kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Bercanda Itu Seharusnya Lucu, Bukan Menyakitkan

“Nggak spanteng sama suka bercanda itu hal yang beda.”


Oleh Daffa Prangsi Rakisa

Bercanda sering dianggap sebagai peristiwa sepele. Padahal kenyataannya, bercanda yang tidak sesuai pada tempatnya adalah bercandaan yang layak dimasukkan ke dalam tong sampah. Karena sering melukai hati. Dan itu berbahaya bagi keberlangsungan silaturahmi. Kalau kata orang bijak, “Berhati-hatilah dalam bergurau. Karena gurauan yang berlebihan bisa berakibat dendam.”

Kita mungkin pernah merasakan dan melihat secara langsung beberapa contoh aktivitas bercanda atau gurauan yang berlebihan ini. Awalnya mungkin masih biasa-biasa aja, tapi kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam hati orang. Siapa tahu, ketika dia pulang dan pergi dari tempat itu, dia menangis dan hatinya terluka. Dan tentu, masalah yang lainnya akan timbul di kemudian hari.

Setidaknya bercanda dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yakni verbal (tulisan/lisan) maupun non verbal (isyarat/fisik). Katakanlah secara verbal, saya kira semua orang pernah mengalami emosi negatif karena bercandaan orang itu mengarah pada hinaan. Parahnya lagi, yang bercanda justru tidak menyadari kalau apa yang dilakukannya itu sebagai sebuah bentuk hinaan.

Sebagai contoh, kasus seorang perempuan yang mengalami kelumpuhan selama tiga bulan akibat keisengan temannya yang menarik kursi yang hendak didudukinya. Hanya karena temannya mengira itu sekadar bercanda biasa, lalu dengan iseng, anak SMP itu main tarik kursi yang hendak diduduki temannya. Padahal itu fatal. Akibatnya korban mengalami kelumpuhan dan stres yang berkepanjangan memikirkan sakitnya yang tak berkesudahan.

Contoh ekstrem lainnya, seorang perempuan dibunuh oleh rekan kerjanya sendiri. Mengerikan. Kalian tahu apa sabab-musababnya? Gara-gara korban ngatain temannya gendut, body shaming.

Coba lihat kerusakan yang timbul dari olok-olokan sampah yang dikira selow itu?

Sakit. Hati terluka. Dan parahnya, berakibat pada hilangnya nyawa. Masih mau asal ngejek? Sembarang ngatain? Lihat sendiri fakta, berapa banyak orang yang dilaporkan ke kepolisian akibat bercanda. Pukul-pukulan karena bercanda. Meregang nyawa karena kelakar yang dikira sepele.

Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana jika sekiranya yang bercanda itu seorang pejabat publik? Dan saat itu pula, ia sedang berbicara di dalam konteks dan kapasitasnya sebagai pejabat publik.

Secelaka apakah candaan yang keluar dari mulut pejabat negara bagi ruang publik?

Sebelum menjawabnya, mari kita berangkat melalui sebuah fakta bahwa tidak sedikit pejabat publik yang sok asik telah secara sembrono menyalurkan hobi stand-up comedy-nya bukan lewat panggung open mic, justru melalui pernyataan-pernyataan yang ditujukan secara sadar kepada publik. Sekali lagi saya katakan: secara sadar.

Dalam rilis hasil penelitian tentang komunikasi politik kabinet Presiden Joko Widodo selama pandemi COVID-19, Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) mencatat ada 37 pernyataan blunder pemerintah soal COVID-19 yang sebagian besar bermula dari bercandaan.

Hal yang sama juga bisa kita lihat di video yang diunggah oleh kanal YouTube Pinter Politik yang berjudul “Ada Corona kok Pemerintah Malah Bercanda?” Serta yang bikin heboh soal pernyataan Menkopolhukam, Mahfud MD dan Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan tentang corona is like your wife.

Apakah seorang pejabat publik itu ga boleh bercanda? Bukannya bercanda juga termasuk hak bersuara yang dijamin oleh konstitusi?

Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pejabat publik jika ingin bercanda; Pertama, lihat kapasitasnya ketika berbicara itu sebagai apa. Jika seseorang memiliki jabatan di pemerintahan, kemudian ia bercanda dan bercandaannya kelewatan sampai ada yang tersinggung atau dirugikan, apakah bercandaannya otomatis merepresentasikan sikap resmi pemerintah?

Dalam kegiatan administrasi negara, tindakan pejabat publik itu bisa berdimensi sebagai individu atau sebagai pejabat yang berwenang. Tinggal kita lihat konteksnya, kira-kira dalam kapasitas apasih beliau berbicara.

Jika misalnya pak Mahfud MD sedang open mic bareng Raditya Dika dan tidak membawa embel-embel atas nama pemerintah, sah-sah saja jika beliau bercanda. Persoalan ada yang tersinggung itu sudah masuk ranah personal. Ya, kalau bercandaanya atas nama jabatan dan sedang merepresentasikan pemerintah, apalagi kalau bahan bercandaannya megandung isu sensitif, tentu yang merasa tersinggung publik, tho? Pemerintah kan cuman organisasi atau benda mati. Yang hidup dan menggerakkannya itu para pengurusnya, para pejabat publiknya.

Kedua, persiapkan dan perhatikan dulu konten candaannya. Setiap tutur kata pejabat publik itu bisa direpresentasikan sebagai sikap pemerintah. Makanya pejabat publik jika memang mau bercanda, ya, mending hati-hati deh sama bahan candaannya. Jangan bawa isu ketimpangan sosial, agama, ras ataupun gender. Misal soal pak Mahfud MD, jangan samakan bercandaan pak Mahfud dalam acara halal bihalal di UNS kemarin dengan bercandaan pak Mahfud jika sedang kongkow di angkringan. Ini sama seperti poin pertama, soal kapasitasnya.

Lantas apakah pejabat publik harus spanteng terus? Ya, ngga dong, ‘nggak spanteng’ sama suka bercanda itu hal yang beda. Kalau mau tetap berbaur dan tidak berjarak dengan masyarakat, cobalah bungkus informasi akurat dengan cara penyampaian dan pendekatan yang benar. Masa harus diajarin dulu sih sama Haji Bolot? Hadeh.

Maka dari itu, pejabat publik menurut saya sih ngga disarankan untuk bercanda jika sedang memberi statement dan dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik. Kalau memang harus bercanda, mending konsultasi dulu sama pelawak. Kalau ga mau juga, sekali-kali coba dulu ikutan gabung sama komunitas stand-up comedy. Biar tahu caranya ngelawak yang baik dan benar. Cara penyampaian serta metode pendekatannya.

Oya, terakhir, sebelum menutup. Ada studi Psikologi yang menyatakan bahwa bercanda atau tertawa bisa dijadikan sebagai salah satu terapi dalam mengatasi stress. Pertanyaannya, apakah ini tandanya pemerintah sedang mengidap gejala stress? Siapa tahu. Semoga saja tidak. Namun, apapun itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Fiersa Besari, “setahuku, bercanda itu seharusnya lucu, bukan menyakitkan”.


Sumber foto dari wartaekonomi.co.id

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai