kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Yang Tak Terelakkan dan Tertahankan

“Ketakutan hanya bayang-bayang.”


Oleh Ziyad Ahfi

Pagi-pagi sekali aku terbangun, membuka mata, merenggangkan tangan dan kaki, lalu diam sejenak, memanggil ruh yang sempat pergi mengembara entah kemana, dengan wajah yang berantakan, kusut, dan rambut yang terbengkalai.

Cepat-cepat aku beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah toilet, belum sempat mencuci muka, mencari-cari hape, aku langsung membuka celana, cepat sekali, tidak ada yang kupikirkan selain buru-buru membukanya, kutaruh di atas gantungan pintu, lalu aku jongkok di atas kloset, sambil menyandarkan kedua tangan di atas kedua dengkul, rapih sekali, seperti sikap sempurna anak-anak SD sebelum memasuki kelas, kemudian melamunkan segala hal.

Melamunkan apa saja, semua yang kuperbuat semalam, kemarin, atau memikirkan kegelisahan, kerinduan, membayangkan rencana-rencana hari ini, esok, yang akan datang, semuanya. Semua hal.

Dari mencari siapa diriku, mengapa aku bisa berada di sini, bagaimana aku begitu mudah bisa diperbudak oleh berak dan kencing, sampai omongan buruk mengenaiku, orang lain, pertikaian yang belum sudah-sudah, kepalsuan dunia maya, kekuasaan, kekayaan, kemiskinan, dosa-dosa, pahala, surga-neraka yang dilukis ustad-ustad, pastur, filsuf, semua yang hendak mencari benar. Apapun. Yang singgah di kepalaku. Kuanggap sebagai persinggahan misterius. Misteri yang selalu mengintai pada tiap yang bernyawa.

Maka karena itu, toilet bagiku adalah tempat sakral. Tempat penuh kekhusyukan. Kesunyian. Terhindar dari keributan. Segala macam kotoran. Kalau bisa, ruang toiletku harus lebih indah dari ruang tidur, ruang tamu, semua ruang yang ada di rumah. Tiap sudut ruang tidak boleh lebih rapih dan lebih nyaman ketimbang ruang toilet. Bahkan di depan pintu toiletku sendiri, kutulis: tempat bersemedi para sufi.

Tempat itu kujaga betul. Sebab hanya tempat itu, satu-satunya tempat di mana seluruh keangkuhan tumbang. Kesombongan runtuh. Kekerdilan rapuh.

Bayangkan, hanya di dalam toilet, para presiden, jendral-jendral berbintang, saudagar-saudagar kaya bisa tunduk dan patuh. Kurang kuasa apa mereka di dunia ini sampai-sampai mereka menyerah di hadapan toilet?

Mereka berlagak kuasa di depan media. Di hadapan meja-meja penguasa. Padahal ketika berak, sama saja. Kita sama-sama membuka celana. Duduk dan jongkok bertahta di atas kloset. Mengeluarkan bentuk dan bau yang sama. Dan sama-sama terlihat bodoh.

Orang-orang sibuk mencari. Demi memenuhi isi perut. Hampir seluruh kehidupannya diabdikan untuk itu. Setiap hari. Sampai sibuk bertikai, bercerai-berai, berlaku curang, berbohong, walau pada akhirnya, jerih-payah itu akan berakhir jua di dalam toilet. Di dalam kloset. Tenggelam bersama genangan dan kenangan.

Jujur, aku termasuk orang yang tidak percaya kalau toilet adalah tempat persembunyian setan. Seperti yang ustad-ustad itu khotbahkan. Dalam perenunganku, selama berada di toilet, bisa kuhitung, lebih banyak hal baik yang kutemui ketimbang hal buruk. Aku percaya apa yang dikatakan Pram, bahwa ketakutan hanya bayang-bayang.

Mungkin, setan yang dimaksud ustad-ustad itu tempat-tempat kotor. Kalau toiletku bersih, gimana? Buktinya, sesuai pengalaman pribadiku, aku seringkali mengingat kebaikan ketika berada di dalam toilet. Misal, dalam hal bersuci, sebelum keluar, aku selalu teringat untuk menyempatkan berwudhu. Atau memikirkan dosa apa saja yang pernah kuperbuat. Kebaikan apa saja yang belum kutunaikan. Kepada siapa saja kuharus berterima kasih dan meminta maaf. Bahkan itu sering terjadi.

Jangan-jangan, memang benar, ketakutan itu hanya bayang-bayang. Atau barangkali, setan itu ada di dalam dirimu. Atau setan itu adalah dirimu sendiri. Kepalamu sendiri. Hatimu sendiri. Periksalah. Renungilah. Coba ketuk. Siapa tahu mereka memang bersembunyi di dalam.

Dan toilet, adalah gambaran kejujuran. Mengenai siapa kita sebenarnya. Bahwa kita memang tidak sekuat apa yang kita bayangkan. Tidak sekeren apa yang cermin tampakkan. Boleh jadi hutan mampu kita bakar, gunung pandai kita keruk, tanah bisa kita gali, tapi belum ada di antara kita yang benar-benar mampu menahan keluarnya berak.

Dan toilet, lagi-lagi toilet, menjadi tempat persinggahan sementara di dunia ini, untuk melihat betapa bodohnya kita, betapa angkuhnya kita, sedang kita tak lebih dari seorang manusia yang kalah oleh segenggam taik.

Terima kasih. Selamat menunaikan ibadah berak. Jangan lupa bersihkan toilet hari ini.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai