“Apa capaian karakter yang paling utama yang dihasilkan oleh era ini? Itulah yang disebut dengan: rasio dan empiris.”
Ada banyak pertanyaan di kepala saya tentang mengapa peradaban barat begitu maju dan digdaya hingga saat ini? Tidak usah jauh-jauh, bahkan di masyarakat awam banyak yang mempertanyakan hal-hal semacam ini. Kok bisa ya orang-orang barat menciptakan teknologi secanggih itu? Secerdas apa sih orang-orang barat itu? Kenapa mereka bisa sampai punya pengaruh yang sebesar ini bagi peradaban dunia?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seringkali timbul di dalam percakapan-percakapan masyarakat, sampai-sampai semua pertanyaan tersebut luput karena kehebatan dari keilmuan orang-orang barat yang harus diakui, luar biasa. Hingga pada titik tertentu, ia bisa membawa kita berada di dalam posisi inferior bila berdiri di hadapan peradaban mereka.
Tulisan ini mencoba mendeskripsikan mengapa Barat dengan segudang keilmuannya mampu menghasilkan kontribusi yang signifikan, bahkan menjadi pemimpin peradaban hingga saat ini.
Mungkin, kita pernah belajar atau setidaknya pernah mendengar tentang Era Renaissance yang terjadi pada abad 15-18 M, atau dalam bahasa Inggris, abad ini disebut sebagai abad reborn atau kebangkitan kembali. Pertanyaannya? Apa yang bangkit kembali? Yang bangkit kembali adalah kebudayaan Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Kebangkitan ini direspresentasikan melalui gerakan yang pertama kali terjadi di Italia pada akhir abad pertengahan, dan akhirnya menyebar luas ke seantero Eropa.
Periode ini lazim dikatakan sebagai periode munculnya pemikiran modern. Ada dua hal penting yang menandai sejarah modern ini. Yakni, runtuhnya otoritas gereja dan menguatnya otoritas sains.
Pada Era ini, otoritas gereja sangatlah bisa dikatakan membabi buta atau sewenang-wenang terhadap masyarakat. Mereka mengatasnamakan Tuhan sebagai pelindung utama. Para ahli mengistilahkan era itu sebagai Teosentrisme, yakni segala sesuatu berpusat kepada Tuhan.
Dengan kelembagaan gereja yang kuat, para pemuka agama membatasi pemikiran-pemikiran para ilmuwan yang dianggap bertentangan atau melakukan bid’ah dari ajaran resmi gereja. Contohnya Galileo Galilei yang mengemukakan teori Heliosentris atau “matahari sebagai pusat alam semesta”. Ia lalu dihukum dengan dikucilkan dari pergaulan sosial hingga mati karena pemikirannya itu, karena doktrin gereja mengatakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta (geosentrisme), bukan matahari.
Dari serangkaian peristiwa yang dianggap mendegradasi sifat-sifat kemanusiaan itu, para filsuf mulai mempertanyakan tentang konsepsi dari otoritas gereja dan ajaran-ajarannya.
“Mengapa para bangsawan menindas rakyat?”
“Oh, karena bangsawan memiliki legitimasi dari gereja.”
Para filsuf terus berpikir dan mencari kebenaran.
“Mengapa gereja menindas rakyat?”
“Oh, karena gereja memiliki legitimasi dari Tuhan.”
Dan para filsuf tak berhenti berpikir.
“Mengapa Tuhan menindas rakyat? Padahal Ia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?”
“Oh, jangan-jangan, gereja sengaja mengatasnamakan Tuhan untuk menindas rakyat?”
Para pemikir masih saja terus berpikir.
“Mengapa nama Tuhan digunakan untuk menindas rakyat, tapi Tuhan diam saja?”
Akhirnya mereka menemukan kesimpulan.
“Oh, ternyata Tuhan bukan diam, tapi tidak ada.”
Nah, dari bentuk radikalisasi pemikiran itulah yang kemudian hari memantik lahirnya suatu era yang disebut Era Renaissance atau Era Pencerahan Eropa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebetulnya lahirnya era ini didasari oleh spirit dan pandangan anti-Tuhan.
Maka jika kita menilik pula pada era tersebut, banyak karya-karya yang dibuat oleh para seniman seperti; Michelangelo, Leonardo Da Vinci, bahkan Raphael, dengan pahatan patung orang-orang dewasa atau anak-anak kecil yang telanjang adalah salah satu bukti dari ekspresi perlawanan terhadap otoritas gereja.
Tidak hanya dalam karya seni, bahkan pengaruh pemikiran pada era ini sampai kepada aspek sosial-politik yang salah satunya bisa dilihat dengan terjadinya reformasi gereja yang diinisiasi oleh Martin Luther. Luther beranggapan bahwa gereja pada abad pertengahan itu sudah terlalu jauh menyimpang dan sewenang-wenang dalam menggunakan otoritasnya.
Tentu, kita pernah mendengar istilah sekularisme, bukan? Dan, ternyata, dalam catatan sejarah, sekularisme itu lahir pada era ini. Sekularisme adalah aliran atau paham yang memisahkan kehidupan agama dan pemerintahan. Awal mula lahirnya aliran ini dikarenakan terjadinya perdebatan antara filsuf yang percaya dengan Tuhan (theis) dengan filsuf yang tidak percaya dengan adanya Tuhan (atheis). Hingga suatu ketika para filsuf ini berkumpul di sebuah colosseum untuk memperdebatkan “apakah Tuhan itu ada atau tidak?”
Setelah berhari-hari, bahkan berbulan-bulan para filsuf yang berbeda pandangan ini berdebat dan beradu argumen, maka mereka mencapai sebuah kesimpulan bahwa “The God Is The Watch Maker”, Tuhan adalah Pembuat Jam Tangan.
Apa artinya? Artinya, jika saya membuat jam tangan dan jam tangan itu saya berikan kepada seseorang, maka jarum jam tangan itu berputar di luar kendali saya. Seperti itulah kesimpulan para filsuf mengenai posisi Tuhan dalam kehidupan manusia. Artinya lagi, Tuhan memang menciptakan manusia, akan tetapi Tuhan tidak berhak mengatur kehidupan manusia. Itulah esensi utama dari ide sekularisme.
Dalam bidang Filsafat, era ini menghasilkan dua cabang pemikiran yang berbeda. Yang pertama adalah Rasionalisme, yaitu pengetahuan itu bersifat aposteriori, melampaui pengalaman. Rasionalisme beranggapan bahwa sebetulnya pengetahuan sudah ada di dalam otak manusia. Seperti contoh, kita mengetahui kegunaan kursi, karena otak kita telah mengkonstruksikan bahwa kursi itu bisa digunakan untuk duduk. Pemikir utama aliran ini adalah Descartes, Spinoza, dan Leibniz dari Jerman.
Dan yang kedua adalah Empirisme, yaitu pengetahuan bersifat posteriori, yakni pengetahuan itu harus didahului oleh adanya pengalaman. Empirisme percaya bahwa pengetahuan bisa didapat setelah terjadinya suatu pengalaman. Seperti contoh, kita mengetahui kegunaan kursi, karena kita pernah melihat seseorang duduk menggunakan kursi. Pengusung utama aliran ini di antaranya; David Hume, John Locke, dan lain-lain.
Dua cabang pemikiran tersebut berusaha didamaikan oleh Immanuel Kant (1724-1804). Namun, akhirnya upaya untuk mendamaikan yang awalnya hampir berhasil itu, pada akhirnya menuai perpecahan juga. Bahkan pecah lagi menjadi dua cabang pemikiran baru yang dikenal dengan istilah bias-empirisme dan bias-rasionalisme.
Fenomena paling menarik pada saat perpecahan itu adalah munculnya seorang filsuf yang hidup pada abad 19 M, bernama Friedrich Nietzsche (1844-1900). Nietzsche berupaya menganalisis tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dalam “The Spoke Of Zarathustra”, Nietzsche mengatakan di dalam ungkapannya yang paling terkenal sekaligus kontroversial, “God is Dead”, Tuhan telah mati, siapa yang membunuhnya? Kita. Dengan apa? Dengan ilmu pengetahuan.
Karena ruang-ruang ilmiah telah mendapatkan tempat yang luas, maka perdebatan konsep dan pemikiran menemukan momen terbaiknya. Kemudian lahir pula konsep pemikiran yang disebut dengan Antroposentrisme, yakni segala sesuatunya berpusat pada manusia dan Homo Mensura, yakni manusia menjadi tolak ukur atau pusat segala sesuatu.
Antroposentrisme inilah yang menjustifikasi masyarakat untuk meninggalkan doktrin Agama. Masyarakat mulai meninggalkan kepercayaan-kepercayaan, mulai meninggalkan hal-hal gaib, mulai meninggalkan mitos, meninggalkan tahayul dan beralih ke akal rasio atau pola pikir rasional. Masyarakat Barat setelah era ini pula menganggap rasio atau akal budi yang bisa menunjukan pada kebaikan hidup bagi umat manusia. Dan setelah semua itu terjadi dan masyarakat Barat mulai menganut itu secara relevan, yang terjadi pada tahap perkembangan berikutnya adalah majunya Ilmu Pengetahuan.
Berbeda dengan sebelum terjadinya era ini di mana masyarakat Barat diotoritasi oleh pelembagaan gereja yang absolut, hingga banyak terjadinya pembatasan bahkan kriminalisasi terhadap pemikiran-pemikiran para ilmuwan. Itu sebabnya era sebelum era pencerahan disebut dengan Abad Kegelapan (Dark Age).
Sebagai implikasi dari laju perkembangan yang terjadi di Era Renaissance, khususnya dalam proyek ilmu pengetahuan, masyarakat Eropa kemudian pada abad-19 masuk ke dalam Revolusi Industri.
Jadi, abad yang sekarang kita diami ini, adalah bagian dari warisan Era Renaissance. Apa capaian karakter yang paling utama yang dihasilkan oleh era ini? Itulah yang disebut dengan: rasio dan empiris.
Begitulah sekiranya perjalanan sejarah orang-orang barat dengan berbagai macam usaha-usaha keilmuannya, beserta dialektika historis yang terjadi, sehingga menjadi semacam kesadaran baru bagi mereka, dan tentunya bagi kita-kita juga. Perubahan tatanan yang terjadi pada saat itu sangat bergelombang, hingga perlawanan terhadap kesewenangan harus turut disertakan. Pengalaman telah membawa orang-orang barat lebih mengutamakan akal pikiran dan daya kritis, sehingga mereka tidak akan begitu saja menerima hal yang menurutnya tidak masuk akal, dan setiap persoalan baru akan selalu dikuak sedalam-dalamnya, hingga ke akar-akarnya.
Semoga catatan sederhana ini tetap menyertai kebermanfaatan bagi kita di dalam memahami serta menghadapi tantangan zaman dan peradaban yang semakin dinamis ini.
“Sejauh apapun perjalanan panjang pergolakan sejarah, maka di situlah ujian bagi ilmu pengetahuan dan ketuhanan, siapa di antaranya yang tetap bisa relevan dan signifikan.”
Yang tidak relevan dan insignifikan, akan terlempar dari lingkaran sejarah .
Salam.
Referensi :
- Buku “Sejarah Filsafat Barat” oleh Bertrand Russel.
-
Link Youtube “Renaissance : Kronologi Pencerahan Eropa“. Sanglah Institute.
*Muhammad Ferdi Ananda, mahasiswa Ilmu Politik UIN Jakarta.
