kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Melihat Jejak Masa Lalu melalui Benda Purbakala

“Memiliki benda-benda purbakala itu laiknya memiliki tumpukan harta karun berupa emas dan permata.”


Oleh Nanda Nadya

Kemarin saya melakukan voting via fitur vote di instagram dengan satu pertanyaan, “apakah kalian pernah mengetahui tentang ‘Hari Purbakala’ sebelumnya?” Hasilnya 82% menjawab mereka belum pernah mendengar tentang “Hari Purbakala”.

Hari ini, bertepatan dengan tanggal 14 Juni 2020 merupakan Hari Purbakala Nasional yang ke-107. Hari Purbakala ditetapkan melalui Surat Keputusan Pemerintah tanggal 14 Juni 1913 atas dasar berdirinya Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indie atau Departemen Purbakala (Kini dikenal sebagai Direktorat Jenderal Kebudayaan).

Sebelum kita jauh melangkah, apasih purbakala itu?

Menurut KBBI, defenisi pur.ba.ka.la ialah zaman dahulu sekali; zaman kuno; dahulu kala. Jadi, dapat disimpulkan bahwa purbakala adalah segala sesuatu peninggalan baik dalam bentuk konstruksi maupun barang-barang yang ditinggalkan sejak zaman kuno, yang merupakan hasil cipta karya dari kehidupan masa lampau, dianggap penting dalam aspek keilmuan dan biasanya peninggalan tersebut paling sedikit haruslah berumur 50 tahun.

Bagaimana dengan peninggalan purbakala di Indonesia? Apakah masyarakat kita sudah mulai melek akan sejarah dan peduli terhadap situs Arkeologi yang ada?

Sejarah, tak semata-mata tentang rentang kisah, namun sejarah juga didukung dan meliputi dunia arkeologi, paleoantropologi, dan beberapa ilmu pendukung lainnya. Di Indonesia, seiring berjalannya waktu, situs purbakala banyak yang “terlahir kembali” dan menghiasi dunia kepurbakalaan Indonesia, bahkan mendunia.

Situs-situs purbakala yang mendunia itu, seperti Situs Sangiran yang pertamakali diteliti oleh Gustav Heinrich Von Koeningswald pada tahun 1934. Di mana ia menemukan Homo Erectus (manusia yang berjalan tegak). Lalu, Situs Gua Liang Bua di Flores yang pertama kali diteliti oleh Theodore Var Hoeven dan ia menemukan fosil Manusia kerdil dari Flores (Homo Floresiensis). Dan tak lupa pula Candi Prambanan dan Candi Borobudur yang telah diakui UNESCO sebagai world heritage atau situs warisan dunia.

Namun, itu hanyalah segelintir situs purbakala yang ter-masyhur saja. Indonesia masih banyak menyimpan kekayaan situs purbakala lainnya yang masih di dalam tahap penelitian dan ekskavasi (penggalian). Tapi, ekskavasi yang bersifat destruktif (menghancurkan) lapisan tanah ini, hanya boleh dikerjakan oleh ahli yang mumpuni dalam bidang tersebut, yakni hanya bisa dilakukan oleh bapak dan ibu Arkeolog tentunya!

Ada kisah tentang seorang Arkeolog senior Indonesia, Lambang Babar Purnomo, yang wafat dibunuh pada tahun 2008 lalu, diduga karena aktivitasnya yang ingin meneliti tentang mafia benda-benda peninggalan purbakala.

Memiliki benda-benda purbakala itu laiknya memiliki tumpukan harta karun berupa emas dan permata. Sebab benda itu bernilai sangat fantastis apabila dijual di black market. Maka, tak heran banyak yang memburu benda purbakala bukan untuk dijaga, dilestarikan, apalagi untuk kepentingan penelitian.

Sebelum wafatnya, pak Lambang sedang dalam proses mengusut kasus hilangnya 52 koleksi arca perunggu kuno, yang jika diperjual-belikan harganya mendekati 1 triliun. Bisa dibayangkan betapa bernilainya peninggalan Purbakala itu.

Eh tapi, kalian penasaran gak sih kenapa kok bisa ya, orang-orang di zaman purbakala dulu pandai membuat benda-benda logam seperti nekara, moko, kapak perunggu dan benda-benda logam lainnya?

Di dalam buku “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia” karya Koentjaraningrat, ia menjelaskan bahwa kepandaian mempergunakan dan menuang perunggu (suatu campuran antara tembaga dan ±15 timah), ditemukan pertamakali di Asia Barat Daya dalam pusat kebudayaan Mesopotamia kira-kira pada 3000 SM. Dari pusat itu, kepandaian membuat logam menyebar ke lain tempat di dunia, dan sampai di pusat kebudayaan Cina sekitar 2000 SM.

Benda purbakala dari logam. (Combination of history, faith and arts)

Penduduk Vietnam Utara pun telah lama mendapat pengaruh kebudayaan dari kerajaan Cina. Pada 111 SM hingga 939 M (lebih dari 1000 tahun lamanya), lembah sungai Tonkin (Vietnam Utara) pernah dijajah oleh Cina dan menjadi suatu provinsi dari kerajaan Cina. Meski demikian, kebudayaan Vietnam tetap mempertahankan kepribadiannya sendiri. Hal ini dapat dilihat dari hiasan pada benda dari perunggu di Dongson (Jika kalian jeli dan ingat, di buku sejarah SMP dan SMA dituliskan sebagai kebudayaan Dongson). Dari Vietnam Utara itu, kepandaian membuat perunggu menyebar ke daerah lain di Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia.

Jadi, benda-benda logam yang ada di Indonesia, sebagian besar merupakan benda import. Koentjaraningrat menjelaskan pula, bahwa ada beberapa tanda benda-benda tersebut diproduksi sendiri di Indonesia. Tanda-tanda itu berupa pecahan dari cetakan batu yang dipakai untuk menuang sebuah nekara perunggu yang pernah ditemukan di Manuaba, Bali.

Perkembangan kepandaian membuat benda logam itu juga berdampingan dengan perkembangan peradaban yang berdasarkan masyarakat kota. Pada zaman purbakala di Asia Tenggara, kota merupakan pusat kerajaan dan istana, pusat komplek pemujaan atau pusat perdagangan yang terletak pada lalu lintas perdagangan laut.

Kondisi obyektif itu kemudian memunculkan golongan pertukangan yang mengembangkan kejuruan khusus, di antaranya tukang tenun, tukang perunggu, tukang pandai besi, dan lain-lain. Mereka bekerja untuk orang-orang yang berkuasa dalam kota. Sebagian dari hasil produksi mereka juga terdistribusi ke daerah-daerah pedesaan dan daerah jauh lainnya.

Jadi, begitulah kawan-kawan, alasan mengapa benda purbakala yang berharga itu dapat tercipta dan terkubur di tanah Indonesia. Kini, benda-benda purbakala tersebut dapat kita jumpai kembali eksistensinya di beberapa museum di Indonesia, seperti salah satunya di Museum Gajah atau dikenal juga sebagai Museum Nasional Indonesia.

Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah).

Sayangnya, di beberapa museum, tak semua benda purbakala yang kita saksikan dari bilik kaca itu merupakan benda purbakala yang asli. Beberapa dari benda purbakala tersebut hanyalah replika belaka. Lalu, kemana perginya yang asli? Toh, gunanya untuk apa juga ya disimpan berlama-lama di gudang atau di ruang restorasi? Hm, jangan bikin soudzon dong!

By the way, ada sedikit tambahan nih dari seorang Jurnalis dan juga seorang Arkeolog Indonesia yang selalu menginspirasi saya hingga detik ini, yakni Pak Djulianto Susantio. Saya meminta beliau menyampaikan beberapa petuah untuk kita semua dalam rangka memperingati Hari Purbakala ini. Pesan beliau;

“Semoga generasi muda makin mencintai warisan budaya nenek moyang. Jangan merusak, jangan corat-coret, dan jangan melakukan penggalian liar atau perbuatan negatif lainnya. Jaga warisan-warisan kita supaya tidak dibawa wisatawan mancanegara.”

Nah, sebagai mana yang telah disampaikan oleh pak Dju, sudah saatnya kita melek akan dunia
ke-purbakala-an, kawan. Semua itu adalah khazanah kebudayaan bangsa yang patut dijaga keberadaan dan kemurniannya. Jika bangsa ini ingin maju, maka masyarakatnya harus peduli dengan harta yang ada pada masa lalu bangsa. Jangan sampai kita baru sibuk berkoar ketika benda purbakala itu telah dibabat habis oleh negara lain atau oleh para mafia benda purbakala.

“Selamat Hari Purbakala ke-107”


Photos courtesy of Nanda Nadya

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai