kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Derai-Derai Kecemasan

“Tidakkah semakin ke sini kesepian seringkali menghampiri kita?”


Oleh Ziyad Ahfi

Orang bijak berkata, “musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri.” Menurutku ungkapan ini amatlah asbtrak dan belum jelas keberadaannya. Karena yang dimaksud dengan “diri sendiri” ini terletak di bagian sebelah mana? Apa yang membuat orang-orang sampai percaya begitu saja tanpa menimbang lebih dulu makna sebenarnya “diri sendiri” yang sering diucapkan oleh para sarjana bijak bestari itu?

Aku tidak akan menjadi bijak, bahkan berprofesi sebagai orang bijak hanya karena memiliki sedikit keberanian untuk mengatakan yang dimaksud dengan diri sendiri itu adalah kecemasan. Aku lebih memilih untuk menuliskan saja setelah melalui pengalaman yang masihlah lagi seumur biji jagung ini membenturku, terus membenturku, sampai ia memaksaku untuk mengatakan: kecemasan adalah musuh terbesar manusia.

Sebagian dari orang bijak itu juga mengatakan bahwa perjudian terbesar seorang manusia adalah ketika ia keluar dari perut ibunya dalam keadaan hidup. Saat itulah ia mesti bertahan sampai kematian datang merenggutnya. Sikap pesimis itu dibantu oleh sepenggal syair Chairil Anwar yang mengatakan dalam lirik puisinya bahwa tujuan dari hidup hanya untuk menunda kekalahan. “Kalah” yang tertulis di situ seperti mengisyaratkan seorang nihilis. Ya, lebih tepatnya adalah ucapan seorang nihilis yang ingin terlihat heroik. Bertahan dalam menghadapi hari-hari penuh kecemasan.

Semua orang berusaha menghindar dari kecemasan. Tapi, apa boleh buat, dunia selalu menawarkan kecemasan-kecemasan baru. Apa yang kita kira baik, nikmat, modern, selalu dan terus-menerus tidak habis-habisnya menghantam pikiran kita untuk harus menerima segala yang mereka berikan. Seperti produk-produk kecantikan, obat-obatan pelangsing badan, yang memaksa perempuan harus berupaya mem-vermak seluruh tubuhnya supaya tampil bak seorang model yang saban hari dipajang di televisi, di media sosial, hingga di billboard jalanan. Sehingga melahirkan bentuk manusia baru yang memiliki ukuran-ukuran. Dari bentuk pipi yang tirus, perut yang langsing, serta payudara yang besar (dengan anggapan: demi terlihat cantik dan untuk memenuhi harapan laki-laki).

Dan yang menjadi pertanyaannya sekarang, sejak kapan kecantikan itu mempunyai ukuran? Jika kecantikan itu memang memiliki ukuran, apa saja ukuran seorang itu bisa dikatakan cantik? Jika begitu, bagaimana dengan mereka yang sejak lahir memang tidak memiliki ukuran-ukuran itu? Apakah mereka diperbolehkan berdemonstrasi ke hadapan Tuhan? Menuntut keadilan karena kecemasan mereka tentang syarat cantik yang belum terpenuhi?

Sementara itu, di sisi laki-laki, semenjak budaya pop dari Korea menyerang seluruh dunia, ukuran ketampanan kembali dihitung ulang. Lagi-lagi, seluruh laki-laki yang perawakannya tidak memenuhi kriteria selebriti Oppa-oppa Korea dipersilahkan mundur dan mengurungkan niat untuk memenuhi ekspektasi perempuan.

Laki-laki cemas. Ke mana mereka akan melabuhkan harapannya. Bagi yang benar-benar mengikuti obsesinya, ia akan berusaha kelewat tolol mem-vermak dirinya demi terlihat tampan. Rambut yang diwarna, pipi yang tirus, hidung yang mancung, sampai tubuh yang sixpack.

Di sisi yang lain, lewat alasan “gaya hidup mewah”, hutan-hutan dibabat habis, di atas tanahnya dibangun apartemen-apartemen, hotel-hotel, hunian modern yang bertingkat. Manusia diberi harapan: hidup akan lebih nyaman. Dengan satu kamar yang dilengkapi satu AC, satu TV, satu penggorengan, dan satu lampu. Tanpa disadari, semakin banyak apartemen itu dibangun, perlu berapa luas lagi tambang batu bara di rimba Kalimantan sana yang akan dikeruk? Untuk menghidupi listrik-listrik itu yang dampak pabriknya akan merusak lingkungan dan menggerogoti saluran pernapasan penduduk sekitar?

Jalanan terus dibangun, padahal lahan semakin sempit. Bila fly over masih belum efektif, bangun lagi fly over yang berkelok-kelok, jalan-jalan tol tinggi menjulang dan memanjang. Bangun sepanjang langit-langit, dan bila perlu sampai menutup awan. Sebab industri otomotif terus menawarkan kemewahan, kemudahan, dari mobil roda empat sampai roda dua belas, dari mobil dua pintu sampai empat pintu. Semuanya serba modern. Dan yang mengisi jalanan: hampir satu mobil satu orang. Bahkan satu rumah, lima mobil. Bahkan garase belum ada, mobilnya lebih dulu ada.

Banjir melanda. Lahan hijau sudah tertutup semen, paving block, gedung-gedung, solusinya: pindahkan Ibu Kota. Ke tempat yang masih hijau. Keruk. Gali. Bangun pabrik, gedung, demi hidup yang lebih modern. Bila semua sudah tertutup aspal, semen, paving block, tinggal pindahkan lagi Ibu Kota. Sampai kepuasan terpenuhi.

Toh, pada akhirnya kita dipaksa menjadi manusia individualistik: sebagaimana cita-cita kapitalisme. Lalu, ketika hidup sendiri penuh kebosanan, penuh kekhawatiran, tanpa sosialisasi (karena sosialisasi cukup dengan segenggam telepon, dan kebutuhan akan handphone sudah manjadi primer, bahkan ketika tiap kali terbangun dan ingin tidur kembali, ia adalah satu-satunya benda yang selalu dicemaskan keberadaannya, yang kehilangannya sudah seperti kehilangan setengah dari jiwa kita), maka karena alasan itu kita akan terus-terusan hidup dalam kebiasaan mengisolasi diri, sambil menunggu diserang oleh berbagai penyakit, sampai kita mesti bertanya kepada google mengenai obat-obatan apa saja yang harus dikonsumsi untuk memenuhi kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi, serta mencari tahu tentang narkotika jenis apa yang harus ditelan untuk memenuhi perut dan isi rumah bandar narkoba.

Dan kini, kehormatan mulai diukur dari “berapa harga outfit lo?”, “tinggal di apartemen mana lo?”, “pake mobil apa lo ke sini?”, “berapa harga skincare lo?” Pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena kecemasan pergaulan yang sangat selektif. Sampai kemudian terbentuklah suatu kelas kelompok baru: circle pengguna skincare mahal, circle pecinta outfit hedon, komunitas lamborghini, serta kelas-kelas baru yang merasa sebagai pemilik saham terbesar bumi, sehingga mereka merasa yang bukan bagian dari komunitas mereka hanyalah manusia-manusia “ngontrak” sementara waktu di bumi ini.

Tidakkah semakin ke sini kesepian seringkali menghampiri kita? Hanya saja, kita sengaja menutupinya lewat ungkapan: semuanya akan baik-baik saja.

Sampai di sini, saya mau bertanya, benarkah kita ini homo socius (makhluk sosial)? Sesuai budaya gotong royong yang kita puja-puji tiap masuk ke kelas mata kuliah Pancasila? Atau secara jujur kita memang harus mengakui bahwa kita memang adalah homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya)?

Apa yang terjadi hari-hari ini membuktikan: strategi perang yang paling ampuh adalah menyerang sisi terdalam manusia. Dengan menebarkan ketakutan, kehawatiran dan kecemasan. Tentang masa depan yang serba baru, persaingan kecantikan yang kian kompetitif, serta gaya hidup hedon yang mesti dipertahankan, walau gengsi menjadi pertaruhannya, walau nyawa manusia mesti dikorbankan.

Dan menjadi gila, nyaris menjadi pilihan yang paling masuk akal di abad-abad belakangan ini. Namun persyaratan administrasi untuk menyandang status orang gila amatlah berat. Menjadi gila juga tetap memikul tanggung jawab besar, yaitu: bodo amat. Dan menjadi bodo amat, tentu semakin sulit, sebab kita sudah dikepung dan akan terus dikepung oleh mitos-mitos baru tentang peradaban modern yang diproduksi oleh kapitalisme.

Kekalahan, sebagaimana yang diucapkan oleh Chairil, adalah jalan terakhir yang akan ditempuh oleh manusia, setelah ia terus menunda-nunda diri dalam menghadapi hari-hari yang penuh kecemasan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai