“Ternyata aku yang belum menguasai suatu ilmu seni yang sakti mandraguna, yakni mendengar.”
Dalam suasana kesendirian yang agung beberapa waktu belakangan, banyak hal yang terpikir jadi terlaksana. Misalnya membuat reaksi dari tulisanku terdahulu. Kebetulan aku baru usai membaca tulisan yang berlatarkan suasana lebaran. Aku tulis tiga tahun yang lalu.
Mengenang masa lebaran, tentunya sarat dengan suasana kebersamaan. Saling memaafkan, berbincang dan tidak sengaja melakukan kesalahan baru untuk dimaafkan tahun depan. Lebaran menjadi momen perekat hubungan yang lama tak dilandasi dengan kerendahan hati. Setidaknya, seharusnya begitu.
Kala itu aku membahas tentang bagaimana kita seharusnya berkomunikasi. Kita tahu bahwa komunikasi bisa disimpulkan sebagai kegiatan bertukar kabar, pesan, wawasan bahkan pengetahuan. Ya, kurang lebih begitu. Namun terkadang, kita seperti melupakan satu kata dalam proses tadi, yakni bertukar.
Dalam pertukaran, seseorang tidak melulu melakukan satu hal secara terus menerus. Dalam hal ini, dapat dikatakan seseorang tidak selayaknya menjadi pembicara terus menerus. Jika kita hanya berkata tanpa dengar, maka sungguh tak salah bagi mereka yang menganggap manusia akan kalah dengan robot. Toh, google pun mendengar bukan?
Sebut saja salah satu tetanggaku yang bertubuh ringkih. Di tengah gelimangan hartanya, melihat sosoknya tetap saja seperti mengisyaratkan kefakiran. Kemeja yang longgar tidak selonggar waktu yang diberikannya pada siapapun untuk bicara. Padahal uang di dompet tebalnya tak pernah sekali masuk tutupi mulutku, tetangganya yang baik.
Pada suasana lebaran kala itu, masih terasa betapa geramnya aku melihatnya berbicara bak kereta tak henti-hentinya. Menganggap semua di hadapannya seperti umat yang menunggu sabda. Padahal terlihat nyata guratan jengkel di wajah kami yang mendengarkan. Namun entah mengapa, aku melihat saudara dan tetangga yang ada tidak menyatakan keberatannya. Mereka memilih tersenyum dan sesekali mengangguk tanda mengiyakan. Padahal aku yakin betul kalau mereka mulai berang.
Awalnya aku berpendapat bahwa semua orang tua sama saja. Berusaha mengangguk bahkan tertawa hanya untuk mencari aman. Namun setelah mendengar bagaimana ibu dapat mengingat perkataannya di hari esoknya. Ternyata aku yang belum menguasai suatu ilmu seni yang sakti mandraguna, yakni mendengar.
Aku terheran bagaimana ibu bisa mengingat betul perkataan-perkataan tetanggaku itu, bahkan menggali hikmah darinya. Aku baru sadar bahwa omongannya tak melulu omong kosong. Dan, satu hal lagi yang aku baru sadari bahwa sepertinya aku jauh lebih egois dibanding tetanggaku yang ringkih itu. Apa bedanya, ia yang memilih berbicara terus menerus dan aku yang memilih bersungut terus menerus tanpa sempat mendengarkan?
Ya, kita sama-sama tidak mendengar. Mengingat dan mengevaluasi masalah ini, aku pun tersadar akan ribuan kesempatan lain, ketika aku asik dengan pikiran kala orang lain berbicara. Sungguh aku, Kartik yang tidak sopan. Menyesali betapa seharusnya aku lebih banyak memperoleh wawasan dari mereka yang menjelaskan.
Kala berkumpul, kita hadir untuk saling mengenal lebih jauh lagi. Memahami pendapat orang lain, bukan asik membangun opini seolah sedang debat calon bupati. Setidaknya memahami lebih diutamakan dibanding mempersiapkan argumen yang tak kalah tanding. Sementara selama ini, nampaknya aku sibuk mendengarkan hanya untuk berbicara. Sibuk melihat hanya untuk memperlihatkan.
“Buka mulut jika yang Anda bicarakan adalah kebijaksanaan. Kebenaran atau kebaikan tidak cukup untuk dibicarakan.”
Begitulah kurang lebih salah satu poin yang dibicarakan Mbah Nun dalam salah satu episode Kenduri Cinta. Sebuah poin yang sebenarnya menjadi kunci dalam kiat bertukar kata. Sebuah poin yang aku catat dalam gawai, bukan jadikan prinsip yang dipakai. Tersadar aku bahwa sungguh sulit mencari yang lantang berbicara. Namun jauh lebih sulit mencari mereka yang ikhlas mendengarkan.
Teringat aku akan wajah tirus tetangga yang mirip fakir. Tentang kemeja longgar yang seharga uang jajan tiga bulanku. Tentang rambutnya yang jarang disisir, dan muncratan ludahnya kala berbicara. Ingin rasanya berkata padanya, “Om, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.”
Sungguh dosa batin lebih busuk ketimbang yang lahir.
Maha Besar Tuhan yang menciptakan segala sesuatu di hadapan kita sebagai cermin yang berbicara. Sungguh aku pasti jadi orang besar, asal lebih banyak mendengarkan. Maha Besar Tuhan yang menciptakan hidup kaya dengan cerita. Telingakulah yang kecil dan tak mau menjalankan tugasnya.
