“Janganlah kita menerima hal-hal itu dengan puji-puja dan gegap gempita.”

Bung Karno
Lagi, lagi dan lagi saya ucapkan selamat yang sebesar-besarnya bagi segenap rakyat Indonesia bahwa kita memiliki seorang Bapak yang luar biasa hebatnya, sehingga kita anak-cucunya diwariskan ribuan peninggalan pemikiran yang luar biasa cemerlang. Berbicara tentang Sang Paduka memang tidak ada habisnya, pemikiran-pemikirannya yang cemerlang nan revolusioner membuat setiap orang yang membaca tulisannya atau mendengar kata-katanya tak jarang tercengang dengan ketajaman pemikirannya itu.
Kali ini mari kita sedikit menelisik tentang tulisan beliau di koran Fikiran Ra’jat tahun 1933, delapan puluh tujuh tahun yang lalu atau dua belas tahun sebelum Indonesia merdeka. Kala itu Hindia Belanda sedang dihebohkan oleh banjir impor peralatan rumah tangga model handuk dan kawan-kawannya dari Jepang. Ditambah lagi barang-barang yang berdatangan ini memiliki kualitas yang bagus dan harga yang sangat terjangkau.
Masyarakat bersorak-sorai gegap-gempita lantaran barang-barang tersebut dinilai sangat membantu, lantaran akhirnya gaji maha kecil rakyat jelata bisa digunakan untuk membeli barang-barang yang mereka perlukan. Bagaimana tidak, ditulis oleh Paduka, bahwa kemeja hanya seharga 15 sen, handuk 5 sen, piring 4 sen dan begitu seterusnya. Hal ini bahkan mendapat respon dari tokoh nasional (yang tidak beliau sebutkan namanya di tulisannya) yang memuji-muji Nippon layaknya deus ex machina (dewa penolong) lantaran dinilai membantu meringankan kemiskinan rakyat kala itu.
Tanpa tedeng aling-aling, Bung Karno menulis kekecewaannya terhadap tokoh tersebut dan menilai perkataannya sangatlah dangkal. Bung Besar sebenarnya sedang mengingatkan kita bahwa sesungguhnya sebelum masa penjajahan, penduduk Jawa dapat menghasilkan kain yang baik dalam jumlah yang cukup, bahkan untuk dikirim ke daerah-daerah di Nusantara. Namun setelah kedatangan penjajah Belanda, seluruh rakyat diseragamkan untuk mengerjakan cultur stelsel (tanam paksa), hingga memperkaya kerajaan Belanda, membangun Amsterdam dan Rotterdam, hingga uang-uang itu juga yang membangun sebuah pabrik kain yang luar biasa besar, hingga kepulan asapnya menutupi angkasa di kota Twente.
Kain-kain inilah yang sebelum kehadiran pesaing dari Jepang, menguasai perdagangan di Nusantara. Namun Sang Paduka juga manusia. Ia juga rakyat. Bahkan rakyat yang dibuang ke sana-sini oleh penjajah lantaran melawan. Ia paham betul kehidupan rakyat. Ia paham betul penderitaan rakyat yang sakit-sesakit-sakitnya, letih luar biasa agar sekadar bisa terus hidup. Ia paham bahwa walaupun membeli produk dari Twente atau Nippon adalah sama saja memakmurkan imperialisme dan kapitalisme mereka, namun di sisi lain juga membantu meringankan beban rakyat yang maha berat.
Oleh karena kesadaran inilah, beliau memberikan sebuah jalan keluar yang dinilainya cocok untuk dijadikan landasan masyarakat kala itu. Ia menyebut istilah revolutionaire aanvarden (menerima dengan revolusioner). Beliau menyadari betul bahwa rakyat jelata menerima segala sesuatu produk kapitalisme. Namun beliau menghimbau bahwa janganlah kita menerima hal-hal itu dengan puji-puja dan gegap gempita. Ia berharap bahwa kita menerimanya dengan hati yang semata-mata terpaksa karena ketidakmampuan kita, sembari terus bertekad dan mencari cara untuk dapat terlepas dari lingkaran setan tersebut.
Ia bahkan menulis secara eksplisit, “rakyat jelata membeli barang-barang buatan kapitalisme, membeli kain dan piring dan sepeda dan pensil dan apa saja yang bikinan kapitalisme, melihat film-film, naik kereta api, membaca surat kabar, menjadi buruh, berkuli, berproletar, semuanya dari dan kepada kapitalisme, namun tetap benci kepada kapitalisme, tetap mempersetankan kapitalisme, tetap mengutuk kapitalisme dan… tetap menyusun tenaga dan semangat untuk menghantam pada kapitalisme, membinasakan kapitalisme!”
Jauh setelah itu, Indonesia “merdeka” kini menghadapi masalah yang kurang lebih sama bahkan lebih pelik. Kita mengaku sudah berdaulat, tapi kedaulatan kian dipersempit maknanya. Saat usaha-usaha kaum Marhaen kini diinjak oleh kepentingan-kepentingan kapitalis modern yang makin tajam taringnya dan panjang cakarnya. Peraturan-peraturan yang tidak juga membantu banyak bagi masyarakat kecil, kini bersiap untuk dihantam oleh palu godam besar yang menimpa dan meluluh-lantahkan habis seluruhnya.
Nampaknya, lagi dan lagi, nasib rakyat hanya bisa menerima. Nampaknya rakyat jelata, lagi dan lagi, harus makan demi kemakmuran kapitalis yang tersenyum lebar berkilauan.
Saya berharap kita semua tetap melanjutkan usaha dan saling menebalkan tekad satu sama lain untuk mensukseskan bangsa yang Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri). Saya berharap tulisan saya ini dapat mengingatkan kembali pembaca seluruhnya untuk tidak gusar dan tidak berkecil hati.
Andaikata memang kita harus menerima, maka mari kita camkan pesan Paduka Jang Mulia di akhir tulisannya, yaitu..
“Aanvarden, tetapi revolutionaire aanvarden, itulah semboyan kita!”
