“Kita dibentuk oleh berbagai peristiwa yang pernah dan akan kita lalui.”
Oleh Ziyad Ahfi
Aku ingin menyampaikan suatu hal yang bagiku cukup penting. Cukup penting. Kugunakan kata ‘cukup’ untuk menandakan kalau apa yang ingin kutuliskan ini tidak perlu ditafsirkan berlebihan. Bila ingin membaca sampai titik terakhir, terima kasih. Bila hanya sampai di tengah tulisan, terima kasih. Bila hanya baru membaca judul, terima kasih. Bila tidak sama sekali, terima kasih.
Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Kata yang hampir tiap hari kutemui. Bahkan diucap dan ditulis oleh diriku sendiri. Tanpa pernah tahu dari mana awal-mulanya bahasa terima kasih ini muncul. Kupakai karena sejak lahir hingga sekarang diajarkan dan dipakai oleh lingkunganku.
Yang kutahu, terima kasih digunakan untuk mengungkapkan perasaan senang atas apa-apa yang telah kita terima. Baik kepada sesama manusia, binatang, tumbuhan, bahkan Tuhan. Semacam sesuatu yang timbul melalui perasaan. Karena ketidakmampuan kita menunjukkan apa itu perasaan, di mana dia berada, bagaimana bentuknya, maka kita gunakan ‘terima kasih’ sebagai bukti
bahwa kita sudah menerimanya dengan baik. Dan dengan kasih.
Tapi apakah kata-kata cukup mewakilkan perasaan? Apakah dengan sekadar terima kasih kita sudah diikat oleh persaudaraan? Atau terima kasih hanya basa-basi yang diciptakan buat mengamankan percakapan di antara kita?
Entahlah. Sampai saat ini, bahasa terima kasih masih layak dipakai banyak orang sebagai cara yang paling sopan untuk beramah-tamah. Tapi, tidak selalu begitu denganku, atau sebagian orang lainnya (jika ada).
Mengapa?
Aku akan menceritakannya. Dengan cara yang paling sederhana. Semoga setelah membaca tulisan ini, kalian memakluminya. Memaklumkan caraku berteman. Bersaudara. Berhubungan.
Semua ini berawal dari rasa curiga. Curiga terhadap waktu. Terhadap ruang. Terhadap takdir. Terhadap apa yang kulihat, kudengar, kurasakan. Dan terhadap apa-apa yang menggerakkan kita. Menggerakkan semua ini.
Aku sering berpikir, tapi tidak pernah tahu di mana pikiran berada. Ada yang bilang di kepala. Kutanya balik, bukankah itu otak? Katanya lagi, dia ada di dalam otak. Kutanya kembali, kalau memang dia berada di dalam otak, mengapa aku bisa membayangkan gunung-gunung, hutan-hutan, lelatuan, kota-kota besar, surga, neraka, kiamat? Aku bisa membayangkan menjadi Presiden. Menjadi Raja. Menjadi Petinju. Menjadi apapun yang kumau. Dengan caraku sendiri.
Bukankah itu hebat?
Waktu di kelas Kesenian. Sewaktu masih SD. Aku disuruh menggambar. Tentu pekerjaan menggambar adalah pekerjaan dengan menggunakan imajinasi. Di mana luasnya jagat raya bisa ditampung oleh sebatok k̶e̶l̶a̶p̶a̶ kepala anak kecil.
Di kertas berukuran empat kali empat itu aku meletakkan dua gunung, di atasnya kutaruh awan, di balik gunung ada setengah lingkaran matahari yang sedang bersembunyi, lalu burung-burung, di bawahnya ada lautan, bergelombang, ada satu sampan, satu kapal, yang sedang menuju pantai. Kugambar pohon ̶k̶e̶p̶a̶l̶a̶ kelapa, beberapa tanaman, kubuat gubuk, tempat pelaut singgah mengambil kelapa buat diminum, lalu beristirahat di atas gubuk kecil itu.
Bukankah itu mengagumkan?
Aku sering merasa, tapi tidak pernah tahu di mana perasaan berada. Katanya ada di hati. Di dalam badan. Sebesar genggaman tangan. Kutanya, jika hanya sebesar kepalan petinju, mengapa aku bisa merasakan patah hati yang begitu luas? Kerinduan yang mendalam. Kebahagiaan yang tak bisa diucapkan lagi oleh kata-kata.
Bahkan si pecandu romantik mampu mendaki gunung-gunung tinggi, menyeberangi lautan yang luas, dan melewati rimba-rimba tak terbatas, dengan dan atas nama cinta.
Bukankah itu gaib? Luar biasa, bukan?
Jangan-jangan, pelakunya selama ini adalah pikiran dan perasaan. Dua kata brengsek yang kita tidak pernah tahu kapan dan di mana dia berada. Merekalah yang selama ini membuat keributan. Merusak perdamaian. Tapi, mereka jugalah yang mendamaikan keributan. Dan membangun perdamaian.
Lalu, siapa sebetulnya yang menggerakkan pikiran dan perasaaan itu?
Siapa yang menentukan benar-salah, baik-jahat, indah-jelek itu?
Dari mana datangnya semua itu?
Lagi-lagi aku dihadapkan pada pertanyaan yang rumit. Kubiarkan peristiwa yang menjawab. Karena aku percaya, kita dibentuk oleh berbagai peristiwa yang pernah dan akan kita lalui. Itulah nanti yang akan membentuk siapa kita. Siapa kita di hadapan orang lain. Siapa kita di hadapan kita sendiri.
Aku dibesarkan dengan bahasa isyarat (perilaku). Bukan dengan bahasa syarat. Aku ditempa melalui bahasa batin. Bukan bahasa lisan, maupun bahasa tulisan. Semuanya berlalu dan berjalan begitu saja. Seperti pejalan jauh yang malas melihat waktu. Seperti pendaki yang enggan menoleh jurang.
Aku jarang mendapatkan kata-kata manis. Kata-kata romantis. Dari keluargaku. Bahkan dari kedua orang tuaku sendiri. Kendati demikian, bagiku mereka tetap mencintaiku. Merindukanku. Menyayangiku. Seperti mereka-mereka yang tumbuh dengan kata-kata.
Cukup melalui bahasa isyarat, kami sudah saling mengerti maksud yang tersembunyi di balik isyarat itu. Bisa dibilang: kami mempunyai ikatan batin yang sama.
Barangkali itulah cinta. Dia datang dari perasaan. Bukan perkataan. Dia lahir dari perilaku. Bukan ungkapan-ungkapan baku.
Kubiarkan cinta kami ini tetap menempuh jalan sunyi. Jalan bisu. Lorong-lorong gelap yang tidak dapat dilihat keramaian. Supaya bunyi cinta itu terus menggema di tiap suara yang kami lepaskan.
Aku meyakini, itu semua adalah faktor pengubah dan pembentuk siapa aku. Bagaimana caraku memandang dunia.
Ketika hari ulang tahunku tiba, aku tidak mengharap apa-apa. Semua orang berlomba berkata-kata. Meyakinkanku kalau hari itu adalah hari ulang tahunku. Bahwa aku pernah lahir di hari itu. Tepatnya dua puluh tahun yang lalu. Tapi apa gunanya itu semua bagiku? Berbagai ucapan masuk melalui pesan media sosialku. Dan yang membuatku semakin yakin kalau hari ulang tahun adalah hari yang sama seperti hari-hari biasa adalah: ucapan yang tidak ada bedanya. “Selamat ulang tahun, ya.. Semoga sehat selalu.. Panjang umur.. Murah rezeki.. HBD, ya..” Dari dulu begitu-begitu saja. Hanya tahun yang berulang. Dan mereka tetap mengulang perkataan yang sama.
Beberapa teman, pernah kutanya mengenai hal ini, mengapa ulang tahun perlu dirayakan? Rata-rata mereka menjawab: memang sudah seharusnya begitu.
Menjelang tahun berakhir, orang-orang mulai sibuk merencanakan liburan. Di mana mereka akan merayakan tahun baru. Seolah-olah pergantian tahun adalah hari yang berbeda dari hari-hari yang lain. Pertanyaan yang sering kujumpai, “nanti tahun baruan di mana?” Biasanya kujawab: kemana-mana.
Hari wisuda tiba. Kelulusan sudah diraih dari jerih-payah bertahun-tahun. Saatnya menunggu ucapan. Siap-siap media sosial dipenuhi oleh berbagai repost ucapan-ucapan selamat. Mereka bersaing panjang-panjangan instastory. Dan hebatnya, mereka mau membalas satu-persatu. Supaya tetap ada percakapan. Hanya itu. Supaya tetap ada percakapan. Dan terlihat peduli.
Pernah sewaktu aku membeli obat di klinik 24 jam, setelah aku membayar semua obat-obatan itu, kasir langsung menimpal dengan kalimat: terima kasih, semoga sehat selalu. Dengan kedua telapak tangan yang menyatu.
Saat itu aku tidak menjawab apa-apa. Aku hanya tersenyum kecil. Bagiku seutas senyum sudah menjawab terima kasihnya. Ketika di perjalanan pulang, aku berpikir tentang perkataan kasir barusan. Setelah kutimbang-timbang, apa bedanya ungkapan itu dengan ungkapan mereka yang mengucapkan selamat ulang tahun: HBD, ya, semoga sehat selalu.
Mereka sama-sama menginginkanku sehat selalu. Apakah sehat yang dimaksud di sini juga termasuk sehat batin? Sembuh dari segala luka rindu? Semua tergantung dari niat dan maksud mereka. Aku tidak bisa mengidentifikasinya. Yang jelas, aku bukan Roy Kyosi.
Di antara itu semua, bukan berarti aku membenci bagi siapapun yang mendapat ucapan atau memberi pernyataan semacam itu. Aku tidak pernah tahu mana pembatas antara formalitas dan bukan. Semuanya hampir sama. Tidak merubah apa-apa. Jangan-jangan, kita mengucapkannya hanya karena segan. Atau memang benar-benar ada ketulusan. Lebih tepatnya, aku tidak tahu. Aku tidak mampu memeriksa hati. Memeriksa apa yang mereka bayangkan. Aku hanya mampu melihat di permukaan. Dan aku tetap membalas seluruh kebaikan itu cukup di dalam hati. Dengan caraku sendiri. Sebab sulit bagiku buat berkata-kata. Mungkin karena aneh. Atau tidak terbiasa.
Tapi, yang lebih penting dari itu semua, apakah ucapan-ucapan itu dapat merubah sesuatu? Menggerakkan sesuatu?
Pagi tetap pagi. Siang tetap siang. Sore tetap sore. Malam tetap malam.
Hujan tetap turun bila langit menggelap. Bintang tetap terang jika awan tidak menghadang. Kecuali semuanya benar-benar berakhir.
Entah kita. Entah dunia. Atau tidak ada yang berakhir sama sekali.
Terima kasih.
