kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Sejarah Hitam Rasisme Versus Semangat Toleransi

“Yes we are one and the same.”


Oleh Nanda Nadya

Lagi, dunia memanas oleh satu soal yang tak kunjung usai, yakni Rasisme. Jauh sebelum George Flyod mati dibunuh oleh polisi rasis Amerika, aksi rasisme telah memiliki catatan sejarah kelam yang teramat panjang.

Mengapa rasisme selalu berulang? Mengapa paham ini selalu memiliki pengikut yang fanatik?

Dunia yang beragam, sudah pasti menciptakan multikulturalisme. Dan tentu saja hal tersebut juga menciptakan pengelompokan manusia atas dasar kesamaan identitas. Rasa “kesamaan” tersebut, celakanya, pada titik yang ekstrem menumbuhkan pula perasaan bangga yang berlebihan. Merasa superior, apalagi bila diikuti pula dengan terminologi mayoritas – minoritas.

Mayoritas dan minoritas inilah yang menjadi jembatan utama menuju belantara rasisme serta diskriminasi. Hukum rimba menyatakan “siapa yang kuat ia yang berkuasa, siapa yang lemah ia yang tertindas” . Dan keberadaan minoritas tentu akan kalah dengan eksistensi mayoritas. Sehingga pada banyak ruang, kaum mayoritas melakukan penindasan terhadap minoritas, seperti pembatasan terhadap hak-hak mereka.

Apertheid, ideologi yang pernah lahir di Afrika Selatan pada tahun 1940-an, menjadi tonggak bagi meluasnya rasisme di Afrika. Ideologi bar-bar tersebut bahkan dilegalkan dalam bentuk undang-undang demi menjaga kemurnian ras bangsa kulit putih. Ras kulit hitam Afrika dibatasi hak-hak politik dan akses yang diskriminatif terhadap ruang publik. Mereka dilarang untuk memasuki daerah-daerah urban kecuali bersegera mencari pekerjaan di sana. Mereka juga dilarang untuk berbisnis di daerah ras kulit putih. Hampir pada segala aspek kehidupan, ras kulit hitam termarjinalkan.

Selain apertheid, sejarah rasisme juga hidup di Amerika dan mendapatkan momentumnya sejak negara itu dipimpin oleh Presiden ke-7, yakni Andrew Jackson. Andrew Jackson bertanggung jawab atas genosida yang dilakukannya kepada penduduk asli benua Amerika, yakni suku Indian. Ia yang menggalakkan kebijakan pengusiran terhadap suku Indian dan menganggap bahwa suku asli benua Amerika tersebut tidak beradab dan tidak memiliki kemampuan dalam memajukan peradaban.

Meskipun tindakannya mendapat kecaman dan protes karena dinilai sebagai tindakan amoral, namun tetap saja hal tersebut disetujui, dan hingga tahun 1840 saja, tercatat sekitar 60.000 orang suku Indian dipindahpaksakan ke sebelah barat Mississippi. Saat proses pengusiran itu, beribu-ribu orang suku Indian tewas. Kelak, peristiwa memilukan ini dikenal dengan istilah “Jejak Air Mata”.

Pada proses pencalonannya sebagai Presiden Amerika, Barack Obama tidak luput dari aksi rasisme. Berbagai black campaign muncul, mulai dari pernyataan bahwa Amerika Serikat lebih baik memiliki presiden perempuan dibandingkan harus memiliki seorang presiden berkulit hitam, sampai kepada ancaman pembunuhan dari Kaum Rasis Selatan (Southern States, terdiri dari Mississipi, Virginia, Oklahoma, Alabama, South Carolina) dan juga dari kelompok Ku Klux Klan.

Ku Klux Klan (KKK) adalah organisasi rasis terbesar di Amerika. Di dalam buku Ku Klux Klan : A History of Racism and Violence terbitan The Southern Poverty Law Center dituliskan: “The Klan would be rabidly pro-American, which to them meant rabidly anti-black , anti-Jewish, and most importantly Anti-Catholic”.

Di Australia, suku Aborigin sebagai penduduk asli benua Kangguru, juga menjadi korban aksi rasisme yang dilakukan oleh ras kulit putih yang memimpin negara di tanah nenek moyang mereka sendiri. Semakin hari, mereka semakin terasingkan dan terpinggirkan dari kehidupan. Ada istilah Stolen Generation, yakni generasi yang terampas, di mana ratusan ribu anak-anak suku Aborigin dirampas dan dipisahkan dari orang tua mereka oleh Pemerintah Australia hingga tahun 1960-an. Pemisahan anak-anak Aborigin dari orang tua mereka tentu menciptakan trauma yang mendalam, diperparah lagi dengan tindakan pelecehan yang harus mereka tanggung, hingga pengabaian yang dilakukan oleh “orang tua angkat” mereka (white foster families).

Terbaru, Komisi Hak Asasi Manusia di Australia melaporkan bahwa tindakan rasisme di Australia semakin marak di masa pandemi COVID-19. Pendatang keturunan Asia, terutama dari Tiongkok, yang telah lama menetap di Australia, dilaporkan menjadi korban rasisme. Mereka menuding orang keturunan Asia telah menjadi penyebab berkembangnya COVID-19 di benua tersebut.

Di Eropa, kasus rasisme, terutama eksploitasi manusia pernah terjadi di Paris, Berlin, London, dan kota-kota lainnya, bahkan hingga ke New York (Amerika Serikat). Pameran Orang-Orang Eksotik dan Orang Kerdil dari Afrika, Indian, Filipina adalah pertunjukan biasa pada waktu itu. Manusia dikerangkeng dan dikurung serta dipamerkan layaknya binatang di kebun binatang. Mereka menyebutnya sebagai Human Zoo.

Entah apa yang merasuki kepala dan hati orang Eropa dan Amerika pada saat itu, tertawa dan bersorak sorai menikmati pertunjukan manusia di dalam kerangkeng binatang. Barangkali kita pernah mengetahui kisah Ota Benga, seorang lelaki asal Kongo yang dipamerkan di kebun binatang Bronx, New York. Sungguh, rasisme adalah sebuah kisah yang teramat perih dan memilukan.

Apakah saya kejauhan membahas soal rasisme ini? Tidak. Ibarat kuman di seberang lautan, saya juga tak menampik ada gajah di pelupuk mata. Tak perlu melancong jauh-jauh untuk mengulik sejarah rasisme dunia, di Indonesia sendiri, rasisme pernah dan, sayangnya, masih tumbuh. Tentang bagaimana Orang Asli Papua (OAP) diperlakukan, dan begitu pula pada masyarakat keturunan Tionghoa.

Dua suku ini, tak henti-hentinya menjadi target rasisme di Tanah Air. Seperti pada 2019 lalu, aksi rasisme dan intimidasi terjadi di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya serta di Malang, sehingga ujaran rasis yang menyebut orang Papua sebagai “monyet” memantik kemarahan dan berbagai aksi solidaritas digelar, bahkan kerusuhan terjadi di beberapa daerah di Papua.

Pada 2019 lalu pula, saya sempat melakukan wawancara mengenai keberagaman dan toleransi di Indonesia. Saya mewawancarai seorang lelaki berdarah Tionghoa di sebuah kelenteng di Jakarta Selatan. Lelaki Tionghoa tersebut menjelaskan bahwa luka yang ditinggalkan akibat kebijakan diskriminatif era Soeharto; seperti pelarangan perayaan Cap Go Meh, Imlek dan lain-lain, benar-benar membekas hingga saat ini. Ia mengatakan, ketika Gus Dur menjabat sebagai Presiden, beliaulah pemimpin yang benar-benar mampu membangkitkan nilai toleransi bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, hingga Gus Dur, kelak dijuluki sebagai Bapak Pluralisme.

Menjadi bukti yang nyata bahwa sejarah umat manusia, selain memerlukan individu yang menghargai perbedaan, pun juga membutuhkan seorang pemimpin yang dapat menjadi tauladan bagi sikap toleran dan berdiri di antara semua golongan. Menghargai dan dapat mengelola pluralisme yang ada di Indonesia sebagai sebuah kekuatan, bukan kelemahan.

Bung Karno dan semua founding fathers republik ini telah mengamanatkan nilai-nilai kebajikan itu semua di dalam falsafah negara, yakni Pancasila. Pada sila kedua, kita bisa belajar dan mengamalkan sebuah semangat tentang nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil bermakna suatu tindakan yang tidak diskriminatif. Sedangkan beradab berarti memiliki nilai etis-keadaban.

Kehidupan ini, di belahan bumi manapun, seharusnya mengajarkan dan mendidik tentang nilai keberagaman dan kesetaraan. Seperti yang dinyanyikan oleh Michael Jackson di dalam lirik lagunya Black or White: “Yes we are one and the same”. Ya. Kita satu dan kita sama.


Sumber referensi:

  1. Ku Klux Klan : A History of Racism and Violance karya The Southern Poverty Law Center

  2. The Tragic Life of Ota Benga, The Man Who Was Caged in the Zoo. Link youtube.

  3. Buku Jangan Bunuh Obama! Karya Hermawan Aksan

  4. Wawancara pribadi dengan narasumber masyarakat Tionghoa.

*Foto fitur: Dok. Nanda Nadya

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai