kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Kita Tak Benar-Benar Sehat

“Mindset kita seketika berubah dan menerima hal-hal tersebut tanpa lagi mempertimbangkan salah ataupun benar.”


Oleh Nanda Nadya

Sebagai social media user yang sedang berusaha diet ber-medsos kecuali WhatsApp, karena harus ada yang selalu saya kabari (*cielah) selama masa pandemi ini, benar-benar telah membuat kehidupan saya berubah.

Selain menjadi author abal-abal yang perjalanannya baru setengah jengkal, kali ini saya juga memutuskan untuk mencoba menjadi pengamat media sosial! Ehehehe.. Sebegitu kurang kerjaan bangetnya ya, sampai-sampai mengamati media sosial.

Sebelumnya, platform yang menjadi tumpuan utama saya dalam pengamatan adalah twitter. Saya benar-benar merasakan “trafik” kehidupan di twitter yang agak berbeda dengan media sosial lainnya. Karena setiap user dapat “bercuit” kapanpun mereka mau dan tentunya bebas berinteraksi dengan burung-burung lainnya. Meskipun saya belum pernah menghitung ukuran Erlang (satuan trafik) untuk “kesibukan” di twitter, sih.

Tapi, sebagai pengguna yang dapat dikatakan sebagai sesepuh, saya merasakan platform itu benar berubah sejak saya menggunakannya dari tahun 2011. Dari seluruh media seperti facebook, instagram, dan yang lainnya, bagi saya kini twitter menjelma menjadi sebuah platform yang terlampau bebas. Laiknya kehidupan di dunia gemerlap!

Di twitter kita dapat menemukan kata “spill” atau “spill the tea” yang berarti “tuangkan teh”. Makna mudahnya : “udahlah kasih tau aja”. Yup, hal-hal yang di-“spill” itu bisa jadi mulai dari sekadar masalah circle alias “geng-gengan” di twitter sampai masalah selangkangan pun, you can find this issues on this platform. Bahkan, “spill” adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat twitter. “Spill” menjadi ajang untuk menyebarkan kesalahan orang, aib, dan selain itu, banyak pula orang yang tidak malu menyebarkan aib mereka sendiri ; dengan akun alter!

Nah, apa itu akun alter? Akun alter merupakan akun yang mereka buat untuk menunjukkan darkside (sisi kelam) dari orang tersebut. Jadi di real twitter account (akun asli), mereka menjadi diri mereka yang normal, anak yang dikenal baik-baik, sedangkan di alter, ya, mereka bisa jadi beringas, dan tak tahu malu untuk menyebar postingan yang mengumbar aib ataupun kata-kata kasar. Tapi, sayangnya, hal tersebut sudah menjadi lumrah untuk di konsumsi bagi masyarakat twitter. Mereka menganggapnya, ya, sebagai media “have fun” dan banyak pula yang memanfaatkan akun alter sebagai ajang mencari pamor ; agar terkenal!

Selain itu, sekarang muncul istilah baru dalam “pengklasifikasian” kaum media sosial. Ada normies, poser, dan elite. Istilah normies digunakan untuk mereka-mereka yang normal, tapi, ya, hanya mengikuti arus gitu deh. Ikut-ikutan aja! Misal, orang lain berpendapat A, dia akan ikut-ikutan juga tanpa mempertimbangkan benar atau salahnya. Pokoknya yang penting mengikuti orang-orang, deh!

Nah untuk poser, tidak jauh berbeda sih dengan normies. Tapi, istilah poser digunakan untuk mereka yang mengikuti tren yang ada, misalnya dalam masalah tren berpakaian. Namun, pada kenyataannya mereka tidak benar-benar tahu dan tidak memahami betul dengan apa yang diikuti. Pokoknya, yang penting dilabel trendy, dan gaul! Duh..

And the last one is elite. Jadi istilah kaum “elite” ini digunakan bagi mereka yang berselera tinggi, yang menyukai hal-hal “high class” di mata mereka. “Pokoknya selera gue “elite” dan “lit” banget deh!” Hadeh.. Hahaha.

Tapi dari semua itu, saya telah menilai bahwa tidak ada yang salah sih, jika diferensiasi bahkan klasifikasi sosial tumbuh berkembang juga di media sosial. Toh, memang kehidupan kita juga telah berpindah di sana, kan? Namun, kerap kali saya bertanya pada diri sendiri, apa saya, dan semua orang di dunia ini benar-benar sehat?

In fact, mungkin kita benar terjaga dan sehat secara fisik, tapi jika kehidupan kita terus menerus dijalani dalam media sosial dengan cara yang seperti itu, sekali lagi : Apa kita yakin kita benar-benar sehat?

“But it’s just a social media, dear!”

Ya, i know. Saya pun paham betul itu hanyalah sekedar media sosial. Tapi, bukan berarti dengan ber-medsos itu menandakan kita bebas untuk menyebar aib diri sendiri, aib orang, menjelek-jelekkan, mencaci, memaki, menyebarkan postingan rasis, kan?

“Liberty doesn’t mean like that, fellas!”

Jika dibiarkan terus menerus, bisa-bisa kita menganggapnya “yaudah” jadi suatu yang biasa aja gitu loh, tidak perlu dipermasalahkan. Mindset kita seketika berubah dan menerima hal-hal tersebut tanpa lagi mempertimbangkan salah ataupun benar. Padahal, negara kita juga memiliki hukum dan etika dalam ber-medsos. Please never forget about “law” & “ethic”, ya!

Tetap pintar dan bijaklah. Isi media sosial dengan “positive vibes“; dengan menulis, berdiskusi online, berbagi tips, resep, unjuk kemahiran dalam membuat tiktok, berbagi video lucu biar nggak tegang, dan ya you know lah how to manage your account nicely and also how to spread positivity ^^

Yuk, berusaha untuk “menyehatkan” diri dan jangan pernah lelah untuk terus bermanfaat! Cheers!


PS: featured image source is here

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai