“Terus bergerak ke titik terbaik dari apa yang bisa kita lakukan hari ini.”
Waktu cepet banget berlalu, ya. Tiba-tiba, besok kita udah nyambut Hari Raya lagi aja. Meskipun tadinya kerasa bosen harus puasa sebulan penuh di tengah pandemi tanpa ngabuburit dan bukber bareng temen. Sampe-sampe, dari semua postingan media sosial yang berbau Ramadan, ga sedikit komentar kita yang bunyinya, “Puasa tahun ini beda banget..” atau “Lebaran kali ini ga kaya lebaran sebelum-sebelumnya..”
Sebenernya apa, sih, yang bener-bener bikin kita ngerasa Ramadan kali ini terasa beda? Kadang jadi pertanyaan tersendiri buatku.
Mungkin lagi-lagi alasannya soal jarak dan sepi. Tapi, ayolah, menurutku, kalau cuma soal jarak dan sepi, di zaman canggih kaya sekarang udah gampang banget ngobatinnya. Cukup sentuh layar ponsel, kita bisa melihat wajah-wajah orang tersayang dan bahkan langsung bisa saling bertukar rindu.
Coba sekarang kita telusuri lagi dengan lebih berperasaan. Pernah ga, sih, ngerasa kalau Ramadan kali ini terasa beda, karena yang seharusnya bulan ini dipenuhi dengan kedamaian, ketenteraman, dan suasana yang mendukung banget buat beribadah lebih banyak, malah harus berbalik arah?
Di awal bulan, kita udah dibebani sama kesedihan karena virus yang terus menerus merebak. Di penghujung bulan, giliran amarah kita, emosi kita yang dibikin meluap sama ulah sebagian orang dari bangsa kita sendiri, dan kabar buruknya, malah berakhir dengan keseruan desak-desakan belanja di pasar yang menyambut perginya Ramadan.
Lalu apa yang tersisa? Apa yang membekas dari Ramadan kali ini?
Ramadhan kali ini pasti akan punya tempat tersendiri di hati kita, entah itu sebagai pelajaran ataupun kenangan menyedihkan. Tapi, yang terpenting dia datang untuk menyampaikan pesan besar agar kita bisa lebih menghargai setiap kesempatan yang terjadi di hidup ini, jadi pribadi yang ga mudah menyia-nyiakan sesuatu dan pastinya terus bergerak ke titik terbaik dari apa yang bisa kita lakukan hari ini.
Kita bahkan ga pernah benar-benar peduli dengan hari yang terlewati begitu aja. Ini jadi reminder khusus buatku sebetulnya. Selama sebulan ini fokusku teralihkan dengan huru-hara di atas. Jadi lebih sering jengkel, kesal melihat berita-berita yang menampilkan ke-egoisan, kemudian lupa dengan esensi kenikmatan beribadah di dalamnya.
Jujur, menulis artikel ini justru bikin aku sedih. Karena makin banyak yang tertuang, makin banyak pikiran-pikiran baru yang bermunculan.
Aku jadi kepikiran soal mendiang kakekku yang tingkah lakunya jadi berbeda di hari-hari terakhir hidupnya. Pernah ga, sih, kalian ngalamin hal yang sama? Ngerasain ketika orang terdekat kalian beranjak pamit? Pergi secepat itu? Pun begitu dengan yang kurasakan saat ini. Ramadan berlalu begitu cepat. Meninggalkan kita. Dan membekaskan kerinduan yang mendalam.
Aku betul-betul takut Ramadan kali ini adalah Ramadan yang terakhir. Dan ga bakal pernah bisa diulang lagi. Penyesalannya ga akan pernah bisa diobati. Seperti kepergian kakekku. Menyisakan bekas dan kenangan yang melekat di tiap peristiwa di antara kami.
Dari sedikit hari yang tersisa ini, aku jadi pengen ngumpulin kalian-kalian yang punya kesamaan kecemasan denganku, yang ngerasa gagal tahun ini. Aku baru banget dengerin pesan akhir Ramadan dari guru kita, Aa Gym, katanya, “Al-Qur’an mengingatkan kita dengan ayat Wa lal-aakhiratu khairul laka minal-uulaa (Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang).”
Ayat ini mengingatkan pada kita untuk menjalani hari-hari sebagai hari terbaik. Karena kita belum tahu di hari kemudian kita akan ditempatkan di mana. Karena itu Ramadan hadir sebagai bulan pendidikan. Mendidik kita supaya menjadi manusia yang pandai menjaga hati dan ucapan. Dan ayat ini juga bisa menjadi penyemangat kita untuk melewati hari terakhir besok sebagai persembahan terbaik untuk Ramadan yang belum tentu bisa kita temui lagi. Karena sungguh, seluruh perbuatan kita dilihat bagaimana nanti ia akan berakhir.
Seperti yang sering dikatakan para ulama: Kalau ingin melihat orang soleh/solehah, lihatlah bagaimana ia berakhir.
Sebab manusia, akan pergi bersama kebiasaan-kebiasaannya di dunia.
Pesawat yang terbang tinggi menakjubkan, ga akan pernah indah kalau ga melandas dengan mulus. Jadi, semoga dengan niat nyempurnai amalan di akhir bulan ini, kita bisa sempurnain amalan-amalan rumpang di hari kemarin.
Ayo bareng-bareng kita tutup ponsel buat menyambut hari besok. Berzikir lebih banyak, bertadarus lebih kencang, mengakhiri semuanya dengan lebih baik. Toh, kata Ustadz Adi Hidayat, masing-masing dari kita udah divonis mati sama Tuhan, kan? Apalagi yang bisa kita bawa nanti, kecuali amalan di bulan Ramadan yang pasti diterima dan ga pernah tertolak?
*Najmi Laila Elbasyarah, mahasiswa STAI Darunnajah Jakarta, Prodi Syariah – Hukum Keluarga
