“Istana yang kumuh dan terbengkalai, prasasti Shewbuntar yang ditulis dalam bahasa Inggris, serta beberapa koin dan tembikar; hanya itu yang tersisa dari Kuala Batee hingga saat ini.”
Oleh Nanda Nadya
Mungkin tak banyak yang tahu ternyata Indonesia pernah memiliki kerajaan kecil yang pernah dibombardir oleh Amerika Serikat.
Yap. Namanya Kerajaan Kuala Batee atau yang dapat kita sebut dengan “Kuala Batu”. Kerajaan kecil yang terdapat di Aceh, tepatnya di bagian barat daya Aceh; merupakan pecahan dari kerajaan kecil lainnya, yaitu Kerajaan Lama Tuha dan Kerajaan Lama Muda; yang mana kerajaan Lama Tuha musnah karena diterjang banjir besar pada abad ke-18. Hal ini disebabkan karena lokasi kerajaan-kerajaan kecil ini yang dekat sekali dengan pesisir pantai.

Istana terakhir Kerajaan Kuala Batee, Aceh.
By the way, kok bisa, sih, kerajaan kecil seperti Kuala Batee diserang Amerika? Amerika beraninya cuma sama kerajaan kecil, doang? Hihi. Calm. Begini kronologinya~
Pada masa itu, lada merupakan komoditi yang sangat dicari, dan Kuala Batee menyediakan komoditi tersebut. Namun pada tahun 1829, harga lada di perdagangan internasional merosot tajam. Pada keadaan yang seperti itu, membuat pelabuhan di Aceh tepatnya Kuala Batee menjadi sepi. Namun, kapal Friendship milik Amerika yang di pimpin oleh kapten Charles M. Endicott tetap berlayar dan berlabuh di Kuala Batee pada tahun 1831.
Ketika Endicott dan anak buahnya mendarat di Kuala Batee, kapal Friendship dibajak oleh masyarakat sekitar, yang mana menurut versi lainnya terdapat 3 perahu kayu dengan penumpangnya dilengkapi dengan senjata mendekati kapal Friendship, lalu kemudian menyerang kapal milik Amerika tersebut dan membajaknya.
Dalam insiden ini beberapa pihak Amerika tewas, namun kapten Endicott serta mereka yang selamat segera melarikan diri menuju Muki, untuk meminta bantuan kapal-kapal yang sedang berlabuh di sana, sembari mencari bantuan untuk merebut kembali kapal Friendship.
Namun, setelah terjadinya insiden pembajakan itu muncullah tanda tanya besar, “apa yang menyebabkan pembajakan itu terjadi?” Padahal jauh sebelumnya, insiden semacam itu tidak pernah ada. Karena kegiatan perdagangan di Pelabuhan Kuala Batee yang selalu berjalan dengan kondusif.
Tentu, hukum kausalitas berlaku dalam hal apapun dan bagaimanapun itu. Pembajakan kapal Friendship ternyata berawal dari kekesalan penduduk terhadap perilaku semena-mena Amerika yang memalsukan timbangan; hal ini ditulis oleh Robert Booth dalam buku Death of an Empire: The Rise and Murderous Fall of Salem, America’s Richest City, bahwa raja-raja lokal marah diakibatkan harga lada yang turun, serta banyak kapten kapal yang kabur tanpa membayar penuh dagangan yang mereka beli.
Wajar saja, kan, masyarakat Kuala Batee mengamuk? Bukan berarti tanpa alasan, kan?
Bahkan pada informasi lainnya menyebutkan bahwa pembajakan kapal ini disebabkan oleh provokasi Belanda, yang mana Belanda bertekad merusak nama baik Aceh di dunia internasional yang pada saat itu dapat menjadi pelabuhan yang aktif dan pada tahun 1831 Belanda pun sedang dalam misinya, yaitu invasi ke Pantai Barat Sumatera. Pihak Belanda menginginkan dunia internasional tahu bahwa Aceh tidak dapat menjamin keselamatan dan keamanan setiap pelayar yang berlabuh dan melakukan kegiatan perdagangan di sana.
Tentu, pihak Aceh terutama Kuala Batee membantah segala tuduhan itu. Tak berhenti sampai di situ pula, berita pembajakan kapal Friendship milik Amerika tersebar luas terutama di negara Amerika itu sendiri. Senator Nathanian Silsbee, sekaligus salah satu dari pemilik kapal Friendship, meminta ganti rugi atas segala kerugian dari insiden tersebut dan pemerintah Aceh harus bertanggung jawab.
Pada masa itu, Presiden ke-7 Amerika, Andrew Jackson, menyetujui untuk mengambil tindakan lanjutan atas terjadinya insiden Kuala Batee tersebut.
Pada tanggal 29 Agustus 1831, Potomac, sebagai armada terbaik Amerika pada saat itu digunakan untuk melakukan intervensi militer Amerika pertama di Asia, tepatnya menuju pelabuhan Kuala Batee, Aceh.
Dan, setelah 6 bulan pelayaran, pada tanggal 5 Februari 1832, Potomac pun tiba di Kuala Batee dengan menyamar sebagai kapal dagang Denmark. Masyarakat setempat tak ada satu pun yang menyimpan curiga mengenai kedatangan kapal Potomac itu. Tak menunggu waktu yang lama, kapten Downes memerintahkan seluruh pasukan untuk mengerahkan kekuatan dan mengepung benteng-benteng yang ada di Kuala Batee, lalu menangkap pemimpin mereka.
Seluruh penduduk Kuala Batee telah melawan sekuat tenaga, akan tetapi perbedaan kehebatan senjata tentu yang menjadi penghalang dari seluruh perlawanan. Banyak korban berjatuhan, bahkan anak-anak, serta wanita turut pula menjadi korban atas serangan Amerika pada saat itu. Downes memerintahkan untuk menembaki pelabuhan Kuala Batee dengan senjata, serta meriam yang terdapat di Potomac. Dan, sesuai prediksi, Kuala Batee pun porak poranda.

Prasasti Shewbuntar yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Meskipun Andrew Jackson selaku Presiden Amerika pada saat itu setuju atas penyerangan militer terhadap Kuala Batee tersebut, Amerika tetap mendapat kecaman dari berbagai macam pihak, karena mereka tidak memberikan ultimatum ataupun pengumuman perang terlebih dahulu terhadap Kuala Batee. Serta tidak adanya penyelesaian terlebih dahulu dari pihak Amerika dengan raja setempat dalam insiden pembajakan Kapal Friendship tersebut.
Pihak Amerika justru langsung menyerang dan membombardir Kuala Batee tanpa adanya negosiasi terlebih dahulu dan tidak adanya rasa kemanusiaan. Hingga beberapa tahun setelah penyerangan Kuala Batee, tidak ada lagi pihak yang menyinggung penyerangan itu, yang berarti Amerika sendiri telah “tutup buku” atas insiden berdarah tersebut.
Istana yang kumuh dan terbengkalai, prasasti Shewbuntar yang ditulis dalam bahasa Inggris, serta beberapa koin dan tembikar; hanya itu yang tersisa dari Kuala Batee hingga saat ini. Pun catatan mengenai informasi Kuala Batee sangat minim yang dapat kita peroleh.
Jadi gais, sebelum Amerika, tepatnya Pearl Harbour dibombardir oleh Jepang, Kuala Batee jauh lebih dulu telah dibombardir Amerika. Apa kita harus berterimakasih kepada Jepang yang telah membalas pengeboman Amerika terhadap Kuala Batee? Hahaha, Tidak begitu mainnya~Ferguso!
Nanda Nadya, Mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN Jakarta, angkatan 2019.
Foto-foto bersumber dari wisataasia.com
