kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

A Halu Story (Part 10) : Kau Akan Selalu Ada

“Aku benci kenangan! Karena ia tiba-tiba telah merenggut kau dariku.”


Oleh Taqiya Herman

Aku terbangun panik. Mataku yang mulai membengkak kembali kupaksa terbuka dengan rasa takut. Rahangku terkatup keras saat mengetahui keadaan belum juga berubah.

Aku masih di posisi yang sama, tergeletak tak berdaya dengan tebaran tisu dan helaian rambut rontok di lantai kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 01.16 lewat tengah malam, tetapi keadaan tak kunjung berubah.

“Plak.” Untuk kesekian kalinya aku menampar pipi kiriku, masih berusaha meyakinkan diri kalau berita yang datang beberapa jam yang lalu hanya seonggok mimpi buruk yang akan segera hilang. Namun, semuanya sia-sia. Rintik hujan yang semakin deras disertai desauan angin malam yang dingin semakin mendramatisir keadaan menjadi semakin menyedihkan.

“Taqiya, kamu kenapa?” seseorang menyentuh bahuku lembut. Dengan perlahan orang itu berusaha memperbaiki posisi tidurku yang berantakan. Tangisku sempurna pecah ketika melihat seorang gadis bersimpuh di hadapanku dengan senyum terkulum dibibirnya.

“Jangan pergi,” isakku.

Gadis itu tersenyum lembut, “memangnya aku ke mana?” bisiknya lirih.

Aku lalu memeluknya erat-erat seakan tak merelakannya menghilang lagi dari pandangan. “Ka.. kauu.. dis.. sini.. sajaa,” aku berujar dengan susah payah. Hidungku yang tersumbat membuatku kesulitan mengambil napas.

“Ssttt, sudah malam, mari kita tidur.”

Gadis itu menuntunku ke kasur, kemudian berbaring juga di sebelahku.

“Tidurlah, besok sekolah,” ia menepuk-nepuk punggungku layaknya seorang ibu yang menidurkan anaknya. Aku tak menjawab. Tanganku masih melingkar erat di pinggangnya.

“Dengarkan aku. Kau mungkin tak akan melihatku berkeliaran lagi di sekolah. Aku juga tak akan ada lagi di kelas ketika kau cari, dan aku tak bisa lagi membantumu menyelesaikan tugas-tugasmu. Tapi walau begitu, aku akan tetap tahu apakah kau baik-baik saja. Apakah temanmu ada yang menjahatimu, bahkan akupun akan tahu apakah pria itu kembali membuatmu kesal. Karena aku selalu mengawasimu.”

Aliya kembali menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Tapi,aku tidak mau. Aku tak mau kau pergi. Kalau kau mau, kau boleh memiliki sebagian umurku!” pekikku membahana.

Aliya menghela napas. Ia tetap sabar dan memaksaku kembali berbaring seraya bersenandung. Kesadaranku menurun, dan aku mulai mengantuk.

“Kau tak boleh begitu, lagi pula aku tak ke mana-mana, bukan? Dari awal persahabatan kita dan sampai kapanpun, aku tetaplah Aliya yang menyayangimu, menyayangi kalian semua,” suaranya tertahan seolah menahan tangis.

“Jika saat terbangun nanti, kau tak lagi menemukanku, tolong jangan menangis, karena aku tak bisa lagi bangkit untuk menghapus air matamu.”

Sebuah kecupan hangat mendarat di jidatku. Lalu bersamaan dengan kesadaranku yang nyaris habis, Aliya sempurna menghilang dari pandangan.

Aku meronta. Air mataku mengucur deras, hingga membuat kepalaku terasa pening. Namun apalah daya, sekeras apapun aku mengejar, Aliya takkan pernah kembali hadir dalam hidupku.

Seketika semua berubah menjadi kenangan. Jalan-jalan sore ke mana saja, meskipun besok tugas sekolah menumpuk dan menimpuk kepala hingga pecah. Aku tak akan pernah bisa lagi menemanimu menonton film-film Malaysia kesukaanmu itu, Aliya. Aku akan merindukan menggosip berdua dan tertawa denganmu. Apakah kau tak mau lagi pergi makan-makan denganku?

Aku benci kenangan! Karena ia tiba-tiba telah merenggut kau dariku. Begitu saja kenyataan berubah menjadi tak bisa kugapai. Namun aku akan selalu mengingatmu, Aliya. Menempatkanmu dalam doa, dan dalam gambaran terbaik seorang sahabat yang pernah kumiliki. Kau akan selalu ada. Kau selalu hidup di hatiku.


*Teruntuk Aliya (bukan nama yang sebenarnya), seorang sahabat karib yang telah mendahuluiku (29/4/2020) pergi ke pelukan-Nya. Semoga kau bahagia di sana. Amin.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai