“Maka apakah mempertahankan persatuan ideologi-ideologi bangsa membuat Bung menjadi seorang komunis?”
Sebelum semua pemikiran saya ini tertulis, sebenarnya butuh waktu beberapa hari untuk betul-betul menuliskannya. Sebab satu-satunya kalimat yang terpikir adalah “Membela Bung Besar”. Sementara banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak saya seperti, perlukah Bung dibela? Atau pantaskah saya dan apa yang saya tahu membela Bung?
Pertanyaan-pertanyaan ini terlalu menyiksa, hingga akhirnya saya hentakkan saja dengan acuh sembari menjawab mereka dengan, persetan dengan pantas-tidak pantas! Biarlah pembaca yang menilai baik-buruknya tulisan ini.
Dalam enam puluh sembilan tahun dan lima belas hari hidupnya, Bung Besar mungkin sudah terlalu bosan dan kebal akan cercaan ataupun fitnah. Apalagi mengingat bahwa beliau adalah sosok vital dalam elan sejarah republik ini. Bukan hanya sebagai seorang Presiden, beliau juga Proklamator yang tidak hanya menjadi sorotan di Indonesia, namun juga dunia. Di antara tuduhan-tuduhan itu banyak juga yang sudah usang dan tak lagi dipercayai bahkan dipikirkan masyarakat kini, misalnya saja tudingan yang menyatakan Bung sebagai kolaborator Jepang. Setidaknya saya ingin sedikit membahas tentang dua tudingan terhadap Bung yang masih acap kali terdengar.
Tudingan pertama; Bung seorang komunis dan anti-Amerika.
Bagi saya ini jelas sebuah pernyataan yang keliru. Bagaimana mungkin seorang Sukarno menjadi seorang komunis? Bagaimana mungkin seorang yang bahkan sempat menginginkan panji Muhammadiyah dipasangkan di atas pusaranya merupakan seorang komunis? Bagaimana mungkin seorang tokoh Islam sekelas Hasan Din memberikan putrinya Fatmawati untuk dipersunting oleh seorang, yang katanya, komunis? Bagaimana mungkin seorang yang sowan kepada Mbah Hasyim Asy’ari sebelum mengambil keputusan penting atau memgambil banyak nasihat dari Habib Alwi Bogor adalah seorang komunis?
Memang banyak sekali pertanyaan yang menyudutkan beliau dalam pernyataan tersebut. Tapi sekali lagi, menurut saya, pernyataan tersebut hanya berdiri di atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak segera dicari jawabannya.
Memang betul, Bung-lah yang menggagas Nasakom sebagai sebuah persatuan dari ideologi-ideologi yang besar pada masa itu termasuk komunisme. Namun tindakan ini semata-mata untuk mengapikkan suasana politik masa itu yang terdiri dari empat puluh partai dan betul-betul sangat runyam. Bung bahkan berkata “Aku memulai Nasakom dengan Nas, bukan Kom, untuk menunjukkan bagaimana aku lebih mengutamakan nasionalisme daripada komunisme.” Bung juga tergolong cukup dekat dengan PKI lantaran memang partai tersebut sangat besar di waktu itu, dan ketegangan melawan PKI pada saat itu hanya akan menghambat misi persatuan Indonesia yang dipegang teguh olehnya.
Ya, Bung juga memang mempunyai hubungan yang erat dengan Nikita Kruschev, Mao Zedong bahkan Che Guevara, dan Ya, mereka memang pemimpin negeri-negeri komunis. Namun siapa yang tidak senang disambut dan dijemput di luar istana dalam kondisi cuaca yang sangat dingin, atau disambut dengan 150 orang musisi di lapangan terbang yang memainkan lagu Indonesia Raya saat kehadirannya di Moskow meski Bapak datang dengan pesawat Amerika?
Bung bukanlah seorang yang mau diinjak-injak harga diri dan bangsanya. Apa salahnya Bung membenci sikap pemerintah Amerika yang selalu bersikap angkuh dan memandang Indonesia sebagai negara anak bawang? Bung jelas marah saat disuruh menunggu selama hampir satu jam oleh Eisenhower saat melakukan kunjungan resmi kenegaraan. Sementara seorang Raja Arab disambut dengan penuh keramahan saat melakukan kunjungan yang tidak resmi ke Amerika saat hanya sekadar mengantar anaknya berobat.
Belum lagi sikap pers negeri Paman Sam yang selalu merendahkan Bung. Dengan sekali ckrekk…, media-media asing itu sesukanya menulis tajuk-tajuk yang membuat Bung merasa terhina. Misalnya, ketika Bung disambut oleh Carol Ah Yu, Miss Hawai kala itu saat kunjungannya ke Honolulu. Setelah disambut dengan kalungan bunga dan ciuman selamat datang, dengan meminta izin Bung membalas ciuman tersebut dan ckrekk…, seketika bermunculan tajuk-tajuk spektakuler model “Sukarno sang pencicip” atau “Sukarno berulah lagi.” Apa Bung harus merasa senang dengan perlakuan seperti itu?
Saya dapat menjamin bahwa Bung tidak mungkin benci terhadap orang Amerika sebagai bangsa, melainkan ia hanya tidak suka dipandang sebelah mata oleh keangkuhan imperialisme barat. Hal ini terbukti dari kedekatan Bung dengan JFK yang menurutnya mengerti dan terbuka terhadapnya. Bung bahkan mempersiapkan sebuah guest house khusus untuk JFK, sayang kunjungan itu tak pernah terjadi. Belum lagi persahabatan beliau dengan seorang pilot asal Amerika, Bob Freeberg yang banyak membantu negara di awal-awal masa kemerdekaan. Selain itu Bung juga merupakan seorang penggemar film-film Hollywood.
Maka apakah mempertahankan persatuan ideologi-ideologi bangsa membuat Bung menjadi seorang komunis? Atau apakah membalas kebaikan negara-negara yang banyak membantu negara kita yang baru lahir saat itu adalah kesalahan? Atau mungkin harga diri Bung yang tinggi, dan kecintaannya terhadap tanah air yang membuatnya tidak terima dengan perilaku imperialis adalah kesalahan?
Tudingan kedua; Bung seorang diktator.
Pengangkatan diri sebagai Presiden Seumur Hidup, sistem demokrasi terpimpin dan kebebasan pers yang terkungkung menyebabkan Bung acapkali dituding sebagai seorang diktator. Mari kita bahas tiga hal di atas satu-persatu:
Pada bulan Mei 1963, Wakil Perdana Mentri III Khairul Saleh datang menemui Bung dan menceritakan tentang pergerakan di bawah untuk menjadikan beliau sebagai Presiden Seumur Hidup. Bung tersentak dan menjawab, “Gagasan itu merendahkan diriku, Khairul. Tentu saja aku merasa tersanjung, tetapi aku takut ini terlalu berlebih-lebihan.”
Begitulah awal mula pencanangan jabatan kontroversial tersebut. Wacana ini semakin dirasa penting oleh para pendukung Bung, lantaran jurang perpecahan yang semakin luas baik antara komunis dan sayap kanan maupun antara komunis dan militer.
Hal ini dinilai menjadi satu-satunya cara untuk meyakinkan sayap komunis bahwa sayap kanan tidak mengambil kekuasaan, dan juga meyakinkan sayap kanan bahwa komunis tidak mengambil kekuasaan. Maka bisa dikatakan bahwa pencanangan Bung Besar sebagai Presiden Seumur Hidup bukanlah kemauan beliau sendiri, melainkan demi kepentingan bangsa dan negara. Saya yakin para skeptis tidak akan begitu saja percaya, namun setidaknya dapat kita simpulkan bahwa pencanangan ini bukanlah semata-mata kemauan ego daripada Bung, melainkan terdapat misi di baliknya demi persatuan negara Indonesia yang masih sangat belia.
Hal tersebut pula yang menjadi alasan sistem demokrasi terpimpin yang dipilih Bung. Pernah suatu waktu Indonesia menggunakan sistem kabinet parlementer, bisa dibayangkan bagaimana ricuh dan ramainya kondisi dewan pada masa itu. Hal tersebut tentunya tidak baik untuk membangun pondasi dari sebuah negara baru.
Tentang Belenggu pada Pers.
Sungguh pada masa itu keadaan politik Indonesia sedang rebut-ributnya laksana angin taufan yang bergemuruh. Bung berpikir bahwa kepemimpinan yang dimilikinya harus mampu menenangkan badai yang makin berkecamuk ini. Ada sebuah pernyataan Bung yang menurut saya cukup menjelaskan terkait masalah ini. Perkataan itu ialah, “Revolusi memang memerlukan kepemimpinan. Tanpa kepemimpinan, yang terjadi adalah kepanikan dan ketakutan. Aku tidak mengijinkan kritik-kritik yang merusak kepemimpinanku. Demikian juga aku tidak mengijinkan kebebasan pers yang sangat bebas. Kami muda, sehingga kemerdekaan pers yang sangat bebas bisa membuat lebih kacau daripada sebelumnya. Di mana ada tentara yang mengijinkan prajuritnya di muka umum menelanjangi jendralnya sehingga menjatuhkan kehormatan dan kepercayaan terhadapnya? Itu bukan karena sang jendral sombong, melainkan karena sikap seperti itu dapat merusak keadaan psikologis dari seluruh tentara dan menimbulkan keragu-raguan dan hilangnya kepercayaan.”
Lagipula, apakah seorang yang memperjuangkan kemerdekaan bangsanya mungkin menjadi seorang diktator? Mungkinkah orang yang menjunjung tinggi demokrasi dan menolak monarki sebagai sistem yang ditawarkan Jepang adalah diktator? Apakah teman-teman pembaca tidak merasakan bahwa sungguh kita terlampau jauh dengan para pendahulu- pendahulu kita?
Maka dari itu saya menyatakan bahwa sudah saatnya kita baca kembali sejarah luhur bangsa kita. Sudah saatnya anak-anak bangsa menjadi marhaen, dengan atau tanpa embel-embel –Perjuangan. Sudah saatnya kita berdiri tegak di depan bangsa lain dengan sebuah kepercayaan dan kecintaan yang membara terhadap Indonesia. Sebuah kesadaran bahwa negara Indonesia sungguh terlahir dari bangsa yang tua dan luhur peradabannya. Sebuah kesadaran bahwa Indonesia suatu saat mampu menjadi pemimpin dunia. Sebuah kesadaran bahwa Ibu Pertiwi sungguh mulia dan tiada tandingannya. Sudah saatnya kita matikan satu persatu jerat pesimisme yang membelenggu generasi dini.
Mungkin ada baiknya kini kita merenungkan sebuah kalimat di bagian depan buku Sukarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang berbunyi “Demi pengertian terhadap Sukarno dan bersamaan dengan itu pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia-ku yang tercinta.” Jika boleh saya modifikasi sedikit, mungkin isinya akan menjadi seperti ini, “Demi kecintaan terhadap Sukarno dan bersamaan dengan itu kecintaan yang lebih besar terhadap Indonesia.”

Bung Karno
Referensi tulisan ini hampir seluruhnya bersumber dari buku “Sukarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang ditulis oleh Cindy Adams.
