“Tuan, maafkan aku. Tapi kali ini kau sungguh terlihat sok keren!”
Namanya Aldert Sander. Remaja Indo yang tinggal di kota Buitenzorg. Semua orang Belanda di sana memuja Buitenzorg. Kecuali Aldert dan teman-teman sebayanya.
“Pastilah Den Haag jauh lebih goed, Ibu. Aku harus segera ke sana.”
“Lalu kau mau ke sana? Tinggal dengan siapa? Bahkan sebelum berangkat kerja, kau lebih suka makan bubur dibanding roti,” tukas Ibunya.
“Sekarang cepat berangkat kerja. Jangan kau pikir kau anak Belanda, lalu tega tinggalkan Ibumu. Kau anakku satu-satunya, dan tak akan kulepas begitu saja. Lihat Ayahmu, bagaimana ia mencintaiku, walaupun ia tak peduli akan bangsaku,” Ibunya menambahkan.
“Tidak begitu, Ibuku sayang. Tentu kita akan pergi bersama. Ayah juga. Kita akan meninggalkan kota penuh pohon ini. Tempat ini lebih cocok ditinggali orangutan, Bu,” anak itu menambahkan.
“Cih, tidak mau. Lebih baik kehilangan kau dibanding harus pergi dari tanah leluhurku. Kau tahu, Kakekmu bahkan ditembak mati di hadapanku, hanya karena tak sudi membayar pajak tanahnya sendiri,” Ibunya mulai naik pitam.
“Sudah pergi sana, jangan sampai Ibumu naik darah!”
Anak itu bosan dengan cerita yang tak habis diulang-ulang Ibunya. Ia berpamitan dan segera pergi dengan sepedanya.
Anaknya memang Indo. Namun wajahnya tak banyak berubah dari moyangnya yang di Den Haag. Mungkin sebab Ibunya tak berkulit sawo matang. Ibunya, Nyai Endang, begitu ia dipanggil. Masih cantik, walau sudah menjelang kepala empat. Ia beruntung, suaminya sangat mencintainya. Tidak seperti selir-selir pribumi orang Belanda yang lainnya.
Sander berjalan menuju kantornya. Tempat ia menuangkan emosi, dan dibayar. Kantor Berita Goedaemorgen. Koran berbahasa Belanda yang membawa berita dengan gaya nakal dan jenaka. Ia yang punya. Tentu saja tidak sulit. Ayahnya, tuan Sander memiliki jabatan yang maha tinggi di kota itu.
Nenek Tua Tertembak Bedil. Lagi-lagi Darah Bau Tanah Terbuang Sia-sia.
“Judul yang bagus, Sis. Kau mulai berbakat dalam hal ini.”
“Tentu, Tuan. Orang pasti suka baca kita punya koran, kalau judul-judulnya menggelitik begini. Persetan dengan isi,” jawab Siswanto.
“Pintar!” balas Sander sembari tersenyum.
Nama sebenarnya adalah, Adrianus Isaak. Seorang Indo lainnya yang mengikut pada Sanders, sejak awal mendirikan kantor ini. Kemampuannya tak kunjung mumpuni, namun ia setia dan selalu berusaha menyenangkan tuannya. Sander suka orang setia. Lagi pula ia tak peduli. Hanya ada dua alasan mengapa Ia tak menutup kantor beritanya sendiri. Satu, inilah tempatnya memutar uang berlimpah ayahnya. Dua, Ia lebih menganggap kantor ini sebagai Badan Persiapan Pemberangkatan dirinya menuju kampung halamannya, yakni Den Haag.
Ia masuk dalam ruangan khususnya. Eignaars Kamer, begitu tulisan di depan pintu ruangannya. Kerjanya begitu-begitu saja; merokok, masturbasi, dan mulai mencari ide untuk menulis semaunya. Kebebasan adalah hal yang membingungkan, begitu ucap benaknya.
“Ya, kebebasan!” Muncul ide di kepalanya. Hanya butuh setengah jam untuk menulis setengah halaman untuk kolom khusus mingguan, kolom yang dikhususkan untuknya.
Kebebasan Itu Apa? Begitulah judul tulisannya kali ini. Bercerita tentang anak Belanda yang tinggal di Mojokerto dan tak memiliki teman bermain, lantaran Ia tinggal di daerah mayoritas inlander. Lalu, siapa yang bebas di negeri rongsokan ini, Meneer? Sebuah pertanyaan retoris, Ia unggah sebagai punchline tulisannya.
Ia tak tahu, masalah apa yang bakalan dihadapinya kelak akibat kalimat itu.
Malam itu Sander sangat sibuk. Ia tengah mempersiapkan baju terbaiknya untuk Klub Lawak Indo, yang diadakan tiap bulan. Tentu Ayahnya tak tahu jika sang anak punya keisengan sejauh ini. Toh, tak ada juga yang tahu, kecuali anak-anak Indo sebayanya dan Pur, penjaga aula yang disewa mereka sebulan sekali itu.
“Selamat datang, Meneer. Tampan sekali, Meneer hari ini,” sambut Pur.
“Satu, jangan panggil aku Meneer. Tuan terdengar lebih goed. Dua, jangan banyak basa-basi, ini uangmu, Pur. Tak perlu kau berkilah lagi soal beli biskuit untuk anjingmu hanya untuk meminta recehan itu,” jawab Sander ketus.
Sebetulnya aula ini tak berbayar, sebab acara diadakan lewat tengah malam di hari minggu. Siapa juga yang menyewa aula di saat-saat seperti itu? Uang tadi hanya upaya Sander agar Pur tak melaporkannya pada Meneer-nya, si Belanda Totok. Sander benci Belanda Totok, jijik dengan pribumi, dan bingung pada dirinya sendiri.
Sander masuk ke aula tersebut. Orang Indo lain bersorak akan kehadirannya, Sang Suka-Suka, begitu orang memanggilnya. Penampilannya, seperti biasa, menjadi pertunjukan pamungkas. Sebuah penampilan yang paling ditunggu-tunggu. Penuh sarkasme, vulgar dan cemooh tak berujung.
Aula sesak oleh manusia. Memang aulanya kecil dan anggota klub itu kurang lebih 120 orang. Cukup banyak. Mereka kebanggaan Sander, begitu juga sebaliknya. Ia merasa cukup berbakat dalam mengumpulkan orang-orang dan mencemooh.
Dinding putih dengan penerangan kuning remang-remang itu akan dimatikan kala pertunjukan dimulai, serta diganti dengan lampu sorot. Hari itu seperti biasa, pertunjukan dimulai dengan nyanyian seru, drama yang konyol, pelawak tunggal dan puisi yang penuh dengan kata-kata kotor. Jika kau masuk ke dalamnya, sungguh kau akan merasakan gairah yang meletup-letup.
Bagaimana tidak? Beban pikiran orang Indo sehari-hari tentu lebih berat. Mereka tak dianggap oleh kolonial dan diludahi oleh pribumi. Ayah mereka dianggap tukang selingkuh, dan Ibu mereka dianggap lonte. Tak ada tempat pelampiasan selain Klub Lawak Indo ini. Ibarat sampanye yang dikocok selama sebulan, lalu tutupnya dibuka pada malam itu. Meledak-ledak!
Sampailah mereka di penghujung pertunjukan.
“Hadirin sekalian. Inilah pertunjukan yang ditunggu-tunggu. Celoteh si Suka-Suka. ALDY SANDER!”
Seluruh mamalia yang hadir bersorak sorai. Menambah bir di gelas-gelas besar mereka dan berciuman dengan pasangannya. Tepuk tangan dan teriakan tak habis-habisnya. Sander berdiri, merentangkan tangannya dan mengangkat kepalanya penuh sensasi.
Anak itu memang tampan, tidak terlalu tinggi, agak kurus dan bermata biru. Semua wanita di sana pasti ingin tidur dengannya. Selain punya koran sendiri, ia pun pemilik tunggal klub rongsokan itu. Siapa yang tak terkesima dengannya?
“Seorang Nenek Tua,” ucap Sander memulai aksi panggungnya, “mati ditembak bedil. Begitulah judul koran yang diterbitkan kantorku beberapa hari lalu. Dasar bodoh! Mengapa tak kau tunggu sebulan atau dua hanya untuk melihatnya mati? Kau kira bedil itu murah. Hah!?”
Semua yang mendengarkan lawakannya tak henti-henti tertawa. Ia diam, dan menikmati sensasi yang amat dicintainya. Musik-musik konyol berputar mengiringi dan, oh, Tuhan, inilah satu-satunya momen yang membuat Sander merasa berharga.
Gelak tawa belum berhenti.
BRAKKKK!!!
Pintu didobrak dengan kencangnya. Satu pleton polisi Belanda muncul dan mengitari aula seketika.
Sander tetap tersenyum. Ia tak merubah ekspresinya sedikitpun. Ia tahu mereka datang untuk dirinya.
“Halo, Tuan-tuan. Selamat datang di klub kami. Kalian terlihat terlalu serius. Pasti beban kalian berat sekali,” sambut Sander pada opsir polisi yang di tengah.
Kali ini tak ada yang tertawa. Sebagian panik dan sebagian sudah terlalu mabuk.
“Tuan Aldert Sander, Anda ditahan atas tuduhan ujaran kebencian di tulisan Anda pada koran Goedaemorgen pagi tadi. Anda melanggar KUHAP pasal 169, 164 dan …”
“Cukup!” Sander menyanggah celoteh opsir dungu berbadan gembrot itu.
“Haaztai Artikelen. Pasal karet! Kalian tentu tak bisa menahanku dengan pasal-pasal seperti itu. Aku ini anak pejabat, tahu!?” tukasnya lagi.
“Maaf, Tuan. Anak pejabat tak menjamin kau bebas berkata-kata semaunya.”
Sander terdiam. Menundukkan kepala. Tangannya mengambil sesuatu di belakang pinggangnya. Semua polisi ambil posisi bersiap. Mereka tahu apa yang Sander pegang.
“Kalian punya sikap bengis sudah keterlaluan. Tak perlu lagi aku tentang. Maka aku tertawakan saja. Kalau aku pun tak bebas menulis. Lalu kebebasan mana lagi yang aku punya, Meneer?” Sander menembakkan pelatuknya dan berhasil menembus kepala opsir yang dari tadi berbicara.
Sontak puluhan peluru menghujam tubuhnya. Seluruh hadirin berteriak histeris dan buyar berlarian meninggalkan aula.
Sander tersungkur.
Situasi jadi tak beraturan. Kacau. Walaupun pertunjukan itu juga terkesan berantakan.
Siswanto, karyawannya berlari menghampiri Sander.
“Tuan, maafkan aku. Tapi kali ini kau sungguh terlihat sok keren!” katanya menahan antara isak dan cemas.
“Hei, bodoh! Aku sedang di atas panggung. Biarkan aku mati dalam adegan yang menghibur. Sampai jumpa, tolol! Beri tepuk tangan yang meriah untuk si Suka-Suka.”
Sander mati. Sis menangis. Keras.
Orang tuanya sungguh terpukul dengan kabar itu. Ayahnya lalu memboyong Nyai Endang untuk pulang ke Den Haag. Kota itu telah menyimpan terlalu banyak darah untuk ditinggali.
Siswanto, si Sander punya karyawan, beralih profesi jadi tukang dongeng. Pada suatu pertunjukan ia membacakan puisi berjudul “Hikayat Aldert Sander, Sang Suka-Suka”.
Dongeng itu ditutupnya dengan larik singkat.
Selamat jalan, Sander yang malang.
Andai kau punya dua atau tiga nyawa lain, pastilah kau sekarang tersenyum bahagia.
Di Den Haag, yang kau impikan.
Seluruh hadirin berdiri dan memberi tepuk tangan.
“Tepuk tangan ini untuk dirimu, tuan,” lirih Sis tertahan.
*Foto fitur bersumber dari wikipedia.org
