“Dibutuhkan komiten diri dan mindfullness yang kuat untuk membantu mempercepat proses penyembuhan diri.”
Oleh Natasha Anindita
“Kok bisa, sih, lo kena depresi?”
“Kan, lo psikolog?”
Banyak aku dengar cibiran dari orang-orang sekitar, bahkan juga keluarga. Kadang aku jawab enteng sekaligus sebal, “psikolog kan juga manusia. Lagipula psikologi kan untuk kalian bukan untuk saya.” Slogan itulah yang selalu aku sampaikan ke orang-orang itu.
Menurut buku dewa-nya para psikolog, yakni Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, semacam kamus psikiatri untuk menentukan diagnosa gangguan kejiwaan, kondisi aku tergolongkan kepada kategori depresi. Suatu kondisi yang ga menyenangkan, di mana aku merasa ga berdaya, berharga, sedih terus menerus, kelelahan, bahkan ingin mati atau menghilang dari kehidupan saat ini. Keadaan ini berlangsung minimal dua minggu. Well, kayaknya aku udah merasakannya bertahun-tahun walau hilang timbul.
Kejadian ini sudah berlangsung dari sekitar 10 tahun yang lalu. Rasa kecewa dengan kehidupan pernikahan saat itu. Beban sebagai tulang punggung keluarga, anak sulung yang berkebutuhan khusus yang membutuhkan biaya banyak, hingga komunikasi yang buruk dengan pasangan adalah faktor-faktor pemicu depresi. Ditambah sosok Papa, yang biasanya hadir memberi support diriku, meninggal tahun itu. Runtuhlah seluruh dinding pertahanan diri. Aku berusaha tegar untuk Mama kala itu, apalagi aku anak sulung. Namun di dalam diri muncul lubang besar yang dalam, dan aku terperosok ke dalamnya sekali lagi. Ya, sekali lagi karena jauh sebelumnya aku pernah mengalami hal yang sama.
Hubungan yang buruk di masa lalu saat pacaran semasa sekolah cukup membuat luka yang mendalam di hati. Kekerasan psikologis yang aku rasakan membuat aku takut kehilangan dirinya. Apapun kulakukan untuknya. Lepas dari hubungan tersebut, tidak juga membuat hati ini lega. Ada suatu kemarahan besar dalam diriku terhadap situasi, pasangan dan sikap diriku ketika menghadapinya.
Episode depresi ini muncul beberapa kali sejak 2010 dalam jangka waktu yang lama, yakni sekitar dua minggu hingga sebulan. Hal ini cukup mengganggu kinerjaku di kantor. Beberapa pekerjaan lambat aku selesaikan. Akan tetapi aku tetap berjuang untuk bisa fokus.
Tahun 2016 adalah puncak segala situasi. Komunikasi dengan suami kala itu semakin memburuk. Sulit rasanya untuk tidak marah-marah. Kesehatanku mulai menurun. Berat badan tak kunjung turun, bahkan cenderung naik. Rasanya aku juga ga punya gairah hidup. Ingin mati, sih, ga. Namun juga tidak ingin melakukan apapun. Si Sulung (anak tertuaku) lebih bahagia dengan nenek dan tantenya dan membuatku semakin marah. Sampai akhirnya suami mengajukan perceraian.
Bercerai ternyata juga tidak mengurangi beban pikiran. Perasaan insecure terhadap diri sendiri kerap datang sehingga aku berusaha mencari banyak teman. Tidak ada yang berhasil. Mereka tidak berniat untuk berteman, tapi hanya iseng belaka. Bahkan ada beberapa hubungan pertemanan berakhir tanpa aku ketahui sebabnya. Makin aku merasa tidak berharga.
Pertengahan tahun 2019 akhirnya aku merasa muak dengan kondisi ini. Aku mulai mencari beberapa cara untuk penyembuhan diri sendiri. Dalam psikologi sendiri ada beberapa metode yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah minum obat antidrepresan. Aku menolak ide ini. Bagiku, itu hanya penyembuh sementara, sedangkan permasalahanku lebih ke psikis.
Aku mulai terbuka dengan metode-metode self-healing. Dimulai dari belajar hipnosis dan diet kenyangnya Dewi Hughes. Pada dasarnya memakan makanan yang benar dan dipadu dengan self hipnosis membantu membersihkan tubuh sekaligus jiwa. Dalam teori Psikoanalisanya Sigmund Freud, metode hipnosis digunakan untuk mengobati masalah-masalah yang ada di alam bawah sadar. Hanya saja metode self-hipnosis ini lebih menekankan ke sugesti diri, sehingga metode ini kurang berhasil pada diriku.
Lalu, tiba-tiba teman baikku menawarkan meditasi ala Deepak Chopra selama 21 hari. Dia bilang akan ada semacam mantra sehingga bila aku tidak nyaman tidak masalah menolak. Kupikir, biarlah kucoba, toh, tidak ada ruginya. Nah, pada masa ini, aku mulai menyelesaikan masalahku. Belajar meditasi membuat aku benar-benar rileks. Relaksasi melalui pernapasan dengan menurunkan tingkat kesadaran kepada gelombang Alpha. Kadang mulai terlihat bayangan-bayangan imajinasi dan warna. Ada tugas selama periode 21 hari ini, salah satunya adalah penerimaan diri dengan damai terhadap masa lalu dan memaafkan orang-orang yang aku benci. Satu persatu aku menguraikan keruwetan dalam pikiran dan jiwa ini. Tidak mudah. Kadang butuh beberapa hari untuk mengatasinya, namun meditasi membantu untuk menenangkan diri.
Aku juga berkenalan dengan seseorang yang sampai saat ini misterius. Dia yang berkomentar, kenapa diriku selalu bertindak dengan pikiran, bukan hati. Ia mengatakan, “kebahagiaan adalah produk hati. Gunakan hatimu daripada pikiranmu.” Komentarnya membuatku tersentak. Dia ada benarnya, karena setelah itu aku mencoba latihan hati, yang sampai saat ini masih berproses.
Bahkan aku mencoba dance therapy. Belajar dari seorang penari untuk melepaskan energi dengan menari melalui seni pernapasan. Saat menjalani proses ini, rasanya magis. Aku mencoba bergerak menuruti keinginan hati dan mengikuti instruksi pelatih. Rasanya aku cocok dengan metode ini.
Memang tidak ada metode yang benar-benar tepat. Dibutuhkan komiten diri dan mindfullness yang kuat untuk membantu mempercepat proses penyembuhan diri.
Terakhir, ada satu hal yang menjadi kekuatan utamaku dalam proses melewati depresi ini, yakni orang tua. Bila teringat orang tuaku yang telah tiada, aku jadi sedih. Mereka memberiku nama yang cantik, Natasha Anindita, yang berarti putri yang lahir dengan sempurna, dan mamaku berharap aku tumbuh cantik seperti teman kecilnya yang bernama sama denganku, yang menjadi inspirasinya. Mereka (orang tuaku) jua yang selalu berjuang dan tidak pernah menyerah dan telah mengajarkanku bagaimana menjadi perempuan yang tangguh. Aku percaya, depresi ini akan berlalu dan berhasil kulewati, dengan ketangguhan yang diajarkan oleh kedua orang tuaku, dan doa yang mereka titipkan pada namaku.
Natasha Anindita, Konsultan, Asesor, Ibu dari 3 anak.
