kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Seorang Besar dan Gagasan Besar

Suatu hari Freud pernah berkata, “aku selalu menjadi seorang pembenci yang baik.”


Oleh Herman Attaqi

Petuah orang zaman dahulu menyebutkan bahwa kematian tidak sepenuhnya membuat kita kehilangan. Sebab harimau mati, ia masih meninggalkan belang. Bila seekor gajah mati, ia meninggalkan gading. Bahkan manusia mati meninggalkan nama. Tetap ada yang tertinggal, dan tak sebenar-benar pergi.

Pak Haji di dalam novel “Harimau! Harimau!” karya Mochtar Lubis berpesan menjelang ajalnya, “sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah terlebih dahulu harimau yang ada di dalam hatimu sendiri.” Saya kira petuah-petuah itu benar, meski perkara ‘nama’ yang ditinggal mati, tak pernah ada yang seragam. Sesungguhnya, tidak ada kewajiban bagi segenap manusia untuk menjadi seorang Prabowo atau Wiranto, umpamanya. Syukurnya, dunia ini adalah lapangan pilihan yang maha luas bagi orang-orang untuk memilih hidup bahagia tanpa diharuskan menjadi siapapun.

Sewaktu kecil, saya ingin menjadi seorang yang besar. Tapi, Ibu mengatakan jadi apapun saja tak masalah, yang penting jadi berguna. Que sera sera, jadi apa nantinya, ya, terserahlah. Jika suatu hari nanti datang seorang asing yang mengakui bahwa kita telah berguna bagi dirinya, dan pada saat itulah kita telah menjadi seorang yang besar.

Pada suatu petang di hari Sabtu, Amalia, Ibu dari Sigmund Freud memohon kepada seorang pelayan di sebuah kafe terbuka di taman kota Wina yang molek dan luas, agar sang pelayan itu meramal anak lelaki kesayangannya itu. Dan, ketika si pelayan meramal, ia memberitahu kepada Amalia bahwa suatu hari nanti putranya itu akan menjadi Perdana Menteri Kerajaan. Amalia menangis. Air matanya bercucuran saking bahagianya.

Sigmund kecil tumbuh sebagai anak yang kritis dan melahap semua bahan bacaan dengan rakus. Tak ada satu katapun yang bisa lolos, kecuali pasti akan ditangkap oleh sorot tajam matanya. Suatu hari ia menatap lekat kepada Ibunya dengan sepasang matanya yang gelap itu, sembari mengernyitkan kening, sambil berkata, “katakan padaku bahwa manusia benar-benar terbuat dari tanah.”

Ibunya bingung, tak tahu harus menjawab apa. Namun, ia tentu tak mau mengecewakan anaknya yang menginginkan bukti. Kemudian ia menggosokkan telapak tangannya seperti ia membuat adonan kue bola, hingga beberapa bagian kulit telapak tangannya terkelupas. Sigmund kecil melihat dengan takjub.

Rachel Baker menulis di dalam buku biografi Sigmund Freud : Di Seberang Masa Lalu (terjemahan bahasa Indonesia), setelah melanjutkan pendidikan kedokterannya, gagasan-gagasan Freud yang ditulis lewat buku-bukunya itu justru tidak diterima dengan baik. Bahkan di buku Three Contributions to The Theory of Sex malah membuat nama Freud pantang untuk disebut di muka umum, apalagi ketika ada kaum perempuan berada di sekitar situ. Setiap orang yang menyebutkan namanya, selalu disertai dengan keterangan tambahan, “oh, orang yang tak tahu susila itu, ya?”

Profesor Wagner von Jauregg, ketua jurusan Psikiatri Universitas Wina, yang kelak dianugerahi Nobel, menyempatkan diri untuk memberi kesimpulan atas gagasan Freud dengan sepatah kata: Gila!

Namun, barangkali Freud seperti seorang tentara yang seringkali disambangi maut yang kemudian tunggang-langgang melihat Freud selalu berhasil menemukan cara untuk mematahkan serangan musuh. Tak terkira ujian yang dilewati oleh Freud untuk membuktikan ramalan si pelayan kafe. Ia akan menjadi seorang yang besar, seorang “Perdana Menteri Kerajaan”. Dicaci sebagai seorang asusila sudah. Dimaki sebagai idiot apalagi. Bahkan diejek sebagai orang gila pun ia tampik. Ia tak bergeming. Kecuali, suatu ketika ia pernah teramat emosional ketika mendapati pengkhianatan yang dilakukan oleh murid, yang juga orang-orang kepercayaannya.

Diawali oleh pengkhianatan Dr. Alfred Adler, seseorang yang pernah membelanya di sebuah surat kabar ketika gagasan Freud menjadi bahan olok-olok para akademisi. Tapi, Dr. Adler juga menimba banyak ilmu dari gagasan psikoanalisis Freud, dan memutuskan berseberangan dari sosok yang membesarkannya itu, serta memutuskan menentang Freud. Freud menulis kecamannya terhadap Adler dan kelompoknya dengan mengatakan, “orang-orang cebol yang berdiri di atas pundak seorang raksasa, bisa juga mengklaim bahwa mereka melihat negeri-negeri yang jauh.” Dan, pengkhianatan yang paling menyesakkan bagi Freud adalah yang dilakukan oleh “putra mahkota” gagasan psikoanalisis yang ditemukannya dengan berdarah-darah itu, siapa lagi kalau bukan Dr. Carl Gustav Jung. Freud menuliskan sebuah surat terakhirnya kepada Jung dengan mengatakan, “manusia kuat hanya ketika mereka mewakili sebuah ide yang juga kuat!”

Dari semua bentuk “kekalahan”nya itu, Sigmund Freud berhasil menemukan satu mata air bagi segala rasa haus yang dicarinya selama ini, yakni suatu kekuatan yang tak pernah disadarinya betul, kekuatan yang berada justru di dalam inti sebuah gagasan.

Untuk mengurai kebesaran gagasannya tersebut, saya mencoba menyusun daftar sebagian buku-buku yang ditulis oleh Sigmud Freud, yang kelak membentuk bangunan gagasan besar bernama psikoanalisis. Sebuah gagasan yang dengannya hari ini dunia menyatakan bahwa Sigmund Freud adalah seorang yang besar, dan saya kira “menjadi seorang yang besar” bagi Freud telah begitu teramat sepele untuk dikatakan dengan sepatah dua patah kata. Ia pun telah melampaui ramalan si pelayan kafe dengan lompatan yang jauh, ramalan yang sempat membuat air mata Ibunya membuncah bahagia.

#1 The Interpretation of Dreams

Buku The Interpretation of Dreams terbit pada tanggal 2 Januari 1900, sebuah gagasan yang menandai dimulainya sebuah abad yang baru.

“Selama bertahun-tahun,” terang Freud sebagaimana dikutip dari Rachel Baker, “aku disibukkan oleh tugas-tugas untuk menyembuhkan fobia histeria, ide-ide obsesional […] Para pasienku, setelah mereka berjanji untuk memberitahukan padaku seluruh pikiran dan gagasan mereka, menceritakan semua mimpinya.”

Freud dengan berani membongkar keyakinan orang-orang zaman dahulu tentang mitos mimpi. Bahwa mimpi bisa mengungkapkan masa depan, tidaklah benar, tegasnya. Bahkan, ia dengan bekal keberanian membuang rasa malu karena menjadikan mimpinya sendiri sebagai obyek penelitian untuk bukunya. Ia sadar telah menelanjangi dirinya sendiri dengan menyingkap hal-hal yang berkaitan dengan kehidupannya, yang justru tidak bersedia dilakukan oleh kebanyakan orang.

“Tidaklah mudah untuk mengungkapkan rahasia-rahasia yang paling tersembunyi, mengakui kesalahan pada diri sendiri. Tidaklah mudah, kendati hal ini dilakukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan,” ujar Freud.

Di dalam buku Tafsir Mimpi ini, Freud juga menulis tentang “Kasus Dora”, yakni ketika seorang gadis datang padanya, dan kemudian Freud mampu menemukan sumber penyakit pada gadis tersebut yang bersumber dari keterikatannya dengan sang Ayah. Semua penemuan gejala dan sumber penyakit itu berhasil dibaca oleh Freud lewat mengurai mimpi-mimpi sang gadis. Maka alam bawah sadar, tempat asal muasal mimpi itu bersemayam, menyimpan memori yang hanya bisa dimunculkan lewat mimpi, tanpa ada jalan lain.

Segala temuan-temuan yang dituangkannya di dalam buku ini, membuat Freud yakin, bahwa ini adalah karya magnum opus-nya. Ia telah bekerja selama lima tahun dengan menganalisis ribuan mimpi, termasuk mimpinya sendiri, dan berhasil menemukan rahasia-rahasia terdalam dari penyakit kejiwaan lewat mimpi-mimpi itu.

Karya yang diterbitkan dengan optimisme yang meluap-luap ini, alih-alih mendapatkan respon yang positif, malah mendapat banyak cemoohan di berbagai jurnal kedokteran pada masa itu. Tapi, Freud tak menyerah, pantang baginya untuk ambrol dan ambyar, meski karya heroiknya itu dikembalikan lagi padanya tanpa pernah dibaca.

#2 The Psychopathology of Everyday Life

Buku ini membahas semua perubahan tingkah laku manusia dari kejadian sehari-hari yang tampak terjadi tanpa disengaja. Dari buku Tafsir Mimpi atau The Interpretation of Dreams, Freud mengembangkan kajiannya pada menemukan kemampuan mendeteksi keinginan-keinginan dan konflik dalam diri pasien dengan memeriksa igauan, mimpi dan perubahan tingkah laku sehari-hari, persis seperti dokter yang bisa mendeteksi kerja jantung seseorang dengan melakukan pemeriksaan dari denyut nadinya.

Menurutnya, segala yang dilakukan manusia, seperti “keselip lidah” saat berpidato atau berbicara, kekeliruan yang dilakukannya, warna yang disukai, angka favorit, bahkan kecelakaan yang menimpa manusia, itu semua memiliki makna dan mengekspresikan suatu perasaan-perasaan tersembunyi dan terpendam. Mirip dengan mimpi dan igauan yang merupakan sebentuk ekspresi dari perasaan terpendam.

Ada seorang pemuda datang kepada Freud untuk berkonsultasi. Ia membawa segumpal roti lembut. Lalu, dengan roti itu, ia membuat sebuah patung manusia. Ia terus berbicara sembari jemarinya bekerja membuat patung roti. Persis pada saat ia menceritakan tentang pertengkarannya dengan Ayahnya, tiba-tiba dengan kasar, pemuda itu merenggut kepala patung roti tersebut.

Di kesempatan berbeda, seorang perempuan muda menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya yang tak berbahagia. Seringkali setiap ia hendak menyebut kata: suamiku, justru yang keluar adalah kata: ayahku.

Dari pengamatannya atas perubahan perilaku pasiennya, Freud berhasil menyimpulkan bahwa perilaku yang tampak seolah tak disengaja, seperti tiba-tiba “berlaku kasar” dan “keselip lidah”, sejatinya mengungkapkan berbagai rahasia. Si pemuda itu sebenarnya sedang mengungkapkan kebencian yang dirasakannya pada sang Ayah. Ibu muda yang keselip lidah dengan selalu menyebut “Ayahku” pada saat ingin mengatakan “Suamiku”, mengindikasikan pola ketergantungan yang kuat pada figur Ayah pada masa kanak-kanaknya yang belum mampu dia atasi, bahkan menjadi kendala besar baginya di dalam proses perkawinannya.

Peristiwa-peristiwa aksidental tersebut, adalah sekelumit contoh pengalamannya dalam menyembuhkan pasien yang ditulis oleh Freud di dalam buku ini. Ia ingin mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang tiba-tiba terjadi begitu saja, bahkan pada banyak hal, perubahan perilaku manusia adalah bentuk ekspresi dari keinginan yang terpendam.

#3 Three Contributions to The Theory of Sex

Jika pada dua buku sebelumnya, yang sepi dari tanggapan publik dan dunia kedokteran, pada buku ini gagasan Freud mulai mendapatkan atensi, tapi dengan cara yang ganjil, “seganjil” analisisnya yang terhitung melampaui metode ilmiah pada zamannya.

Kali ini, Freud kembali melanjutkan gagasan beraninya yang melabrak kemapanan berpikir pada saat itu. Di Wina, kaum laki-laki seperti laki-laki Indonesia zaman orde baru kala membaca buku-buku stensilan semacam karya Enny Arrow. Mereka harus memastikan keadaan sekeliling aman sebelum menyebutkan nama Freud. Begitulah kebenaran jika teramat cepat mendatangi jangkauan otak manusia yang belum sampai. Sehingga harus terlebih dahulu direspon dengan gagap dan denial.

Freud, di dalam buku ini, berhasil menunjukkan dengan argumentasi yang kuat bahwa hasrat seksual kita yang ada semenjak lahir, mengalami beberapa tahap perkembangan. Di sinilah dinyatakan pertama kali teori terkenal Freud tentang seksualitas infantil yang kini telah diakui oleh semua kalangan. Freud juga memperkenalkan istilah baru di dalam kajian psikologis, seperti narsisme atau self-love, oedipus complex, libido, dan sebagainya.

Di kota Wina, sontak, nama Sigmund Freud menjadi buah bibir. “Pada masa ini pula,” tulisnya, “kota Wina melakukan upaya apapun untuk mencegah lahirnya psikoanalisis.”

#4 The Ego and The Id

Buku The Ego and The Id ini terbit pada tahun 1923, ketika dunia masih tertutup awan hitam akibat peperangan yang tak berkesudahan.

Buku yang ditulis sebagai sebuah refleksi yang mendalam atas sebuah kondisi sosial politik yang berisi peperangan antara pasukan Jerman melawan pasukan sekutu. Di sini Freud menggunakan teori psikoanalisis dengan lebih maju dan kuat.

“Perang ini,” tulis Freud, “menyingkapkan insting-insting binatang kita dalam bentuknya yang paling telanjang. Kita membiarkan kekuatan-kekuatan jahat yang sebelumnya tersembunyi jauh di dalam diri kita lepas-bebas, bahkan belum bisa terjinakkan selama berabad-abad.”

Ia pun menulis semacam konsepsi geografi jiwa manusia, yang kemudian disebutnya dengan “Ego” dan “Id”. Id adalah bagian paling binatang dan liar di dalam diri setiap manusia. Sedangkan Ego adalah gagasan-gagasan beradab dan nalar yang menjaga pikiran manusia. Pertarungan di antara Ego dan Id akan terus berlangsung di dalam diri manusia. Sebuah pertarungan panjang antara kebiadaban dan peradaban. Tapi, menurut Freud, ada sebuah bagian dari Ego yang bertindak sebagai hakim, yakni apa yang disebutnya dengan Super-Ego. Super-Ego adalah bagian dari Ego yang ditundukkan oleh norma yang ada di dalam masyarakat.

Akhirnya, kita melihat bagaimana sebuah gagasan, dalam hal ini teori psikoanalisis berkembang, melewati jalan berliku, curam, bahkan penolakan-penolakan yang tidak sedikit. Gagasan berkembang, bukan karena manusianya. Sebab, manusia kadang cenderung berkhianat dan terjebak ke dalam inkonsistensi. Tapi, ia berkembang karena dibangun di atas pondasi yang kokoh. Tetap tegak berdiri di tengah badai. Bukan karena sang maestro-nya — dengan tanpa mengecilkan arti sosok Freud — yang luar biasa, tapi karena ia dibangun dari satu gagasan ke gagasan berikutnya secara berkelanjutan.

Sebab, suatu hari Freud pernah berkata, “aku selalu menjadi seorang pembenci yang baik.” Namun, ia telah belajar bagaimana menyalurkan kekuatan kebencian-kebencian tersebut demi kebaikan umat manusia. Lihat saja bagaimana gagasannya berkembang, tidak hanya menganalisis psikis seorang laki-laki dan perempuan secara individual semata, ia bahkan di puncak gagasannya telah masuk ke dalam wilayah nasib peradaban umat manusia.

Sigmund Freud meninggal dunia pada tanggal 23 September 1939. Sebagaimana petuah orang zaman dahulu yang menyebutkan, bahwa kematian tidak sepenuhnya membuat kita kehilangan. “Aku bukan tokoh besar,” ucap Freud, lalu ia berkata, “aku hanya menemukan sebuah gagasan besar.”

Sebab harimau mati, ia masih meninggalkan belang. Bila seekor gajah mati, ia meninggalkan gading. Bahkan manusia mati meninggalkan nama. Tetap ada yang tertinggal, dan tak sebenar-benar pergi. Dan, bersama gagasan besarnya yang dikenal dengan “psikoanalisis” itulah, sebuah sebutan sebagai seorang besar, menjadi sesuatu yang teramat sepele untuk dinisbatkan padanya.


Herman Attaqi, A Freudian.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai