“Pada tahun 1950, Mozes ditangkap oleh Dorojatun yang telah menjabat sebagai Menteri Pertahanan.”
Oleh Nanda Nadya
Namanya Mozes, lahir pada tanggal 2 Juli 1913. Ia seorang pria hebat dan berjasa asal Borneo yang jejak jasanya bagi republik seolah-olah terhapus dari catatan sejarah.
Mozes menamatkan pendidikannya di Koningklij Militaire Academi, Breda, Belanda dengan pangkat terakhir Mayor Jendral. Dalam buku A Prince in A Republic karya John Monfries, Ia dijuluki sebagai “A Congenial Youngman of Outstanding Conduct”.
Yap, selain rupawan dan cerdas, Mozes merupakan seseorang yang ramah serta berprilaku baik. Bahkan, di buku yang sama pula dituliskan, berdasarkan prestasi akademis yang dimilikinya, karir Mozes diprediksi akan lebih moncer dibandingkan kawannya, Henkie. Henkie dikenal sebagai Dorojatun, yang kemudian hari ditahbiskan sebagai Sultan Yogyakarta IX.
Mozes menamatkan sekolah militernya pada tahun 1936 dan kembali ke Indies. Siapa sangka, pria pribumi ini pernah menjadi ajudan istimewa Ratu Belanda, Ratu Wilhelmina, yang konon katanya jabatan itulah yang tertinggi di dunia militer Belanda. Idaman sekali, bukan?
Setibanya di Indies, pada tanggal 29 Oktober 1945, Mozes dinobatkan menjadi Sultan, tepatnya di Borneo sebelah Barat. Ia menjadi Sultan ke-7 menggantikan Ayahnya yang wafat akibat agresi militer Jepang.

Istana Kesultanan Qadariyah di Pontianak
Pasca Proklamasi Kemerdekaan, Mozes dengan tangan terbuka menggabungkan wilayah Borneo kepada Indies yang kelak menjadi Indonesia, pada saat itu Indonesia berbentuk Negara Serikat.
Selain dilirik oleh Ratu Wilhelmina, Bapak Proklamator pun tak mau melewatkan begitu saja lelaki potensial ini. Pada tanggal 17 Desember 1949, Presiden Sukarno mengangkatnya sebagai salah seorang Menteri pada kabinet Republik Indonesia Serikat di bawah pimpinan Perdana Menteri Muhammad Hatta.
Pencipta Lambang Negara
Sejak kapan kalian tahu bahwa pencipta Lambang Garuda Pancasila adalah Mozes? Presiden Sukarno mengamanatkan padanya untuk merencanakan, mendesain, dan merumuskan Lambang Negara. Maka Garuda Pancasila yang kita saksikan sekarang ini, apalagi hari ini tanggal 1 Juni adalah Hari Lahir Pancasila, ada seseorang yang selayaknya patut dikenang, yakni Mozes, sang Desainer Lambang Garuda.
Namun, tak ada manusia yang sempurna seutuhnya, kerena segala kesempurnaan hanyalah milik Tuhan belaka. Sebaik-baik manusia, tentu terdapat ‘cela’ yang tidak dapat dihindari. Dan politik, benar-benar telah menghancurkan persahabatan antara Dorojatun dan Mozes.
Pada tahun 1950, Mozes ditangkap oleh Dorojatun yang telah menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Ia ditangkap di hotel des Indes karena dianggap sebagai spion Belanda, serta dituduh terlibat dalam rencana penyerbuan Westerling bersama Batalion X-nya di gedung Kabinet Pejambon, Jakarta. Mozes juga dituduh terlibat dalam rencana penembakan mati Dorojatun dengan modus pihak Belanda menginginkan Mozes yang selayaknya dinobatkan sebagai Menteri Pertahanan. Selain membunuh Dorojatun, Ia sekaligus dituduh akan menghabisi Ali Budiarjo (Sekjen), dan juga KSAP T.B Simatupang.
Sekeluar dari penjara, Mozes memilih untuk tidak lagi terjun ke kancah politik, hingga akhir hayatnya. Ia wafat pada tanggal 30 Maret 1978 di Jakarta. Mozes dimakamkan di pemakaman keluarga kesultanan Pontianak di Batulayang, Kalimantan Barat.
Siapa nama asli Mozes?
Dan Mozes yang kita bicarakan dari tadi, Ia-lah Syarif Abdul Hamid Alkadrie, atau yang dikenal oleh masyarakat Pontianak sebagai Sultan Hamid II.

Mesjid Jami’ Kesultanan Qadariyah di Pontianak
*Nanda Nadya, mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam, UIN Jakarta.
**Foto-foto dokumentesi pribadi Nanda Nadya
