kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Akui Saja Jika Kita Tak (Sepenuhnya) Baik

“Di sinilah kita berdiri, di antara glorifikasi sebuah tatanan sosial yang sangat ideal dengan memiliki seorang pemimpin orang baik.”


Oleh Herman Attaqi

Ruhendi tentu tidak pernah menyangka, trailer B 9417 QZ yang dikendarainya dari arah barat ke timur Jalan RE Martadinata atau sebelum jembatan goyang wilayah Pademangan, Jakarta Utara itu menabrak dan membunuh Bagus Putra Mahendra (15), seorang pelajar sekolah menengah yang sedang long march bersama kawan-kawannya menuju gedung DPR/MPR.

Sejatinya Bagus tak pernah sampai ke Senayan. Kita tak pernah tahu apa yang ada di pikirannya, Ibunya pun hanya tahu ciuman tangan terakhir Bagus menjelang pamitan ke sekolah, namun yang jelas hari itu ia hendak bergabung dalam barisan unjuk rasa di gedung DPR/MPR.

Kita bisa saja menerima bahkan menolak semua analisis tentang anak muda yang melawan seperti Bagus dan kawan-kawannya. Bisa jadi para pengutip buku Temporary Autonomous Zone : Ontological Anarchy, Poetic Terrorism karya Hakim Bey bisa merumuskan dengan tepat bahwa aksi anak-anak muda ini bukan saja sebuah pentas pagelaran demokrasi dan politik, tapi di sana juga mereka membentuk atau terbentuk komunitas-komunitas otonom dan ruang-ruang yang dibebaskan. Hakim Bey mengatakan pada titik itulah bertemunya apa yang selama ini “diidealkan” dengan “kenyataan” atau apa yang diistilahkannya dengan Temporary Autonomous Zone, Zona Otonom Temporer.

Meski ia hanya pengalaman “revolusioner” yang temporer, saya kira, keadaan itu menjadi semacam perayaan yang lebih nyata daripada omongan kaum revolusioner yang membuai kita dengan “masa depan revolusi yang akan segera datang”, tapi kemudian menjadi absurd ketika mereka sendiri justru menciptakan elitisme dan rezim kuasa baru dalam Partai Revolusioner atau Serikat Buruh atas nama menyiapkan segala syarat dan prasyarat untuk terciptanya revolusi.

Tentu saja Bagus dan kawan-kawannya tak peduli dengan perangkat-perangkat teoritik itu. Akan tetapi “ketidakpedulian” itulah yang saya maksud jika mereka menemukan ruang utopia temporernya, untuk sekadar sejenak berhenti memikirkan keruwetan sistem sosial yang menindasnya.

Saya ingat semua berawal dari kata glorifikasi, yakni aksi melebih-lebihkan sesuatu sehingga terkesan hebat luar biasa, sangat suci atau sempurna tanpa cela. Di sinilah kita berdiri, di antara glorifikasi “sebuah tatanan sosial yang sangat ideal” dengan memiliki seorang pemimpin “orang baik”. Yang pertama bisa berbahaya sebagai pikiran yang ideal dan yang kedua mencemaskan sebagai contoh pemimpin yang ideal, suci dan tanpa ruang kritik. Bahwa pada setiap yang dibayangkan sebagai ideal itu, hanya akan menunggu waktu yang tepat untuk membuka kekurangan dan absurditasnya.

Pada tanggal 26 September 2019, di hadapan para tokoh sepuh, Jokowi meyakinkan orang-orang untuk “jangan ragukan komitmen saya dalam soal demokrasi.” Tapi, pada tanggal yang sama pula Immawan Muhammad Randi ditembak dan mati, bersamaan dengan Yusuf Kardawi yang terluka dan akhirnya mati, justru pada saat mereka menuntut hak-hak demokrasinya.

Saya dan Anda pastinya tak menyukai kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup ini. Seperti Ayah almarhum Randi yang berkata, “Ohae ini?” (Ada apa ini) ujarnya ketika baru dijemput dari tengah laut karena kematian anaknya.

Kematian dan kehilangan adalah kata yang selalu membuat hati kita rawan, membuat kita cemas, bahkan pada titik tertentu, marah. Padahal di tengah ketidakmenentuan itu, hal yang paling saya inginkan adalah bergabung ke dalam barisan Bagus, Randi, Yusuf dan kawan-kawannya. Apa salahnya saya sedikit melampiaskan semua keterasingan hidup ini dengan sedikit berorasi dan bernyanyi? Merayakan sejenak ruang utopia temporer saya. Tapi, ketakutan lain muncul, bahwa ada orang baik di seberang sana yang akan terganggu. Bukan, bukan dia, tapi orang-orang yang menciptakan glorifikasi kebaikannya itulah yang sebenarnya terganggu. Tapi…

Sampai di sini tulisan saya terhenti agak lama. Pikiran saya tiba-tiba buyar. Seharian saya tak menulis apa-apa. Hari kedua pesan masuk dari Iben (founder Ihwal.co) mengingatkan tulisan saya. Bagaimana saya harus melanjutkan suatu pandangan dan situasi yang teramat gelap? Tanpa kita sadari bahwa kecemasan selalu muncul dari situasi yang tak terdefenisikan dengan baik. Kita mudah marah karena seseorang ataupun keadaan yang ternyata tak seperti gambaran idealnya.

Mahasiswa dan Pelajar tentunya berhak menginginkan dan memperjuangkan cita-cita Indonesia yang mereka impikan. Toh, mereka dan anak-anak kita adalah pewaris masa depan negeri ini. Jika sebagai orang tua, saya ingin anak-anak saya memiliki cita-cita yang baik, saya juga akan bangga bila menyaksikan sendiri mereka berjuang untuk masa depannya itu. Tapi, kata Arthur Schopenhauer, “Pada dasarnya manusia itu keras kepala.” Kita mudah mengikuti pikiran yang sama dan sejalan dengan kita tanpa melihat kekeliruan di dalamnya. Sebaliknya kita begitu mudah menentang suatu gagasan yang bertentangan dengan kepentingan kita dan secara agresif menyerang pikiran lawan tanpa terlebih dahulu melihat kesalahan-kesalahan berpikir kita.

Apakah kehadiran lawan itu sesuatu yang buruk? Lawan, selain sesuatu yang mustahil dielakkan, ia sangat diperlukan untuk mendefenisikan siapa diri kita. Apalagi dalam lingkup sosial politik, pertentangan diperlukan untuk mencegah sesuatu menjadi mandeg dan mutlak. Saya tak bisa membayangkan jika dalam hidup bersama, baik secara komunal maupun bernegara, semua harus dicetakseragamkan, termasuk pikiran-pikiran. Maka suatu hal yang akan tetap ada, seperti kata: lawan, tak mungkin bisa dihilangkan. Yang sepatutnya dihilangkan adalah “pikiran ideal” dalam kepala kita tentang hidup tenang tanpa lawan, bahwa semua orang adalah kawan yang sehati–sepemikiran.

Ketika ditanya kenapa ikut membantu aktivis Dandhy Laksono yang ditangkap polisi karena sikap kritisnya terhadap pemerintah? Politisi pro-pemerintah, Budiman Sudjatmiko mengatakan, “Saya tidak mau kehilangan partner debat, orang beda pikiran yang berani saling adu dalil dan dalih. Saya akan tumpul tanpanya.” Persis sebagaimana yang diucapkan Voltaire, “Saya tidak setuju dengan pikiranmu, tapi saya akan membela mati-matian hakmu untuk menyampaikan pikiranmu itu.”

Berhentilah berpikir tentang “revolusi sosial yang akan datang”, sebagaimana sudahi saja menganggap bahwa seseorang (apalagi) pemimpin sebagai orang baik. Karena pilihan frase itu amatlah berbahaya jika kemudian setiap yang berseberangan dianggap sebagai orang jahat.

Pertanyaannya adalah apakah jika saya salah, maka kamu benar? Apakah jika kamu orang baik, lalu saya orang jahat? Tak ada manusia yang selamanya bisa bertindak benar, pun begitu jua tak ada di antara kita yang sepenuhnya baik. Bukanlah sesuatu yang ideal itu yang kita butuhkan, tapi seperti yang dikatakan Hakim Bey, yakni memberi tempat bagi terciptanya komunitas-komunitas otonom dan membuka ruang-ruang yang dibebaskan, di mana komunitas dan individu dapat menerapkan utopia temporer.

Bukanlah pemimpin “orang baik” yang kita perlukan, tapi seseorang yang mampu dengan baik mendefenisikan makna “kawan” dan “lawan”, sekaligus memberikan ruang bagi masing-masingnya melihat kekurangan-kekurangan dan menerimanya sebagaimana adanya.

Saya juga tak yakin ini akan terjadi dalam waktu yang sebentar. Jika ada hal ideal yang masih saya harapkan, semoga penerimaan kita akan posisi yang berbeda, menerima dialektika yang keras dari perbedaan-perbedaan pemikiran, bahkan sampai menjadi konflik yang tak terhindari, dan atas itu semua, kita tak pernah berkehendak untuk saling menghabisi, menghancurkan hingga membunuh, itu adalah kebaikan yang diperlukan.

Sampai di sini saya teringat ujaran seorang kawan baik, “Kau tak perlu memaksakan apa-apa yang kau anggap baik kepada orang lain. Jika itu memang baik, orang lah yang akan mengambilnya darimu; bahkan, sangat mungkin, orang yang akan mencurinya darimu diam-diam.” Dan untuk ujarannya ini, saya tak akan meminta ijin kawan saya mengutipnya di sini, karena sebagai sebuah kebaikan, saya telah mencuri kata-katanya diam-diam. Meski jika esai ini terbit, kawan baik saya ini, yang saya curi kata-katanya, pasti akan diam-diam tersenyum mendapati apa yang saya tuliskan.

Andai saya bisa berharap ada senyum yang lainnya, saya sangat berharap itu adalah senyum Ayah dan Ibu Bagus, Randi dan Yusuf, jika kita sedari awal menyadari dan membiarkan mereka berbeda pikiran dan sikap dengan baik.

Tapi, saya pun teringat dengan Ruhendi, Sopir Trailer B 9417 QZ. Tak bisa saya bayangkan diri saya yang memiliki anak perempuan umur 9 tahun yang cantik, pintar dan cerewet akan menerima kenyataan jika Ayahnya justru tidak pulang ke rumah dalam waktu yang lama, senyum macam apa yang dimilikinya kelak mendapati Ayahnya berada dalam penjara atas sesuatu yang tak pernah dibayangkannya?

Saya kira, kita masih cukup punya waktu untuk memperbaiki, tanpa harus berharap berlebihan.


*Esai ini pertama kali dimuat di ihwal.co

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai