kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

A Halu Story (Part 9) : Hidup Bukan Hanya Tentang Dirimu Saja

“Karena kebaikan, tak selamanya hadir pada kesempatan kedua.”


Oleh Taqiya Herman

Aku meringis pelan. Cahaya matahari siang ini terasa lebih tajam dari biasanya. Keadaan sekolah yang lumayan tandus menambah suhu udara menjadi semakin panas. Tapi walau begitu, tetap tak mampu menyurutkan kebiasaanku yang selalu menghabiskan waktu istirahat dengan duduk di atas pagar pembatas di depan kelas sambil mengunyah permen karet.

Kebiasaan ini pula yang membuatku sering diteriaki oleh beberapa guru. Mereka khawatir kalau salah-salah, aku akan terjun bebas dari lantai dua. Kekhawatiran yang masuk akal, kupikir.

Mataku menerawang jauh. Tampak segerombolan siswa berlalu lalang dengan menenteng makan siang di tangan, sambil berceloteh riang tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Berisik.

“Hey!” Seseorang datang menepuk pundakku. Wangi maskulin yang menguar membuatku mudah menebak siapa yang sedang berdiri di belakang.

“Sudah kubilang jangan suka melamun seperti itu!” tegurnya.

“Aku tak melamun, hanya sedang memikirkan sesuatu,” sanggahku tanpa menoleh sedikitpun.

Pria itu menghela napas. Helaannya bagai gemericik daun yang tertiup angin siang. Memang, tak ada yang bisa mengalahkanku jika keadaannya sudah begini.

“Aku ke mari karena ingin memastikan keadaanmu. Banyak orang menanyakan mengapa kau menjadi sangat pendiam. Sesekali bergabunglah dengan teman-temanmu,” ucapnya parau.

Aku tetap berusaha menahan diri untuk tak menolehkan pandangan.

“Pembicaraan menyedihkan ini lagi!” batinku geram.

“Bukan aku yang tak mau. Mereka yang tak suka denganku, karena aku berbeda dari mereka semua. Kau kan tahu itu,” protesku.

Lalu, dengan nada yang masih kesal, aku melanjutkan protesku, “di beberapa kesempatan, aku sering mendapati mereka membicarakan aku. Mereka bilang aku terlalu sombong dan dingin. Katanya, aku terlalu ambisius untuk menduduki juara kelas dan tak mau berbagi dengan siapapun. Terlalu perfeksionis, juga sangat kaku.”

“Bahkan, kau tahu? Diary-ku yang tak pernah terjamah satu makhluk pun dengan entengnya mereka baca! Lalu, bagaimana bisa aku berbaur dengan orang-orang sejenis itu?!” lanjutku dengan sedikit membentak.

Jonatan terdiam sejenak. Picingan mata lelaki itu seperti menyiratkan kerisauan. Aku berusaha tetap untuk tak terlalu ambil pusing dengan perubahan ekspresinya itu.

“Aku mengerti, tapi bagaimanapun kau yang lebih paham hidupmu seperti apa. Kau yang tahu persis berapa banyak yang telah kau korbankan demi meraih semua pencapaianmu itu. Orang-orang hanya akan melihat hasil. Jadi fokuslah pada dirimu saja. Jika tidak pada orang lain, setidaknya berbaik hatilah pada dirimu sendiri,” ucap Jonatan dengan suara lirih.

Aku tak menengahi, apalagi menyanggah. Aku hanya mencoba mencerna kata-katanya ke dalam pemikiranku sendiri.

“Juga,” lanjut lelaki yang biasa kupanggil Jojo ini, “jangan membenci seseorang sehingga kau menghancurkan hidupmu sendiri. Karena setelah dilahirkan ke dunia ini, mereka tidak diberi kesempatan lebih lama untuk saling mencintai, kan?”

Tangannya mengelus pundakku. Ia mencoba menenangkan hatiku. Kurasakan ada semilir angin berhembus lembut membelai pundakku.

“Maksudku adalah, jangan menyia-nyiakan hidupmu dengan mengisinya dengan kebencian kepada orang lain. Kau, seperti juga aku dan mereka, cuma hidup sekali. Jadi, kau harus menjalani hidupmu dengan mencintai mereka yang ada di sekitarmu. Selagi kesempatan itu masih ada. Karena kebaikan, tak selamanya hadir pada kesempatan kedua.”

“Aku tak suka! Itu menghabiskan banyak waktu,” aku menggigit bibir, “bagaimanalah?”

“Oh, ayolah. Bahkan keajaibanpun butuh waktu bukan?” Ia menyerahkan sapu tangan, dan menyuruhku untuk menyeka keringat.

Tak lama berselang, bel masuk berbunyi. Pembicaraan kami terhenti.

“Kembalilah ke kelasmu. Bel sudah berbunyi,” perintahnya.

Maka akupun beranjak dari tempatku berpijak. Melangkahkan kaki dan mengayun tangan menuju ke kelas. Aku menerima pendapat Jonatan, sekaligus berusaha menerima kenyataan bahwa hidup ini bukanlah tentang diriku sendiri. Tapi, juga tentang mereka, dan biarlah kucari kebaikan itu di sana.

Ada banyak solusi terbaik bagi setiap masalah yang saling bersisian.

Jojo



Taqiya Herman adalah Santri Aliyah di Ponpes Darun Nahdhoh Tawalib, Bangkinang, Riau.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai