kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Bedah Buku] Novel “Bumi Manusia” Mengajarkan untuk Mencintai dan Membenci Karena Nilai

“Di novel itu secara bertahap digambarkan bagaimana pikiran Minke itu maju dan berkembang.”


Oleh Taqiya Herman

Ini adalah hasil diskusi sekaligus bedah buku yang saya, Taqiya Herman, lakukan dengan founder Kopi Travel Blog, yakni Herman Attaqi. Proses diskusi ini semua direkam dan kemudian saya tulis setelah melalui proses penyuntingan.

Saya memilih novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer sebagai buku yang didiskusikan. Tentu saja karena “Bumi Manusia” dan Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu buku dan penulis favorit saya.

FYI: Dalam diskusi ini saya memanggil Herman Attaqi dengan panggilan “Abi”, karena begitu saya memanggilnya sehari-hari. Kalau nanti memanggil dengan sebutan lain, saya takut kualat aja.

Abi, mari kita mulai bedah bukunya.

Mari

Bumi manusia itu buku yang konsepnya sejarah, tapi ditulis secara menarik, dengan bahasa yang enak, jadi mudah dipahami oleh remaja yang baru pertama kali membaca buku berkonsep sejarah. Ga ngebosenin karena juga dibumbui roman, serta karakter tokoh-tokoh yang unik, khas, serta berprinsip. Ini yang membuat saya tertarik dengan novel ini.

Karakter siapa yang paling menarik menurut Taqiya?

Nyai Ontosoroh, of course.

Kenapa?

Perempuan yang tegas, berwibawa, juga berprinsip kuat. Padahal di zaman kolonial Belanda itu, mustahil ada perempuan pribumi yang dipandang setara dengan laki-laki, memimpin sebuah perusahaan besar tanpa mengurangi keanggunannya. Dan dia pun berhasil membangun posisi dirinya agar tidak direndahkan siapapun meski statusnya hanya seorang Nyai.

Part mana yang paling susah dipahami dari novel itu?

Pertama kali membaca ada banyak yang tidak paham, terutama tentang hukum Belanda perihal pembagian harta warisan pasca Herman Mellema meninggal. Tapi, semakin sering dibaca ulang, udah semakin paham, sih.

Udah baca berapa kali novelnya?

Udah lebih sepuluh kali kayaknya.

Waduh.

Kalau menurut Abi, secara umum, bagaimana novel “Bumi Manusia” itu?

Novel “Bumi Manusia” mengambil setting sewaktu Indonesia masih di dalam cengkraman penjajah kolonial Belanda. Pramoedya, selaku penulis, menghadirkan tokoh Minke yang kelak menjadi role model seorang pribumi yang terbangun kesadarannya dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan.

Jadi Minke itu berdasarkan pengakuan dari Pramoedya, terinspirasi dari sosok Tirto Adi Suryo. Tirto Adi Suryo ini seorang tokoh nyata yang menjadi orang Indonesia pertama yang mendirikan koran, makanya dia dijadikan sebagai Bapak Pers Nasional. Tapi kemudian sejarahnya sengaja ditutupi hingga tidak menonjol, makanya Pramoedya melalui novel ini dan tiga novel lainnya di dalam tetralogi “Pulau Buru” mencoba menghidupkan kembali karakter dan spirit perjuangan itu lewat sosok Minke.

Lalu, bagaimana pandangan Abi terhadap dokter Martinet?

Dokter zaman itu dokter yang bekerja kepada pemerintah kolonial Belanda. Jadi tentu pandangan dia adalah seperti pandangan pegawai negeri kebanyakan. Yaitu mengikuti kebijakan pemerintah. Jadi dia tidak akan mungkin kritis seperti pikiran dan sikap Nyai Ontosoroh dan Minke terhadap penjajah Belanda. Dia hanya seorang profesional yang bekerja sesuai kapasitasnya sebagai seorang dokter.

Tapi, kan, dokter Martinet banyak membantu Minke, terutama dalam mengemukakan pendapatnya secara kritis?

Contohnya?

Dalam kisah percintaan Minke dan Annelies. Contohnya, ketika dia memanggil Minke ke rumahnya dan berdiskusi secara mendalam. Dokter Martinet di situ jelas berperan tidak hanya dalam tugasnya untuk menyembuhkan sakit medis Annelies, tapi dia peduli juga secara psikologis.

Ya, berarti itu masih dalam konteks dia sebagai seorang dokter, yang tugasnya menyembuhkan pasien. Adapun perihal yang mendukung agar pasien bisa sembuh, tentu akan diupayakannya. Jadi tetap saja bicaranya sebagai seorang dokter. Sampai segitu aja. Dia mensupport itu dalam rangka kesembuhan Annelies. Karena dia bekerja dan dibayar untuk itu. Itulah makna profesional yang Abi sebutkan tadi. Artinya sebagai dokter, Martinet adalah dokter yang baik.

Tapi dokter Martinet gak setuju lho dengan keputusan pengadilan Belanda terhadap keluarga Nyai Ontosoroh tentang pembagian harta warisan dan hak asuh Annelies hingga dia harus dibawa ke Belanda.

Yang ini betul. Salah satu sisi positifnya yang lain, dia turut bersimpati terhadap apa yang dialami oleh Nyai Ontosoroh dan keluarganya terhadap hasil pengadilan yang diskriminatif. Tapi akhirnya dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia bagian dari pemerintah Belanda, sehingga yang bisa dilakukan hanya sekadar menaruh simpati. Ingat, perjuangan melawan ketidakadilan ga bisa hanya sekadar “oh, saya ikut bersimpati”, tapi juga harus berjuang bersama. Dan, sekali lagi, itu hal yang mustahil bagi seorang pegawai pemerintahan, kecuali dia mau melepaskan semua status sosialnya.

Oh, gitu.

Iya, gitu. Sekarang, Abi yang bertanya. Bagaimana menurut Taqiya dengan Minke?

Minke itu selain orang yang philogynik, dia itu orang yang cerdas, berwawasan luas, dan pandai merebut hati orang. Minusnya, Minke lebih berat atau terpengaruh dengan kehebatan Belanda daripada melihat kehebatan bangsanya sendiri. Sampai — seperti yang diceritakan — dia melepaskan adat dan tradisi Jawanya, meski akhirnya dia sadar juga kalau Belanda itu ada buruknya, ga hebat sebagaimana yang dia bayangkan. Keputusan sidang yang memindahtangankan hak asuh Annelies itu salah satu yang menyadarkannya.

Tapi ya, ada juga benarnya dia memuji Belanda. Karena itu pula dia mempunyai pemikiran yang lebih maju daripada pribumi seusianya. Tapi itu salahnya, dia terlalu memuja Belanda sehingga hampir melupakan bangsanya sendiri.

Kalau menurut Abi, yang pertama betul apa yang Taqiya katakan bahwa dia menolak budaya bangsanya, terutama tradisi feodal. Tradisi feodal yang ditolaknya itu bagaimana orang harus membungkuk di hadapan manusia lain. Setiap orang tidak diperlakukan secara setara. Seperti kisah dia pulang ke rumahnya, terus di dalam hatinya dia memberontak ketika harus jalan hormat sambil membungkuk, itu bagian dari tradisi yang dia tolak. Karena bertentangan dengan bacaan dari Eropa tentang kesetaraan manusia di hadapan manusia lainnya. Lalu dia menyukai pandangan ilmiah dari tradisi ilmiah Belanda. Baru kemudian dalam kenyataan hidupnya, dia menyadari ternyata Belanda ada jeleknya juga. Dan jeleknya itu menindas. Memperlakukan orang tidak sama atau diskriminatif, seperti yang dia alami dalam kasus hukumnya melawan hak asuh Annelies itu.

Jadi, di novel itu secara bertahap digambarkan bagaimana pikiran Minke itu maju dan berkembang. Karena pemikiran orang itu ga serta merta menjadi kritis. Minke menjadi seorang yang kritis, sebab hasil dari bacaan-bacaan dia. Lalu, pengetahuan itu akan dibenturkan dengan kenyataan hidup, dengan apa yang dialami di lapangan, dalam kehidupan sehari-hari. Dia membaca tentang kehebatan pengetahuan Belanda. Dia membaca bagaimana kehidupan masyarakatnya sendiri sebagai pribumi yang tidak setara. Di mana orang tidak diperlakukan secara sama. Antara Belanda totok, golongan Indo yang Belanda KW, kaum ningrat dan rakyat jelata jelas diperlakukan secara diskriminatif. Ditambah lagi dengan kasus hukum itu menjadi trigger, dia melihat fakta bahwa ternyata orang pribumi tidak akan pernah bisa menang melawan Belanda. Pribumi selalu diperlakukan dengan tidak adil. Dari situlah kesadarannya dan kebenciannya terhadap penjajahan itu tumbuh. Apalagi nama Minke itu artinya monyet, kan? Nama pemberian guru Belandanya.

Trus, gimana menurut Abi tentang Magna Patters? Dia bisa disebut sebagai satu-satunya guru yang berasal dari Belanda yang membela Minke mati-matian.

Artinya, kalau kita men-cap Belanda itu sebagai penjajah, yang disebut “Belanda” di situ siapa? Belanda yang dimaksud itu negara, pemerintah, beserta orang-orang yang menggerakkan sistem penjajahan itu terjadi. Tapi, tidak semua orang Belanda yang setuju dengan penindasan. Bahwa ada individu tertentu yang bersimpati terhadap pribumi Indonesia, itu pasti ada. Contohnya, Multatuli yang menulis novel “Max Havelaar” yang berisi kritik terhadap perlakuan buruk pemerintah kolonial Belanda terhadap pribumi. Jadi, ada juga orang Belanda yang bersimpati terhadap pribumi yang terjajah dan diperlakukan secara buruk. Artinya apa? Yang dibenci itu adalah tindakan penjajahan, tindakan kolonialisme, nilai-nilai itu yang patut dibenci, karena tidak sesuai dengan prinsip humanisme. Makanya yang kemudian dilawan oleh Minke adalah nilai, baik itu feodalisme bangsanya sendiri, maupun diskriminasi pemerintah kolonial Belanda. Dengan itu pula dia tetap terbuka dan kritis terhadap pemikiran Barat. Nah, Magna Patters yang Taqiya tanyakan tadi termasuk ke dalam orang-orang seperti Multatuli itu.

Pandangan Abi tentang Nyai Ontosoroh gimana?

Perempuan di zaman itu berada dalam posisi yang amat tidak setara dengan laki-laki, terutama dalam akses pendidikan, pekerjaan, sosial politik, bahkan di rumah sendiri pun mereka tidak memiliki hak untuk berpendapat. Karena begitulah konsep masyarakat patriarki. Tokoh Nyai Ontosoroh ini menjadi pembeda, karena dia adalah perempuan yang belajar dari membaca, memiliki pengetahuan yang luas, memiliki prinsip yang kuat, terutama dalam soal bagaimana kehidupan perempuan yang setara. Dia memimpin perusahaan, di rumah tangganya dia setara dengan suaminya sendiri. Dan pada zaman itu, perempuan yang membentak suami, meskipun karena kesalahan suaminya, itu tindakan yang tabu sekali. Dia menjadi perempuan yang menonjol dari sisi sikap hidup, prinsip hidup, kecerdasan, dan emansipasinya.

Terakhir, tentang Robert Mellema, kenapa dia sampe sebenci itu terhadap pribumi, bahkan termasuk kepada Ibunya sendiri?

Robert Mellema itu salah satu orang dari banyak orang pada zaman itu yang menganggap bahwa menjadi Belanda itu lebih terhormat. Manusia jenis begini tipikal manusia yang memuja status sosial berdasarkan keturunan dan ras. Diskriminasi sosial waktu itu amat parah. Orang Belanda adalah masyarakat kelas atas, sementara pribumi adalah masyarakat kelas bawah. Karena Robert berasal dari Bapaknya yang Belanda totok dan Ibu seorang pribumi, berarti secara ras, dia dianggap sebagai Indo, Belanda totok bukan, pribumi juga tidak. Dari situ kemudian tumbuh sikapnya untuk menilai rendah pribumi dan menganggap bahwa ras Ayahnya adalah sebagai ras yang terhormat. Lihat saja bagaimana kesombongannya terhadap Minke hanya karena dia seorang yang inlander, seorang pribumi. Sebuah perasaan “saya ini dari suku bangsa atau ras yang terhormat,” dan merasa berhak menghinakan bangsa dan ras yang lebih rendah dari itu. Itu yang disebut dengan diskriminasi rasial. Rasialisme yang dilakukan Robert, persis seperti yang lagi heboh di Amerika hari ini terhadap George Floyd. Perasaan angkuh, merasa ras kulit putih lebih baik, dan ras kulit hitam itu hina. Sehingga dia bisa diperlakukan seperti apa saja. Perasaan itu tumbuh di dalam diri Robert Mellema, yakni perasaan diskriminatif dan pikiran rasis. Robert Mellema adalah seorang rasis.

Sebagai penutup, saya memberikan beberapa catatan sebagai kesimpulan dari diskusi dan bedah buku ini;

1) Novel “Bumi Manusia” adalah novel yang mendeskripsikan tentang suasana Indonesia di masa penjajahan kolonial Belanda, dengan Minke sebagai tokoh utama yang memperjuangkan kemerdekaan, juga keadilan serta hak yang setara bagi bangsanya.

2) Kita harus memperjuangkan hak-hak kita, walaupun tahu kita tidak akan menang. Karena lebih terhormat kalah setelah berjuang daripada mengalah pada penjajah.

3) Kita boleh membuka pikiran kita pada nilai-nilai ilmiah dari bangsa lain, tapi tetap tidak boleh melupakan nilai yang utama dari bangsa kita sendiri. Karena tentu tidak semua yang ditanamkan dari bangsa lain yang kita anggap lebih modern itu benar dan sesuai. Dan kita juga tidak boleh menutup pikiran untuk tidak menerima pemikiran ilmiah dan hanya terfokus pada ajaran leluhur semata.

4) Pola pikir kita dapat berkembang lebih baik dan bisa berpikir kritis setelah membaca lebih banyak dan merasakan langsung kejadian. Referensi buku dan ditambah dengan pengalaman, akan memberikan kita pemahaman yang lebih utuh.

5) Kita tidak boleh men-cap semua orang Belanda itu buruk. Karena yang menjajah Indonesia itu pemerintah kolonial yang mengatasnamakan bangsa Belanda. Maka bukan berarti yang menjajah itu semua orang Belanda. Karena ada juga individu yang bersimpati dan ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jadi yang kita lawan pada masa itu dan masa yang akan datang adalah sikap diskriminasi serta paham dan tindakan rasis. Itulah alasan mengapa kita perlu memperluas cakrawala pemikiran dengan menerima pemikiran luar yang lebih modern dan maju.

6) Sebagai perempuan, kita bisa banyak mengambil pelajaran dari Nyai Ontosoroh. Dengan melatih diri untuk menjadi perempuan tangguh dan memperjuangkan hak-haknya, selalu membaca dan belajar, mengurus perusahaan besar tanpa bergantung pada orang lain, juga menjadi tegas dan berwibawa dengan tanpa memudarkan keanggunannya.

Sekian.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai