kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Merayakan Sekaligus Merawat Hal-Hal Sepele

“Perkawanan yang tidak ideal ini, seburuk apapun, sebaiknya tak berusia sama dengan umur ladang jagung yang suatu sore yang keparat pernah kami lewati.”


Oleh Herman Attaqi

Saya — saya mulai tulisan ini dengan kata “saya” — dulu pernah menulis sebuah buku motivasi berjudul The Best Never Rest. Buku itu memang tidak dijual di pasaran, karena saya bagi-bagikan gratis bersamaan dengan Pelatihan Motivasi yang saya adakan di beberapa SMA melalui Yayasan Rumah Cerdas.

Tiba-tiba, Iben Nuriska, founder Ihwal.co yang baik dan penuh kebaikan ini, yang juga editor buku The Best Never Rest, minta saya untuk melanjutkan kembali buku itu menjadi semacam serial berikutnya. “Ihwal akan membuat kolom sosok dan hal-hal yang inspiratif,” ujarnya.

Saya pikir itu ide yang baik dan sekaligus buruk. Baik sebagai sebuah ide yang tentunya sejalan dengan tagline Ihwal.co, yakni perihal baik dan kebaikan. Namun itu kabar buruk bagi saya karena justru saya yang diminta menulis untuk kolom itu. Seperti yang kalian ketahui bahwa hidup ini menyediakan banyak pilihan mudah dan sedikit di antaranya ada selipan pilihan-pilihan yang sulit. Dan, bagi saya, satu di antara yang sedikit itu adalah menolak permintaan seorang kawan s̶e̶g̶e̶n̶d̶u̶t̶ sebaik Iben.

Usia saya tahun ini 40 dan saya semakin menyadari bahwa semakin berkurangnya usia, kita akan semakin memiliki kawan yang lebih sedikit. Mungkin kita punya kawan ribuan di media sosial, tapi apa iya semua itu kawan? Persis seperti sebuah ungkapan berbahasa Inggris I don’t have a lot of friends, I just know a lot of people. Seiring waktu, lingkar pertemanan pun akan mengecil.

Pernah saya memiliki seorang kawan baik, yang saya panggil “Bung”. Ia seorang orator ulung dengan suara berderak-derak seperti mesin pompa air tua. Analisisnya tajam dan kuat bagai mesin pompa air baru. Pokoknya ia adalah si Bung yang mirip mesin pompa air. Sayang sekali persekutuan kami sebagai kawan harus berhenti hanya karena di dalam kepalanya berisi gagasan ideal kehidupan dan bahkan bagaimana menjadi manusia ideal. Ketika kemudian si Bung Mesin Pompa Air ini melihat hal-hal pada diri saya tak seperti yang ia idealkan, yang selalu ia ulang-ulang mirip para penghapal kitab-kitab tua, ia lantas memutuskan untuk berhenti berkawan dan tidak bisa lagi diajak berkomunikasi.

Saya, tentu saja, amat bersedih hati mendapati kenyataan tentang seorang kawan baik yang begitu mudah membuang apa-apa yang teramat berharga di antara kami. Bak terpeluk di batang dedap, malang betul rasanya kehilangan seorang kawan. Saya teramat menyesali karena terlebih lagi adalah tersebab sayalah menurutnya segala hal ini terjadi. Saya bukanlah seorang kawan yang baik dan kebaikan macam apa yang bisa saya berikan?

Saat ini saya teringat gagasan-gagasan besar yang sering kami diskusikan bersama Iben Nuriska. Apa Iben masih mengingatnya dan merawat gagasan yang sama? Saya tidak tahu, sampai beberapa hari yang lalu ia mengingatkan saya kembali tentang semua itu. Sayangnya, saya malah tidak lagi berada dalam satu gerak yang sama dengan impian kami dulu.
Pikiran dan sistem nilai dalam batok kepala saya telah berubah secara wajar. Semua hal ideal yang dulu ada dalam pikiran telah pula saya bongkar pasang dan banyak di antaranya malah saya lemparkan seperti ampas kopi yang kelat dan tak lagi menggiurkan serta berbahaya bagi asam lambung. Dunia ideal tak lagi menarik. Sama seperti ketika dimintai oleh Iben untuk menulis tentang hal-hal yang inspiratif, sebagai sekuel baru bagi buku The Best Never Rest.

Jujur, saya tak masalah jika gagasan besar, inspiratif dan ideal itu tetap ada dalam pikiran semua orang, termasuk Iben. Tapi yang jadi masalah justru yang kerap tak disadari adalah limbah dari gagasan besar itu. Bahwa sebenarnya apa yang kita tanam di dalam tempurung kepala itu sebenarnya tentang dunia yang tak ada. Segala ihwal ideal, baik itu tentang masyarakat yang adil makmur, yang tanpa kelas, yang merdeka dari penindasan kapitalis, maupun tentang seseorang yang soleh tanpa dosa, kaya dan membebaskan orang dari kemiskinan, orang berilmu tinggi dan tahu semua hal, serta bebas merdeka tanpa menjadi budak oleh apapun dan siapapun, semua ihwal yang menjanjikan perihal sempurna dan menyempurnakan, semua itu berpotensi menjadikan kita sebagai si Bung Mesin Pompa Air. Dan saya, sedapat mungkin, akan menghindarinya.

Namun, seandainya Iben mengajak saya membicarakan hal-hal ideal yang pernah kami bicarakan itu kembali, saya akan mendengarkannya sepenuh hati, karena tentunya saya tak mau lagi kehilangan seorang kawan baik, sembari sesekali akan menyela pembicaraan itu dan mengajaknya mengingat bahwa dulu kita sering duduk ngopi di tepian Sungai Kampar di kampungnya, Desa Batu Belah. Atau jika saya suntuk, akan bertandang ke rumah mertuanya lewat tengah malam untuk sekadar ngobrol santai sambil minum secangkir kopi buatan Ibu Mudrik. Saya juga akan mengajaknya ngobrol tentang sepakbola, tentang kehebatannya sebagai kiper dalam menangkis tendangan saya sambil mengeluarkan cemoohan seperti Rene Higuita yang atraktif sekaligus provokatif itu. Meskipun dalam hati kecil saya berkata, Iben adalah kiper yang jelek dan badannya lembek seperti kue ongol-ongol.

Ada banyak hal yang tak seharusnya boleh hilang di antara kami. Perkawanan yang tidak ideal ini, seburuk apapun, sebaiknya tak berusia sama dengan umur ladang jagung yang suatu sore yang keparat pernah kami lewati. Dan, di atas semua itu, jika kemudian hal-hal itu membuka jalan bagi sesuatu yang baik dan penuh kebaikan, semoga ia membukakan jalan bagi penerimaan kita atas kekurangan-kekurangan yang teramat banyak dalam hidup ini.

Saya tak berani mengatakan bahwa tujuan dari menulis adalah untuk menggugah dan mengubah orang menjadi lebih baik. Tentu akan lebih banyak orang lain dan yang lebih berhak menuliskan itu dari pada saya. Setidaknya, saya akan teramat senang, bila kita bisa merayakan dan tetap merawat hal-hal sepele dalam hidup ini, dengan segala kelebihan dan sekaligus kekurangannya.

Salam.


*Esai ini pertama kali dimuat di ihwal.co

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai