“Hidup yang diuji adalah hidup yang berarti.”
Oleh Ziyad Ahfi
Sejak masih duduk di bangku sekolah, Bung Niko a.k.a Niko Ardian memang dikenal aktif dalam dunia organisasi. Pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Semasa kuliahnya juga dipercaya sebagai Wakil Bupati BEM jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Riau. Juga menjadi ketua umum organisasi mahasiswa level nasional, yakni (FOKKERMAPI) Forum Komunikasi dan Kerja Sama Mahasiswa Ilmu Pemerintahan se-Indonesia.
Saat ini, si Bung kelahiran 20 Desember 1996 ini diberi amanah yang lebih berat lagi, yaitu sebagai Ketua GRANAT (Gerakan Nasional Anti Narkotika) Kabupaten Kampar, Riau.
Apa itu GRANAT? Apa saja perannya di tengah masyarakat?
Berikut wawancara oleh reporter kami Ziyad Ahfi dengan Niko Ardian, yang juga seorang karateka pemegang sabuk hitam DAN 1 sejak SMA ini.

Niko Ardian
Selamat pagi bung Niko, apa kabar?
Kabar apa dulu, ni? Kabar hati termasuk, gak?
Hahaha. Masuklah. Kabar apapun. Gimana, Bung?
Alhamdulillah, dalam keadaan sehat walafiat. Semuanya aman dan terkendali.
Kalau boleh tahu, GRANAT itu apa, Bung? Saya awalnya mengira ini organisasi teroris. Soalnya ada granat-granatnya, gitu. Saya khawatir saja kalau definisi granat di sini nggak diperjelas, bisa-bisa masyarakat awam macam saya gini bisa gagal paham. Kan, bahaya kalau tiba-tiba meledak.
Apakah bung tidak pernah coba cari di google? Atau kuotanya lagi habis?
Saya kasih tahu, ya. GRANAT itu adalah salah satu organisasi masyarakat, singkatan dari Gerakan Nasional Anti Narkotika. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan untuk mengajak seluruh masyarakat supaya sadar akan bahaya narkoba. Sebagai bentuk gerakan moral, GRANAT yang didirikan pada tahun 1999 ini merupakan gerakan bersama, yang dilatarbelakangi oleh kondisi bangsa Indonesia yang sedang dalam ancaman serius, yaitu makin meningkatnya jumlah peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba. Bahkan (pada saat itu) hampir 2 juta orang bangsa Indonesia telah menjadi korban ketergantungan terhadap NARKOBA ini. Dari mulai siswa, mahasiswa, sampai kepada pejabat publik, oknum aparat, dan lain sebagainya.
Mengapa Narkoba ini bisa menjadi ancaman yang begitu serius?
Pertama, bisa merusak kesehatan. Merusak tubuh. Pikiran. Hingga berpengaruh kepada perilaku. Dan juga, memiliki dampak ketergantungan yang cukup serius.
Kedua, bisa merusak masa depan.
Khususnya anak-anak muda. Anak-anak sekolah. Yang mana mereka adalah sumber daya manusia yang perlu kita jaga. Merekalah pemegang tongkat estafet keberlangsungan masa depan bangsa dan negara kita.
Seserius apa bung dan kawan-kawan GRANAT dalam memerangi narkoba ini?
Sangat serius. Kami segenap pengurus GRANAT KAMPAR, beserta seluruh FORKOPIMDA yang hadir saat pelantikan kami (27/01/2019) berkomitmen dalam memerangi narkoba. Karena untuk memerangi ini harus secara bersama-sama. Harus menyeluruh. Saling bahu-membahu. Saling jaga.
Seserius cintamu padanya gak, Bung?
Hahahaha. Iya dong.
Seperti yang bung sebut tadi bahwa untuk memerangi narkoba ini butuh kepedulian dari seluruh elemen. Untuk pemerintah daerah sendiri, seserius apa mereka dalam memerangi narkoba ini?
Pada saat pidato pelantikan di Balai Bupati pada saat itu, Bupati Kampar, Catur Sugeng Susanto, menyampaikan dengan tegas bahwa GRANAT wajib bekerjasama dengan pemerintah daerah di dalam pemberantasan narkoba. Dan sesegera mungkin membentuk perwakilan GRANAT di setiap kecamatan-kecamatan.

Ucapan selamat dari Bupati dan Ketua DPRD Kampar pada saat pelantikan pengurus DPC Granat Kampar
Luar biasa. Perlu ditagih itu nanti komitmen pak Bupati serta kawan-kawan GRANAT. Kalau begitu, boleh cerita sedikit, gak, bagaimana awal mulanya bung bisa dan mau menakhodai organisasi ini?
Ceritanya berangkat dari kekhawatiran pribadi terhadap kondisi dewasa ini, di mana marak dan meningkatnya jumlah pemakai, khususnya di daerah saya, yaitu Bangkinang Kota. Dan pada umumnya di Kabupaten Kampar.
Memangnya ada berapa banyak jumlah pemakai atau pengedar di daerah bung itu? Apakah dari tahun ke tahun ada peningkatan? Atau malah menurun?
Untuk sejauh ini, data yang saya dapat dari SATNARKOBA POLRES Kampar, pada tahun 2018, jumlah kasus sebanyak 223. Jumlah tersangka 319 orang. Laki-laki 301. Perempuan 18. Dan pada tahun 2019, jumlah kasus sebanyak 41. Tersangka 54 orang. Laki-laki 51. Perempuan 3. Anak-anak 1. Baru ini data yang kami dapat. Untuk seterusnya kami akan selalu berkomunikasi dan bekerjasama dengan POLRES KAMPAR.
Setelah pelantikan kemarin, tanggal 27 Januari 2020, apa rencana bung dan kawan-kawan GRANAT selanjutnya?
Rencana kita sesuai dengan tujuan GRANAT, kita fokus di pencegahan. Dalam bentuk sosialisasi kepada seluruh masyarakat, baik itu golongan muda maupun golongan tua.
Apa dan bagaimana bentuk sosialisasinya?
Sosialisasinya salah satunya kita fokuskan kepada anak-anak sekolah. Dari anak SD, SMP, SMA, kemudian kawan-kawan mahasiswa. Sosialisasi ini sudah pernah juga kita lakukan di beberapa SMA, di hampir seluruh Kabupaten Kampar (sebelum dilantik). Bekerjasama dengan BNN, pihak kepolisian, pemerintah daerah, lembaga legislatif, guru-guru sekolah, serta seluruh elemen yang mempunyai power untuk memberantas dan mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba. Umumnya mengajak kepada seluruh masyarakat. Sebab, tanpa bantuan dari seluruh elemen masyarakat, sulit untuk mewujudkan Kampar yang bersih dari narkoba.

Sosialisasi anti narkoba di salah satu SMA
Mengapa hanya fokus kepada anak-anak sekolahan saja, Bung? Bukannya pengguna narkoba ini juga terjadi pada orang-orang dewasa? Seperti yang bung bilang di awal, bahwa sesuai visi dan misi GRANAT, adalah untuk bersosialisasi ke seluruh masyarakat.
Memang narkoba itu tidak mengenal umur. Kami memfokuskan kepada anak-anak sekolah, demi menjaga aset bangsa. Karena kita harus memulai sejak dini. Sebagai wujud pencegahan sekaligus memberi pemahaman kepada mereka apa dampak dan kerugian dari penyalahgunaan narkoba ini. Supaya mereka nanti tidak mudah untuk dihasut dan diajak oleh lingkungan pergaulan untuk ikut-ikutan. Karena kecenderungan anak-anak itu, khusunya Anak Baru Gede (ABG), adalah suka mencoba-coba. Mencari hal-hal baru. Padahal mereka belum diajarkan apa dampaknya. Karena itulah, kami fokuskan kepada mereka supaya mereka mengerti. Seperti yang bang Haji Rhoma bilang: darah muda darahnya para remaja.
Kalau untuk orang-orang dewasa, banyak faktor yang perlu kita selidiki. Biasanya mereka terlibat di dalam hal tersebut karena faktor ekonomi, seperti kurangnya peluang kerja, cara membuat dan membuka usaha, dan lain-lain. Atau juga faktor masalah di dalam keluarga, seperti broken home, dan lain sebagainya. Maka dari itu, wujud nyata dari program kami adalah bekerjasama dengan pemerintah, misalnya dengan Dinas Ketenagakerjaan, untuk memberikan sosialisasi latihan pekerjaan, memberikan peluang kerja dan usaha. Sebab, faktor ekonomi ini adalah yang paling penting. Dan juga membuat atau memfasilitasi turnamen-turnamen seperti olahraga, acara kesenian, yang nantinya akan berdampak untuk menghindari masyarakat dari kesendirian dan kegalauan. Karena kesendirian seringkali membawa kita kepada hal-hal yang cenderung negatif (kalau kita tidak bisa memanfaatkan kesendirian itu).

Say No to Drugs
Apakah kesendirian yang bung maksud di sini juga termasuk jomblo?
Hahahaha. Termasuklah. Kan, seluruh masyarakat? Semuanya.
Agenda dekat-dekat ini, apa yang mau dilakukan?
Selanjutnya kita juga punya rencana untuk mengadakan sosialisasi di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan). Sebagai wujud pencegahan dan penyadaran. Kami akan bekerjasama dengan pihak Lapas. Seminar sosialisasi, tes urin di tempat, sekaligus juga berencana untuk mengadakan event di dalam Lapas. Menghibur masyarakat yang ada di sana.
Kalau buat bung pribadi, di umur yang terbilang muda ini, 23 tahun, apa yang menjadikan bung bersemangat sekali turut serta dalam berorganisasi?
Tentunya kepedulian. Dan saya termasuk orang yang suka dengan tantangan. Saya ingin menguji diri saya. Seperti yang Socrates pernah bilang, “hidup yang diuji adalah hidup yang berarti.” Dan juga sebagaimana yang kita tahu: khoirunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Mantap sekali Bung! Bukan kaleng-kaleng ini. Hahaha. Terakhir, apa yang ingin bung sampaikan kepada pembaca Kopi Travel Blog terkait narkoba ini, khususnya kepada anak-anak muda di Kabupaten Kampar?
Muola basamo-samo awak buek kampar yang brosio dari narkoba!

Bersama Ziyad Ahfi
Reporter : Ziyad Ahfi
Photos : Courtesy of Niko Ardian
