“Jika hanya satu lidi saja, maka kita tidak akan pernah bisa untuk menyapu.”
Pada tahun belakangan ini, rentang waktu antara 2019 dan 2020, kita dipaksa menghadapi musuh baru walaupun di dalam sejarah kita sebelumnya, sejarah bangsa kita juga sudah pernah menghadapi musuh seperti ini.
Walaupun dari namanya berbeda, akan tetapi musuh yang sekarang ini memiliki tingkat perlawanan yang sangat cepat. Karena cara penyebarannya yang sangat massif dan sudah seperti menghadapi musuh yang hampir setingkat prajurit perang dunia ke-1 atau perang dunia ke-2.
Perbedaannya untuk saat ini adalah, kita menghadapi musuh yang tak terlihat, bagaikan Hayabusa, yaitu musuh yang bernama COVID-19. Semacam virus yang menyerang antibodi manusia, sehingga membuat yang mengenainya merasa pusing, meriang, letih, lesu, hingga sesak napas, sampai merusak paru-paru.
Menurut saya, ini benar-benar permasalahan yang harus diselesaikan dengan cepat dan tanggap. Salah satunya dengan cara social ataupun physical distancing, di mana kita harus mengisolasi diri selama 14 hari untuk men-sterilkan diri sekaligus melakukan pencegahan dini. Bila ada gejala yang timbul atau tanda-tanda virus, setidaknya, tidak menularkannya kepada yang lain.
Pemerintah beserta masyarakat yang peduli sudah melakukan berbagai pencegahan walaupun belum begitu efektif. Masih banyak yang melanggar peraturan. Namun bukan berarti seluruh masyarakat bisa dicap melanggar begitu saja, sebab masih ada yang harus keluar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya, karena kebijakan social/physical distancing atau PSBB sama sekali belum memberi jaminan apa-apa kepada mereka sehingga mereka harus bisa stay at home seperti yang dihimbau pejabat pemerintah, orang-orang kaya, dan mereka-mereka yang sejak lahir memang sudah auto-kemapanan.
Saya turut prihatin, ketika sedang berlangsungnya peperangan ini, banyak yang memanfaatkan keadaan di mana harga bahan pokok dan kebutuhan lainnya menjadi naik. Sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat kelas bawah.
Saya sangat memaklumi hal demikian, karena dalam hukum ekonomi, jika peminat barang lebih tinggi dibanding barang yang ada, maka harga akan naik. Akan tetapi, dalam keadaan seperti sekarang ini, apalagi kita sudah menyepakati untuk hidup menganut filosofi keadilan sosial bagi semua, seharusnya kita mau untuk menundukkan ego, saling mengerti dan memahami kondisi satu sama lain, demi tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan bagi sebagian orang saja.
Kita benar-benar harus bersatu untuk melawan musuh yang bagaikan Hayabusa ini. Kita harus bergotong-royong seperti yang para leluhur kita ajarkan. Agar menjadi kuat bagaikan sapu lidi. Jika hanya satu lidi saja, maka kita tidak akan pernah bisa untuk menyapu.

Hayabusa : Hero Mobile Legends.
Oleh karena itu kita harus bersatu melawan COVID-19 ini. Saya mewakili suara hati nurani, ingin sekali menyampaikan:
Untuk para produsen, seperti produsen kebutuhan pokok, alat kesehatan, masker, alat perlengkapan dokter serta seluruh kebutuhan yang harus dipenuhi, agar mendahulukan kepentingan bersama ketimbang diri sendiri. Jika ingin sehat sendiri, hidup sendiri, aman sendiri, maka kepada siapa kalian akan menyampaikan kebaikan? Bagaimana kalian akan bermanfaat sebagai manusia? Lalu untuk apa kalian hidup? Bukahkah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain?
Saya juga ingin pemerintah agar segera melakukan tindakan yang lebih progresif, untuk benar-benar serius dalam bertindak. Bukan sekedar himbauan semata. Gunakan social dan political power kalian, power yang tidak kami — masyarakat biasa ini — miliki. Gunakan pangkat dan jabatan kalian. Gunakan tanda tangan kalian. Gunakan uang gaji pokok dan tunjangan kalian itu, yang didapat dari rakyat. Penuhi janji-janji kalian, yang saban pemilu kalian obral. Tunjukkan kalau kami memang bukan hanya barang dagangan kalian. Dan, jangan lupa, pakai hati nurani terdalam kalian.
Maka dari itu, kepada pemerintah, saya sangat berharap sekali untuk cepat bertindak menyelesaikan masalah ini. Seperti apa yang dikatakan presiden Ghana: “jika yang mati perekonomian, maka kita bisa memikirkan untuk menghidupkannya kembali. Tetapi, jika yang mati adalah manusia, sungguh, kami tidak tahu bagaimana cara menghidupkannya kembali.”
Seseorang mengatakan: pertahanan terbaik adalah menyerang. Menyerang, untuk saat ini, menjadi kata yang cukup sentimentil. Cukup diam di rumah, kita sudah bisa dikatakan sedang melawan. Tapi, bagi yang tetap harus keluar demi kompor tetap menyala, bukan berarti mereka tidak melawan, mereka juga sedang melawan, dan bahkan mereka adalah pahlawan. Di tengah situasi yang mencekam, karena tidak adanya perhatian yang mendalam dari pemerintah, mereka meski keluar banting tulang, demi sesuap nasi dan kasih sayang keluarga.
Saya mohon, kepada pemerintah, sebentar ini kita kesampingkan dahulu soal perekonomian, dahulukan kemanusiaan, kita sampingkan dahulu ego, bersama-sama kita melawan dengan cara yang kita mampu. Supaya kita dapat kembali beraktivitas seperti biasanya. Seperti harus bekerja, mengejar pendidikan, melakukan hubungan sosial, melakukan hobi yang kita suka, bisa kembali menonton sepak bola, berenang, bernyanyi dan kesenangan lainnya.
Dan daripada itu, kita harus saling bergotong royong melawan ini, kerja dan melawan secara kolektif demi kepentingan bersama, antara masyarakat-pemerintah-tenaga medis-kepolisian-tentara-para produsen kebutuhan pokok dan pihak yang merasa memiliki tanggung jawab.
Sekian dari saya, jika ada kesalahan pada apa yang saya sampaikan ini, saya mohon maaf, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan.
*Rafly Hasballah Nasution, mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam, UIN Jakarta, angkatan 2019.
