kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Saya, Emha dan Maiyah

“Semua ini hanyalah seribu bayang prasangka.”


Oleh A. S. Kartik Salokatama

Sekeluar dari gerbang pesantren setelah hidup selama enam tahun di dalamnya, membuat saya gumoh saat mendengarkan ceramah-ceramah mainstream yang, lagi dan lagi, membahas tentang fikih. Bukan karena sudah sok jago atau merasa khatam dengan ilmu tersebut, namun merasa jenuh dengan hidup yang penuh aturan. Keliaran berpikir saya sebagai anak muda yang tengah bergelora, menjadikan pikiran saya itu merasa terbelenggu, tak betah terus menerus terjerat dalam kurungan.

Saya beranggapan bahwa alih-alih menganggap hukum (fikih) sebagai pembatas jalan, manusia kini menganggap hukum sebagai jalan itu sendiri. Tentu pola semacam ini timbul dari, salah satunya, produsen konten keagamaan, yang seperti tak ada hari esok membahas soal tata cara ini dan itu, tak henti-henti. Sedangkan kebutuhan umat terhadap soal agama dan hubungannya dengan kehidupan yang semakin kompleks ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu cara.

Keresahan, keliaran dan kekosongan inilah yang membawa saya kepada satu sosok, Emha Ainun Nadjib. Dimulai dari mendengarkan penerangan-penerangan beliau di YouTube, dan kata-katanya yang acapkali dikutip oleh akun-akun Instagram bertemakan sufistik, agama bahkan akun motivasi, lama-kelamaan saya mulai jatuh cinta dengan figurnya. Singkatnya, saya jatuh cinta dengan tutur kata dan lakunya.

Suatu hari, sampailah saya pada sebuah video yang menjadi pintu gerbang untuk masuk dalam kerumunan masyarakat Maiyah. Dalam video tersebut beliau berkata:

“Jangan percaya kalau kau menganggap saya yang kau hormati. Engkau sebenarnya sedang mendapat pantulan dari yang sejatinya engkau kagumi, yaitu Allah Swt. Saya bukan siapa-siapa.”

(Videonya bisa diakses di akun saya @kartiktama atau klik saja di sini)

Video ini laksana oase di tengah gurun perjalanan kehidupan saya. Akhirnya, si Musafir ini menemukan pemberhentian, untuk sekadar duduk dan mencari bekal yang saya butuhkan guna menjalani kehidupan ini. Kerendahan hati dan ketulusan yang saya tangkap dari kata-katanya membuat saya dengan mantap, meloncat terjun ke dalam lautan Maiyah.

14 April 2018, saya sampai di Taman Ismail Marzuki untuk menghadiri Kenduri Cinta. Judulnya, “Seribu Bayang Prasangka”. Jujur, sampai saat ini, saya tidak juga menemukan kata yang pantas untuk mendefenisikan perkumpulan ini. Maiyah bukanlah pengajian, namun sarat dengan nilai keislaman dan semangat pengkajian. Tidak cocok dengan pemahaman kita akan kata “majelis”, namun semuanya duduk dan melantunkan puja-puji pada Allah dan Kanjeng Nabi. Maiyah pun bukan panggung ceramah apalagi orasi, sebab semuanya bersinau. Saling mengajar dan belajar. Semua punya hak bicara yang sama, terlepas dari siapa orang tersebut. Yang saya lihat dari Maiyah hanyalah kerumunan. Kerumunan orang yang acak namun tertata. Banyak, namun satu. Berbagai latar belakang, namun sama tujuan. Cinta.

Sepertinya, keterangan Buya Nursamad Kamba (salah satu marja’ maiyah) dalam Kenduri Cinta edisi “Afdlaliyah Maiyah”, pada 14 Februari 2020 ialah yang terdekat dengan definisi Maiyah itu sendiri.

“Keutamaan Maiyah ialah membawa kita kepada Tuhan dan Rasul tanpa presepsi teori teologis. Maiyah mengantarkan kita melalui cinta dan kebaikan.”

Keterangan inilah, yang merupakan jawaban kegusaran yang dialami remaja umur 19 tahun tadi, yaitu saya sendiri. Yang menunjukkan jalan, bukannya pagar. Yang memberikan kasih, bukannya ketakutan. Yang membawakan hikmah, bukannya hidup yang penuh dengan ritual semata.

Ketika saya menghadiri Kenduri Cinta “Seribu Bayang Prasangka”

Jika membaca kata pengantar Mbah Nun, pada buku “Sejarah Otentik Politik Nabi Muhammad Saw” karya Prof. Dr. Husain Mu’nis (Terjemahan: Dr. Muhammad Nursamad Kamba), tampaknya Maiyah ialah apa yang dimaksud Mbah Nun sebagai upayanya dalam mengumpulkan serpihan-serpihan Negeri Madinah dalam thariqah politik dan kebudayaan, tanpa sentuhan negara.

Sepertinya Mbah Nun sedang menunjukkan dan membimbing kita kepada sebuah praktek umat yang bersatu, tanpa kecurigaan. Umat yang berasaskan cinta dan kepercayaan. Yang berisi pribadi-pribadi yang penuh dengan kerendahan hati dan keluhuran pemikiran. Umat yang betul-betul se-per-ibu-an, sebagaimana makna katanya. Penuh dengan nilai-nilai yang dicontohkan dalam kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.

Apapun itu, semua ini hanyalah seribu bayang prasangka. Persis seperti judul Maiyah pertama saya. Faktanya? Entahlah. Mana fakta, mana bukan. Toh, Mbah Nun sendiri yang berkata bahwa “tak penting yang fiksi maupun nyata. Yang penting outputnya berbuat baik dan tidak mengganggu orang lain.”

Yang pasti, Mbah Nun telah memberi contoh kepada saya, bagaimana menjalani kehidupan dengan penuh cinta. Bagaimana menjadi terhormat dengan kerendahan hati dan kepasrahan kepada Yang Kuasa. Bagaimana menjadi kaya, tanpa benda. Kuat, tanpa jurus. Dan seni menerima dengan kepasrahan.

Kemarin, tanggal 27 Mei 2020, Mbah Nun berulang tahun yang ke-67. Saya mengucapkan, Sugeng Ambal Warsa Mbah Guru Maulana Emha Ainun Nadjib. Betara Guru jaman now. Kyai tanpa sorban, Da’i tanpa mimbar, Sarjana tanpa wisuda, Guru tanpa sekolahan. Semoga disehatkan selalu, dipanjangkan umurnya, diberi kebahagiaan tanpa batas dan senantiasa memberi secercah ilmu dan harapan pada kami, anak-cucunya.

“Dikatakan kebenaran datangnya dari Tuhan tentu membutuhkan perantara, tetapi kebaikan adalah Tuhan sendiri yang mengejawantah.”Maulana Emha Ainun Nadjib

Salam hormat dan sepenuh takzim.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai