“Tuamu gak keren banget, ya?”
Oleh Ziyad Ahfi
Sore-sore begini jadi ingat sesuatu. Tiba-tiba kepikiran soal percakapan tempo lalu. Sebelum COVID-19 menyerang.
Di atas bangku depan teras kontrakannya, aku dan kawanku duduk santai sambil menikmati lalu-lalang kendaraan dan langkah cepat pejalan kaki yang diburu malam.
Ditemani dua cangkir kopi, sebungkus rokok untuk berdua, dan asbak yang kami sulap dari bekas botol air mineral.
Dari semua obrolan panjang dan tak berujung di sore yang pudar itu, ada satu pembahasan yang paling membekas di dalam diriku dari sepersekian pembahasan yang tak pernah habis untuk kami percakapkan.
“Bung,” tegurku, “kalau seandainya dikasih umur panjang, kau mau tua di mana?”
Karena kebanyakan ngelamun, ia kaget dan memintaku mengulang kembali pertanyaannya. Kemudian kuulang, dan dia menjawab, “aku mau tua di hutan,” jawabnya mudah, ditambah senyum tipis khas anak introvert yang sedang mencoba bahagia.
“Loh? Kenapa? Ga takut dimakan harimau? Kan di sana gak ada Mall?” balasku penuh penasaran.
“Bosen hidup di Kota. Brisik. Banyak klakson. Napas aja udah susah. Kalau soal dimakan harimau, iya juga sih. Aku juga takut sama ular dan babi hutan. Tapi orang-orang yang di pedalaman sana kok aman-aman aja ya? Ya, kayaknya aku juga bisa aman, dan tentunya, seru. Mungkin cita-citaku ini dipengaruhi oleh bukunya Fawwaz Albatawi tentang Sokola Rimba, yang berjudul ‘Seandainya Aku Bisa Menanam Angin’. Dah gitu aja sih. Emangnya kenapa nanya gitu? Tumben amat.”
“Ga ada. Iseng aja. Siapa tahu suatu saat nanti kita ga bakal bisa ngeluangin waktu kayak gini lagi. Duduk. Ngelamun. Ngobrolin hal-hal aneh yang ga kepikiran sebelumnya. Setidaknya aku bisa tahu, kalo udah tua nanti, aku ga perlu repot nyari tahu di mana kau tinggal. Alasannya cuma satu sih, cuma untuk mastiin, kau masih hidup apa enggak. Cuma itu. Hahaha.”
“Sialan!” gubrisnya, dengan diiringi seperangkat bahasa kebun binatang yang menyertainya.
“Eh,” sela-ku lagi, “emang di sana google map nyampe?”
“Sue!”
Lagi-lagi dia mengumpat kasar, meski bibirnya tersenyum.
“Kalo kau sendiri,” kini dia yang memulai, “kau mau tua seperti apa?”
Kali ini pertanyaannya berbeda. Kalau tadi aku bertanya “di mana?”, sekarang dia bertanya “seperti apa?”. Menarik.
Dengan cara seksama dan dalam tempo yang se-santai-santainya aku menjawab, “aku pernah kepikiran sih soal ini. Semenjak aku sering ngeliat bapak-bapak gendut sarungan, oblongan, yang kerjaannya cuma ngopi, ngerokok, sambil main burung pagi-pagi di depan rumah, kayaknya seru. Kalau dilihat-lihat, hidup yang seperti itu, hidup tua yang paling layak. kayak gak ada beban di kepala mereka. Duh, syahdunya.”
“Tuamu gak keren banget ya?” timpalnya segera. “Emangnya kau gak punya cita-cita lain, selain main burung? Gak mulia amat punya cita-cita.”
“Loh? Kenapa hidup yang sederhana begitu kau bilang gak mulia?” tanyaku penasaran.
“Itulah alasanku kenapa mau hidup di hutan. Karena di kota, burung-burung berkicau di dalam sangkar, bukan di atas pohon. Kau mencari kesenangan dengan cara ngandangi burung, biar kau bisa dengerin kicaunya tiap pagi dan petang. Sama aja kau sedang berbahagia di atas penderitaan orang lain. Kenapa kau gak tanam pohon sebanyak-banyaknya di halaman rumahmu yang luas sana? Bukan cuma pagi dan petang kau bisa denger mereka berkicau. Tapi pagi, siang, sore, malam. Bahkan dengan jumlah yang sangat banyak.”
Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku membatin malu sekaligus meng-amini apa yang ia sampaikan. “Iya juga ya”. Aku berusaha menyembunyikan kebenaran itu. Aku hanya diam dan membisu. Cita-cita sederhana yang sering kubayangkan saban hari, sore itu musnah dan tenggelam.
Aku mengangguk sembari menghisap rokok dalam-dalam. Pura-pura santai tapi sebetulnya sedang ceming. Ah, brengsek. Si Kawan benar juga. Kenapa ya cita-citaku sesempit itu. Sama sempitnya seperti sangkar burung pak Haji yang rumahnya berada di ujung gang kontrakanku.
Kemudian aku mencoba mengalihkan pembahasan. Supaya aku terhindar dari perasaan bersalah. Tentunya, dari wajah memerah yang sulit diubah setengah mampus meski sudah dibungkus kebohongan paling rapat sekalipun.
Belum sempat melempar topik baru, tanpa interupsi, ia melanjutkan hafalan panjangnya.
“Coba deh, kau bayangin. Kita manusia menginginkan kebebasan, tapi di sisi lain, kita tidak membebaskan makhluk lain hanya demi kepuasan bebas kita semata. Itulah kenapa aku membenci manusia yang beraliran Antroposentris (manusia adalah pusat alam semesta). Mereka sok berlagak paling adikuasa di muka bumi ini. Sedang kita–manusia–kalau boleh jujur–adalah spesies yang tidak pernah menghasilkan apa-apa. Taik kerbau bisa dijadikan pupuk, taikmu bisa apa, bung?”
“Kalau hidup di zaman kolonial dulu mungkin taikku masih berguna buat nimpukin penjajah. Tapi untuk sekarang, jangankan untuk bangsa dan negara, septic tank aja udah insecure mau nerimanya. Haha.” jawabku santai, walau dia menyadari aku hanya sedang berpura-pura mencairkan suasana.
“Memangnya kau ini seorang yang beraliran apa?” tanyaku lagi.
“Aku cenderung Biosentrisme (suatu pandangan bahwa manusia dan lingkungan secara moral merupakan satu komunitas). Tapi jika alam terus-terusan dieksploitasi oleh manusia, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi keberlangsungan kehidupan semua makhluk, mungkin saja aku bakal menjadi seorang Misantropis (membenci manusia). Dan maaf, apabila nantinya aku mulai menjauh dan berjarak dengan kalian. Termasuk kau.”
“Jangan serius begitu bung. Bawa rokok-an dulu lah. Itu abunya mau jatoh. Lempar dulu ke asbak. Nih, minum dulu. Biar ga seret.”
Aku sedikit khawatir sebenarnya kalau kawanku sudah mulai serius begini. Aku seperti sedang terdampar di dalam ruang interogasi polisi. Salah sedikit, aku bisa disetrum atau ditampol berulang kali.
“Katanya nanti bakal kangen ngobrol kayak gini lagi. Yaudah, sesekali aku mau serius. Biar suatu saat kau ingat, bahwa aku pernah seserius ini. Dan kau bisa memberitahu ke kawan-kawan yang lain, kalau aku, laki-laki yang tidak banyak berteman ini, akan tua di hutan. Ingat baik-baik ya, Tua di Hutan.”
“Oke, bung. Aku udah nyiapin alasan singkat untuk itu.”
“Apa?”
“Aku tinggal bilang aja kalau kau mau udah jadi Tarzan. Hahaha.”
“Brengseeeeeek,” sambarnya cepat. Kemudian kami saling tertawa geli dan membayangkan bagaimana kalau misalnya kawanku gelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain. Penisnya ditutupi pelepah pisang. Taring harimau melilit di sekujur lehernya. Dan tanduk rusa melekat di atas kepalanya yang botak dan lonjong.
“Jadi gimana, bung?” Ia bertanya di penghujung senja, “masih mau ngandangin burung?”
Aku tidak menggubris. Suasana sedikit melunak. Kawanku membakar ulang rokoknya yang sudah mendarat di ujung batang filter. Dan aku masih tetap menghisap kretek yang tinggal menyisakan api di pertengahan batang. Azan magrib berkumandang di mana-mana. Burung-burung berkicau–mencari tempat pulang–meski kita tidak pernah tahu apa yang sedang mereka pikirkan–barangkali, di antara kerumunan burung itu, ada yang sedang mencari anak, ayah, atau ibu mereka yang entah di sangkar sebelah mana.
Sumber foto dari akun twitter @/faith_michael_
