kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Hanya Aku yang Tak Sadar

“Maka segala kerumitan sosial ini, sebaiknya hanya bisa dilihat dari sudut pandang mupus.”


Oleh A. S. Kartik Salokatama

Hari ini, aku melakukan sebuah perjalanan ke luar rumah. Aku catat ini sebagai sebuah sejarah. Akhirnya aku keluar dari kediaman, setelah kurang lebih tiga bulan mendekam bagai anak pingitan.

Langit teramat biru. Sama sekali tak terlihat gumpalan asap kelabu, yang tebal berdebu seperti Jakarta yang dahulu. Jalanan hening. Angin segar berdesing. Dan motor-motor berjarak ala physical distancing. Aku menikmati hawa jalanan yang sudah lama tak kuhirup, walau dari balik masker.

Teman-teman, sungguh aku lakukan perjalanan ke luar rumah kali ini karena suatu keperluan yang mendesak. Jadi mohon jangan jadikan tulisan ini sebagai pembenaran untuk tidak #DirumaAja .

Saat berangkat, jadi saat yang sangat menyenangkan. Menghangatkan sekali melihat Jakarta yang saya lewati tadi. Tidak terlalu banyak mobil, tempat kerumunan banyak yang senyap dan di mana-mana kulihat wajah setengah bertopeng.

“Wah, mantap ya orang Jakarta. Pasti besok lusa sudah selesai wabah ini, kalau begini terus,” kata benakku. Kuteruskan perjalanan hingga tujuan dengan perasaan yang girang bukan kepalang. Baru kali ini aku merasa betapa Ibukota sungguh adiwarna. Sekiranya aku tinggal di kota dengan kesadaran masyarakat yang patut diacungi jempol.

Tetiba semuanya berubah di sore hari. Kala mentari mulai bersiap packing, untuk segera berpamitan. Jalanan yang tadi sepi, sontak penuh sesak. Kerumunan mulai terbit, menggantikan mentari. Aku gumun di tengah orang-orang itu, yang sebagiannya tak lagi menggunakan topeng. Hanya saja mungkin ada batu koral yang melapisi tembok wajah mereka, hingga tak ada lagi malu, sungkan, khawatir, takut, atau perasaan apa saja yang sama dengan ungkapan seharusnya kita tak begini, di sini.

Tak kulihat lagi kecerdasan kaum perkotaan yang katanya paling modern dan terbuka. Ya terbuka, maskernya yang terbuka, tapi pikirannya tertutup.

Lampu merah. Di sampingku, depan dan belakang, semua penuh motor yang berdesakan. Aku terdiam. Merasa terjebak, “wah mati aku, bisa jadi di samping motorku, orang terpapar.” Maklum, semenjak wabah ini aku jadi lebih takut mati.

Oke. Tidak masalah. Aku mencoba menenangkan diri. Menerawang jauh, menembus langit-langit kegusaran. Siapa juga yang bisa memaksakan orang di rumah dengan perut yang lapar? Tapi apa tak terbesit kesadaran untuk tetap waspada di luar rumah? Entahlah. Bisa jadi ketakutan akan kelaparan itu, lebih mendekati sesuatu yang harus mereka lakukan, bila dibandingkan dengan terlihat bagai orang jumawa yang tak peduli lagi dengan nyawa.

Aku ingat, Prie GS pernah menulis tentang sebuah nilai kebajikan yang disebutnya dengan mupus. Kata mupus, kata mbah Prie, berasal dari kata pupus, pucuk termuda dari dedaunan. Jika hulu sebuah pohon adalah akar, hilir pohon itulah yang disebut pupus. Kompleksitas akar dalam menumbuhkan batang dan ranting, terkumpul seluruhnya di dalam pupus. Jadi mupus, memupus, adalah puncak dari kerumitan yang menjadi sangat sederhana ketika telah mencapai pupus.

Maka segala kerumitan sosial ini, sebaiknya hanya bisa dilihat dari sudut pandang “mupus”. Sederhananya, tidak mungkin aku bisa bertahan diam di rumah saja selama tiga bulan, jika tidak ada orang-orang di luaran ini; ojek online, tukang sayur keliling, para penjaga mini market dan sebagainya.

Perang hebat terjadi dalam diriku. Entah antar siapa dan siapa. Nurani dan akal, atau nafsu. Mungkin juga sesuatu yang aku tak tahu menahu. Intinya mereka berperang. Hebat. Sangat hebat. Suara klakson berbunyi. Kububarkan dulu perang-perangan ini dengan sebuah harapan baik, “semoga semua orang sehat-sehat dan baik-baik saja.”

Sesampainya di rumah. Aku mandi. Dalam bilik kecil itu aku merenung. Di atas singgasana wahyu Ilahi. Begitulah hidup. Penuh kebanggaan dan kekecewaan. Secepat kilat semua berubah. Bahkan mungkin sebenarnya tak ada yang berubah. Semua datang beriringan. Memang begitu bentuknya sejak awal. Hanya aku yang tidak menyadari.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai