“Bukankah lebih menyenangkan jika kita memberi tanpa harus memameri?”
Oleh Nanda Nadya
Beberapa hari ini, saya cukup diresahkan dengan postingan di twitter yang tak henti-hentinya membahas tentang bupati Klaten. Jujur, sebelum segala postingan itu memenuhi platform burung itu, saya tidak pernah mengenal siapa beliau dan mungkin memang saya yang terlalu bersikap bodo amat.
Namun, semenjak sindiran, omelan, makian dari orang-orang yang berseliweran itu, tentu menarik minat saya yang penuh keingintahuan ini. Kenapa, sih, ini? Duh, ini ibu-ibu kenapa lagi? Sen kiri belok kanan? Haha.
Setelah men-scroll hingga ke akar-akarnya, saya menemukan jawabanya. Oh, soal hand sanitizer dari Kemensos yang ditempeli dengan stiker wajah beliau. Oh, kemasan beras ditempeli dengan stiker wajah beliau. Dan, masih banyak lagi yang lainnya.
Wah, ternyata eksis, ya, beliau? Sampai-sampai kemasan beras ditempeli komoknya. Ya, ga kenapa-napa, sih. Toh, keren juga beliau, bisa tidak merasa insecure menampilkan wajah seperti kaum betina twitter yang selalu sambat soal insecure (ceritanya, saya menyindir diri sendiri).
Sejujurnya, sebelum COVID-19 separah sekarang ini, saya pernah merasa resah dengan para kader-kader partai yang belum terlihat pergerakannya selama COVID-19. Kemana, ya, mereka? Kok, batang hidung mereka tidak terlihat, sih? Apa eksistensi mereka hanya ditampilkan ketika menjelang Pemilu? Apakah atmosfir demokrasi hanya bisa saya dirasakan setiap lima tahun sekali?
Banyak sekali keresahan yang muncul di kepala saya hari itu. Pikir saya, toh, tak apa mereka sekadar berbagi masker dengan ditempeli lambang partai. Kalau mereka cerdas, hal-hal seperti COVID-19 ini bisa mereka ubah menjadi momentum yang baik untuk mereka menunjukkan, “Ini loh gue dari Partai Ikan Fugu”, “Liat nih gue peduli kan sama lo pada”, “Liat, nih, buktinya gue bener-bener ada buat lo semua”, “Gue bisa lo andalkan”.
Dan ternyata, dari hasil pemikiran dan imaji saya hari itu, kini benar terealisasikan oleh bupati Klaten. Bahkan semua itu melampaui ekspektasi saya. Pemikiran beliau ternyata lebih eksis dibanding pemikiran saya yang men-tidak-apa-apa-kan lambang partai terpampang jelas di atas masker. Ia justru menempeli wajahnya, di mana pun! Oh, ya, bahkan di kresek juga! By the way, jika suatu saat kreseknya dijadikan kresek sampah, apa rakyat Klaten akan dituntut dengan kasus perbuatan tidak menyenangkan? Atau apa? Hehe.
Pada detik ini, rasanya saya ingin sekali mengubah pemikiran saya itu. Agaknya untuk hand sanitizer yang seharusnya dari Kemensos itu, malah ditempeli stiker wajah cantik beliau sepertinya benar-benar menyalahi aturan. Bisa-bisanya, ya, momentum ini beliau salah gunakan. Ah, tapi sebentar, saya tidak boleh menghakimi dulu. Ini pemikiran saya yang keliru atau memang dasar beliau yang salah, sih?
Lagi, saya dipusingi kembali dengan pemikiran saya sendiri. Kunang-kunang rasanya. Padahal ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan, yaitu Ujian Tengah Semester saya yang mulai menghantui. Uh, sebal sekali.
Namun, dari hal-hal yang saya temui itu, saya mendapat pandangan bahwa bukankah lebih menyenangkan jika kita memberi tanpa harus memameri? Bukankah lebih menyenangkan jika kita memberi, tapi benar dari uang dan keringat sendiri?
Dan satu lagi, dalam soal melakukan kebajikan (apapun itu), saya hampir selalu teringat filosofi surah al-Ikhlas. Cukup namanya saja yang “Ikhlas”, namun dalam rentetan ayatnya tidak ada dicantumkan kata “ikhlas”, kan? Sampai sini paham? Hehehe.
