“Marti sedang menyulut kita untuk seutuhnya menjadi manusia.”
”Mankind is composed of two sorts of men – those who love and create, and those who hate and destroy”.
Jose Marti
Begitulah salah satu kata-kata fenomenal Jose Marti, sang Bapak Revolusi Kuba. Setelah membaca riwayat hidup dan pemikirannya di jagat maya, saya agak kebingungan dengan kata-katanya yang satu ini.
Pasalnya, beliau juga mengatakan di kesempatan lainnya bahwa “Cinta ialah kebencian yang tak pernah puas pada yang menindasnya”.
Hal ini tentunya menghadirkan sebuah perdebatan. Soal apa yang sebenarnya Marti coba sampaikan? Atau, bagaimana konsep cinta tanah air yang digagas oleh tokoh terpenting sejagad kemerdekaan Amerika Latin itu?
Bisa jadi, Marti mencoba menyerang kaum ekstrimis yang acap kali menebar kebencian. Orang-orang yang tidak suka kedamaian, dan membuat api-api baru di hati masyarakat di sekitarnya. Mereka yang tidak berminat untuk mencipta. Kehilangan karsa, bagai tak bernyawa.
Namun, bukankah Marti juga seorang radikal? Bukankah ia salah satu yang terdepan dalam melawan penjajahan Spanyol dan aneksasi Amerika Serikat atas negaranya? Bagaimana bisa itu terjadi tanpa kebencian?
Atau mungkin, Marti justru sedang menyindir masyarakat yang mementingkan cinta dibandingkan perjuangan. Mereka yang tidak menghendaki perlawanan dengan dalih cinta dan kasih sayang. Atau yang gemulai dimabuk cinta, hingga lupa menghancurkan kebiadaban-kebiadaban yang merantai bangsanya.
Walakin, Marti juga seorang pecinta. Ia membangun kata dengan rasa. Ia-lah yang menganggit berbagai mahakarya yang membangkitkan gelora. Bukankah yang ia lawan sebenarnya adalah mereka yang tak memiliki cinta? Yang menjadikan warna sebagai alasan merenggut nyawa?
Sepertinya Marti sedang membangkitkan api pemikiran siapapun yang membaca karyanya. Mungkin ia sedang coba mengenalkan sebuah paradigma baru pada orang-orang di sekitarnya.
Bisa jadi, yang ia maksud ialah mereka yang kehilangan daya cipta karena kebenciannya, dan kehilangan semangat menghancurkan kemunkaran sebab kelembutan hatinya. Marti sedang menyulut kita untuk seutuhnya menjadi manusia.
Sebenarnya ia tak sedang membagi manusia ke dalam dua kelompok yang saling berlawanan. Namun ia hanya mencoba menyatukan hati-hati yang bergetar saat melihat ketidakadilan. Air mata yang menetes saat melihat perbudakan, dan harga diri yang terinjak di atas tempat ia dilahirkan.
Marti sedang mengarahkan kita untuk terus mencintai tanah air, dan membenci apa-apa yang mencoba menindas apa yang kita cintai. Sekali lagi, apa-apa. Bukan, siapa-siapa. Ia memberikan kita prespektif baru tentang siapa yang layak dicintai dan apa yang semestinya dibenci.
Apapun itu, saya coba pula hadirkan sekelumit kisah Bung Besar, Sukarno, untuk memberikan sudut pandang lain dan semoga bisa menjadikannya sedikit penerangan atas apa-apa yang masih remang.
Hari itu bangsa Indonesia sedang hamil besar. Menjalani bukaan demi bukaan menjelang kelahiran republik baru, yakni Indonesia. Paduka sedang berada di halaman rumahnya bersama beberapa pasukan keamanan.
Jakarta sudah mulai dikuasai oleh “orang-orang kita”. Maklum, mereka tentu ingin sang Ibu dan buah hatinya bersalin dengan selamat, dan mereka menjaganya dengan sepenuh jiwa dan raga.
Tak lama, mendaratlah sekian banyak perbekalan dari pesawat milik Kolonial. Sepertinya mereka meleset dari target sesungguhnya, yang adalah kamp mereka tidak jauh dari kediaman Bung Besar. Para pasukan yang memang kurang perbekalan langsung menyerbu makanan-makanan kaleng itu dan ingin segera melahapnya.
Bung Karno melarang mereka. Ia berkata bahwa itu bukanlah hak mereka. Walaupun mereka penjajah, namun mereka pula manusia. Kita boleh membenci penjajahan, tapi tak boleh membenci manusianya.
Dari dua prinsip oleh dua orang besar tersebut, yakni Jose Marti dan Bung Karno, ada satu irisan yang bisa kita lihat, bahwa benci, bukanlah lawan kata dari cinta. Benci adalah bagian cinta. Keduanya adalah subyek, sedangkan di antara kedua subyek itu, ada “nilai” yang menjadi obyek. Cinta kepada tanah air, sekaligus membenci penjajahan. Dua hal itu tidak bisa dipisahkan. Justru yang menjadi lawan kata dari “cinta” adalah “menutup diri dari nilai kemanusiaan”. Ketika manusia berubah menjadi lebih hina dari binatang, dan mencampakkan satu-satunya mahkota kehormatan, yakni: akal budi.
Demikianlah. Semoga perjuangan bergelora, dan cinta senantiasa semerbak wanginya.
Sumber foto: janataweekly.org
