“Music Snob: Orang-orang yang merasa bahwa selera musiknya paling tinggi, dan mencela orang-orang yang punya selera musik yang berbeda dengan dirinya.”
Oleh Ziyad Ahfi
Sebagai orang yang tidak pandai bermain musik, saya menaruh tunduk dan hormat pada para seniman musik. Tanpa mereka, mungkin hidup yang tidak akan pernah ideal ini akan amat sangat berantakan.
Kita semua tahu, musik bisa mengakibatkan apa saja. Kehidupan bahkan kematian. Kesenangan bahkan kerusuhan. Kerinduan bahkan kebencian.
Barangkali pada awalnya orang hanya berkemampuan untuk berkata-kata. Ketika kata-kata sudah kurang layak dijadikan senjata, orang lalu menggubahnya menjadi puisi. Mungkin puisi juga belum bisa mengubah apa-apa, maka orang mulai bermusik.
Sebab melalui musik, kata Inayat Khan, orang akan meresapinya hingga ke dalam. Berbeda dengan sekadar kata-kata, ia mudah membuat orang keluar dari dirinya.
Mengenai musik, belakangan ada dua kegelisahan yang sengaja saya simpan sebagai seorang yang sekadar penikmat musik. Tapi kali ini, izinkan saya untuk membukanya. Mumpung ada waktu yang tepat.
Pertama, ketika Jrx secara terbuka melalui akun twitter pribadinya @FCK_JRX menulis begini: Yang akan bikin Indonesia pintar itu, selain sekolah dan perpustakaan gratis, ya, ganja. Bukannya kultur pembodohan ala K-Pop dengan laki-laki yang cantiknya melebihi Megawati.
Kemudian pentolan grup band Superman is Dead itu melanjutkan, “Ada musisi K-Pop yang mengajari kita berpikir kritis? Muka aja udah seperti palsu dan seragam, apalagi isi otaknya.” (1/2/2020).
Baiklah, mungkin ada yang merasa terwakilkan oleh Jrx, dan ada juga yang merasa tersinggung. Tapi, di antara dua arus itu, layakkah seorang musisi yang saban waktu tereak-tereak toleransi, tapi enggan menghargai selera musik orang lain? Apa mungkin karena ia merasa lagu-lagunya adalah lagu paling kritis? Paling kiri? Paling menggerakkan orang-orang untuk melakukan perubahan?
Kedua, ketika Baskara, personil .Feast, mengatakan bahwa, lagu “Peradaban” jauh lebih keras dari lagu metal manapun yang pernah mereka dengar.
Sebenarnya, sejak sebelum Baskara keliru bicara seperti itu, saya sudah lama memantau penggemar alay .Feast ini. Bukan karena niat nyari di search nulis “.Feast”. Nggak. Tiap saya lagi baca komen akun lucu di Instagram, seringkali penggemar alay sok-sok ikut komen serius bawa-bawa selera.
Ingat ya, saya bilang “penggemar alay”. Bagi yang ngerasa nggak alay, biasa aja, gak usah baper. Ini hanya untuk mereka yang merasa paling Indie. Paling kiri. Paling aktivis. Paling militan. Paling Edgy. Ketika mendengar “Peradaban”.
Saking alay-nya, ada yang pernah ngetweet gini, “lu kalo belom dengerin .Feast, selera musik lo perlu dipertanyakan, Bro.” “Masa iya lu gatau .Feast? “Wah, selera musik lu perlu diselamatkan”, dan lain sebagainya.
Penggemar terlampau alay seperti itu bisa dibilang dengan istilah Music Snob: orang-orang yang merasa bahwa selera musiknya paling tinggi, dan mencela orang-orang yang punya selera musik yang berbeda dengan dirinya.
Saya bukan penggemar K-Pop, juga bukan pendengar berat .Feast. Apalagi menjadi pendengar “Sunset di Tanah Anarki”. Nggak. Tapi saya merasa orang-orang alay semacam itu (Music Snob) lebih baik ditertibkan sebelum rudal Kim Jong Unch mendarat di kepala batu mereka.
Nggak usah sok-sok ngatur selera musik orang. Musik itu soal kenikmatan. Kenikmatan hanya bisa dirasa masing-masing orang. Katanya “Jangan coba atur tutur-kata kami.” “Jangan coba atur gaya berpakaian kami.” Kok, kenyataannya jadi suka ngatur-ngatur selera musik orang? Situ siapa? Aktivis? Keren? Mau dibilang paling kiri? Paling Edgy?
Izin meminjam motivasi hidup @ajudanpribadi: “SANTEEE AJA GITU LHOOOO…” (Yad)
*PS: feature image source is from google search engine.
