“Padahal itulah yang harusnya kita lakukan, membuat mereka tahu betapa beruntungnya kita memiliki mereka.”
Oleh Rina Dianti Hasan
Kematian Ashraf Sinclair pada hari Selasa (18/2/20) sampai saat ini masih membuat shock, bukan hanya bagi sang Istri Bunga Citra Lestari (BCL) dan anaknya Noah Sinclair, namun juga bagi para penggemar dan masyarakat banyak.
Seingat saya, aura seperti ini sebenarnya pernah dialami masyarakat Indonesia, namun dalam nuansa yang berbeda, yaitu saat pernikahan Maia Estianty dengan Irwan Mussry. Yang bahagia dan berbinar-binar saat itu bukan hanya Maia namun juga para wanita Indonesia. Rasanya kebahagiaan itu menular setiap jam dan berhari-hari. Saat itu Indonesia seakan-akan tersenyum.
Aura ini muncul kembali, namun dalam versi kesedihan. Tangisan Unge (panggilan BCL) tidak hanya menyesakkan dadanya, namun juga menghimpit rasa duka para istri-istri di Indonesia. Tangisan Noah yang menyedihkan membuat semua kita ingin memeluk bocah itu. Kesedihan ini menjalar bagaikan virus dalam hati warga Indonesia sampai hari ini.
Bahagia dan kesedihan pasti datang dan berulang dalam kehidupan manusia. Kematian itu sesuatu yang tidak dapat diduga waktunya, namun pasti kedatangannya. Kepergian yang tiba-tiba, membuat kita sulit menerima. Bagaikan mimpi buruk. Seperti yang diucapkan BCL kepada sahabatnya Andien, “ini bagai mimpi buruk, Ndien. Tapi, ia nyata.”
Kepergian Ashraf ini telah memberikan hikmah, bahwa kita harus selalu bersiap, bukan hanya bersiap dengan amalan, namun juga bersiap mengisi setiap detik yang kita miliki untuk memberikan yang terbaik, walaupun itu sudah. Kita tidak pernah tahu kapan kebahagiaan itu akan pergi, maka sebelum orang yang kita cintai pergi, sudahkah kita maksimalkan hari-hari bersamanya? Sehingga begitu kita kehilangan, kita sudah merasakan bahagia yang layak untuk diingat.
Kisah pilu Unge ini seakan mengingatkan, berapa banyak sudah hari manis dengan pasangan? Berapa kali dalam sehari kita sempat menghargai mereka? Bagaimana kalau kita yang menjadi Unge hari ini, pagi masih marah-marah sama suami karena jatah belanja kurang, kesal adanya komen suami di FB temannya, atau karena bajunya yang berserak? Kehidupan yang sulit kadang membuat kita abai mengucapkan sayang dan cinta.
Sudahkah kita menyampaikan sayang kita kepada anak? Hari ini saya memandangi putra kecil saya, Bintang, lamaaa sekali. Saya mengingat saat sering memarahinya, bahkan memukulnya. Sangat sering jengkel. Saya takut sebelum saya puas memeluknya, saya telah kehilangan dirinya. Tak ada doa sebagai permintaan tulus saya kepada Dia Yang Maha Memiliki agar kami diberikan masa yang lebih panjang untuk bersama. Saya ingin melihat anak saya tumbuh. Berikan pada saya waktu yang lebih lama untuk mengomelinya dan lantas memeluknya. Beri kami pengingat yang panjang bagi kenangan yang akan kami rawat.
Sudahkah kita menyebutkan betapa kita sayang kepada orang tua? Sudah sempatkah kita membuat mereka tahu bahwa kita sayang dan peduli? Jangan sampai kita tidak pernah memeluknya lagi dan menyadari mereka sudah pergi.
Mumpung masih ada waktu. Saatnya kita memberikan pelukan lebih banyak untuk mereka yang disayang. Karena ketika waktunya sudah tiba, kita hanya akan bisa duduk di samping pusara dan meneteskan air mata.
Saudara, sahabat dan rekan ialah mereka yang sering berjalan bersama kita, namun sudahkah kita mengungkapkan rasa, betapa kita sangat menghargai apa yang sudah mereka lakukan untuk kita selama ini? Walaupun berat hati, kita selalu meminta maaf pada teman dan sahabat, namun sangat jarang mengucapkan terima kasih pada mereka. Karena selama ini penghargaan bagi kita tidak penting. Padahal itulah yang harusnya kita lakukan, membuat mereka tahu betapa beruntungnya kita memiliki mereka.
Unge memang tidak lagi bisa memeluk suaminya, Ashraf. Noah tidak lagi bisa digendong ayahnya. Namun kita yang masih bisa melakukan itu, maka manfaatkanlah. Buatlah mereka, orang-orang yang kita sayangi, tahu betapa kita mencintai mereka, dan nikmati lebih banyak rasa sayang ini bersama.
Buatlah rekan-rekan kita tahu, betapa mereka sangat berarti bagi kita. Dan sempatkan untuk mengucapkan terima kasih. Hingga ketika kita kehilangan mereka, kita sudah merasa cukup.

