kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Kebetulan Saja Kita Sekarang Berbeda, Siapa Tahu Nanti Sama

“Betapa sejatinya kebaikan itu ada dan berlipat ganda, bila kita dapat menerima segala hal dengan berlapang dada.”


Oleh Herman Attaqi

“Suatu ketika di dalam perjalanan hidup saya,” ucap Seno Gumira Ajidarma dalam Pidato Kebudayaan (11/19) di Dewan Kesenian Jakarta, “tersesatlah saya di rimba filsafat, tempat semua orang biasanya mengira, di sinilah tempatnya mencari sesuatu yang disebut kebenaran. Suatu ketersesatan yang sungguh saya syukuri, karena di sini saya mendapatkan kesadaran betapa saya ini cuma orang bodoh. Dalam kebodohan itulah justru saya mendengar ujaran yang kira-kira seperti berikut: Kata kebenaran lebih baik tidak digunakan, dihindari, atau digunakan dengan hati-hati sekali, karena kebenaran, meskipun ada, tidak bisa diketahui.”

Tiba-tiba Seno menimpali kata-kata yang diucapkannya tersebut dengan kalimat, “Busyeeeettt… Apakah kalimat ini merupakan ‘kebenaran’?”

Suatu hari saya pulang ke Bangkinang pada saat libur kuliah. Dan atas perkara ‘kebenaran’ ini saya dipertemukan oleh Edi Prayitno, seorang kawan baik saya, dengan kawannya yang cerdas dan sekaligus anak pemilik sebuah pondok pesantren. Tentu tak lain, ia ingin menguji kebenaran yang saya sering diskusikan bersama Edi, yang baginya itu adalah pemikiran yang keliru. Kawan yang cerdas dan anak pemilik pondok pesantren ini membantah semua perkara yang pernah saya sampaikan kepada Edi. Ia memborbardir saya dengan kutipan beserta judul-judul buku yang pernah dibacanya. Sambil mengepalkan tangan, ia seperti berorasi di depan saya, “Harun Yahya mengatakan bahwa filsafat materialisme yang kemudian melahirkan komunisme berawal dari teori darwinisme yang menolak keberadaan Tuhan, menghilangkan nilai moral dan bahkan darwinisme dengan pemikiran ‘yang kuat yang bertahan hidup’ telah melahirkan nazisme, komunisme dan terorisme.”

Saya, tentu saja membantah ocehan kawan ini dengan kutipan beserta judul-judul buku yang pernah saya baca pula. Akhirnya kami lebih mirip sebagai para penjual TTS dan buku Enny Arrow di Terminal Aur Kuning Bukit Tinggi, yang berebutan menjejali para penumpang Bus PNPM dengan buku-buku koleksi terpanas. Tanpa ba-bi-bu saya berdiri dan menuding hidung kawan itu dengan berkata, “Filsafat itu metode berpikir, sedangkan kau membawa konsepsi iman ke dalam perdebatan ini. Sampai siapa di balik pelaku teror kolor ijo diketahui pun, kita tak akan pernah menemukan titik kebenaran yang sama.”

Edi dan kawannya berhenti kemudian berlalu dari saya, seseorang yang mereka anggap “kiri, anarkis dan ateis” beserta semua label produksi a-la Orde Baru-nya itu. Bagi saya perkara itu amatlah menyesakkan, betapa klaim kebenaran bisa membuat persahabatan buyar begitu saja. Seandainya saya tahu lebih cepat, jika Harun Yahya yang dikutip oleh kawan itu belakangan tersangkut kasus pedofilia, kasus penggelapan pajak, pelanggaran Undang-Undang Teroris, tentu Harun Yahya yang hidupnya dikelilingi banyak “anak kucing” atau perempuan cantik hasil operasi plastik itu, akan lebih mudah menyelesaikan perdebatan ini dengan damai, alih-alih melabeli saya sebegitu brengseknya.

Saya berkenalan pertama kali dengan Edi ketika dia menjadi aktivis BEM STIE Bangkinang. Sejak itu kami kerap berdiskusi tentang organisasi, ideologi dan kemanusiaan secara umum. Sebagai pengikut garis kultural NU, Edi pernah mendebat saya dengan tajam karena ketidaksetujuannya terhadap aksi demonstrasi yang saya ikuti menuntut Presiden Gus Dur mengundurkan diri. Tapi, segala perdebatan yang keras itu selalu berhenti ketika kami makan bakso jualan bapaknya di depan Mesjid Al-Muhsinin. Baksonya enak dan besar apalagi ditemani dengan es teh botol Sosro.

Setelah itu kami jarang bertemu. Bertahun kemudian, saban kali bertemu, Edi selalu membawa cerita baru, apalagi kalau bukan cerita kekalahan demi kekalahan hidupnya. Dan pertemuan kami yang terbaru terjadi beberapa bulan yang lalu, malah saling bertukar cerita kekalahan masing-masing. Hidup, kata Chairil Anwar dalam puisi Derai-Derai Cemara, hanya menunda kekalahan. Namun saya lihat Edi tak pernah menyerah, sebagaimana pesannya ke saya persis saat tangannya yang keras hasil latihan pencak silat plus dagang roti bakar itu menggenggam tangan saya dan memeluknya erat.

Kadang, seperti malam saya menulis esai ini, saya teringat dengan poster besar Syaikh Abdul Qodir Jaelani yang terpampang di dinding kamar Edi. Di bawah poster itu kami kerap bertukar pikiran tentang filsafat, terutama materialisme yang — disimpulkan oleh kawannya yang anak pemilik pesantren — melahirkan komunisme, nazisme, bahkan terorisme.

Saat itu kami sangat meyakini jika apa yang kami pelajari ini akan mampu membawa kami memimpin suatu revolusi sosial yang gegap gempita. Seolah-olah dengan satu kepalan tangan kami bisa melibas akar soal segala sebab penindasan dunia. Padahal, di dalam Majelis ke-56 dalam kitab Menjadi Kekasih Allah (terj.) karya Syaikh Abdul Qodir Jaelani, ia berujar: “Janganlah kamu berpikir dengan kepalamu bersamaku.” Yang selanjutnya dijelaskan oleh Sang Syaikh bahwa itulah hakikat bagi kita yang ingin menaklukkan dunia, dengan menguasai diri dan berdiri untuk memperbaikinya.

Begitulah ‘kebenaran’, kadang bergerak dari dulunya mengutip Karl Marx, sekarang memakai kutipan Syaikh al-Jailani, besok mungkin akan berubah lagi, dan pikiran bagai toilet, kadang mampat, kadang mengalir lancar, meski dijejali dengan banyak tinja, tapi pikiran akan selalu diolah, didaur ulang – akan selalu begitu.

Seandainya Edi kembali mempertemukan saya dengan kawannya yang cerdas itu, saya tak akan mengutip lagi kata dan judul buku yang amat dibencinya. Saya akan mengutip kata dan judul buku Syaikh Abdul Qodir Jailani. Dan tentu saya tak akan terkejut bila ia tak lagi mengambil kutipan dari Harun Yahya. Barangkali kami akan seperti yang digambarkan Seno Gumira Ajidarma tentang Mpu Tanakung dalam Siwaratrikalpa pada pertengahan abad ke-15;

Manuk asukha-sukhan muñgwiñ pañ rãmya masahuran
Kadi papupul i sañ wriñ tatwãdhyãtmika mãcenil

Burung-burung menghibur diri di antara reranting, bahagia saling bercuit
Seperti pertemuan para pakar yang saling berdebat mencari kebenaran esoterik

Apa yang ingin saya sampaikan adalah klaim, tepatnya perebutan, atas kebenaran yang telah terjadi sejak dahulu kala. Kami mungkin hanya tiga ekor burung pipit kecil di antara kawanan burung gagak besar dan gagah di belantara intelektualisme. Dan biarlah segala sarkasme yang pernah terjadi menjadi satu alur dari cerita pergumulan panjang pencarian jejak kebenaran ilmu pengetahuan. Bila kami menyadari bahwa perdebatan atas ilmu, betapapun kerasnya, adalah bentuk terbaik dari hubungan antara manusia sebagai makhluk yang dikarunia akal pikiran, maka perbedaan, betapapun curamnya, akan menjadikan relasi dialektis itu teramat indah untuk diabaikan.

Lihat saja betapa hari-hari ini kita cenderung berpendapat terlalu nyaring, sampai-sampai kita tak bisa lagi mendengar pendapat orang di seberang sana. Mulai dari perdebatan soal Pilpres 2019 lalu yang masih terlihat residunya sampai hari ini, hingga klaim kebenaran Sukmawati tentang bapaknya, Sukarno, yang lebih berjasa untuk Indonesia dibandingkan Nabi Muhammad, sementara bapaknya itu justru amatlah mengidolakan Nabi Muhammad.

Agaknya nasionalisme-lah yang telah menjadi candu, seperti kritik Marx atas dogma agama kristen Eropa. Sayangnya, orang kecanduan itu melihat dunia yang ideal dengan menggunakan hasrat serta perangkat imajinasinya. Jadi, sangat musykil untuk diajak berdiskusi ilmiah sambil makan bakso.

Pakar kebudayaan menyebut era kiwari ini dengan istilah post-truth atau pasca-kebenaran. Apa itu post-truth? Yakni suatu budaya sosial politik yang lebih mengutamakan sentimen emosi dibandingkan berpikir rasional. Budaya kritik di era post-truth bukan lagi mencari kebenaran, tapi membenarkan apa yang dipercayai. Manusia akan dengan mudah membenarkan apa saja yang datang dari kelompoknya, meski itu pun adalah berita bohong. Sebaliknya orang akan dengan gampang bersentimen atas apa yang datang dari kelompok lawannya, meskipun itu adalah berita sahih.

Begitulah sentimen emosi bekerja membentuk klaim kebenarannya.
Selain faktor sentimen emosional, kebenaran juga ternyata dikendalikan oleh perangkat ilmu pengetahuan yang canggih. Dalam bukunya Pirates and Emperor : International Terrorism in the Real World yang diterjemahkan Mizan dengan judul Maling Teriak Maling : Amerika Sang Teroris?, Noam Chomsky, Profesor Linguistik dari Amerika mengatakan bahwa sekarang ini, kita memiliki dua dunia : dunia sebenarnya, yang real; dan dunia yang terbentuk dalam pikiran kita. Dunia yang terbentuk dalam pikiran kita, lanjut Chomsky, telah dibentuk oleh kekuatan media yang merancang memori kita dengan produksi kata atau ungkapan baru yang indah. Dan dengan hal itulah, Amerika telah memiliki klaim kebenaran untuk mengendalikan kehidupan masyarakat dunia. Chomsky menyebutnya — dengan mengutip istilah dari novelis George Orwell — yakni : Newspeak.

Sejumlah newspeak dibuat untuk membatasi pandangan kita terhadap realitas. Lihat saja, apabila ada negara Timur Tengah yang menerima posisi politik Amerika, mereka disebut sebagai negara moderat. Sebaliknya jika menolak bahkan menentang sikap politik Amerika, mereka akan disebut sebagai ekstremis. Bayangkan bila disebut kata ekstremis, otak kita otomatis bekerja membayangkan kata : Hamas, Iran, Afganistan, Thaliban, Libya, dan sebagainya. Persis seperti pilihan diksi : cadar dan celana cingkrang yang dipopulerkan oleh Menteri Agama Fachrul Razi untuk menggambarkan apa yang disebutnya sebagai radikal. Walter Lippmann menyebutnya sebagai pictures in our heads, yang bermakna bahwa interpretasi media terhadap peristiwa secara radikal, dapat (bertujuan) mengubah interpretasi orang terhadap realitas dan pola tindakan mereka.

Plato berkata, “apakah kebenaran itu?” Dan sepanjang sejarah, tidak ada manusia yang benar-benar terpuaskan dengan sebuah kesimpulan baku tentang kebenaran. Yang terjadi justru pertentangan demi pertentangan. Di mana ada kebenaran, di situ pasti ada pertentangan. Barangkali kita hanya bisa melihat kebenaran dalam bentuk, kriteria dan pendekatan tertentu; yang benar adalah yang memuaskan keinginan, yang dapat dibuktikan melalui eksperimen, yang membantu dalam perjuangan hidup biologis, kenikmatan memakan kue klepon dari tepung ketan dengan gula merah di dalam; tukang bubur yang berhasil naik haji; wajah yang cerah hasil basuhan air wudhu secara rutin. Saya kira apa saja bisa jadi benar, selama hal itu adalah perkara yang berterima, baik oleh banyak orang maupun hanya oleh satu orang.

Pada 17 tahun yang lalu, seorang kawan pernah mengajak saya tinggal di kontrakannya. Dan bagi mahasiswa blangsak seperti saya, mendapatkan harga kontrakan yang murah tentu menjadi sebuah anugerah tersendiri. Kawan saya itu pula yang setiap lima waktu membiasakan saya untuk sholat berjamaah ke mesjid, agar mendapatkan pahala yang bernilai 27 derajat lebih tinggi dibanding sholat sendirian di rumah. Ia juga yang mengantarkan saya ikut Liqa, semacam pengajian kecil ke rumah seorang murabbi atau pembimbing. Murabbi saya, Ustad Sanu Bajuri, adalah mahasiswa pascasarjana asal NTT dan anaknya banyak.

Saya mulai mengganti bacaan lama tentang sastra dan filsafat dengan majalah Sabili, Tarbawi dan sekali-kali kalau tak ada bacaan lagi, novel-novel karangan penulis dari Forum Lingkar Pena. Tentu imbasnya pada klaim kebenaran yang saya anut kemudian berubah, setentang pula dengan ghirah keislaman saya yang terlihat makin meningkat.

Sekali waktu saya bertanya kepada kawan saya itu, “apa artinya ghirah?” “Rasa cemburu kepada agama,” jawabnya. Bila ghirah keislaman kita naik, kita akan sangat marah ketika agama ini dipermainkan dan saudara seakidah kita dianiaya oleh orang-orang kafir.

Ayah saya bertanya — barangkali menyelidik — dengan melihat penampilan dan kebiasaan baru anaknya, “darimana sumber dana teroris itu?” Sontak saya jawab dengan begitu reaktif bahwa Amerika dan antek Zionislah biang kerok teroris dunia ini. Jawaban yang kemudian hari saya anggap sebagai satu-satunya keputusan keliru yang saya sesali. Di antara banyak keputusan keliru yang lainnya, saya tak pernah merasa menyesali apapun dan juga tak berhasrat untuk mengulang apa-apa. Biarlah itu menjadi pengalaman empiris yang terlepas dari benar-salahnya. Apa yang ingin saya sampaikan adalah bahwa setiap orang sangat mungkin berubah, baik pemikiran, perspektif maupun klaim atas kebenaran.

Saya tak pernah mempersoalkan pilihan setiap orang yang tentu diambil berdasarkan pada pengalaman subyektifnya. Banyak juga saya mendengar cerita sedih kawan-kawan yang dikucilkan oleh keluarga karena keputusan ‘hijrah’nya. Dan pastinya hal itu teramat menyedihkan. Namun yang jadi persoalan bagi saya, terlebih lagi, ketika pilihan kebenaran itu membuat kita tak mampu melihat bahwa ada yang memiliki pilihan berbeda dengan kita. Apalagi bila perbedaan itu membuat kita tak mampu bersikap belas kasih. Itulah perkara yang mengganggu. Yakni perkara, meminjam istilah esais Dea Anugrah — yang kerap menempel di punggung topik-topik besar itu — pembicaraan tentang dunia ideal.

Klaim kebenaran itu berubah menjadi parasit ketika kita berpikir tentang hal, satu-satunya, yang ideal. Sebuah sikap optimisme yang destruktif dan berada pada titik ekstrem amatlah membahayakan. Hidup dalam pikiran optimistik, sangat rentan membuat manusia kecewa. Kepala dipenuhi oleh gambaran sesuatu yang ideal. Makanya ketika yang ideal itu tak bisa diraih, manusia marah, kecewa, stres, hingga menyalahkan situasi.

Namun kita sejatinya memiliki banyak alasan untuk bisa hidup bersama dalam harmoni. Meskipun ada perbedaan pandangan yang diametral dan fundamental. Misalnya saya, Edi dan kawannya anak pemilik pondok pesantren itu, bisa berbeda dalam konsep berpikir dan cara pandang atas dunia, tapi yang harus dipahami adalah di mana kami harus menempatkan ruang-ruang tarung bagi gagasan kami, baik itu politik, budaya, bahkan ekonomi. Akan tetapi seterusnya, kami seharusnya bisa menikmati banyak hal selain itu: sepak bola, persahabatan, hobi, rekreasi, berbagi video lucu di grup whatsapp dan, tak lupa, makan bakso.

Dari sana kita bisa melihat harapan. Bahwa kemanusiaan harus ditempatkan lebih tinggi dari segala perbedaan dan pertentangan.

“Sebetulnya santai saja menghadapi perbedaan pandangan dan opini politik,” kata psikolog Ratih Ibrahim lewat suatu wawancara bersama Beritagar.id. Ratih kemudian melanjutkan, “kita engga bisa netral karena tiap orang pasti punya pilihan. Sikap kita pada saat mengamini pilihan itulah yang menunjukkan wujud kedewasaan dan kematangan emosi kita.” Senada dengan Ratih, Nicole Richardson, seorang konselor dan terapis keluarga mengatakan, “hanya jika Anda sama-sama dapat menghormati perbedaan dan menghargai setiap perspektif satu sama lain akan menjadi kunci bagi penerimaan atas perbedaan.”

Sayangnya, harapan kita untuk kehidupan yang baik dari penerimaan atas perbedaan itu, seringkali pupus oleh berbagai aksi teror yang tak henti-hentinya menghantui kita. Hari-hari belakangan ini kita dikagetkan kembali oleh sebuah peristiwa yang menyesakkan. Kita marah sekaligus tak habis pikir dengan selalu muncul dan berulangnya peristiwa bom bunuh diri. Bagaimana mungkin orang bisa melakukan tindakan yang membunuh kemanusiaan itu?

Seperti pagi itu, tanggal 13 November 2019, entah apa yang berkecamuk di dalam pikiran Rabbial Muslim Nasution (24 th). Yang jelas ia datang ke kantor polisi di kota Medan dengan alasan hendak mengurus SKCK. Ia tak benar-benar menginginkan SKCK itu. Ia hanya ingin meledakkan dirinya dan meneror pikiran kita semua. Entahlah. Klaim kebenaran macam apa yang membuat orang sampai melakukan tindakan senekat, brutal sekaligus konyol itu. Jika kita baca cerita orang-orang yang melakukan tindakan apa yang mereka sebut sebagai “jihad” dengan meledakkan diri, semuanya meyakini itu adalah tindakan suci, mereka akan masuk surga dan telah dinanti oleh 70 bidadari. Apalagi namanya jika bukan ini adalah pikiran optimistik, yang lahir dari paham optimisme?

Di usia 24 tahun, persis di usia di mana Rabbial Muslim Nasution meledakkan diri, saya telah menikah, memiliki keluarga baru, pekerjaan baru, dunia, sekaligus tantangan baru untuk saya taklukkan. Saya kira Rabbial juga memiliki hal yang sama; isteri, keluarga dan pekerjaan sebagai driver ojek online, yang barangkali sama seperti kita, mencintai orang tua dan keluarga serta berharap bisa membahagiakan mereka. Klaim kebenaran telah memalingkannya dari soal-soal bahagia di dunia ini. Ia justru melihat yang ideal, jauh melampaui dunia, kehidupan setelah dunia yang harus diakhirinya dengan jalan ‘suci’ agar ia sampai kepada dunia ideal yang diyakininya. Ia jelas berbeda pandangan atas ideologi negara, lalu menggunakan ideologi “perang suci” untuk saling menafikan, tanpa jalan dialog.

Seandainya Rabbial mau menerima pandangan yang berbeda, bukan berarti ia melepaskan hak individualnya atau melemahkan statusnya. Tapi memang “tak ada yang bunuh diri,” kata penulis buku-buku Filsafat Emil Cioran “kecuali orang-orang yang optimistik.” Padahal Rabbial hanya perlu mengingat kebaikan yang ada, barangkali saja tentang menciumi tangan orang tuanya, membawakan sebungkus nasi goreng buat isterinya, merayakan hari lebaran yang indah bersama keluarga besar, atau sesuatu yang menghangatkan, seperti persahabatan. Ia bisa mengisi akun youtube yang pernah dibuatnya dengan konten-konten lucu, yang mendidik atau berisi ceramah yang meneduhkan jiwa. Dan bersandar pada hal ini saja, sembari menggenggam kehangatan cangkir kopi, saya merasakan — seperti di mana ada kebenaran, di situ selalu ada pertentangan — betapa sejatinya kebaikan itu ada dan berlipat ganda, bila kita dapat menerima segala hal dengan berlapang dada.

Busyet! Seno Gumira Ajidarma b̶e̶n̶a̶r̶ betul bahwa kata “ke-benar-an” memang lebih baik tak digunakan dan diganti saja dengan “ke-betul-an”; kebetulan saja kita sekarang berbeda, siapa tahu nanti sama.


*Esai ini pertama kali dimuat di ihwal.co

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai