kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Jika Dunia Baik-Baik Saja, Apa Gunanya Hidup?

“Sebab, tidak ada yang masuk akal kecuali menjadi praktis.”


Oleh Herman Attaqi

“My coffee this morning says, ‘let the truth interrupt your comfort’”, cuit penyair Aan Mansyur di akun twitternya pagi itu. Sejatinya kita tak perlu berdebat, tidak usah dibantah, jika waktu pagi hari adalah saat paling menyegarkan untuk menikmati secangkir kopi. Namun, Aan Mansyur memilih untuk mencampakkan rasa nyamannya itu oleh karena sebentuk kebenaran yang saya tidak tahu apa dan bagaimana.

Lain Aan, lain pula Archimedes. Ia cukup mencemplungkan badannya ke dalam bak mandi, lalu berlarian bertelanjang bulat sambil teriak: “Eureka!” Maka jadilah kebenaran. Apakah Archimedes juga merelakan kenyamanannya terenggut oleh kebenaran yang ditemukannya itu? Mana berani saya menyebutnya sebagai misoginis, seorang yang sakit jiwa sambil menikmati fantasi ketelanjangannya di depan umum? Siapalah hamba di hadapan paduka Archimedes yang disebut sebagai “Superhuman” oleh Galileo itu. Bahkan seorang Leibniz, penemu kalkulus dengan segala rumus yang bikin mampus itu pernah berkata, “bagi siapa saja yang sudah pernah mempelajari pemikiran Archimedes, tentu akan menyimpulkan tak ada lagi pemikiran yang hebat setelahnya.”

Tanggal 22 Juni 1633, Galileo Galilei diajukan ke meja hijau atas dasar pemikirannya yang mengatakan matahari adalah pusat tata surya. Bagi para pendukung Aristoteles dan kaum agamawan gereja yang mengimani bumi sebagai pusat tata surya, jelas bahwa itu adalah sebuah pengingkaran atas kebenaran. Maka Galileo harus dihukum dengan dikucilkan dari pergaulan sosial hingga mati. Baru pada tahun 1992, tepatnya 359 tahun kemudian, Paus Yohannes Paulus II menyatakan bahwa pemikiran Galileo adalah sebuah kebenaran dan penghukumannya di masa lampau dinyatakan sebagai suatu kesalahan.

Amy Bellows, Ph.D, dalam artikelnya di psychcentral.com mengatakan bahwa 35 – 65% orang pernah menyesal, baik itu dalam soal pendidikan, pekerjaan, pernikahan, bahkan dalam soal hubungan di dalam keluarga. Penyesalan itu manusiawi, kata Amy. Sebab, manusia memiliki kemampuan untuk membedakan antara kenyataan dengan apa yang seharusnya bisa dilakukan. Pada titik itulah kita akan beresiko untuk menyesal. Jika manusia bisa membuang hal yang tak berfaedah dan perkara yang tidak rasional, ia akan bisa menjadikan penyesalan itu menjadi sesuatu yang positif.

Dulu, saya kira usia 41 tahun itu jauh sekali. Nyatanya sekarang saya sudah di sini dengan memanggul segentong air besar berisi penyesalan-penyesalan. Sebagian berisi pengalaman buruk, kebodohan, dan sebagiannya lagi jentik-jentik nyamuk. Bagaimana saya memikirkan semua itu sebagai sebuah kebenaran?

Seandainya saya bisa menghapus sebuah kata, dan menghela napas dalam-dalam, sembari menutup mata agar semua beban penyesalan hidup ini sirna, maka ada satu kata yang ingin saya hapus saja di dalam perbendaharaan bahasa, yakni kata pertama dari kalimat ini yang bercetak miring. Tapi, apakah mungkin?

Janet Landman, Ph.D, penulis “Regret: The Persistence of the Possible”, mengatakan bahwa menyesal itu seperti kita melirik kaca spion saat berkendara. Untuk tetap melaju, ada saatnya kita sekali-kali melihat apa yang terjadi di belakang, tapi jangan terlalu sering melihat ke kaca spion. Seperti itulah penyesalan bekerja di dalam hidup kita.

Dalam “The World as Will and Representation”, filsuf Arthur Schopenhauer mengatakan keinginanlah yang menjadi penyebab manusia akan selalu berada di dalam situasi penderitaan dan penyesalan. Keinginan, kata Schopenhauer, adalah ikhtiar yang tak akan pernah sepenuhnya terpenuhi, karenanya hidup ini pada dasarnya adalah ketidakpuasan, termasuk rasa sesal itu sendiri. Kesadaran itu pula yang membawa situasi menjadi semakin suram, karena manusia yang sadar akan terus-menerus mengalami rasa sakit akan; penyesalan atas masa lalu dan kecemasan terhadap masa depan.

Alih-alih menjadikan penyesalan itu sebagai kaca spion, malah ia bisa menjadi jebakan jalan buntu bila manusia tidak bisa melepaskan diri dari akar tumbuhnya penyesalan, yakni keinginan. Di titik inilah problematika itu muncul. Bagaimana mungkin penyesalan dianggap sebagai pemicu lahirnya suatu kebenaran, sedang ia berasal dari keinginan yang tak terpuaskan? Maka ia sejatinya hanyalah sebentuk ketidaknyamanan yang menginterupsi belaka.

Menurut KBBI, interupsi berarti penyelaan atau pemotongan (pembicaraan, pidato, dan sebagainya). Dan penyesalan, bisa jadi, merupakan bentuk penyelaan atas hidup. Seberapapun tidak nyamannya hidup yang disela oleh penyesalan, ada bagian darinya yang secara tulus akan membantu kita menemukan kebenaran. Saya kira, sebagai penulis status media sosial yang bijak bestari, kita memerlukan pemaknaan tersebut untuk menceramahi orang-orang dalam balutan #selfreminder atau #nasehatdiri.

Kebenaran, kerapkali dianggap sebagai suatu nilai utama dalam kehidupan manusia, bahkan tak kurang banyaknya pemahaman yang meyakini ia merupakan inti dari ruhani manusia, yang membawa segala sifat manusiawi, serta apa saja yang berhubungan dengan martabat kemanusiaan. Kebenaran, sesuatu yang senantiasa dipeluk, sekalipun hidup ini pelik dan senantiasa harus menafikan kenyamanan hidup itu sendiri.

Pada dasarnya manusia itu egois, kata Schopenhauer. Egoisme itulah yang melahirkan penderitaan dan penyesalan yang berkepanjangan. Untuk mencukur penderitaan itu, manusia harus melepaskan egoismenya, melepaskan diri dari kehendak, mencampakkan pikiran tentang sesuatu yang ideal. Bagaimana caranya? Pahami kenyataan sebagaimana adanya. Kita tidak akan pernah mampu meraih sesuatu yang ideal. Karena ideal itu adalah sesuatu yang tak ada. Menerima yang ada adalah jalan moral yang diajarkan oleh filsuf Jerman ini dan inti dari filsafat pesimisme yang diusungnya.

“Kebenaran,” ucap Schopenhauer, “hanyalah perayaan kemenangan yang singkat di antara dua perkara, yakni dikutuk sebagai sesuatu yang paradoks dan diabaikan karena dianggap sepele.”

Jadi, di usia saya yang telah menginjak empat dekade ini, dengan segala penyesalan dan penderitaan yang menyertainya, adalah kenyataan yang — selain dialami banyak orang — mau tak mau harus saya telan juga. Saya sebagai subyek berupaya memahami sebagaimana yang dikatakan oleh Plato, selagi manusia masih memperhatikan hidup ini dengan sungguh-sungguh, ia akan tetap bersemuka dengan desakan beban hidup dan baku hantam dengan segala lika-likunya. Manusia dan penderitaan, bagai roti tawar dan selai sarikaya, mereka selalu menempel.

Boleh jadi yang disesali dan tak seharusnya disesali bagi akal kita bisa berbeda, sehingga apa saja yang kita lakukan untuk mensiasati hidup, pun akan berbeda, tapi yang terpenting dari semua perbedaan kita adalah: jangan pernah putus asa terhadap dunia ini.

“Sekarang bukan saatnya memikirkan apa yang tidak kau miliki,” tulis Ernest Hemingway dalam dialog Santiago dengan dirinya sendiri. “Pikirkan apa yang bisa kau lakukan dari apa yang ada.” Dalam dialog yang lain di novel “The Old Man and The Sea” tersebut, Hemingway menulis, “tapi, bukankah tidak ada hal yang mudah di dunia ini?” Itulah indahnya hidup. Dan itulah fungsi manusia yang dianugerahi seperangkat akal yang canggih. Sebab, tidak ada yang masuk akal kecuali menjadi praktis. Pengetahuan dan teknologi diciptakan oleh akal manusia untuk menjinakkan segala kerumitan dalam hidup ini.

Bayangkan, jika semua hal di dunia ini baik-baik saja — tanpa ada kecewa, penderitaan, patah hati dan penyesalan — lalu apa lagi gunanya hidup?

Saya berharap mampu bertahan dari derai-derai rasa sesal, dan membuang sejauh mungkin kata: putus asa. Kemudian, saya harap bisa menghapus sebuah kata (lagi), menghela napas dalam-dalam, sembari menutup mata agar semua beban penyesalan hidup ini sirna, maka hanya ada satu kata yang ingin saya hapus saja di dalam perbendaharaan bahasa, yakni kata: Seandainya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai