“Hal-hal besar lahir dari upaya-upaya kecil yang nampaknya tidak berarti, tapi sebenarnya sangat berarti sekali.”
Oleh Dhiyaul Haq
Ini kisah tepat setahun yang lalu. Saat saya sedang melakukan perjalanan menuju Garut, bersama seorang kerabat kerja saya. Kami memulai perjalanan dari Kebon Jeruk menuju Terminal Kampung Rambutan terlebih dulu.
Ketika sudah berangkat dan sedang di dalam bus, tiba-tiba terlintas pertanyaan dalam benak saya, “apa gerangan kota ini dinamakan Kebon Jeruk? Padahal kan tidak ada kebonnya? Terus, Kampung Rambutan, di mana rambutannya, ya? Juga Rawamangun, di mana rawa-rawanya?”
“Wah, kamu pasti ingin tahu banyak hal,” ujar keker (kerabat kerja) saya yang baik hati itu.
Ia melihat saya yang sedang bertanya sembari menatap kaca yang berembun, dikarenakan hujan yang turun pada pagi itu.
Keker itu pun bercerita bahwa dulu di daerah sini memang banyak ditanami buah oleh para petani Betawi tentunya, dan jeruk adalah komoditas yang paling dominan di kota ini. Ada jeruk sankis, limau purut, bahkan jeruk bali. Jika musim panen tiba, biasanya warga setempat suka saling berbagi ke sesama tetangga, atau ada juga yang untuk dijual ke pasar-pasar.
Namun yang saya lihat justru cerita kebun buah jeruk itu seakan-akan mitos belaka. Sebab saat ini sudah tak ada lagi kebun-kebun yang secara khusus ditanami pohon jeruk itu. Ia sudah menjelma gedung-gedung yang menjulang, komplek-komplek berpagar tinggi, serta jalan-jalan beraspal.
Meski nama kotanya kaya akan nama tumbuhan, kalian jangan lagi membayangkan tempat-tempat tersebut indah dan hijau. Sebab sudah berubah 1000 % dibanding ratusan tahun silam. Jangan bayangkan, biar saya saja. Kalian gak akan kuat membayangkannya.
Dulu, menurut cerita kawan sekerja seperjuangan saya ini, pohon rambutan banyak ditanam di kebun dan halaman rumah yang umumnya dimiliki oleh orang Betawi. Melimpah ruah kalau dibawa ke pasar. Kalau sekarang, jangan ditanya, bahkan untuk mereka yang memanen saja hanya mendapatkan sedikit, palingan hanya untuk makan sekeluarga saja. Begitupun dengan Rawamangun, pada masa penjajahan Belanda, kota ini merupakan hutan lebat yang dipenuhi rawa-rawa. Biar kemarau panjang pun, hebatnya rawanya tetap basah, saking penuhnya rawa-rawa.
Akan tetapi, setelah perang Mataram, serta menjelang dilakukan perluasan Batavia, hutan itu ditebang dan rawanya ditimbun untuk nantinya dijadikan perumahan warga. Dari rawa-rawa yang dibangun itulah muncul istilah tersebut, yang akhirnya resmi menjadi nama daerah yang sampai kini dikenal dengan Rawamangun.
Tak terasa sudah lama mendengar secara khusyuk sahabat saya ini bercerita, sampai-sampai kami tidak sadar kalau kenek sedang berdiri di samping kami untuk menagih ongkos jalan. Sebelum turun, seisi bus mendengar ocehan pak Supir yang bertanya pada kernetnya, “kamu ngapain bawa rambutan? Kita kan sedang menuju Kampung Rambutan?”
Kemudian pak Kernet menjawab, “sekarang sudah tidak ada bang, rambutan cuma tinggal nama,” kata pak Kernet dengan nada becanda sambil menenteng sekarung rambutan. Haha. Hampir satu bus tertawa. Pecah suasana yang semula hening itu.
Setelah kami membayar ongkos, kemudian kami turun, lalu pergi berjalan kaki. Sambil berjalan kaki itu saya menanggapi dengan amat terima kasih karena telah mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya tadi, “tur nuhun ulasannya, sungguh terpatri sejarah sangat memberikan arah.”
Sangat menarik, sahabat saya ini adalah seorang sarjana Sejarah dan Kebudayaan Islam, lulusan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Kini dia mondok di salah satu Salafi yang berada di Serang. Suatu waktu ia pernah bilang, katanya kita juga harus paham dan mengerti akan bangsa kita sendiri sehingga kita bisa tahu bagaimana filosofi orang-orang terdahulu. Nilai apa saja yang mereka anut. Dengan apa mereka hidup. Bagaimana mereka bermasyarakat. Dan seperti apa perbedaan lingkungan dan kebudayaan dulu dan kini. Sebab dengan sejarah, lanjutnya lagi, kita bisa mendapati satu benang merah, yaitu asal-usul. Dengan mengetahui asal-usul, kita dapat berjalan di jalan yang terang untuk menyongsong masa depan.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, dalam hati saya berujar, “Oh, ini yang dinamakan Terminal Kampung Rambutan.” Sebuah terminal yang sangat padat oleh hilir-mudik bus antar kota dan antar provinsi. Kami mencari pusat informasi, kemudian menuju tempat peristirahatan. Karena keberangkatan selanjutnya masih sekitar dua jam lagi.
Kami mencari tempat yang enak buat selonjoran, memesan kopi, lalu kepikiran nyambi membaca tulisan-tulisan di Kopi Travel Blog, blog tempat berbagi kisah dan sudut pandang. “Kita jangan sampai pisah dan lekang,” kata seorang authornya. Kalimat ini lama mendekam di dalam kepala saya. Ada makna yang terungkap sampai saya menuliskan kalimat itu di sini. Sejak mendapati kalimat itu, saya langsung berpikir tentang perjalanan yang pernah saya lalui bersama orang-orang. Saya jadi terngiang oleh kalimat Lord Sapardi, “kita abadi, yang fana itu waktu.” Kita abadi, abadi oleh apa yang kita bekaskan selama hidup yang singkat ini. Dan waktu, hanya pergantian yang fana. Sebab itu, kita tak boleh pisah. Tak boleh lekang. Tak boleh luput. Sampai ajal menjemput.
Lama merenung, kami berinisiatif untuk menunggu di dalam bus saja. Takut ketinggalan. Karena kalau kebablasan sekali, hancur sudah harapan perjalanan kami.
Sudah satu jam kami menunggu keberangkatan dari dalam bus; dari Primajasa ke Karunia Bakti. Transit yang menyebalkan, karena bus yang langsung ke tempat tujuan baru jalan sore hari. Kami harus mengejar waktu supaya tidak diburu malam. Karena lama menunggu, seperti biasa, bus yang kami naiki didatangi oleh sekelompok pengamen yang berebut menaiki bus, sambil menyanyikan lagu “Tarahu-tarahu, Rujak aya melon aya” dengan menenteng kaca mata dan dompet yang bergantung di belakang. Lalu juga datang penjual dodol, “Ayo buat oleh-oleh, khasiatnya bisa melancarkan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.” Teknik marketingnya kocak sekali.
Tiba-tiba saya langsung teringat dengan Dzawin, kawan saya yang baik dan pintar, dalam hati saya bergumam, “hm, kami di pesantren belajar bulughul marom, tafsir jalalain, bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtasid, grammar, shorof dengan semudah itu rupanya, hanya dengan makan dodol, bisa lancar berbahasa Arab dan Inggris tanpa harus bersusah payah bersekolah. Hahaha.” Ada-ada saja. Karena marketingnya baik dan lucu, kerabat kerja saya sampai mau membelinya, tapi saya bujuk, “Boi, kita ini sedang menuju kota Dodol, yang ini beneran.” Ia tidak jadi membelinya, “Iya juga, ya,” katanya.
Kemudian saya memberi tahu dia satu hal lagi, “nanti kita di jalan bakal ngeliat Stadion Bandung Lautan Api.”
“Tahu dari mana?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
“Tahu dari Sumedang lah, kalo Dodol baru dari Garut!”
“Dasar ASGAR! Asli Garut!”
Bus kami akhirnya berjalan juga. Melewati kota yang hiruk pikuk dan sudah tidak lagi senyaman dulu. Limbah-limbah itu saya lihat, ah, geram. Selalu saja menghasilkan sampah. “Sebenarnya saya kurang setuju sama mereka yang ngotot banget pengen punya rumah sendiri,” ucap saya sambil mengalihkan topik pembicaraan. “Tinggal di rumah orang tua juga bisa sebenarnya, hanya saja jika ingin lebih, tinggikan saja, tak perlu memangkas sawah-sawah lagi. Nenek dan Kakek kan juga ingin lebih dekat dengan cucu-cucunya. Merepotkan? Tentu tidak jika kita menyikapinya dengan baik.”
Ada cerita masyhur di pesantren tempat saya menggali ilmu dulu. Ceritanya ada seorang dermawan yang mewakafkan tanah, tapi tidak dengan pohon-pohon yang berbuah. Kemudian saya bertanya tentang persoalan itu kepada ustadz saya. Beliau katakan, supaya pondok kita tetap asri di tengah gedung-gedung tinggi. Biar pondok kita tetap menjaga dan merawat oksigen. Toh, dengan keadaan seperti ini jauh lebih hijau, bukan? Supaya para santri lebih nyaman belajar dan menghafal Al-Quran.
Kerabat kerja saya menambahkan, “sayangnya, kami tidak boleh mengambil langsung dengan memanjatnya. Harus menunggu jatuh dan berebut dengan santri lainnya. Hadah. Rebutan yang menyenangkan.”
Hahaha. Saya ngomong apa, si Kawan malah membayangkan apa. Hadeeeh.
Huh, percakapan yang absurd memang. Kami sedari tadi bosan sebenarnya, bualan yang tak berujung. Begitulah memang. Dengan percakapan yang sederhana, selalu saja muncul hal remeh-temeh yang berarti. Kemudian satu persatu dari kami mulai tertidur sembari menghilangkan penat karena pegel duduk sampai setengah hari.
Tujuan utama kami menuju Garut adalah untuk menghadiri acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Kami diundang untuk turut hadir dalam perayaan tersebut. Karena itulah kami mesti buru-buru berangkat. Dan sepanjang perjalanan, wajar saja kalau obrolannya tidak jauh dari seputaran buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan.
Kerennya, acara tersebut diadakan di alam terbuka. Yang dihiasi oleh pemandangan dua gunung, yakni Guntur dan Cikuray. Sungguh meyakinkan sekali. Rencananya akan ada kerja bakti, seperti membersihkan sampah dan dedaunan yang ada untuk didaur ulang, serta menanam sepuluh ribu pohon.
Dari gunung ini saya ingin mengucapkan, “Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia”. Lestarikan alam dengan tidak menyulam hal-hal yang tidak bermanfaat. Setidaknya kita mesti yakin, bahwa hal-hal besar lahir dari upaya-upaya kecil yang nampaknya tidak berarti, tapi sebenarnya sangat berarti sekali. Seperti membuang sampah pada tempatnya. Menanam pohon. Mulai menyisakan lahan hijau sebagai investasi masa depan bumi kita. Sebab yang akan hidup, bukan hanya anak-cucu kita nanti. Ada anak-cucunya para hewan, dan tetumbuhan. Sebab kita adalah khalifah, kata Al-Quran, yang menjaga dan merawat bumi ini untuk semua makhluk agar tetap hidup damai, rukun dan lestari.
Semua hal pasti berubah. Yang akan tetap dan tidak akan berubah ialah perubahan itu sendiri. Apa yang membuat bumi yang kita tinggali ini tetap berarti? Ya, kesadaran bahwa kita akan tetap menjaganya. Dengan sepenuh hati. Dan segenap pikiran, beserta tenaga yang kita punya.
Hari ini bumi kita sedang tidak baik-baik saja. Kelak, setelah pulih, maka segera pilah, mana yang baik dan mana yang buruk. Semoga lekas membaik bumiku dan hal-hal baik yang menyertainya. Salam.

(5 Juni 1972 – 5 Juni 2020)
*Dhiyaul Haq, mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan Islam, STAIDA. Berdomisili di Serang, Banten.
