“Sebab itu Tuhan menunggu.”
Oleh Sania Bella
Belakangan ini, keresahan dan kelelahan lebih sering datang menghampiriku ketimbang sebuah ketenangan. Banyak hal yang menegurku, mengetuk pintu hatiku, supaya aku segera sadar, bahwa masalah selalu saja datang berturut-turut, dengan cara yang tak pernah kuharapkan.
Aku tidak pernah puas dan mendapat ketenangan dari bualan dan omong kosong para ahli bijaksana yang kerap tampil di berbagai dinding sosial mediaku. Para ahli bijak bestari yang bermodal konten quotes komersil yang berpura-pura peduli dengan kata-kata indahnya itu. Padahal itu cuma rima yang didesain dengan menarik agar diklaim benar oleh para pengikutnya, tanpa pernah mendapat makna apa-apa. Seperti obat tidur, obat yang ditelan hanya untuk menahan depresi dalam waktu yang singkat.
Kalau melihat postingan seperti itu, aku hanya dapat tertawa geli dan sedikit-sedikit mengumpat, “halah, omong kosong!”
Bagiku semua itu hanya sampah!
Saat menulis ini, aku sedang menangis. Mungkin ini juga bagian dari sebuah proses menerima rasa kecewa itu. Jika ditanya, siapa yang mampu menerima kekecewaan?
Hampir semua akan menjawab, TIDAK ADA!
Sedih. Resah. Bingung. Itulah yang kurasakan saat ini. Aku tidak lagi percaya kalimat-kalimat bullshit yang tidak punya pengaruh apa-apa itu. Lebih berguna kicau burung di pagi hari. Meski kita tak mengerti apa maksudnya, tapi kita menikmati ketenangannya.
Rasanya ingin sekali berteriak bahwa dunia ini tidak adil!
Marah dan lunturnya kepercayaan kepada orang lain mungkin bagiku sudah menjadi suatu hal yang wajar. Ternyata aku salah. Salah besar! Aku terlalu egois, mendengarkan apa yang hanya ingin kudengar. Bukan lagi sebuah fakta. Bukan lagi sesuatu yang aku butuhkan.
Diriku terlalu larut dalam sebuah kekecewaan. Dan untuk saat ini, aku hanya ingin menyakiti diri sendiri agar segera pergi dari dunia yang menyebalkan ini.
Aku sering berpikir tentang datangnya suatu masalah yang belum pasti, suatu kegagalan yang entah seperti apa nantinya, atau suatu pengkhianatan yang bagaimana. Aku merasa hanya aku yang mengalaminya sendirian dan tidak ada yang dapat mengerti isi hati yang tersimpan di sumur terdalamku sebagai manusia.
Akhirnya aku hanya meremehkan orang lain. Merasa diri yang rapuh ini paling kuat dan merasa paling hebat. Mulutku begitu ringan berkata, “ngomong aja gampang, kan!”
Alih-alih ingin menunjukkan kesedihan, aku justru sedang menyakiti orang lain karena egoku yang hanya ingin dimengerti.
Lalu terkumpullah sebuah fakta, bahwa aku telah dijatuhkan berkali-kali dan diruntuhkan oleh sebuah realita. Bisa disebut “jatuh yang paling bodoh”. Itulah kalimat yang memang pantas melekat di dalam diriku.
Tersadar aku oleh dunia yang fana ini, oleh dunia yang tak pernah adil ini. Dunia yang sering menamparku keras dalam perenungan.
“How beautifull is it that Allah will eagerly forgive you for the things you can’t even forgive yourself for.”
Bukan masalah, kecewa, atau pengkhianatan yang membuatku merasa benar-benar sedih. Tetapi, aku yang terlalu lemah. Yang tidak pandai menerima sebuah kenyataan bahwa, sesuatu yang aku miliki saat ini tidak benar-benar menjadi milikku. Aku tak mampu memaafkan kesalahan yang pernah kulalui di masa lalu.
Dan kini aku mengerti, bahwa persoalan ini bukan hanya tentang ego, tapi prinsip menerima rasa cukup dengan memaafkan dan mengikhlaskan apa yang telah disiapkan untukku.
Sebagaimana baju, tak ada baju yang tak ternoda. Kira-kira seperti itu aku menggambarkan kehidupan. Realita semakin menegaskan kepadaku bahwa tak ada hal yang tak memiliki kekurangan. Seperti aku yang menulis dan kalian yang membaca tulisan ini. Kita terlahir sebagai manusia yang tak akan pernah benar-benar menjadi sempurna.
Pernah suatu waktu, seorang teman mengatakan kalimat seperti ini kepadaku:
“Pasti akan ada hal yang membawa kita pada kebingungan dan mungkin mengajak kita untuk mempertanyakan perihal kesedihan, kekecewaan, rasa malu, jatuh tertimpuk kegagalan, bahkan ketidaksiapan menerima ketidakbahagiaan.”
Ya, aku seketika terdiam. Menunjukkan ketidakpahamanku tentang apa yang dia maksud.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami sedikit demi sedikit. Hingga aku menemukan makna, “semua yang ada di hidup ini adalah kejutan yang sudah terbungkus rapi”.
Manusia seringkali berlagak tabah menghadapi tiap pukulan masalah yang menimpanya. Kadang dia merasa kuat dengan cara menutupinya. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Meski sebenarnya ia sedang tak baik-baik saja.
Dan ujung kunci dari perasaan seperti itu adalah: Kehilangan.
Kita kehilangan diri kita sendiri. Kita menipu diri kita sendiri.
Kejam, bukan? Hidup ini merenggut segala yang kita punya. Lalu aku terpikir kembali oleh perkataan temanku yang tadi. Ternyata benar, manusia tak benar-benar siap dengan kejutan-kejutan yang disiapkan kehidupan. Sampai-sampai kita merasa harus tegar di tengah kenyataan-kenyataan yang bertubi-tubi menghantam barisan pertahanan kita sebagai manusia.
Kemudian kita menangis–sendiri. Menangisi kehilangan. Kerena ‘tlah mengasingkan kita dari dunia yang tak pernah kita miliki ini.
Sepertinya semua orang merasakan itu. Dan sudah menjadi respon yang wajar ketika mendapatkan kenyataan seperti itu. Siap atau tidak, kita mesti siap menerimanya. Sebagai bukti, kita memang tak se-sempurna bungkus rokok sampeorna mild.
“It’s okay, you’re the sun and you’ll rise again.”
Sebuah kalimat yang mungkin dapat meyakinkan kita, bahwa kita selayaknya mangga yang diperam. Semakin lama diperam, ia akan semakin masak dan menua. Bila tak kunjung dikupas dan dimakan, ia akan cepat membusuk dan tak memiliki nilai apa-apa. Seperti itulah kepastian bekerja. Sebagaimana manusia, semakin kita abai dan tak merawat apa-apa, maka semua akan berlalu dan luput. Dan kesalahan, adalah mangga busuk yang telah disiapkan oleh kehidupan. Untuk kita.
Ada ucapan yang sering muncul, ketika aku sedang dirundung kesedihan dan kekecewaan.
“Kita bisa memulai semuanya kembali dari awal.”
Kalau dipikir secara rasional, itu tidak mungkin. Sebab waktu terus bergulir. Tak ada yang benar-benar putih seperti kertas baru keluar dari pabrik. Dunia akan terus berjalan dan kenyataan akan terus menyiapkan kejutan-kejutannya yang penuh misteri.
Dari kejutan itu, tentu dia juga berbentuk kehilangan. Suatu waktu akan merenggut satu demi satu apa yang sudah kita mililki. Dan sejak itu, kita akan menyadari, kehilangan adalah kepastian yang tak bisa dielakkan oleh makhluk hidup manapun.
Tak ada awal yang benar awal, juga tak ada akhir yang benar berakhir. Sebab, akhir adalah awal dari segalanya. Berputar. Berulang. Bergulir.
Memanfaatkan kesendirian untuk sementara waktu sepertinya tidak masalah. Menikmati sebuah ketenangan dan akan menjadi obat atas luka kehilangan yang mungkin tak akan sembuh seutuhnya.
Dan hal yang semakin meyakinkan diriku, bahwa kehilangan adalah suatu siklus kehidupan, terletak pada kalimat dari Jalaludin Rumi ini:
“Jangan berduka atas apapun yang hilang darimu. Karena ia akan kembali kepadamu dalam bentuknya yang lain.”
Lama merenungi kalimat ini, aku menduga, mungkin beliau juga pernah merasakan apa itu kehilangan. Kehilangan yang amat mendalam. Dan tentunya, kehilangan yang suatu saat akan digantikan oleh sesuatu yang tak pernah kita harapkan sebelumnya, tapi sangat berarti bagi hidup kita.
Satu hal yang harus diingat, kita mesti terus berjalan. Ingat-ingatlah, hidup bukan pertarungan tinju. Kompetisi antara satu manusia dengan manusia yang lain untuk memperebutkan piala bergilir dengan cara memangsa satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, hidup adalah permainan puzzle. Bagaimana kita secara bersama-sama dapat mengisi kekosongan nasib satu dengan yang lain. Karena dengan adanya kita di dunia ini, tidak terlepas dari nasib yang akan dilalui oleh orang lain juga.
Tuhan tidak mendikte kita untuk siap atau tidak dengan kejutan apa yang Ia berikan selanjutnya. Sebab Tuhan ‘tlah memberi pedoman. Petunjuk. Bagi siapa-siapa yang membaca dan memahami maknanya. Sebab itu Tuhan menunggu. Menunggu kita belajar. Menunggu kita berusaha. Menunggu kita berjalan di tengah padang pasir yang tandus. Mencari setetes air yang cukup untuk hidup sepersekian detik kemudian.
Karena Tuhan mengajarkan kita untuk memiliki rasa cukup. Agar kita tahu, mengejar kesempurnaan hanyalah kebodohan yang abadi. Dengan ketidaksempurnaan, justru kita banyak bertualang dan menjelajahi satu kenikmatan ke kenikmatan yang lain, yang juga sudah dipersiapkan.
Sekarang, aku dan kalian yang sudah membaca sampai titik ini, sudah saatnya kita berterima kasih pada diri sendiri. Karena kita sudah mau dan mampu melewati beberapa kejutan-kejutan itu.
Dan kini, yang bisa kita lakukan adalah berusaha sekuat mungkin memupuk keyakinan yang ‘tlah pudar dan hilang. Supaya kita dapat keluar dari lobang jendela kamar yang gelap. Melihat pancaran cahaya yang siap menunggu. Menanti kita dalam kejutan.
Berhentilah berharap lebih pada manusia. Secukup dan sekadarnya saja. Seperti yang dikatakan Sayyidina Ali:
“Aku pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia.”
Karena, bahagia itu kita yang rasa. Dan bahagia itu kita yang buat.

The more you thank life, the more life gives you to be thankful for.
*Sania Bella, mahasiswa FH UII Yogyakarta, asal Klaten, Jawa Tengah.
