“Yang kita perlukan untuk menjadi orang baik adalah menjadikan diri kita sebagai esensi dari kebaikan itu sendiri.”
Oleh Herman Attaqi
Sejak film Joker, yang meski dirilis di Amerika baru pada tanggal 4 Oktober 2019, namun di Tanah Air sudah naik tayang sejak tanggal 1 Oktober 2019, sosok anti-hero yang digambarkan berwajah putih, bibir merah dan berambut hijau itu kembali menjadi perbincangan publik. (Tiba-tiba saya teringat Rocky Gerung ketika menyebut kata ‘publik’ lengkap dengan qolqolahnya ‘publiiiikkhh’)
Saya, barangkali Anda juga, masih teringat dengan Heath Ledger yang memerankan dengan sangat apik karakter Joker dalam film The Dark Knight hasil garapan sutradara Christopher Nolan pada tahun 2008. Ledger berhasil memerankan sosok Joker yang merupakan manifestasi dari teror yang sangat kejam. Standar tinggi yang dibuat oleh Ledger itu yang membuat orang dengan gampang menilai Jared Leto telah memerankan Joker dalam Suicide Squad dengan sangat buruk. Namun dalam Joker versi terbaru di 2019 ini, Joaquin Phoenix sukses menyamai kualitas peran seperti yang dilakoni Heath Ledger. Joker yang diperankan oleh Joaquin, seperti yang ditulis oleh Faisal Irfani di Tirto.id, adalah Joker yang terasing, rapuh dan gamang.
“Dulu aku berpikir bahwa hidupku adalah sebuah tragedi. Tapi aku sadar, ternyata hidupku hanya komedi,” ujar Arthur Fleck alias Joker. Dalam dialog lain ia mempertanyakan, “apakah hanya aku, atau memang di luar sana semakin gila?”
Kegilaan yang nyata bisa dilihat di dunia maya, di mana warganet seperti memperoleh bahan bakar minyak untuk disiram ke dalam api perdebatan (baca : perbacotan) lini masa dari sosok seorang Joker, tentang defenisi orang baik yang berubah jadi orang jahat. “Orang baik lahir dari orang jahat yang diberi hidayah” kata akun-akun bertema hijrah, lengkap dengan potongan Joker yang memakai kopiah hitam dan berselempang lipatan kain sarung. Tak mau kalah, akun bertema toleransi yang kerap saling serang dengan akun hijrah pun membuat defenisi versi mereka, “Orang jahat lahir dari orang baik yang salah pilih ustadz.” Dan yang paling satire saya kira adalah defenisi yang dibuat oleh komunitas perokok santun, “perokok jahat lahir dari perokok santun yang terus dinista, tidak diberi ruang rokok yang manusiawi, dan perampokan cukai yang berlebihan tanpa peduli kesejahteraan petani, buruh dan rakyat kecil.” Untung saja tidak ada yang membuat defenisi “orang jahat lahir dari orang baik yang selalu disakiti dan ditinggal pergi padahal lagi sayang-sayangnya.”
Namun pada saat yang sama, di antara euforia kesuksesannya dalam Box Office, serta di tengah keriuhan analisa ‘orang baik’ dan ‘orang jahat’ yang terinspirasi dari film Joker ini, saya justru merenungi sebuah perkara yang murung. Seorang kawan yang sudah saya kenal sejak kecil suatu kali bercerita tentang masalah hidupnya. Sebuah cerita sedih dan saya biarkan ia berbicara sembari menangis sepuasnya. Adakah soal di dunia ini yang lebih memilukan dibanding kepergian seorang Ayah dan kehancuran rumah tangga?
“Kenapa kau tak menulis saja, Bung?” tanya saya.
“Saya tak ingin terlihat rapuh. Saya juga tak ingin orang bersimpati hanya atas dasar kasihan,” jawab kawan ini.
Kemudian ia lanjutkan lagi, “kau tahu, Bung? Bahwa saat kita dikasihani orang, pada saat itu kita telah menempatkan kekalahan pada diri kita.”
Saya tak membantah. Saya hanya biarkan kawan baik ini berbicara. Karena hanya dengan itu saya, semoga saja, bisa membantunya melepaskan emosi paling dalam dari beban psikisnya.
Sebagai salah seorang pengguna media sosial, dulu saya sekali waktu, seperti yang lainnya, membagikan postingan motivasi atau nasehat agama untuk menciptakan kesan seolah-olah terlihat tegar. Sekali-kali saya melucu biar kesannya bahagia. Mengapa manusia malu terlihat rapuh? Mengapa masyarakat kita menjadikan perkara muram dan getir itu sebagai momok? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala saya kemudian. Tentang, pokoknya, orang tak mau tahu, yang jelas kita harus selalu tampil dengan vibes positif setiap waktu. Tidak ada, dan tidak boleh ada, tempat bagi pikiran negatif hadir. Karena dianggap sebagai kesalahan, bahkan hina, tentu hal itu hanya jadi bahan cemoohan, sindiran dan obyek untuk diceramahi.
Berdasarkan data dari World Happiness Report 2018, sebagaimana yang dilaporkan oleh CNN, Finlandia tercatat sebagai negara yang penduduknya paling bahagia di dunia. Disusul Norwegia, Denmark, Islandia, Swiss, Belanda, Kanada, New Zealand, Swedia dan Australia. Namun sekelompok ilmuwan dari Universitat Politècnica de València (UPV), sebagaimana yang dilansir oleh phys.org, menemukan sebuah metode baru dalam mengukur Indeks Kebahagiaan. Dengan mengambil sampel di 13 negara Eropa, mereka menemukan urutan teratas adalah Swedia, disusul Austria, Spanyol, Islandia dan beturut-turut hingga terakhir adalah Portugal.
Coba lihat, dalam mengukur Indeks Kebahagiaan dengan metodologi ilmiah saja, para ilmuwan itu bisa berbeda hasil. Bagaimana bisa kita berpura-pura bahagia sembari menyembunyikan segala kegetiran hidup? Apakah variabel-variabel di dalam mengukur Indeks Kebahagiaan itu bisa pula dilakukan dengan pura-pura? Bagaimana bisa kita melakoni hidup dalam kepura-puraan?
“Kita guyah lemah,” kata penyair Chairil Anwar dalam puisi dengan judul yang sama. Lalu Chairil melanjutkan, “Sekali tetak tentu rebah.” Kawan saya itu mungkin amatlah lemah dalam menghadapi cobaan hidup yang teramat berat. Pertahanannya rapuh.
Lirik berikutnya dalam puisi yang sama berbunyi, “Segala erang dan jeritan/ Kita pendam dalam keseharian.”
Kita barangkali pada awalnya ingin terlihat biasa saja dengan segala problematika hidup ini. Mencoba menutupinya dengan melakukan aktivitas seperti biasa dan dengan terlihat tetap santai seolah-olah tidak terjadi suatu masalah yang berarti. Kawan saya itu mungkin tidak sendirian. Hidup dalam kepura-puraan yang sebenarnya sedang menutupi suatu bentuk kecemasan akibat naratif kesuksesan yang berlaku di tengah masyarakat.
Padahal tidak peduli seberapa tinggi tingkat keyakinan kita bahwa setiap orang berhak memiliki kesempatan yang sama terhadap kebahagiaan, terlebih lagi di usia kami yang masih memiliki minimal satu kali lagi kesempatan untuk bisa meraih bentuk dan isi dari variabel tertentu kebahagiaan; rumah, keluarga harmonis, pekerjaan, liburan, relasi, aktualisasi diri, penghargaan dan hal-hal lainnya. Namun yang harus diingat bahwa sedikit sekali orang akan memiliki semua hal tersebut dalam waktu yang bersamaan. Kalaupun ada, bisa jadi itu banya sebentuk anecdotal evidence, hanya satu-dua kasus dari generalities.
“Mari tegak merentak,“ tulis Chairil dalam lanjutan puisi yang sama, “Diri-sekeliling kita bentak.” Apapun yang terjadi, setiap kita hanya punya satu pilihan, yakni bertahan sembari melanjutkan hidup. Kita seharusnya dapat melihat jika kita tidak terlalu larut dalam perkara yang tak ada, ada kemungkinan satu hal yang paling berharga, yang masih ada dan bisa kita rasakan kehadirannya. Narasi sosial tentang kebahagiaan, menurut para psikolog, menyediakan jalan sembari memberi panduan bagi jalan hidup kita. Akan tetapi banyak di antara kita terjebak dalam kebuntuan berpikir, bahwa hanya itu satu-satunya jalan untuk meraih sukses, hingga kita memarahi diri dan orang lain yang melenceng dari jalan itu.
Citty & Guilds dalam laporan Carrier Happiness Index 2012 menemukan fakta bahwa pekerjaan yang paling membuat orang bahagia adalah Tukang Kebun atau Tukang Bunga, sedangkan Teknisi IT dan Bankir menempati posisi paling bawah. Faktanya, uang yang dihasilkan dari pekerjaan mentereng, bukanlah faktor penentu dalam kebahagiaan. Justru perkara yang paling menentukan seseorang itu bahagia, menurut penelitian tersebut, adalah memiliki ikatan hubungan persahabatan yang kuat.
Saya tak sependapat sepenuhnya dengan alasan apapun, kejahatan tetap sebagai kejahatan yang tak dapat dibenarkan. Menjadi sejahat Joker dengan segala sebab keperihan dan represi sosial yang tak tertanggungkan, bukanlah satu alasan masuk akal. Tak ada hormat untuk perbuatan itu sama sekali. Di situlah persimpangan pemikiran eksistensialisme yang diusung Jean-Paul Sartre dengan Nihilisme-nya Nietsche.
Saya pernah menulis bagian ini di salah satu esai saya di Kopi Travel Blog, yang kira-kira penggalannya begini, “Manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya. Pikiran ini sekaligus sebagai kritik atas pandangan Nihilisme yang diusung Friedrich Nietzche, meski sama-sama mengusung bahwa tidak ada esensi bawaan dalam diri manusia, tetapi Nietzche dan kaum nihilis beranggapan bahwa tidak ada sesuatupun yang mempunyai arti dan apa saja boleh dilakukan. Sartre percaya bahwa kehidupan pasti punya arti. Tapi, kita sendirilah yang harus memberi arti dalam kehidupan kita. Jadi, eksis berarti menciptakan kehidupan kita sendiri. Memberi esensi bagi eksistensinya.”
Pada bagian akhir tulisan ini, saya hendak menyampaikan satu hal yang lupa saya ucapkan kepada kawan baik yang malang itu, lalu saya pikir, ada baiknya saya tuliskan saja di sini, yakni tak peduli seberapa banyak yang hilang dari kehidupan kita, asal kita bisa melihat ada kebaikan-kebaikan lain yang masih tersisa dan berupayalah memeluknya dengan keyakinan yang erat, dan semoga saja itu adalah salah satunya apa yang tersedia di antara kita, yakni persahabatan ini
“Ini malam purnama akan menembus awan,” tulis Chairil sebagai baris penutup puisinya.
Harus selalu ada harapan, atau keteguhan untuk bertahan. Dan dengan itu pula, semua akan sama seperti malam indah ataupun malam jahanam yang pernah dilewati. Nyatanya, semua tetap baik-baik saja, kan?
“Maksudku,” ujar Joker, “bukankah kamu harus menjadi lucu agar bisa menjadi komedian?” Ya. Saya kira, yang kita perlukan untuk menjadi orang baik adalah menjadikan diri kita sebagai esensi dari kebaikan itu sendiri. Dan, kawan, kita tak pernah tahu, sampai kita tahu, bahwa kita benar-benar tahu.
Esai ini pertama kali dimuat di ihwal.co
