Prolog
Ada banyak petuah hidup yang boleh dijunjung, meskipun ada di antaranya yang sebaiknya tidak diterima begitu saja. Larangan untuk jangan mengutuk kegelapan, umpamanya, dan diteruskan dengan anjuran untuk menghidupkan sebatang lilin, kami kira tidak sepenuhnya benar begitu.
Sesuatu yang gelap, karena ia diabaikan dalam gelap, sementara lampu penerang itu justru berada di tangan pihak yang memberi anjuran, adalah salah satu kemungkinan jenis kekeliruan yang bisa terjadi. Dan kita tak perlu menghabiskan usia hidup untuk menguji semua kebenaran dari setiap petuah, sebab rentang umur tak cukup panjang untuk mengoreksi petuah demi petuah.
Di sisi lain, belajar dari koreksi dan kritik, akan jauh lebih manusiawi dibanding kita berselindung di balik apologi atas nama petuah. Sudut pandang manusia itu tidak satu, seperti selera makan, tak semua akan suka dengan lopek bugi, galopuong ondam atau buah nasi-nasi. Namun pada akhirnya, kita bisa belajar dari petuah, peninggalan masa lalu, warisan, bahkan pemikiran, ide dan gagasan, itu semua mewakili kita sebagai satu kolektif. Itulah yang menjadikan kebersamaan bernilai.
Liputan Khusus Kopi Travel Blog kali ini bersempena dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kampar, Riau yang ke-70 mengangkat topik Pariwisata, sebagai sebuah sudut pandang pemikiran dan diskusi. Kami juga mengangkat dua obyek wisata yang, sungguh, sangat indah dan mempesona. Beserta hasil wawancara dengan narasumber yang mewakili satu generasi muda yang kelak akan meninggalkan pula legacy mereka untuk negeri ini. Ada hal yang buruk, namun ada kemungkinan perkara baik yang tersembunyi di sana. Tidak untuk diterangkan dengan sebatang-dua batang lilin, tapi dijunjung tinggi sebagai kebanggaan bersama.
Gulamo, Eksotika yang Tersembunyi
Seorang wisatawan asal Perancis menamai obyek wisata Cukang Taneuh yang terletak di Desa Kertayasa, Ciamis, Jawa Barat dengan Green Canyon. Karena air sungai yang jernih kehijauan, dihiasi lumut hijau bertebaran di sisi tebingnya, telah membuat Green Canyon menjadi salah satu primadona wisata di Jawa Barat, bahkan terkenal hingga ke mancanegara.
Tidak salah bila Indonesia ini dianugerahi pesona alam yang luar biasa indahnya. Potensi besar negeri zamrud katulistiwa ini bila dikelola oleh tangan yang tepat, tentu akan memberi sumbangsih yang nyata bagi peningkatan perekonomian warga.
Dari Green Canyon di Jawa Barat, mari kita menyeberangi Selat Sunda, dan melintasi lautan dan gugusan pulau-pulau kecil hingga menuju ke Pulau Andalas. Syahdan, berdasarkan sumber penelitian dan bukti peninggalan sejarah, jauh di pelosok Sumatera, ada negeri yang telah meninggalkan jejak sejarahnya berupa Candi Muara Takus, yang sekarang berada di dalam wilayah Kabupaten Kampar, Riau. Tidak jauh dari Candi itu, ada sebuah obyek wisata yang mirip dan, tentu saja, tak kalah indahnya dengan Green Canyon, namanya Gulamo.

Gulamo, yang berlokasi di Desa Tanjung Alai, Kecamatan XIII Koto Kampar ini juga masuk ke dalam kawasan waduk PLTA Koto Panjang. Jika menggunakan kendaraan pribadi dari kota Pekanbaru, Anda akan membutuhkan waktu tempuh lebih kurang dua jam perjalanan. Bila di Green Canyon Anda akan menyusuri aliran sungai dengan menggunakan Ketinting, sejenis perahu modern dari kayu untuk sampai ke lokasi, begitu pula dengan petualangan menuju Gulamo.
Dari dermaga menuju Gulamo, Anda akan dibawa merasakan sensasi perjalanan dengan menaiki Pompong atau Ketinting dalam bahasa Sunda. Pompong akan membawa Anda menyusuri sungai. Sepanjang perjalanan nantinya Anda akan disuguhi oleh pemandangan pohon-pohon hijau menjulang di sepanjang tepi sungai. Jika beruntung, Anda bisa melihat beberapa satwa di sekitar sungai. Anda juga bisa menikmati air terjun yang turun dari sisi tebing.
Arman, Ketua Komunitas Peduli Wisata Alam Gulamo mengatakan bahwa Anda pasti akan takjub dengan keindahan alam yang ditawarkan oleh Gulamo. Gulamo ini seperti surga tersembunyi. Surga yang hanya kita temukan bila kita mau datang dan merasakan sendiri sebuah petualangan yang menakjubkan.
Jadi, lanjut Arman, jangan lupa menyiapkan kamera selama perjalanan menyusuri sungai. Bidiklah sudut-sudut indah yang sayang sekali bila tak terdokumentasikan. Dan, jangan lupa juga, siapkan plastik pelindung untuk barang-barang elektronik Anda, karena di Gulamo, Anda akan banyak berinteraksi dengan air. Bagi para wisatawan yang ingin berenang menikmati kesejukan dan kejernihan airnya, siapkan juga pakaian pengganti.
Untuk biaya ke lokasi obyek wisata Gulamo, wisatawan hanya mengeluarkan uang untuk sewa pompong sebesar 500 ribu rupiah dengan kapasitas 10 orang. Cukup murah, bukan? Dan Anda bisa merasakan suasana yang tenang dan jauh dari hingar bingar beban pekerjaan sehari-hari. Anda tertarik untuk datang ke Gulamo? Silahkan hubungi narasumber kami, Arman, via ponselnya di nomor 081378129265.

Sudah banyak wisatawan lokal yang berkunjung ke Gulamo ini. Bahkan, kata Arman, ada juga yang dari Malaysia dan Arab Saudi sengaja datang kemari menikmati nuansa alam Gulamo nan eksotik. Namun, kami sangat berharap kepada pemerintah daerah, untuk bisa membantu pengembangan obyek wisata ini agar lebih maju lagi, tukas Arman. Pembangunan sarana dan prasarana penunjang seperti dermaga, pompong, peralatan dan tenaga keselamatan, hingga mushola dan ruang ganti perlu dibantu oleh pemerintah daerah. Bahkan juga diperlukan pelatihan SDM yang memiliki wawasan untuk mengelola obyek wisata ini agar lebih profesional.
Air Terjun Batu Tilam, Menjaga Alam Menjaga Kearifan Lokal
Pandangan kita alihkan ke sudut lain dari negeri nan elok bernama Kabupaten Kampar ini, kabupaten yang pada hari ini (6/02/20) berulang tahun yang ke-70 tahun, yakni ke Desa Kebun Tinggi, Kecamatan Kampar Kiri Hulu.
Ada belasan, bahkan puluhan air terjun, beserta keunikan dan mitos yang terbangun di sana. Salah satu yang tertinggi adalah Air Terjun Batu Tilam, yang dikelilingi tebing batu, dan berada di tengah keheningan hutan perawan. Banyak satwa yang sudah amat jarang kita temui di hutan-hutan lain, namun di sini masih terpelihara bersama kearifan lokal masyarakatnya.
Tidak ada sinyal handphone, serta listrik desa hanya memakai tenaga mesin diesel dari jam 6 sore sampai jam 11 malam, membawa kita seakan berada di zaman di mana teknologi belum diciptakan. Ada ketenangan di situ, bagai penawar bagi barangsiapa yang kelesah hatinya, atau semacam pelarian atas tuntutan modernitas yang semakin banal.

Di Air Terjun Batu Tilam, terdapat sebuah goa, yang oleh masyarakat setempat dinamakan Goa Kelelawar. Saat hendak masuk ke dalam goa, Anda akan disambut oleh air terjun yang berjatuhan di mulut goa, dan indahnya, seperti membentuk sebuah tirai. Belum ada yang bisa mengukur secara pasti panjang goa tersebut.
Dari penuturan warga yang pernah selama dua hari dua malam menelusuri ke dalam, bahkan mereka tidak menemukan di mana ujung dari lobang perut bumi ini. Di dalam goa itu, tutur warga, ada sungai yang airnya jernih dan dingin. Menariknya lagi, di dalam goa tersebut, ditemukan lagi air terjun, yang semakin menambah daya pikat Goa Kelelawar itu. Namun itu belumlah lengkap, bila Anda belum melihat kumpulan awan di kaki goa pada waktu pagi hari. Dan ketika matahari merangkak naik, akan ada spektrum berwarna pelangi berpantulan di kejernihan air terjun.

Uki, atau yang lebih dikenal dengan UQ Tuah Mawlana Rumi, Penggagas dan Pegiat Wisata dari Kampar Promotion Community (KPC), menjelaskan bahwa ada dua akses jalan masuk ke Desa Tebing Tinggi, yakni kita bisa masuk dari Lipat Kain ke Batu Sasak dan bisa juga masuk dari Taram, Payakumbuh, Sumatera Barat. Semua kendaraan, khususnya mobil yang bisa masuk ke desa tersebut harus menggunakan double gardan, karena kondisi jalan yang masih berupa pengerasan dengan kontur berbukitan.
Dari kondisi obyektif di lapangan, kata Uki, tidak diragukan lagi jika Air Terjun Batu Tilam sangat menjanjikan untuk menjadi destinasi wisata yang mempesona. Tapi, apalah arti semua itu bila akses masuk ke Desa Tebing Tinggi masih sangat memprihatinkan. Kita berhadapan dengan minimnya infrastruktur penunjang, terutama jalan. Sedang untuk akomodasi dan lain-lainnya, kawan-kawan dari KPC bersama warga sedang menggarap area sekitar air terjun untuk menjadikannya sebagaimana layaknya sebuah destinasi wisata. Makanya untuk saat ini sampai nanti setelah launching di bulan Agustus 2020, kita belum memungut biaya apapun kepada wisatawan yang mau datang. Setelah launching, kita akan rembug dengan aparat desa, bumdes dan masyarakat adat tentang teknis pengelolaan obyek wisata ini, termasuk tentang kebijakan tarif masuk.

Uki juga berharap agar pemerintah daerah senantiasa memberi dukungan, baik pembangunan fisik maupun nonfisik kepada masyarakat Desa Kebun Tinggi dalam mengelola obyek wisata Air Terjun Batu Tilam secara lebih profesional.
“Kami, beserta masyarakat Desa Kebun Tinggi berharap bisa menyumbang bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sokonglah desa kami sesuai dengan khasanah alam semula jadi yang dengan teguh kami pertahankan ini. Kami akan jaga desa dan alam ini sebagai icon bagi Kabupaten Kampar, Tanah Peradaban, yang ramah terhadap alam,” tutup Uki.
Konsepsi Pariwisata yang Berpihak kepada Masyarakat
Ade Zainal Muttaqin di dalam artikelnya mengatakan bahwa penerapan konsep pembangunan berkelanjutan di sektor pariwisata dikenal dengan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan (Suistainable Tourism Development) yang pada intinya mengandung pengertian: pembangunan pariwisata yang tanggap terhadap minat wisatawan dan keterlibatan langsung dari masyarakat setempat dengan tetap menekankan upaya perlindungan dan pengelolaannya yang berorientasi jangka panjang. Upaya pengelolaan dan pengembangan sumber daya tersebut harus diarahkan dalam kerangka memenuhi aspek ekonomi, sosial dan estetika. Sekaligus dapat menjaga keutuhan, dan, atau kelestarian ekologi, keanekaragaman hayati, budaya, serta sistem kehidupan.
Lebih lanjut, Ade menjelaskan bahwa konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan tersebut, pada intinya menekankan pada empat aspek; Layak secara ekonomi (Economically Feasible), Berwawasan lingkungan (Environmentally Feasible), Dapat diterima secara sosial (Socially Acceptable), dan Dapat diterapkan secara teknologi (Technologically Appropriate).
Untuk membahas konsepsi tersebut dalam tataran praksis, kami mewawancarai Agus Sutawijaya, Chief Marketing Officer (CMO) PROdes.id, sebuah aplikasi yang mereka menyebutnya dengan etalase desa. Agus mengatakan bahwa kami membahasakan konsep ini dengan Community Base Tourism, yakni pariwisata berbasis masyarakat. Artinya, ada gerakan proaktif yang berasal dari masyarakat. Kami melihat geliat pariwisata, khususnya di Kampar, saat ini sedang menggebu-gebu. Masyarakat mulai sadar bahwa apa yang mereka miliki, ternyata memiliki nilai ekonomi. Hal itu bisa kita lihat dengan bermunculannya Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang mengelola obyek wisata lokal.
Namun, lanjut Agus, yang harus disadari adalah usaha wisata itu merupakan usaha ekonomi kreatif yang memerlukan inovasi dari waktu ke waktu. Di Kampar ini amat mudah untuk sekadar memunculkan obyek wisata baru, asalkan ia instagrammable, jadilah barang, tu. As simple as that. Yang sulit itu merawat yang sudah ada (maintainance). Ingat fenomena booming obyek wisata Ulu Kasok? Viral dalam sekejap, lalu meredup. Belajar dari fenomena itu, kami menilai harus ada sinergi dari semua stakeholder; masyarakat, pemerintah, pegiat pariwisata, media, dan termasuk kami sendiri di PROdes.id.
Gagasan PROdes.id itu ingin semua obyek wisata yang bermunculan ini semua bisa terhubung. Karena sebenarnya problem utama kita itu adalah pasar, yakni bagaimana menjual potensi wisata ini ke luar. Tujuannya adalah mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya dari luar untuk membelanjakan uangnya di tempat kita, menahannya selama mungkin untuk stay di sini dan menjual sebanyak mungkin potensi yang kita punya. Dari situlah baru kita bisa bicara nilai ekonomi. Bahwa orang bisa hidup dari pariwisata. Bayangkan saja jika homestay, kuliner, kriya, tour guide, fotografer, tukang parkir, pedagang kecil semua memperoleh bagiannya. Dan ini tidak mungkin bisa digarap secara parsial. Jadi, kalau ingin pariwisata kita maju, semua pihak harus bersatu, harus multi dimensional, dan kesampingkan ego.
Agus menambahkan, saya contohkan satu hal, kami membuka paket wisata ke Desa Kebun Tinggi dengan Air Terjun Batu Tilamnya yang eksotik itu. Setelah dari air terjun itu wisatawan ini mau kita bawa ke mana? Maka perlu dipikirkan alternatif lainnya, seperti wisata budaya, sejarah atau kuliner. Semua pegiat wisata ini harus bersinergi dan bertukar informasi. Dengan landasan pemikiran inilah, PROdes.id tengah membangun sistem untuk itu. Harapannya nanti bisa menjadi semacam buku saku digital.

Ketika ditanyakan apa harapannya dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kampar yang ke-70, Agus mengatakan bahwa sebenarnya kabupaten ini mau dibawa ke mana? Pemerintah Daerah itu harus fokus. Kalau memang ingin menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan, maka harus ada arah kebijakan yang jelas, terutama terkait infrastruktur, promosi dan program pengembangan pengelolaan obyek wisata yang lebih profesional. Coba lihat Kampar Expo yang diadakan oleh Pemerintah Daerah sekarang ini dalam rangka HUT Kampar, apa yang mau di-expo-kan itu? Apa yang membuat orang tertarik untuk berkunjung? Kalau mau menjual pariwisata, anjungan expo itu jangan hanya diisi oleh SKPD dan Kecamatan saja, justru kelompok pegiat wisata ini harus diberi ruang yang lebih, sambil mendidik mereka mengelola sebuah event. Sekarang ini kan jadinya terkesan, maaf kata, hanya mengejar proyek tahunan semata. Namun apapun kritikan itu, saya tetap berharap semoga Kabupaten Kampar yang kita cintai ini menjadi lebih maju.
Pariwisata Kita Hendak Kemana?
Apalah arti sebuah kritik, bila kita tidak mampu melihatnya sebagai sebuah mekanisme check and balance untuk kemudian memunculkan kesadaran dan inovasi baru dalam merumuskan arah kebijakan yang (jauh) lebih baik.
Berdasarkan Kabupaten Kampar dalam Angka Tahun 2019 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), ada tiga sektor sebagai penyumbang tertinggi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas Dasar Harga Berlaku 2018, yakni Pertambangan dan Penggalian (28,3 T); Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (20,3 T), Industri Pengolahan (17 T). Sedangkan sektor Penyediaan Akomodasi dan Makanan yang erat kaitannya dengan pariwisata, hanya menyumbang sebesar 65 Milyar. Ditambah lagi dengan sektor Pariwisata yang tidak termasuk dalam daftar item, tentu berdasarkan data ini kita bisa melihat secara nyata bahwa sektor Pariwisata, seberapa pun potensial dan bergairahnya masyarakat untuk menciptakan obyek wisata baru, tetap saja belum dianggap sebagai prioritas, terutama dalam penerimaan anggaran di dalam sistem neraca regional.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kabupaten Kampar, melalui Kepala Seksi Promosi, David Hendra, S.Pi, menjelaskan bahwa pemerintah merasa sangat terbantu dan sangat mengapresiasi munculnya obyek wisata baru yang berasal dari ide dan kreativitas masyarakat. Hal itu secara langsung merupakan cerminan bahwa masyarakat telah ikut serta membantu menyukseskan program pemerintah, bahkan membuka lapangan pekerjaan baru. Karena pasti akan ada efek domino terhadap peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat dari terbukanya obyek wisata baru tersebut.
Sebagai wujud nyata dukungan pemerintah, David menjelaskan pihaknya telah meluncurkan Program Pelatihan Peningkatan Sumber Daya Manusia pengelola obyek wisata dan juga program koordinasi antar pegiat wisata se-Kabupaten Kampar. Kita juga melaksanakan event yang tertuang di dalam Kalender Pariwisata Kampar yang merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mempromosikan obyek wisata itu sendiri.
Untuk tahun 2020 ini, ujar David, kita mengagendakan akan melaksanakan 24 event. Disamping itu, pemerintah juga membuat kemasan promosi berupa film dokumenter dan iklan sinematik untuk dibagikan secara luas melalui media sosial. Kita juga bekerjasama dengan media daring, men-support para youtuber lokal, serta juga mengikuti expo berskala regional, nasional dan internasional.

Bahkan, lanjut David, di tahun 2019 Kabupaten Kampar memperoleh dua penghargaan bergengsi, di antaranya: Juara III Anugerah Pesona Indonesia kategori Surga Tersembunyi dengan mengangkat Obyek Wisata Gulamo di Desa Tanjung Alai Kecamatan XIII Koto Kampar dan Juara I Anugerah Pesona Riau kategori Obyek Wisata Favorit dengan mengusung Obyek Wisata Kawasan Marga Satwa Rimbang Baling, di Kecamatan Kampar Kiri Hulu.
Epilog
Dalam salah satu artikel di Tirto.id, Dandhy Dwi Laksono, pendiri WatchdoC mengingatkan agar jangan sampai membangun industri pariwisata untuk menggenjot devisa, justru hanya mengulang pola yang sama dengan membangun industri sawit atau batu bara.
“Istilah industrinya saja yang dipindahkan (dari ekstraktif ke pariwisata). Tapi, polanya sama. Lalu, ujung-ujungnya perampasan lahan,” ucap Dandhy dalam sebuah diskusi bertajuk “Wonderful Indonesia: Kerusakan dan Pelanggaran HAM di Sektor Pariwisata”.
Dandhy juga mengatakan, proses membangun Bali seperti yang sekarang, dimulai sejak 1926 dan diawali oleh wisata antropologi dengan skala kecil. Tidak masuk akal jika masyarakat suatu daerah itu telah membangun ekonominya sendiri seperti lewat pertanian. Namun, pada saat yang sama, realisasi itu (devisa dari pariwisata) dikejar dengan menghancurkan potensi lingkungan dan ekonomi masyarakat yang sudah ada.
Itulah sebabnya, pemerintah sebaiknya mendorong pengelolaan obyek wisata ini dilakukan oleh warga setempat, sebagai satu kelindan yang tak terpisahkan dari gerak kehidupan mereka sehari-hari. Biarkan hutan, sungai, dan eksotika alam itu lestari, sebagaimana budaya dan adat yang tetap hidup. Namun juga mesti didampingi, difasilitasi dan diberdayakan agar mereka tetap tumbuh dan berkembang bersama semangat zaman.
Rabu malam, tanggal 8 November 2017, tepatnya pada acara penutupan Pekan Olahraga Propinsi Riau IX, (alm) Azis Zaenal, Bupati Kampar kala itu mengatakan, “ingatlah keindahan dan kenangan manis yang Tuan peroleh di Kampar. Jangan tinggalkan Kampar. Sesekali hadir, tempat wisata banyak di Kampar ini.”
Seperti kami mengingat petuah-petuahmu wahai Tuan yang telah meninggalkan kami, kami pun akan selalu mengingat keindahan dan kenangan manis tentang negeri ini. Juga semangatmu memajukan pariwisata sebagai program prioritas, agar masyarakat Kampar makmur sentosa.
“Datuk,” ucap (alm) Azis Zaenal kepada Datuk Yusri (Sekda), “saya besok akan berangkat ke Jakarta, tapi berangkat kali ini belum tentu pulang. Mohon kerja dengan maksimal.”
Reporter : Ziyad Ahfi
Editor : Herman Attaqi
Photos : Courtesy of Arman & UQ
