“Kita disuguhkan pilihan. Bukan bebas memilih.”
Oleh Ziyad Ahfi
Saya baru selesai menonton film Fight Club (1999) karya sutradara David Fincher yang diadaptasi dari novel Chuck Palahniuk dengan judul yang sama. Saya tidak akan spoiler, tentu saja. Di sini saya cuma ingin mengutip bagian yang menurut saya penting. Saat Tyler Durden (Brad Pitt) memberi pidato selamat datang di hadapan para petarung yang baru saja bergabung ke Fight Club:
“Seluruh generasi memompa gas, menunggu meja, atau menjadi budak berdasi. Iklan membuat kita mengejar mobil dan pakaian. Mengerjakan pekerjaan yang kita benci, agar kita bisa membeli barang yang tak kita butuhkan. Kita adalah anak-anak sejarah, tanpa tujuan dan tempat. Kita dibesarkan oleh televisi untuk percaya bahwa suatu hari bisa menjadi jutawan atau bintang film. Tapi sebenarnya tidak. Kita perlahan mempelajari fakta itu, dan kita menjadi sangat marah.”
Apa yang disampaikan Tyler ada benarnya. Apalagi bila dihubungkan dengan fenomena saat ini. Saya tumbuh bersama generasi yang besar di tengah era televisi dan media sosial yang sedikit-banyak mempengaruhi dan membentuk identitas saya sebagai individu. Saya selalu mengira, apa yang saya perbuat sekarang adalah murni atas dasar pilihan dan kehendak bebas saya pribadi, nyatanya tidak semua. Belakangan ini saya merasa, saya lebih banyak disuguhkan oleh apa yang saya lihat dan dengar ketimbang apa yang saya rasakan.
Semakin modern suatu zaman, semakin memperlihatkan pada kita ada lubang besar yang menganga, yang disebut sebagai absurditas. Dan di sinilah sekarang kita berada, yakni di dalam labirin yang bernama absurditas absurd tersebut. Apa itu? Yaitu usaha manusia untuk mencari arti dari kehidupan, yang pada akhirnya berujung pada kegagalan.
Ada dua tantangan besar yang sedang kita hadapi pada abad 21 ini. Pertama; Tantangan Teknologi; Kedua; Tantangan Politik. Tantangan ini sebetulnya bukan hanya terjadi di abad 21 saja, sebab di era sebelumnya dunia juga mengalami hal yang sama, namun konteks (ruang dan waktu) yang menjadikannya berbeda.
Di abad 21, orang-orang percaya bahwa liberalisme — suatu paham yang mencitakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu — akan maju sebagai pemenang. Akan tetapi, dalam kenyatannya, justru liberalisme sedang digugat oleh perkembangan teknologi. Padahal pada mulanya mereka yang percaya pada konsep kehendak bebas (free will) lah yang melahirkan revolusi internet. Seiring berjalannya waktu, ia menjadi boomerang bagi kebebasan tersebut. Itulah kenapa saya katakan, ada lubang menganga yang semakin jelas dan terang, yaitu absurditas absurd.
Awalnya kita percaya manusia memiliki kehendak bebas, namun semenjak revolusi internet dan kemunculan berbagai platform media sosial, serta aplikasi dan feature yang menyertainya, membuktikan pada kita bahwa cerita indah kehendak bebas hanyalah dongeng pengantar tidur belaka.
Kenapa manusia sudah tidak bebas lagi untuk memutuskan sesuatu di era Internet?
Karena teknologi yang berbasis Artificial Intelligence sudah masuk dan bahkan sedang mengatur hidup manusia. Kita mau ke mana? Akan makan apa? Pakai baju apa? Dan mau jadi apa di masa depan? Seluruhnya diatur oleh algoritma.
Dengan Big Data yang dimiliki oleh platform seperti Facebook, Instagram, Google, dan platform besar lainnya tentang informasi individu-individu, secara tidak sadar, kita sebetulnya sedang diatur oleh berbagai informasi yang algoritmanya sudah ditentukan oleh korporasi-korporasi besar itu.
Kita disuguhkan pilihan. Bukan bebas memilih. Seperti yang dikatakan Tyler di film Fight Club tadi, “kita adalah anak-anak sejarah, tanpa tujuan dan tempat”, sebab kita tidak memiliki eksistensi apapun. Selera kita diatur oleh korporasi. Bahkan yang sering kita lakukan adalah “mengerjakan pekerjaan yang kita benci, agar kita bisa membeli barang yang tak kita butuhkan”.
It’s ok. Mungkin tujuan awalnya sekadar marketing produk, tapi, tanpa disadari, lama kelamaan menjelma sebagai market ideologi. Algoritma ini dipakai untuk jualan keyakinan dan ideologi. Untuk kepentingan politik semata. Kalau dulu Hitler menyebarkan paham fasisme melalui pidato-pidatonya yang disebar melalui siaran radio dan berharap semua orang mendengar dan mengikutinya, kini metode indoktrinasi seperti itu sudah dipertajam melalui algoritma media. Cukup posting mengenai anti yahudi, maka mereka yang anti yahudi pun turut mendapat informasi tersebut.
Di kepala kita mulai ditanam sesuatu, dengan cara membius kita masuk ke dalam kardus yang berisi kelompok yang se-ideologi denganmu. Sependapat denganmu. Sehingga kau saling memusuhi mereka yang berseberangan dengan ideologimu. Inilah yang nantinya yang menjadi akar kelahiran istilah Era Post-Truth, yakni era kebohongan/melampaui kebenaran. Sebuah era yang memfasilitasi kecendrungan karakter manusia yang menerima apa yang sesuai dengan keyakinannya dan, sekali lagi, diperparah oleh algoritma yang disediakan korporasi-korporasi besar itu.
Yang berbahaya dari itu adalah, kita sudah tidak lagi membutuhkan fakta, melainkan hanya apa yang kita inginkan. Kita tidak lagi cinta pada kebenaran. Sebab kita terjebak di dalam echo chamber, yakni ruang tempat kita hanya mendengar apa yang kita teriakkan tanpa mau tahu kondisi yang sebenarnya. Di dalam ruang echo camber inilah fanatisme tumbuh. Meminjam kalimatnya Nezar Patria, “seakan-akan ramai, tapi sesungguhnya kita sedang berbicara dalam bilik kita sendiri.”
Coba saja dilihat sendiri kalau tidak percaya, istilah “Cebong-Kampret” masih mengudara di jagad isu-isu politik. Bahkan sudah ada istilah baru, Kadrun. Mereka yang sudah terikat dalam golongan politik oposisi, kerap distempel dengan cap: Kadrun. Seolah-olah bagi siapapun yang mengkritik kinerja pemerintah dianggap musuh dan berbahaya. Pun sebaliknya.
Yang berbahaya selanjutnya adalah, kita kehilangan privasi. Sudah berapa banyak aplikasi yang diciptakan dan tampil di berbagai iklan, kemudian kita tergiur untuk men-download dan memberi semua informasi tentang identitas personal kita secara cuma-cuma tanpa pernah tahu data itu akan diapakan dan digunakan untuk apa.
Dulu mungkin kita menganggap hanya Tuhan yang tahu di mana kita bersembunyi. Sekarang, Mark Zuckerberg pun tahu apa yang sedang kau tonton, pesan apa yang kau kirim pagi tadi ke pacarmu, apa hobimu, apa makanan kesukaanmu, siapa bapakmu, ibumu, sahabat dekatmu, musuh-musuhmu, ideologimu, bahkan capres yang kau pilih di bilik pencoblosan.
Yang berbahaya selanjutnya ialah kecemasan. Kecemasan seringkali menghantui kita. Orang sakit mulai meninggalkan konsultasi dokter. Hal pertama yang dicari ketika sakit adalah google. Bertanya pada syekh google. Padahal di google bisa saja informasi yang kita dapat bukan dari dokter betulan, bisa saja dokter jadi-jadian. Sehingga kepalamu cenderung makin sakit akibat dari kecemasan yang ditimbulkan bukan bertanya pada ahlinya. Inilah salah satu alasan kenapa kepakaran mulai mati dan ditinggalkan.
Mengutip kembali kalimat terakhir Tyler yang saya tulis di atas: “Kita perlahan mempelajari fakta itu, dan kita menjadi sangat marah”.
Jadi, apa sebetulnya makna hidup di era Internet ini?
Referensi tulisan:
• Film Fight Club (1999)
• Podcast Leila Chudori With Nezar Patria
Feature imaged: Allstar/20th Century Fox
