kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Menari di atas Panggung yang Diangkut Kawannya Sendiri

“Kukuh : kuat terpancang pada tempatnya; tidak mudah roboh atau rusak.”


Oleh Muhammad Syah Dewa Thalib

Aku adalah seorang pecandu nikotin yang diproduksi oleh Negeri Paman Sam, sebut saja nama nikotin itu Marburiq. Aku tidak seperti anak muda di Amerika yang gemar membaca, apalagi menulis. Sungguh, mendengarkan puisi atau syair pun terbilang sangat jarang, dan bahkan hampir tidak pernah kulakukan. Aku bukan seorang droogstoppel (sang makelar kopi) yang ada di dalam novelnya bung Pram, yang tertarik untuk menjadi seorang penulis setelah membaca tulisan dari Sjaalman. Tapi aku hanyalah seorang pecandu nikotin yang ingin menjadi penyusun kata-kata kebenaran sebagaimana pesan droogstoppel:

“Jika kau ingin merangkai kata-kata, baiklah; tapi jangan mengucapkan sesuatu pun selain kebenaran.”

Maafkan aku, wahai kamu, para pembaca yang baik. Memang seperti inilah aku. Suka bertele-tele dalam menyampaikan suatu kebenaran. Maafkan jika itu menyita waktumu. Dan kurasa perkenalan tentang aku cukup sampai di situ, karena aku takut kamu akan segera meninggalkan tulisanku ini dan beralih ke layar media sosial yang penuh dengan kebohongan itu. Sekali lagi, maafkan aku. Dan mari kita berkumpul dan mendekat untuk mendengar ceritaku lebih lekat.

Kali ini aku ingin bercerita tentang bencana alam yang menimpa suatu daerah terpencil, daerah yang masih disebut sebagai daerah terisolir. Daerah yang dipenuhi oleh masyarakat yang sangat mencintai tanah, kayu, air, udara dan seluruh yang ada di dalamnya.

Suatu waktu di musim penghujan, hujan turun deras berderai. Setelah sekian lama tidak berhenti, air laut naik ke permukaan, lalu kemudian terjadilah apa yang ditakutkan, banjir bandang. Banjir besar yang luas dan tinggi. Meluluh-lantahkan hampir seluruh yang ada di desa itu. Hanyut dibawa arus; Manusia, tumbuhan, hewan, rumah, lemari, meja, buku-buku, kerajinan tangan tugas sekolah, uang, dan harta benda lainnya, semua lesap ditelan banjir. Yang tersisa adalah kenangan.

Mendengar kabar itu, banyak orang turut berbela sungkawa, banyak yang bersimpati dan tergerak mengulurkan bantuan. Termasuk mahasiswa. Seperti sekelompok mahasiswa perantau yang berhimpun dalam sebuah Himpunan Pelajar. Mereka segera merencanakan aksi penggalangan dana, dengan tujuan memberi bantuan kepada korban yang masih tersisa.

Maher bergegas meninggalkan rutinitas kampusnya untuk mengikuti aksi kemanusiaan itu. Ia adalah mahasiswa yang juga salah satu anggota di himpunan mahasiswa itu.

Aksi ini diinisiasi oleh ketua Himpunan, yang kemudian disebar melalui grup media sosial Himpunan. Sesampainya di lokasi, Maher mendapati hanya ada tiga orang yang hadir termasuk dirinya. Dua orang lagi adalah si Ketua dan si Unus saja yang terlihat batang hidungnya.

“Kemana yang lain,” batinnya. Padahal himpunan ini beranggotakan puluhan orang. Tapi, mereka bertiga bersepakat untuk tetap melanjutkan aksi, mereka tak gentar dan apalagi balik mundur dari barisan hanya karena jumlah yang sedikit. Sebab berapa pun yang hadir, bukan menjadi persoalan besar yang bisa menghentikan niat awal mereka. Sebuah idealisme yang kukuh. Tekad mereka kukuh, seperti arti kata itu di KBBI, “kuat terpancang pada tempatnya; tidak mudah roboh atau rusak”.

“Soekarno mengatakan,” ketua Himpunan mulai memberi semangat, “dia sanggup mengguncang dunia dengan 10 pemuda saja, dan catatlah, kita mesti menjadi bagian dari sepuluh pemuda itu,” ucapnya penuh gelora sembari menatap kepada Unus.

“Jumlah orang bukan masalah. Iya, kan, Bung?” Ujar Maher sambil menepuk bahu Unus.

“Yoooi, Meen! Kebaikan takkan pernah mati!” Jawab Unus sambil memegang poster penggalangan dana.

Ketiga mahasiswa penuh semangat itu berdiri dan berjalan dari satu simpang ke simpang lain, dari satu gang ke gang lain, dan tetap setia di bawah sengatan terik matahari. Aksi berjalan lancar, keringat juga mengalir lancar, hingga selesai tanpa ada halangan yang berarti. Semua berjalan mulus dan halus bagai wajah beauty vlogger. Astaga, wajah beauty vlogger itu mulus sekali. Kau tahu? Apabila semut melintasi wajahnya, meskipun baru selangkah, semut itu pasti langsung tergelincir dan jatuh. Macam jembatan sirotul mustaqim!

“Di kardusku, total uang sebanyak 290 ribu, Her,” ucap Unus kepada Maher yang saat itu sedang menghitung uang yang ada di dalam kardus yang dia bawa.

“Kalau di kardusku totalnya 170 ribu, Nus,” jawab Maher kemudian.

Si Ketua yang sedari tadi tak banyak bicara, tiba-tiba mengeluarkan handphone dan langsung meminta Unus untuk merekam dirinya sembari memegang kotak kardus yang bertuliskan “Aksi Kemanusiaan Untuk Korban Banjir”.

“Saat ini saya sedang melakukan penggalangan dana untuk membantu saudara kita yang terdampak bencana banjir bandang. Uang ini akan saya salurkan dalam bentuk sembako ataupun kebutuhan yang diperlukan oleh saudara kita di sana.”

Kurang lebih seperti itu kata-kata yang keluar dari mulut Ketua saat direkam oleh Unus. Kemudian video singkat itu langsung disebar oleh si Ketua di akun media sosial pribadi miliknya.

Maher yang kukuh, meski telah bersimbah peluh pun kaget bukan kepalang. “Ada yang tak beres,” batinnya. Ia terbangun dan tersadar bahwa ada sebuah kejanggalan di aksi yang baru saja digelar di sore yang lekas pudar tadi. Ia lalu membuka video sang Ketua yang sudah tersebar di media sosialnya. Perasaannya berkecamuk antara geram dan kesal. Tapi apa boleh buat, Maher tidak mau niat baiknya luntur hanya karena melihat kesombongan kecil seperti itu.

Wahai kawan pembaca, aku masih mengingat pesan dari droogstoppel, yakni jika harus menulis, sampaikanlah kebenaran di tulisanmu. Lalu, apakah kebenaran dari tulisan ini?

Maher meyakini bahwa aksi tadi digelar dalam naungan Himpunan, tetapi yang disadarinya kemudian tidak seperti itu. Kata “saya“ yang diucapkan oleh ketua di dalam video unggahannya itu, justru membuat Maher seperti terjatuh dari tebing yang di bawahnya terdapat bebatuan yang besar dan kerikil yang tajam. Ini bukan sesederhana persoalan penggunaan kata “saya” atau “kami” ataupun “kita”. Tapi, bukankah ketika bung Karno mengatakan, “beri aku 10 pemuda”, pada saat itu urusannya bukan lagi urusan pribadi? Namun, ia telah menjadi urusan bersama, urusan solidaritas sosial, urusan kesetiakawanan sosial.

Harapan Maher hancur, karena seolah-olah penggalangan dana tersebut berubah arah menjadi bersifat personal. Kedua alis Maher hampir saja tersambung. Ia hanya bisa mengerutkan dahi, menciptakan gelombang pasang air laut. Bagi Maher, perlakuan seperti itu sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin. Mencari ketenaran di tengah aksi kemanusiaan adalah tindakan tak ber-perikemanusiaan! Bernyanyi di atas panggung yang diangkut oleh kawan-kawannya sendiri. Bullshit! Pemuda yang ia sebut di antara 10 pemuda bung Karno tadi hanya bualan, omong kosong belaka. Persis, bualan politisi nangka busuk.

Memang benar, seorang pemuda yang peduli dengan kemanusiaan itu luar biasa, apalagi niat baik itu diketahui oleh orang tuanya, betapa bahagianya para orang tua yang tahu bahwa anaknya adalah seorang manusia yang dibekali kepedulian yang begitu dalam antar sesama. Sikap peduli di tengah budaya individualistik adalah kemewahan.

Orang bijak berkata, “apa yang kau lakukan di masa muda mencerminkan kau di masa tua nanti.” Lalu, bagaimana jadinya masa depan rakyat, bila kelak mendapat seorang pemimpin yang berlaku seperti si Ketua itu?

“Ketua,” bisik Maher pada dirinya sendiri, “bagaimana jadinya ketika engkau kelak duduk sebagai pemangku kekuasan? Apakah kau dapat berlaku adil dan bertanggung jawab?”

Di sore menjelang maghrib itu, Maher langsung menyerahkan semua total sumbangan yang ia kumpulkan, lalu kemudian pulang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Betapa teramat tertekan perasaannya. Dan juga si Unus. Meski mereka sudah letih dan berkeringat, mereka tetap tidak menunjukkan wajah marah dan kesal sedikit pun. Meski mereka sadar, mereka hanya dijadikan pundak tempat melompat untuk mengambil buah di dahan yang tinggi oleh si Ketua.

“Hari ini aku belajar banyak bagaimana caranya berdiri di tengah arus yang berlawanan,” ucap Maher. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, “seperti apa yang baru saja kualami. Aku terperangkap di dalam kepentingan pribadi seseorang, yang ingin sekali meraih eksistensi besar di tengah jerit kesusahan masyarakat dengan menunggangi kawan-kawanya serta organisasi.”

Aku terdiam, sembari mendengarkan cerita Maher kawanku ini. Cerita yang kelak kujadikan tulisan yang sampai ke hadapan pembaca sekalian. Tulisan ini adalah pesan dari Maher, kawanku yang baik. Sebagaimana petuahnya di akhir percakapan kami malam itu;

“Pesanku, jangan sampai niat baik kita tercederai hanya karena niat jahat orang yang ada di sekeliling kita. Suatu waktu, kebohongan dan kejahatan itu akan terungkap dengan sendirinya. Sebab dunia, selain dilumuri keburukan, juga menampung kebaikan demi kebaikan. Dan kita, tetaplah berada di arus kebaikan itu. Meskipun itu melawan badai. Jangan gentar. Apalagi hanya karena kesombongan yang sepele.”

Marburiq di kotak tersisa sebatang. Aku dan Maher bersepakat menghisapnya bergantian. Bersolidaritas, meski dalam kesederhanaan adalah kemewahan tiada tara, sedangkan berkhianat, meskipun bergelimang kemewahan dunia, tetap saja sebuah pengkhianatan.

Salam,

Mouriq Anspruchlose, Pecandu Nikotin.


Muhammad Syah Dewa Thalib, mahasiswa Fisipol – UMY, berasal dari Gorontalo.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai