kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Back to Srawung

“Rasa enggan untuk saling mendengarkan dari sudut pandang yang lain, telah membuat manusia buta, dan sekaligus tuli.”


Oleh Daffa Prangsi Rakisa

Rasa sedih dan cemas sedang menghinggapi perasaan saya. Baik melihat situasi di negeri ini maupun situasi di negeri yang nun jauh di sana. Semua hampir terlihat sama saja. Kacau dan menakutkan. Beberapa lama ini kita sedang dipertontonkan oleh amuk massa di Amerika Serikat akibat tindakan represif aparat yang menyebabkan George Flyod meninggal. Kejadian tersebut menjadi trigger, sehingga terjadi demonstrasi dan bentrok yang tak terhindarkan.

Dalam konteks yang berbeda namun dengan nilai dasar yang sama, hal tersebut juga terjadi di Indonesia. Bukan, saya tidak sedang membahas soal tindakan represif aparatnya, melainkan lunturnya sebuah nilai yang sesungguhnya penting bagi umat manusia, yaitu nilai saling mengenal.

Kiranya tak perlu saya jelaskan mengenai pandangan Aristoteles bahwa kita ini adalah zoon politicon, makhluk yang selalu ingin bergaul, selalu ingin mengenal, selalu ingin berbagi rasa. Akan tetapi, dalam kenyataannya, justru semakin majunya suatu zaman, nilai tersebut kian tergerus dan ditinggalkan. Dan nilai yang sedang memuncak hari-hari ini justru adalah nilai individualistik-kapitalistik, yang melahirkan budaya kompetitif di antara kita, sementara ikatan sosial menjadi semakin renggang. Bahayanya, kita tidak lagi bercakap-cakap sebagai warga negara yang satu, melainkan pada titik ekstrem malah menjadi homo homini lupus, menjadi serigala bagi manusia yang lain.

Inilah yang menjadi keresahan saya. Melihat tindak rasisme, ketidakadilan, pikiran sempit, mudah terprovokasi, hingga intimidasi. Saya rasa sikap itu bermula karena atas dasar ketidakpedulian terhadap keinginan untuk mengenal satu sama lain lebih dalam, sehingga kita jadi lebih mudah terjerumus dalam stigma umum masyarakat modern ini, alih-alih kembali pada budaya nenek moyang dulu.

Coba Anda telusuri, bagaimana masih langgengnya stigma hidup di antara kita. Stigma bahwa masyarakat Papua memiliki sifat yang bar-bar, stigma bahwa masyarakat Jawa itu planga-plongo, stigma bahwa masyarakat Minang itu pelit. Padahal, menurut pengalaman saya tidak demikian adanya. Jika ada yang berargumen bahwa pandangan tersebut bukanlah stigma melainkan hanya label yang tidak semengerikan itu, silahkan saja. Rasanya hal yang sama juga terjadi di belahan bumi yang lain, dengan dua frasa yang lebih mirip bagai majas antitesis: toleransi dan intoleransi.

Terlalu sering digaung-gaungkan tapi jarang dibedah secara mendalam akar permasalahannya. Mengapa setelah sekian banyak iklan, sosialisasi dan kajian tentang toleransi, tidak sedikit yang masih bersikap intoleran?

Dalam perenungan saya, terdapat sebuah budaya yang mulai luntur di antara kita, ingat ya, saya menggunakan diksi “kita” karena saya juga termasuk di dalamnya, budaya tersebut adalah budaya “Srawung“.

Di berbagai daerah mungkin punya istilahnya masing-masing. Bisa jadi berbeda. Karena keberagaman bahasa kita. Istilah Srawung tersebut saya ambil dari bahasa Ibu saya, yaitu bahasa Jawa.

Menurut Y. Gunawan, seorang pengajar Religiositas dan Filsafat di Unika Seogijapranata Semarang, Srawung memiliki makna filosofis yang mendalam. Bukan hanya secara bahasa, yang berarti “berkumpul saja“. Melainkan lebih kepada sebuah media untuk saling bercerita tentang realitas kehidupan masing-masing.

Terlihat bukan? Inilah nilai etis manusia dalam ruang saling kenal-mengenal.

Siapa yang tidak memiliki cerita dalam kehidupannya? Bahagia, sedih, sukses, gagal, terhormat atau bahkan terhinakan? Saya rasa semuanya memiliki cerita realitas versinya masing-masing. Rasa enggan untuk saling mendengarkan dari sudut pandang yang lain, telah membuat manusia buta, dan sekaligus tuli. Bahwa kita hidup tidak sendiri, melainkan bersama orang lain. Yang memiliki pengalaman, rasa dan basis nilai yang berbeda.

Menurut saya, keengganan inilah yang menimbulkan intoleransi dalam bentuk apapun. Karena secara tidak sadar kita sedang digiring untuk melebur dalam cara pandang individualistik dan kompetitif. Srawung yang kental di daerah pedesaan, mungkin di beberapa tempat sudah mulai luntur. Apalagi di daerah perkotaan yang masyarakatnya sudah terlampau jauh menyerap nilai hidup liberal.

Saya sendiri tumbuh dan berkembang di dalam suasana pedesaan. Sehingga tahu dan pernah merasakan budaya Srawung yang melekat di dalam kultur masyarakat desa. Akan tetapi, yang saya temukan akhir-akhir ini, nilai itu mulai luntur dan berubah. Antara dulu dan sekarang menjadi sangat berbeda.

Dahulu kita sering berjumpa tetangga untuk sekedar bermain atau berbagi masakan kita yang sengaja dibuat lebih. Sekarang semuanya sudah mulai tersibukkan oleh aktivitasnya masing-masing. Salahkah? Belum tentu. Tapi kalau pertanyaannya diganti, idealkah? Saya kira kondisi ini tidak ideal.

Tentu tulisan ini mungkin hanya akan menjadi buih tak berguna jika saya tidak menawarkan sesuatu. Maka saya tawarkan, mari dalam lingkup terkecil, jika kita membutuhkan sesuatu bersegeralah ke tetangga kita. Saling bantu, saling tolong-menolong. Membeli kebutuhan sehari-hari, menggunakan jasa laundry, mengirimkan oleh-oleh, bertamu sejenak, bercengkerama, hingga membangun iklim kekeluargaan secara erat. Agar bangunan horizontal sosiologis kita dapat tumbuh, bersamaan dengan solidaritas yang semakin kuat. Salam.


*Daffa Prangsi Rakisa, mahasiswa FH UII angkatan 2017, staf peneliti PSH FH UII.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai