kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Sutan Sjahrir dalam Perspektif Manusia dan Sejarah

“Bagaimana kita mampu memaknai kedaulatan rakyat secara utuh.”


Oleh Muhammad Ferdi Ananda

Sutan Sjahrir, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bung Syahrir atau Bung Hatta biasa memanggilnya Bung Kecil, lahir pada tanggal 5 Maret 1909 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Beliau adalah anak dari Moh. Rasad yang bergelar Maha Raja Soetan yang berasal dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, yang jabatan terakhirnya adalah Hoofd Jaksa pada Landraad di Medan.

Sebagai seorang pemuda yang militan, ia punya hobi membaca. Kecintaannya pada membaca berawal ketika ia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap surat kabar Belanda, yakni Algemeene Indische Dagblad (AID), yang diterbitkan oleh Vorkink, sebuah surat kabar dalam format mading, yang ditempel di atas papan di kampungnya.

Ia lebih suka menjadi seorang pemuda yang turun langsung ke jalan ketimbang harus menghapal begitu banyak pelajaran. Pengetahuannya mulai tampak ketika ia mendalami pelajaran sejarah dan bahasa Latin. Buku-buku bacaannya berkaitan dengan pelajaran sejarah dan bahasa Latin yang berhubungan dengan pemahaman falsafah dan seruntutan sejarah Kerajaan Romawi dan Yunani serta keruntuhan yang menyertainya.

Sjahrir muda, sebagai manusia Ibu Pertiwi, memiliki perhatian yang penuh terhadap perkembangan yang terjadi di tanah air. Terutama pada saat terjadinya pemberontakan PKI di Madiun. Pasca peristiwa tersebut, ia berusaha memahami serta mendalami filsafat dan sejarah perkembangan masyarakat, negara, dalam sejarah kemanusiaan.

Di usia yang masih belia, Sjahrir muda, mulai menghubungkan keilmuan yang ia miliki dengan perkembangan masyarakat yang terjadi. Bersama-sama dengan kawan sebayanya, ia berhimpun dalam sebuah Study Club yang bernama Patriae Scientiaque (PSQ), yang artinya Untuk Tanah Air dan Ilmu Pengetahuan.

Ia juga aktif dalam organisasi pemuda yang berlandaskan persatuan bangsa, yaitu Jong Indonesia. Sjahrir melihat kolonialisme, khususnya pada konteks penjajahan Belanda di Indonesia sebagai suatu ketidakadilan, ketidakjujuran, dan ketidakbenaran Pemerintah Hindia-Belanda dalam memperlakukan rakyat Indonesia.

Menariknya, dengan situasi sosial politik yang demikian itu, Sjahrir lebih memilih untuk mendahulukan apa yang disebutnya sebagai “pengertian yang mendalam” dibanding harus mengembangkan rasa benci dan mendeklarasikan permusuhan kepada Belanda dan dunia Barat pada umumnya. Maka dari itu, ia berani bertukar pikiran, berdebat dan menyatakan pendapatnya tentang kolonialisme, tanpa dibarengi rasa benci terhadap bangsa penjajah.

Pernah suatu waktu, saat masih bersekolah di Algemeene Middlebare School (AMS) Bandung, Sjahrir seringkali dipanggil menghadap Kepala Sekolahnya, dikarenakan aktivitas politiknya yang seringkali turun tangan langsung bersentuhan dengan masyarakat. Atas dasar semangat keilmuan yang kuat, Sjahrir tidak sedikitpun merasa gentar, takut, terhadap segala bentuk ancaman, teguran, bahkan tidak sedikitpun ia menaruh benci kepada Kepala Sekolahnya itu.

Sebab kejadian itu pula, Sjahrir menjadi siswa yang paling masyhur di kalangan sekolahannya. Dr. Bessem, Kepala Sekolahnya pada waktu itu dengan perasaan jengkel dan bahasa tubuh yang mengolok-olok, pernah bertekuk lutut di depan Sjahrir sambil berkata, “Ik geef my gewonnen, o wyze heer” (Saya menyerah, ya, Tuan yang amat tahu).

Setamat dari AMS, Sjahrir meneruskan pendidikan di Universitas Amsterdam, Belanda. Ia kemudian tercatat sebagai mahasiswa Indonesia pertama yang bergabung ke dalam Perkumpulan Mahasiswa Sosialis atau yang dikenal dengan Amsterdamsche Sociaal Democratische Studenten Club.

Selain berani, Sjahrir orang yang fleksibel dalam bergaul, mudah saja baginya mengikuti diskusi dengan para mahasiswa Belanda. Dalam diskusi yang diadakan bersama itu, antara mahasiswa Indonesia dan Belanda, Sjahrir mengemukakan pendapatnya dengan jelas, berani, jantan, dan tentunya meggunakan dasar-dasar keilmuan yang kuat, terutama teori Materialisme, Dialektika, dan Historis (MDH)-nya Karl Marx.

Sjahrir bercita-cita ingin membangun gerakan kolektif yang kuat, untuk merangkul seluruh kalangan, terutama rakyat jelata dan terkebelakang atau sekurang-kurangnya kaum Buruh. Maka dari itulah, ia secara ideologis menyemplungkan diri ke dalam ranah proletariat.

Pada saat Sjahrir dan Hatta aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, kabar buruk menyertai mereka, sebab ia dan Hatta, sahabat baiknya itu, dipecat karena terjadinya konflik serta perbedaan pendapat di internal organisasi, terutama dengan kelompok mahasiswa komunis, seperti Rustam Effendi, Setiadji, dan Abdul Majid.

Hatta merasa amat terpukul dengan pemecatan tersebut, karena baginya PI adalah alat politik bersama di dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemecatan ini dirasakannya sebagai pukulan berat dan hantaman yang dahsyat. Akan tetapi berbeda dengan Sjahrir, ia sama sekali tidak merasa gentar. Ia tak galau sebagaimana Hatta. Justru peristiwa itu dianggapnya sebagai suatu fase perjuangan, karena ia sadar, politik selalu menghadirkan pemenang versus pecundang di setiap perjalanannya.

Ia tidak merasa panik, apalagi terintimidasi oleh deklarasi resmi atau pura-pura resmi. Ia tidak gentar oleh komunike atau formulasi lain. Tidak ada rasa khawatirnya terhadap manuver yang secara langsung menantangnya, apalagi merisaukan hilangnya reputasi.

Saya kira, respon Sjahrir tersebut merupakan percampuran dari percaya diri, realisme dan keberanian, serta tidak adanya ambisi pribadi dan kesombongan. Itulah Sjahrir. Kejadian itu tampak sepele, tapi yang kelak disadarinya, sejarah mencatat bahwa konflik politik seperti itu akan dialaminya kembali suatu hari dengan intensitas yang lebih tinggi.

Dengan serangkaian perjalanan yang terjadi, sampailah Indonesia pada masa kemerdekaannya. Bagi Sjahrir, ini adalah masa yang menjadi momentum berjalannya revolusi. Namun menurutnya, revolusi haruslah dengan syarat-syarat, supaya kemerdekaan yang telah dicapai tidak membawa kepada kesia-siaan.

Kepada Sastra, pimpinan buruh dari keluarga petani di Garut, pada waktu kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) I di bulan juni 1932 di Bandung, Sjahrir mengatakan:

“Revolusi tidak mungkin diadakan sembarangan waktu. Menurut kehendak nafsu si pemimpin gila berontak. Kalau ingin berhasil, perjuangan harus tertib dan teratur.”

Untuk itu, kata Sjahrir, kita haruslah berpikir menurut aturan-aturan dan hukum ilmu pengetahuan yang ada sangkut-pautnya dengan perjuangan kemasyarakatan. Teori maupun praktik haruslah berjalan saling bahu-membahu. Perjuangan mengatur masyarakat di negeri manapun perlu kita pelajari untuk kita pilih mana yang dapat bermanfaat untuk negeri kita.

Revolusi hanya mungkin terjadi apabila syarat-syaratnya terpenuhi, yaitu syarat obyektif dan syarat subyektif;

Syarat obyektif adalah bentuk ketidakpuasan rakyat yang umum dan merata. Kekalutan dan lenyapnya disiplin di kalangan aparat pemerintahan dan kebingungan tokoh-tokoh yang memerintah. Sedangkan syarat subyektif adalah; harus adanya manusia-manusia pejuang yang memperjuangankan perbaikan keadaan itu.

Syarat subyektifnya tersedia, tapi jikalau syarat obyektif tidak ada, maka revolusi tidak akan mungkin terjadi. Begitu pun sebaliknya. Harus bisa diperhitungkan kapan waktu yang tepat, atau yang disebut sebagai “saat psikologis”. Contoh kasus; seperti pemberontakan komunis tahun 1926. Mengapa pemberontakan itu gagal? Karena syarat-syarat termaksud tadi belum lagi tersedia.

Sementara menanti berkembangnya kondisi obyektif dan datangnya “saat psikologis” itu, kita berkewajiban untuk menyusun kekuatan subyektif terlebih dulu. Dalam buku Perdjoeangan Kita, bagi Sjahrir, haruslah percaya pada kekuatan dan usaha kita sendiri. Dengan pandangan kemanusiaannya, Sjahrir mengatakan:

“Bahwa tidak mungkin suatu revolusi akan bermanfaat bagi sebagian besar masyarakat, kalau didasarkan pada kebencian terhadap manusia. Perjuangan kemerdekaan kita harus dilandasi oleh rasa persaudaraan kemanusiaan. Semangat benci dan mengamuk serta tindakan pengrusakan dan penyembelihan tidak akan membuahkan hasil yang baik. Tindakan kekerasan hanya dapat dibenarkan dan dimanfaatkan jika terpaksa untuk membela diri.”

Yang paling penting dari ajaran Sjahrir adalah bagaimana kita mampu memaknai kedaulatan rakyat secara utuh. Ia juga menuangkan pemikirannya tentang bagaimana kemerdekaan itu diatur dan direncanakan sematang-matangnya. Tidak cukup baginya dengan asal merdeka saja tanpa peduli kepada sesama, ke semua golongan. Golongan yang memerintah seharusnya adalah mereka yang mempunyai semangat kemanusiaan dan kerakyatan. Mereka yang mengusahakan kerjasama secara persaudaraan antar bangsa demi membantu usaha ke dalam untuk memajukan kemakmuran seluruh rakyat.

Pemerintah, sebut Sjahrir, harus dipilih secara berkala oleh rakyat, diawasi terus-menerus oleh rakyat, dan bertanggung jawab kepada rakyat yang berdaulat dan yang berkuasa. Jadi, bukan kepada raja atau ratu, bukan juga pula kepada sekelompok kaum ningrat, kaum intelek, atau sekelompok hartawan kapitalis.

Pada pokoknya, Sjahrir menjelaskan secara rinci dan mendalam tentang teori revolusi dan bagaimana perjuangan kemerdekaan yang seharusnya. Cara melawan imperialisme yang telah ia pelajari di Belanda.

Sebagai seorang nasionalis, Sjahrir memang tidak setenar Bung Karno yang populis dan orator ulung. Namun, isi kepalanya yang cerdas itu, selalu ia tampilkan secara diam-diam, dari balik layar. Dan si Bung Besar atau Bung Karno sendiri pun mengakui ketajaman pikiran si Bung Kecil ini.

Akhirnya, dalam mengenang Sjahrir dalam prespektif sejarah dan manusianya, tidaklah ada yang lebih tepat lagi daripada mengutip bagian penghabisan dari pidato perpisahan yang disampaikan oleh Bung Hatta pada saat upacara pemakaman Syahrir di Taman Makam Pahlawan Kalibata, pada tanggal 19 April 1966:

“Saudaraku Sutan Sjahrir, sampai di sinilah kami menghantarkan engkau dalam perjalananmu pulang ke kampung akhirat. Di sana engkau akan mendapat rumah peristirahatan yang tetap, kekal, dan abadi. Beristirahatlah dengan tenang. Jasamu di dunia ini tidak akan dilupakan orang. Kerjamu yang belum selesai ada yang meneruskannya.”

Bung Hatta melanjutkan:

“Sejarah akan membuktikan bahwa hidupmu di dunia tidaklah sia-sia. Dalam sejarah, namamu tercatat sebagai Pejuang Kemerdekaan Bangsa dan sebagai Perdana Menteri yang pertama daripada Republik Indonesia yang baru dan berjuang.”

Dalam suasana haru, Bung Hatta melanjutkan menyampaikan pidato perpisahan kepada kawan seperjuangannya itu:

“Penghormatan yang luar biasa diberikan pada upacara ini dan simpati berpuluh ribu orang banyaknya yang mengikuti pemakaman Sjahrir ini dari dekat dan dari jauh yang khidmat, semoga menjadi obat daripada hati yang terluka. Waktu akan meringankan rasa sedih dan rindu. Anak-anak dan turunan Sjahrir dapat merasa bangga bahwa mereka turunan seorang pahlawan.”

Bung Hatta berpesan:

“Pemuda Indonesia, tanamlah dalam hatimu, Sjahrir Pahlawan Nasional Indonesia.”

Pidato itu berakhir, dan semua orang menunduk tak kuasa menahan tangis. Mengenang seorang pahlawan yang telah pergi dari dunia yang fana ini.

Abadilah nama Sjahrir di sepanjang sejarah Indonesia. Semoga menjadi cerminan bagi anak-cucu bangsa Indonesia. Untuk meneruskan perjuangan yang tidak sia-sia itu.


Referensi:

  1. Mengenang Sjahrir: Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan karya Rosihan Anwar.

  2. Hatta: Aku Datang Karena Sejarah karya Sergius Susanto.

  3. Perjoeangan Kita karya Sutan Sjahrir.

*Foto Sutan Sjahrir bersumber dari wikipedia.org

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai