“Dia mulai menangis, aku mulai meringis.”
Oleh Muhammad Iqbal
Ruang itu bukanlah ruangan yang istimewa, sebagaimana ruang tidur pada umumnya. Kasur dengan bantal di atasnya. Meja panjang yang menghadap ke jendela. Lemari pakaian yang engsel pintunya hampir copot. Dan tembok bercat putih yang mengelilinginya.
Akan tetapi, ada yang kurang dari ruangan ini, ruang ini tidak memiliki pintu, membuat siapapun tak akan bisa keluar atau masuk ke dalam ruangan payah ini. Kau mungkin bertanya-tanya, bagaimana aku bisa masuk ke dalam ruangan brengsek ini? Aku sendiri sebenarnya tidak mengetahuinya.
Aku terbangun sekitar beberapa bulan lalu di dalam ruangan yang memuakkan ini. Lantai granit yang retak-retak, dan atap ruang yang bolong sehingga membuat air hujan ataupun panas matahari bebas masuk ke dalamnya.
Betapa mantapnya kombinasi kesialan ruangan itu, membuat siapapun yang berada di dalamnya, ingin cepat-cepat mengakhiri hidup. Mantap bukan? Tanpa pintu membuatmu akan terisolasi tak bisa keluar dari ruangan itu, membuat dirimu kebingungan dan bertanya-tanya di manakah engkau berada?
Di balik semua kepayahan dan segala kebingungan yang ada, minimal di dalam ruangan ini masih tersisa satu hiburan untuk menemani segala bentuk kesialan ini, bukan, bukan gadis-gadis cantik yang menghibur itu, ataupun TV beserta alat elektronik sejenisnya. Hiburan sederhana yang diberikan kepada diriku adalah jendela kotak yang menghadap ke pantai entah berantah. Pantai itu begitu indah dengan pasir putih dan lautan yang jernih, walau dari kejauhan semua tampak samar-samar.
Dari 24 jam waktu yang diberikan kepada manusia, 16 jam di antaranya aku habiskan untuk menatap pemandangan pantai yang samar-samar itu. Beberapa waktu lalu rutinitas yang awalnya hanya menatapi pantai yang samar-samar itu mulai berubah. Ada seorang laki-laki tiba-tiba menghampiri jendela. Wajahnya bersih, rambut bercukur cepak, tingginya cukup untuk mengambil barang di atas lemari rumah orang kaya, membawa gitar yang ia selempangkan di bahunya, serta selalu datang pada saat matahari terbit dan membawa nampan berisi makanan yang banyak, minimal yang dibawanya adalah makanan jadi, tidak seperti makanan kaleng yang ada di ruang itu.
Setelah memberikan makanan kepadaku melalui jendela itu, dia duduk di daun jendela sembari selonjoran menghadap ke arah pantai. Lantas sembari diriku melahap makanan yang dia bawa, dia mulai memainkan gitarnya tanpa bernyanyi, terus begitu hingga aku selesai melahap semua makanan yang ia bawa. Ketika selesai, ia membawa nampan tersebut tanpa berkata apa-apa dan tersenyum padaku dengan getir, lalu pergi. Terus seperti itu hingga aku muak melihat mukanya yang datar.
Setelah sekian lama melakukan kegiatan itu, Pria memuakkan itu datang pada satu pagi yang tidak cerah dan tidak bersahabat, dengan membawa nampan makanan yang sedikit dan sebuah buku tulis yang tebal dan pulpen yang banyak, ia meletakkan semua di atas meja panjangku yang pinggirannya mulai dimakan oleh rayap. Kali ini tidak dengan memainkan gitar, ia hanya duduk dan bersandar pada daun jendela, sembari berkata:
“Betapa suramnya pemandangan dari jendela ini.”
Aku hanya diam membisu, dan terus menyantap makanan ini.
“Kau tahu pemandangan di sini lebih baik dibanding kau memandangi pemandangan dari jendela gedung-gedung tinggi di kota-kota besar?”
Sergahnya kembali.
“Hey! Apakah kau lupa cara berbicara? Ah, aku lupa kau tidak lagi memiliki lidah.”
Ucapnya kembali sambil terkekeh.
Andaikan kedua kakiku masih ada, semua jari tanganku masih lengkap, tentu sudah sedari tadi kuhadiahkan sebuah pukulan telak di mukanya. Semenjak aku tersadar telah berada di ruang keparat ini, aku terbangun dengan kehilangan banyak hal, mulai dari ingatan sebelum aku berada pada ruang ini, kedua kaki, lidah, serta dua jari di sebelah kiri dan satu jari di sebelah kanan. Sempurna bukan untuk menyegerakan mengakhiri hidup?
Di atas segala bentuk kesialan ini, rasanya yang bisa kita sisakan hanyalah kewarasan, rasa-rasanya seberat dan sekeras apapun kesialan ini, aku rasa pilihan yang tersisa hanyalah bertahan.
“Hey,” ucap pria berwajah mulus itu, “aku pergi dulu.” Sambil membawa nampan itu, sebelum ia beranjak pergi menjauh, ia meletakkan sebuah buku tulis yang jauh lebih tebal dari sebelumnya. Bedanya, buku tersebut telah terisi tulisan seseorang. Hari itu aku habiskan seharian panjang membaca tulisan pada buku itu, hingga larut malam, di bawah cahaya rembulan, dan angin pantai yang menusuk; Sebuah kombinasi sempurna untuk mengarungi malam.
Menjelang pagi hari, ketika matahari mulai mengintip malu kepada semesta, aku buru-buru mengambil buku tulis kosong yang diberikan pria sialan itu. Buru-buru aku menulis dengan cepat sembari meneteskan air mata. “Sebagaimana mengukur kemalangan dan kesepian, cukup kau rasakan ketika malam menjemput dan dia akan menjelaskannya dengan baik,” tulisku.
Sejalan dengan aku yang terlalu sedih dan larut dalam menulis di buku tulis kusam itu, lelaki berwajah mulus itu mulai tampak dari jauh berjalan menuju ke arahku. Tanpa membawa nampan, ia hanya terlihat membawa buku di tangannya. Senyumnya tak pernah pupus hari ini, aku yang melihatnya langsung bergetar hebat, tetapi masih mencoba untuk menulis dalam buku tulis kusam itu.
Pria itu sampai tepat di depan jendela, berdiri tegak membuka buku yang ia bawa, langsung setelahnya ia membaca suatu hal dari buku tersebut:
“Berdukalah pada hari ulang tahunku ini, maka kelak aku akan membayarnya kembali, memelukmu tanpa tesedu, sambil bercerita tentang kematian yang gagal menjebakku di Hindia”*
Sembari ia membacakan puisi dari buku itu, semakin gagap aku menulis di atas buku ini, semakin berlinang air mataku, Oh, Tuhan betapa sialnya semua ini.
“Namun pagi mesti dimulai seperti biasa, selimut mesti dilipat, tirai-tirai harus disingkap, air mesti dijerang, lampu-lampu perlu dipadamkan, bukankah jemputan harus selalu ditunggu?”*
Dia membaca sambil tersedu, aku menulis sambil menangis dan tertawa, ya menangis sambil tertawa. Apakah kau belum pernah merasakannya?
“Inilah dunia, inilah dunia”*
Ucapnya makin keras, dan tanganku makin lemas, ya makin lemas. Kau belum pernah merasakannya juga?
“Bapa, berilah aku sekedar tempat lain
cuaca lain, juga waktu lain untuk menangis”*
Dia mulai menangis, aku mulai meringis. Ah, sialnya. Andaikan aku tahu, andaikan aku tahu, andaikan aku tahu.
“Tetapi hanya pada mercusuar yang terkena malam perempuan itu berani mengeluh, apakah di surga juga ada derita?”*
Dia menutupnya dengan berteriak dan menangis, aku menutup tulisanku sambil menengadah ke langit. Tuhan, andaikan saja aku tahu, andaikan saja aku tahu, andaikan saja aku tahu.
Dan hari ini, di tengah hiruk pikuk ibu kota, aku menutup buku itu. Hari ini aku baru saja menuntaskan bacaan tulisan dari seorang pesakitan. Buku ini aku temukan di loteng rumah kakek. Tuhan, andaikan saja tahu sejak dulu, jika Ayah sungguh menderita, sungguh, andaikan saja aku tahu, maka akan kukerahkan seisi dunia untuk menjemputmu. Andaikan saja.
*Penggalan-penggalan puisi karya Dea Anugrah di dalam buku Misa Arwah
