“Apapun yang terjadi tetaplah bersyukur dan menganggap segala hal yang terjadi merupakan skenario terbaik dari Allah.”
Reporter : Nanda Nadya
Halo, kawan-kawan pembaca setia Kopi Travel Blog, Selamat Hari Raya kami ucapkan. Semoga bahagia selalu menaungi umat manusia dan bumi ini.
Kawan, COVID-19 memang telah mengubah banyak hal. Yang paling terasa adalah pandemi ini memaksa banyak orang di seluruh dunia tidak lagi melakukan tradisi bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri sebagaimana tradisi di tahun-tahun sebelumnya.
Pada kesempatan kali ini, saya, Nanda Nadya, mewawancarai beberapa kawan saya dari pulau seberang serta dari benua seberang, untuk mengetahui pengalaman serta pandangan mereka perihal Ramadan hingga Idul Fitri yang mereka alami di tahun ini.
Salwa Zahra Fuadah (Salwa) membagikan pengalaman serta pandangannya mengenai Ramadan dan Idul Fitri di Turki. Salwa merupakan mahasiswi jurusan Teologi di Erciyes University, Kayseri. Termotivasi kuliah di Turki karena menyukai Turki yang kaya akan hal-hal yang ia cari, terutama akan nilai kesejarahan dan pendidikannya yang berbasis Eropa-Asia.
Ia bercerita bahwa Kayseri, kota di mana ia tinggal, merupakan kota terdingin kedua di Turki. Meskipun musim panas melanda, namun di kota itu akan tetap merasakan suhu dingin. Jadi, selama bulan Ramadan, tak jarang ia merasakan dua kondisi ekstrim, yakni panas banget dan dingin banget.
Di Turki, tutur Salwa, pada umumnya yang Tarawih dan Shalat Hari Raya di masjid hanyalah kaum laki-laki saja. Sama sekali tidak begitu tampak budaya perempuan untuk pergi shalat berjamaah ke masjid. Sementara ia beserta mahasiswa Indonesia lainnya melaksanakan shalat Tarawih dan Idul Fitri #DiRumahAja, sekaligus mengingat bahwa Turki juga merupakan negara yang termasuk dalam jumlah penderita COVID-19 tertinggi nomor sembilan di dunia.
Menurut Salwa, salah satu faktor mengapa COVID-19 mudah menyebar di Turki karena negara tersebut terdiri dari satu daratan saja, tidak terpisah-pisah pulau seperti Indonesia. Bahkan, lanjut Salwa, lima hari sebelum hari raya, pemerintah Turki memutuskan untuk menerapkan kebijakan lockdown, sehingga praktis sudah tidak bisa lagi kemana-mana. Ia pun telah mempersiapkan berbagai bahan makanan selama lockdown, karena pemerintah Turki sangat sering mengambil kebijakan lockdown untuk melindungi warganya. Hal yang paling disyukuri adalah betapa pemerintah Turki amat sigap dan tanggap dalam menangani COVID-19 ini.

Salwa Zahra Fuadah
Ketika ditanya hal apa yang membuat seorang Salwa sedih banget di Ramadan dan Idul Fitri tahun ini, ia menjawab bahwa sedih tidak bisa berkumpul bersama keluarga. Namun perasaan tersebut tidak begitu membuatnya larut dalam kesedihan yang lama, karena sebenarnya ia sudah terbiasa merayakan Idul Fitri jauh dari keluarga. Dan ada satu lagi momen tersedih dalam lebaran kali ini, yakni ketika bermaaf-maafan bersama teman se-rumahnya di Turki, teman-teman yang juga bersama berjuang di rantau orang demi menimba ilmu pengetahuan serta menggapai cita-cita.
Arul Nisrullah (Arul) juga membagikan pengalaman serta pandangannya secara langsung dari Negeri Dua Nil, Sudan. Arul merupakan mahasiswa International University of Africa (IUA), Khartoum Sudan dengan jurusan Dirasat Islamiyah/Studi Islam. Hal yang memotivasinya untuk kuliah di Sudan adalah orang tuanya, yakni Ibunda yang ingin Arul (sebagai anak laki-laki satu-satunya) kuliah di Timur Tengah. Dan alasan utamanya yang sekaligus motivasi utamanya untuk kuliah jauh-jauh di negeri orang adalah karena ia ingin meraih keridhaan orang tua.
Ketika Salwa berbagi pengalaman Ramadan dan Idul Fitri dengan cuaca dingin di Kayseri, maka Arul sebaliknya. Di Sudan, pada bulan Ramadan ini musim panas mencapai puncaknya. Suhu panas berkisar 40° – 45° Celcius, bahkan ia menuturkan bahwa pada waktu tertentu panas bisa lebih dari 45° Celcius.
Kebiasaan mahasiswa Indonesia untuk beribadah di masjid pun sirna karena adanya COVID-19 di Sudan. Karena pemerintah Sudan pun telah menerapkan kebijakan lockdown dan hanya memberikan kelonggaran untuk membeli kebutuhan pokok mulai dari jam enam pagi hingga jam satu siang.
Ketika ditanya mengenai seperti apa Idul Fitri di Sudan, ia pun membagikan pengalaman mengenai tradisi di Sudan bahwa biasanya malam takbiran di Sudan sama meriahnya seperti di Indonesia. Banyak masayikh menggelar majelis taklim dan dilanjutkan dengan makan bersama. Pun dengan lantunan takbir di masjid berlanggam berat tersiar di Sudan. Dan biasanya usai shalat Idul Fitri masyarakat membawa
makanan ringan berupa permen atau jajanan manisan (halawiyat). Ada pula yang membawa roti goreng, kurma, teh panas untuk diberikan kepada para jamaah shalat Id. Namun sayangnya, karena kota Khartoum masuk ke dalam zona merah, seluruh tradisi itu pun tak lagi dijumpai dan pemerintah Sudan dan KBRI meniadakan shalat Idul Fitri. Padahal ia berharap sekali bisa merasakan Idul Fitri dan bersilaturahmi dengan yang lainnya.
Selama Idul Fitri pun ia dan teman-teman lainnya memasak sendiri dengan bahan seadanya. Hal itu dikarenakan bahan-bahan makanan yang seperti di Indonesia terbatas ketersediaannya. Arul menuturkan, “boro-boro bikin ketupat, mau bikin gulai daging aja ngga ada santannya. Kalau ada pun harganya relatif tinggi. Bikin Lontong dah jadinya.”

Arul Nisrullah
Pada penghujung percakapan, Arul menjelaskan bahwa perbedaan waktu antara Sudan dan Indonesia berkisar lima jam lebih awal. Sehingga untuk menghubungi keluarganya di Indonesia, ia biasanya harus begadang dulu karena pada saat shalat Id di Indonesia pukul 7.30 pagi, di Sudan baru pukul 2.30 dini hari. Namun, apapun yang terjadi, ia tetap bersyukur karena masih bisa merasakan Idul Fitri dan memperoleh berbagai macam hikmah.
Setelah melancong dengan mewawancarai kawan-kawan yang jauh di benua seberang sana, saya lalu mewawancarai kawan-kawan yang berada di pulau seberang di negeri tercinta, Indonesia.
Muhammad Nabil Ramadhan (Nabil), kawan saya yang tinggal di kota Tangerang pinggiran ini, berbagi mengenai pandangan serta pengalamannya selama Ramadan dan Idul Fitri di tahun ini. Ia merasa bahwa Ramadan dan Idul Fitri tahun ini berbeda, tentu saja disebabkan oleh pandemi COVID-19. Nabil menuturkan bahwa COVID-19 benar-benar memberikan dampak yang nyata, terutama suasana Ramadan yang tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.
Di ramadhan Tahun ini, ia hanya melaksanakan shalat tarawih #DiRumahAja bersama keluarganya. Meski di beberapa masjid di daerahnya masih ada yang melaksanakan shalat Idul Fitri, tapi ia sekeluarga memutuskan untuk tetap melaksanakam shalat #DiRumahAja mengingat kondisi yang sedang tidak baik-baik saja.

Muhammad Nabil Ramadhan
Kata Nabil, di Idul Fitri tahun ini keluarganya tidak berkumpul dan saling mengunjungi seperti biasanya. Mereka menghabiskan waktu di rumah, foto-foto, makan-makan dan kembali ke kamar masing-masing untuk tidur siang, sampai-sampai membuatnya lupa bahwa hari itu adalah hari Lebaran.
Faiz Muzakki (Faiz), tinggal di Depok dan ketika ditanya apakah Idul Fitri tahun ini ia melakukan tradisi mudik? Katanya ia tetap ngumpul di rumah saja, “karena gak punya kampung.”
Faiz menuturkan bahwa Ramadan ini sejatinya sama saja seperti Ramadan biasanya, karena Ramadan itu mesti dilihat dari ibadahnya. Jadi, meskipun ibadah kita hanya di rumah, itu sah-sah aja. Namun, ia tetap saja merasa ada kebiasaannya yang kurang, terutama shalat tarawih dan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan di masjid, dan tradisi Ramadan lainnya, seperti bukber, sillaturrahmi tidak terlaksana pada tahun ini.
COVID-19 ini, tutur Faiz, sangat berdampak bagi daerah sekitarnya, seperti tetangganya terkena arus PHK, bisnis yang tak menentu, anak sekolah yang sudah merasa bosan belajar di rumah sehingga banyak yang berkeliaran, dan ia dan keluarganya juga melaksanakan #WorkFromHome secara daring. “Ya, intinya kita tengah terdampak segala masalah, mulai yang makro dan itu merambat ke soal mikro.” Ujarnya.
Ketika ditanya apa yang membuat Faiz sedih banget, ia menuturkan bahwa ia tidak merasa sedih, namun merasa rindu karena ia selalu menanti momen bersilaturahmi bersama keluarga besar maupun tetangga, tapi di tahun ini ia kehilangan semua momen itu.

Faiz Muzakki
Di penghujung percakapan, Faiz menambahkan, sama seperti Arul, ia tetap merasa bersyukur dan berusaha berpikir positif bahwa segalanya adalah skenario terbaik Allah untuk kita dalam rangka menambah rasa syukur serta ketaatan kita kepada-Nya. “Walaupun gua kadang-kadang suka ngeluh karena Corona, jadi diem-diem bae dan dinikmati hihi..” Tutupnya.
Syalwa Rastia Kaldi (Syalwa) dari Kalimantan Timur berbagi pandangan dan pengalamannya selama Ramadan dan Idul Fitri. Syalwa menuturkan bahwa ia sangat senang sekali karena bisa merasakan Ramadan bersama keluarga di rumah, meskipun ia harus kehilangan beberapa kebiasaannya seperti bukber bersama teman-temannya. “Ramadan tahun ini sangat berkesan dan membuat saya menjadi lebih religius.” Ujar Syalwa.

Syalwa Rastia Kaldi
Syalwa menjelaskan pula di daerahnya tinggal, masyarakat tidak lagi mematuhi PSBB dan segala macam protokol Corona. Sudah banyak terlihat kerumunan warga. “Orang-orang udah bosen kali, ya, diisolasi mulu.” Tuturnya. Namun Syalwa dan keluarga tetap memilih untuk shalat Id dan merayakan hari raya dengan di rumah saja. Sedih sekali, lanjut Syalwa, justru di saat lebaran ini kita tak bisa bertemu dan saling mengunjungi sanak keluarga dan kawan-kawan.
Kawan, di belahan bumi mana saja, semua merasakan perubahan tradisi ber-Ramadan dan ber-Hari-Raya. Sedih. Rindu. Adalah perasaan yang banyak menghinggapi umat muslim pada tahun ini. Akan tetapi, seperti yang dituturkan Arul, dan juga Faiz, apapun yang terjadi tetaplah bersyukur dan menganggap segala hal yang terjadi merupakan skenario terbaik dari Allah.
Percaya bahwa segalanya akan baik-baik saja dan semua akan kembali lagi seperti biasanya. Sebagai umat beragama, percaya adalah satu-satunya perkakas paling berharga yang harus kita punya. Bahkan, jika tak ada lagi yang lainnya. Tetap semangat.
Selamat Idul Fitri 1441 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Reporter : Nanda Nadya
Author : Nanda Nadya
Editor : Herman Attaqi
Foto : Koleksi pribadi
