“Tak ada bedanya dengan “memakan gaji buta”, kan?”
Oleh Nanda Nadya
Kehadiran COVID-19 ini benar-benar membawa perubahan dari segala aspek. Dan yang tak kalah pentingnya, yaitu membawa perubahan pada kehidupan manusia sehingga tak dapat luput dari dunia internet beserta peranakannya (baca : media sosial).
Segala hal apapun telah “terhidang” di media sosial dan kita pun siap untuk menyantapnya, seperti salah satunya menyantap hal yang akhir-akhir ini ramai sekali menjadi perbincangan bahkan tak henti-hentinya menjadi trending di twitter ; yup! It’s all about influencer sekaligus beauty vlogger Indira Kalistha beserta suaminya yang kini menjadi sorotan se-Indonesia.
Bagaimana tidak? Setelah mereka secara kompak menghadiri penutupan McD Sarinah tatkala masa PSBB yang masih berlaku, ia juga telah melontarkan perkataan yang tentu rasanya bagi kita semua “nih orang mikir dulu ga sih?” pada podcast-nya Gritte Agatha. Tanggapannya benar-benar meremehkan COVID-19 dan nyeleneh!
Entahlah, kita harus menyalahi siapa. Gritte selaku yang memiliki channel tidak lagi memilah mana part yang pantas untuk dikonsumsi publik dan mana yang tidak (sebelum podcast diposting tentunya mengalami proses pengeditan, kan?), tapi ia tetap saja memasukan part yang membicarakan tentang COVID-19 itu dan naasnya ditanggapi nyeleneh oleh Indira Kalistha.
Setelah melanggar PSBB, ditambah lagi jawaban nyelenehnya seputar corona itu sudah pasti menjadi “boomerang” dan “double kill” untuk seorang influencer yang memiliki banyak massa itu.
Menurut saya, wajar jika se-Indonesia memberikan reaksi negatif mereka pada influencer nyeleneh tersebut. Di saat seluruh kalangan membatasi kegiatan di luar rumah untuk menjaga diri, sedangkan Indira dan teamnya justeru malah “bodo amatan” dengan kondisi yang ada. Ini tak ada bedanya dengan masalah kokang senjata salah satu oknum berseragam kemarin, dan seperti yang telah saya katakan di tulisan sebelumnya (Pacar Kamu Histrionic Personality Disorder?) bahwa di saat kita melakukan/berbicara sesuatu lalu meng-share-nya ke media sosial, tentu hal tersebut telah menjadi konsumsi publik, titik. Terlebih untuk seorang influencer seperti Gritte yang memiliki 2,57 juta subscriber dan bisa dibayangkan 2,57 juta orang itu telah mengkonsumsi “makanan” tidak sehat dan tidak wajar dari podcast-nya bersama Indira Kalistha.
Heran sekali rasanya. Bisa-bisanya seorang beauty vlogger tidak mencerminkan nilai dari “beauty” sesungguhnya. Karena beauty standard itu tidak hanya soal mahir melukis wajah saja dan tidak hanya tentang physical appearance, namun juga tentang bagaimana perkataan serta perbuatan itu dapat selaras dan terjaga dengan baik.
Untungnya kebanyakan orang Indonesia juga telah pintar dan kritis, sehingga dapat menyaring salah-benarnya dari statement nyeleneh Indira Kalistha tersebut.
Apa sih isi statementnya?
Nih, guys :
“Aku tipe yang kayak, ‘Corona? B aja (biasa saja)’,”
“Aku jarang pakai masker. Kalau sheet mask, aku pakai setiap hari. Kalau masker yang udara-udara gitu, aku enggak pakai. Kecuali memang kayak ditegur gitu,”
“Kayak, ‘Bu, bisa pakai maskernya?’ Pakai. Tapi, kalau enggak ditegur, kita lepas lagi. Ini napas sayang-sayang ditutup-tutup gitu loh. Sesak, nih, dada juga sesak.”
“Terus, kalau misal ke mal atau pasar atau segala macam, pegang-pegang, misal habis beli makan, nih, dari ojek online gitu, aku enggak cuci tangan dulu baru makan. Jadi, kayak ambil-ambil atau apa segala macam, terus makan saja pakai tangan,”
“Wallahualam, lu kena corona, kek, kena penyakit apa, kek, demam berdarah, kek, semua bisa mati, lu tahu, hah? Emosi gue jadinya,” ujarnya.
Meskipun pada akhirnya Gritte men-take down video tersebut, namun jejak digital tidak dapat dihilangkan.
Tapi, ironinya pula, tidak sedikit orang yang membela dan mengatakan bahwa “manusia tempatnya salah” dan apa yang dikatakan Indira Kalistha merupakan hal yang biasa saja. Namun jika dipikir lagi, di posisi ia sebagai seorang influencer dan setelah banyak kejadian seperti sebelumnya tentang pelanggarannya terhadap PSBB yang berlaku dan dia jadikan konten lalu di-upload, apa pantas untuk selamanya ia dibela? We don’t need to defend influencer with bad influence, kan?
Padahal, dengan kehadiran influencer pada masa kini, mereka telah menjadi “pembimbing” bagi pengikutnya dalam pengambilan keputusan dan mereka menjadi role model bagi pengikutnya dalam berbagai aspek kehidupan. Fenomena ini bukanlah menjadi hal yang luar biasa lagi. Mengingat, dilansir dari Datareportal bahwa pengguna media sosial di Indonesia pada bulan Januari tahun 2020 mencapai 160 juta pengguna. Coba bayangkan jika semua pengguna media sosial tersebut masing-masing memiliki 1 influencer (dan salah satunya seperti Indira Kalistha) untuk dijadikan pandangan hidup dan ternyata dia tidak pintar dalam menyaring segala konten yang telah disajikan, duh, mau jadi apa?
Back to the issues, belum lagi ditambah kehadiran suami Indira (Aa Utap), yang mana ia tetap melakukan pembelaan (self-defense), ditambah lagi closing statement-nya di salah satu postingan terbarunya: “Chill aja dari dulu kan emang selalu US vs THE WORLD”, tanpa adanya perkataan maaf. Ya, Tuhan, pongah sekali bukan? Bisa-bisanya tetap chill di saat kesalahan istrinya telah tersohor ke mana-mana.
“Jika kita benar cinta, apakah dengan membiarkan pasangan terkungkung pada suatu kesalahan serta tetap membenarkan segala tindakannya?”
Seharusnya, toh, sebagai seorang suami yang baik, bukankah ia bisa mengingatkan istrinya dan tidak membiarkan “wanita cerdas”nya (kata dia sih) itu dalam kesesatan?
Lagi, ia juga me-reply salah satu orang yang mengkritiknya dengan perkataan yang seharusnya tidak pantas dilontarkan : “Terimakasih bro/sist. Btw, mau nanya selama covid ini udah kasi makan/nanggung berapa banyak orang? Semoga lebih banyak dari saya ya bro. Amin”.
Hey! Sebegitu susahnya, ya, mengatakan “maaf” atau merendah dan bilang bahwa kesalahannya itu akan dijadikan bahan evaluasi? Argh! Emosi, saya. Memang benar ya gais, jodoh itu cerminan diri.
Dari semua kejadian-kejadian yang terjadi, sungguh disayangkan bahwa ternyata tak semua influencer Indonesia memiliki kesadaran bahwa mereka adalah role model bagi khalayak umum. Influencer di Indonesia masih banyak yang lebih mengutamakan keuntungan dari Adsense yang mereka peroleh dari pada mengutamakan nilai kebermanfaatan dari konten yang mereka hasilkan. Tak ada bedanya dengan “memakan gaji buta”, kan? Sehingga kata “influencer” yang pada awalnya meng-influence dan berkonotasi positif itu tergeser karena hal-hal kontroversial yang justru dapat merusak reputasi diri mereka sendiri, serta merusak kepercayaan publik.
Pun dapat saya simpulkan, dengan kehadiran COVID-19 ini, kita dapat melihat sendiri realitas dan peran dari influencer/public figure mana yang benar-benar dapat kita jadikan sebagai role model. Dari COVID-19 pula, kita dapat membedakan manusia, mana yang benar-benar menggunakan akal pikiran serta lisannya dengan baik, dan mana yang perlu belajar banyak lagi.
Memang, sejatinya kita semua adalah pembelajar, namun kesalahan tetaplah akan menjadi kesalahan meskipun tak selamanya hal tersebut mutlak salah. Nah, jika memang terbukti salah, ya, cukup merendah dan meminta maaf, jangan sampai kata maaf tersebut juga diiringi dengan self-defense serta playing victim yang pada akhirnya merusak esensi dari kata “maaf” itu. Jadinya, semua terasa percuma!
Namun, setelah kejadian tersebut Indira Kalistha beserta suaminya telah melontarkan permohonan maaf melalui podcast-nya Dedy Corbuzier, semoga segalanya menjadi pembelajaran untuk mereka dan kita semua, ya!
Oya, ada sedikit reminder nih dari Thumper dalam film Bambi (1942) : “If you can’t say something nice, don’t say nothing at all” — Jika kamu tidak memiliki hal baik untuk dikatakan, maka jangan katakan apapun.
Cheers!
(Nad)
