“Hal ini membuat saya bangga bahwa setidaknya tanah ini pernah dipimpin oleh jiwa-jiwa yang tidak haus akan kekuasaan.”
Kisah bermula ketika Dyah Wijaya alias Sang Brawijaya I mendirikan kerajaan Wilwatikta atau yang populer dikenal dengan Majapahit. Beliau mengangkat seorang Abdi menjadi Rakryan Mahapatih kepada Nambi, seorang Abdi Setia. Ternyata hal ini tidak disetujui oleh Ranggalawe, salah satu Patih kenamaan Majapahit. Beliau ialah anak dari Arya Wiraraja, penguasa Sumenep yang dahulu memberi bantuan perlindungan pada Dyah Wijaya.
Ranggalawe tidak setuju dengan keputusan Sang Maharaja lantaran menurutnya, pamannya Lembu Sora jauh lebih setia, banyak berjuang dan pantas menjadi seorang Rakryan Mahapatih. Saking tidak setujunya, dikisahkan bahwa Ranggalawe meninggalkan penobatan dan pulang ke Tuban untuk waktu yang cukup lama.
Di lain pihak, sebetulnya Nambi pun tidak setuju dengan pencalonannya sebagai Rakryan Mahapatih, bahkan ia pun merekomendasikan Lembu Sora untuk mengisi jabatan penting di kerajaan itu. Namun Lembu Sora sendiri pun tidak bersedia untuk mengisi jabatan itu.
Melihat kejadian ini, datanglah seorang tokoh picik kenamaan bernama Halayuda. Ia mengatakan bahwa lamanya waktu sejak Ranggalawe terakhir menghadap merupakan tanda-tanda pemberontakan. Sontak sang Raja terkejut dan memerintahkannya untuk menangkap Ranggalawe.
Singkat cerita, terjadilah perang fenomenal yang menunjukkan kebolehan ilmu kanuragan dari para Patih Majapahit. Perang ini terkenal dengan nama Perang Sungai Tambak Beras. Perang ini menewaskan Ranggalawe dan juga menjadikan Lembu Sora sebagai pengkhianat, lagi-lagi karena hasutan Halayuda yang berambisi naik jabatan.
Jiwa-Jiwa Ksatria
Setelah membaca cerita ini, saya betul-betul terheran. Saya bingung, sebab mendapati begitu banyaknya jiwa-jiwa ksatria pada diri tokoh-tokoh kerajaan yang berdiri ratusan tahun lalu itu.
Sebut saja Ranggalawe. Siapa yang tidak tahu Ranggalawe, sang ksatria penakluk Mongol? Kesaktian dan kesetiaannya tidak diragukan lagi. Ia seorang anak penguasa Sumenep yang membantu Dyah Wijaya kala diuber pasukan Jayakatwang.
Dengan segala kesaktian dan kesetiaannya, beliau tetap berani untuk mengkritik kebijakan Raja yang titahnya bersifat absolut. Tidak seperti kebanyakan orang, ketidaksetujuannya tidak mendorongnya untuk memberontak. Belum lagi bagaimana sang Brawijaya I yang sebetulnya menerima ketidaksetujuan Ranggalawe. Setidaknya beliau menerima sampai sesaat sebelum terkena hasutan politisi licik bernama Halayuda. Berbeda sekali dengan pemerintahan kini yang mengaku demokratis namun kebijakannya seolah absolut dan anti kritik.
Selain Ranggalawe dan Brawijaya sendiri, kita dapat melihat tokoh-tokoh berjiwa mulia lainnya dari kisah di atas. Sebut saja Nambi yang sadar akan kapabilitasnya hingga sebetulnya tidak setuju dengan pengangkatan dirinya sendiri. Juga Lembu Sora, yang tunduk dan patuh dengan segala titah dari Rajanya. Padahal kesetiaannya tidak bisa dibandingkan dengan siapapun. Salah satu sumber mengisahkan bahwa selama masa pengejaran oleh Jayakatwang, Lembu Sora menjadikan perutnya sebagai tempat duduk Dyah Wijaya bersama istrinya. Ia juga yang menggendong istri raja kala harus melewati medan pelarian yang sulit seperti melintasi lembah.
Hal ini membuat saya bangga bahwa setidaknya tanah ini pernah dipimpin oleh jiwa-jiwa yang tidak haus akan kekuasaan. Sebaliknya, mereka terus berusaha untuk mencapai kejayaan bersama dengan caranya sendiri-sendiri. Ada yang dengan cara mengkritik, ada pula yang patuh. Namun semuanya berorientasi pada kesejahteraan negaranya.
Hanya satu yang membuat saya tidak terkejut. Halayuda. Dengan kehadiran tokoh ini dalam cerita bersejarah di muka. Saya menangkap sebuah nilai; “Bahwa kebaikan akan hadir dengan bentuknya yang dinamis. Namun yang jahat akan terus mengimbangi, dengan cara yang sama.”
Semoga kita dikaruniai jiwa-jiwa yang tak ternilai. Selamat menahan diri.
Foto bersumber dari indocropcircles
