiga pilihan: kemarin, hari ini dan esok.

Dan, bahkan, bukan tiga. Karena para filsuf mengatakan, kemarin adalah kemarin, yang hanya ada dalam ingatan. Dari mawar yang sudah dipetik, tak ada lagi kelopak yang bisa diambil.

Kartu yang bisa dimainkan, tersisa dua: hari ini dan esok.

Dan, bahkan, bukanlah dua. Sebab kenyataannya, hari ini tidak sebenarnya ada. Ia akhirnya akan menjadi masa lalu, persis bagai masa muda.

Akhirnya, kita hanya disisakan dengan: esok. Aku angkat gelasku, untuk hari yang tak pernah datang.

Tapi itu yang kita miliki, sebagai satu-satunya pilihan.

Bukankah satu-satunya pilihan itu adalah pilihan bagi debu-debu? Baik yang menempel, maupun yang mengapung? Sedang cahaya adalah negara beserta perangkat-perangkat norma yang harus dihapal dan dirapal. Sejatinya semua adalah kegelapan belaka. Cahaya itu sumir, dan debu ringkus di dalam baloknya. Begitu pula malam-malam yang menekuk rapat kaki dan tangan membentuk pelukan Ibu bagi anaknya yang kesepian dan terpenjara di dalam melankolianya.

Seseorang pernah mengajarkan, alam ini pada awalnya adalah gelap gulita. Seperti segumpal hati yang hitam pekat. Sepasang mata kita, katanya lagi, dapat melihat sebutir debu, karena hadirnya cahaya. Tanpa cahaya, sesungguhnya segala sesuatu di alam ini gelap. Jeruji dan gorden itu gelap. Burung gereja itu gelap. Anak-anak burung gereja itu gelap. Pokok pohon jambu, biji-biji, bawang goreng, ikan teri, nasi goreng, sungai, rerumpun gelagah, limbah pabrik kelapa sawit, goa haizam, seekor anjing hamran, dan puisi-puisi semuanya gelap gulita. Semua itu bisa tampak oleh mata, karena tertimpa cahaya, lalu mereka memantulkannya, seringkali mengurungnya di dalam balok.

Pagi yang biasa saja. Saya bangkit dan menjerangi air panas, dan menyeduh secangkir kopi hitam. Saya mengambil sebatang rokok, dan dengan kesadaran seekor kucing, saya memantik korek api. Dalam rasa syukur yang lebur, saya menghisap rokok ini lamat-lamat, dalam gerakan pelan perlahan, sembari memandang ke luar jeruji.

Cahaya matahari menerpa pohon jambu. Dedaunnya bergoyang ritmis menggugurkan kata-kata yang lirih. Saya melihat ada puisi Subagio Sastrowardoyo di situ, di antara raut wajah Ibu, dan segala ingatan tentang makamnya, di sebelah makam Ayah:

adalah semua yang disebut bumi

dan udara terus bicara

sebab bicara tak pernah berhenti


Pada momen ketika cahaya menyentuh daun-daun itulah, saya menyandarkan pandangan dari balik jeruji, dan menghadapkannya ke dunia luar yang benderang. Saya berusaha untuk tidak menoleh ke dalam. Karena di dalam hanya ada gelap.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai