“Kata kuncinya, virus ini highly contagious.”
Oleh Afri Wahyudi
“Pri, kok ga pulang?”
“Yud, pulang ang?”
“Kok ndak pulang?”
Bagi “anak rantau” pasti sering mendapatkan pertanyaan semacam itu.
Kalau klen pahami statistik dan probabilitas, klen gak bakal kepikiran untuk main-main. Sebab ini virus Highly Contagious atau sangat mudah menyebar dan menginfeksi. Aku gak mau gambling kalo aku carrier atau bukan. Di rumah banyak keluarga, saudara, orangtua, anak bayi, bahkan tetangga. Resikonya terlalu berbahaya dengan mengorbankan banyak hal dan banyak orang.
Syukur-syukur gak carrier, tapi kalau iya? Mau gambling cuma buat memuaskan keinginan sesaat untuk ketemu orang-orang di kampung atau lebaran bersama keluarga?
Nih ya, di salah satu artikel yang dimuat Kompas tentang alasan kenapa virus corona aka COVID-19 lebih cepat menginfeksi manusia. Menurut hasil penelitian dan study terbaru, protein yang terkandung dalam virus corona SARS-CoV-2 ini memiliki “daerah khusus” atau ridge yang lebih padat. Hal ini membuatnya lebih mudah menempel pada sel manusia dibanding virus corona jenis lainnya. Saat virus mudah menempel ke sel manusia, ini memungkinkan virus corona SARS-CoV-2 memiliki kemampuan menginfeksi dengan lebih baik dan mampu menyebar lebih cepat.
Dikabarkan lagi, di dalam artikel yang sama: Live Science, Sabtu (4/4/2020), virus corona baru SARS-CoV-2 menempel pada sel manusia melalui apa yang disebut spike protein. Ketika spike protein menempel atau terikat pada reseptor sel manusia — protein pada permukaan sel yang berfungsi sebagai pintu masuk sel — membran virus akan bergabung dengan sel manusia. Hal ini memungkinkan genom virus untuk masuk ke dalam sel manusia.
Jadi, pikirkan lagi baik-baik.
Pertimbangkan lagi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Game Theory, Cuy! Ambillah suatu keputusan yang paling optimal buat kedua belah pihak, dan bukan paling maksimal untuk sebelah pihak.
Lagian, kalo gak pulang, ruginya apa? Ga ada. Justru dengan gak pulang, setidaknya kita sudah membantu berkurangnya potensi penyebaran virus dan penyebaran kepanikan.
Zaman sekarang teknologi udah canggih, kalo kangen tinggal telpon dan video call. Gak perlu tulis surat kirim pake burung merpati. Harus banget lebaran ketemu keluarga? Kalo gak lebaran bareng keluarga masuk neraka, gitu?
Oya, dan juga di saat kepulangan dengan pedenya bawa hasil tes negatif, tapi selama perjalanan siapa yang berani jamin kalau virusnya gak nempel? Pake pelindung pun gak 100 % anti virus, klen. Siapa yang berani jamin?
Ingat cok kata kuncinya, virus ini Highly Contagious. Ya, emang sih bisa isolasi mandiri selama dua minggu. Lah, tapi kalo isolasi mandiri dua minggu dari sekarang, berarti ngelewatin lebaran dong? Apa bedanya ama gak pulang sama sekali? Bukannya tujuan pulang mau lebaran bersama keluarga? Ya mau tidak mau LANGGAR PROTOKOL LAGI LAH.
Kamu nulis begini karena iri ga bisa mudik kan, Boss??

Apa aku nulis ini karena iri ga bisa pulang? Haha.. Ini masi banyak “surat jalan” kok dari kementrian, dari kampus, dll. Mau pulang nanti malam bisa. Jadi penumpang gelap di mobil juga bisa.
Sekarang mending begini aja. Coba klen tengah malam duduk di teras sendiri. Bawa merenung, Kawan. Ini pun saat yang tepat buat merenung, apalagi di akhir Ramadan. Pikirkan dengan potensi kecerdasan maksimal yang klen miliki. Pikir baik-baik. Tak perlu mudik. Selow.
Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Terutama bagi yang tidak bisa mudik, tetap semangat.
*Afri Wahyudi, mahasiswa FT UII Jogja, berasal dari Kampar, Riau. Dan peserta program Four Months Exchange Program under ASEAN and NON ASEAN COUNTRIES SCHOLARSHIP di Thailand.
