kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Selamat Jalan, Buya

“Jangan pelajari kebenaran dari ahlinya. Tapi belajarlah dari kebenaran supaya kau tahu ahlinya.”


Oleh A. S. Kartik Salokatama

Beberapa menit sebelum azan Subuh berkumandang. Jam weker berbunyi dan saya terbangun untuk mematikannya. Seperti kebanyakan dari teman-teman pembaca, sebelum merenggangkan dua ratus enam tulang belulang dalam tubuh, terlebih dahulu saya meraih gawai. Mencari informasi apa saja yang terlewatkan selama lelap malam itu.

Sontak saya terkejut. Bagaimana tidak? Membaca berita tentang wafatnya salah seorang cendikiawan muslim Indonesia saat ini, Muhammad Nursamad Kamba. Rasanya baru saja saya selesai membaca bukunya dan mendoakan kesehatannya kemarin lusa. Sekarang beliau tak lagi bisa ditanyai tentang hal ini dan itu.

Saya selalu melihat sosok beliau sebagai seorang ulama besar. Kalau bahasa mas Ulil Abshar Abdalla, beliau adalah seorang sufi yang sebenar-benarnya, baik secara ajaran maupun amalan. Walaupun saya yakin, beliau tak sudi dipanggil begitu. Pasalnya betapa banyak dan dalam ilmu yang terkandung di setiap ucapan-ucapannya pada setiap perjumpaan. Belum lagi jika kita membaca karya-karyanya.

Sebut saja buku Tuhan Maha Asyik 1&2, serta dua karya terjemahannya, yakni Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw. dan Sejarah Otentik Politik Nabi Muhammad Saw. Empat karya inilah yang menjadi pengantar saya untuk mengenal alam pikir beliau lebih jauh. Memahami mengapa Mbah Nun selalu menyerahkan forum kepada beliau setiap pembahasan bergeser ke topik keagamaan yang lebih rumit. Lebih membutuhkan banyak penjelasan dan dalil.

Banyak sekali kata-kata beliau yang mengena di hati saya. Belum lagi yang memang tercatat dalam catatan gawai saya. Maklum, saya biasa mengibaratkan diri sebagai Imam Ghazali (sebelum kemalingan). Yang berfokus pada catatan-catatan, alih-alih menyimak dan memahami kata-kata dalam setiap pertemuan, khususnya di acara Maiyahan.

Kembali lagi kepada sosok Buya Kamba yang bagi saya sangat menginspirasi. Setidaknya ada tiga pengalaman saya dengan beliau yang sangat mengena dan membuat beliau menjadi salah satu yang memiliki posisi khusus dalam hidup saya (bersama Mbah Nun, tentunya).

Pertama, perjumpaan pertama saya dengan beliau ialah saat pertama kali saya datang ke Kenduri Cinta tahun 2018 lalu. Saya sempat menyinggung pengalaman saya yang ini di tulisan Saya, Emha dan Maiyah. Saat itu saya datang sendiri dan beliau yang sedang berbicara. Terbesit di pikiran saya, siapa ya orang ini? Kata-katanya begitu mengalir dan menyejukkan.

Kebetulan orang di samping saya sedang berbincang dengan temannya, dan ia menanyakan hal yang sama dengan yang terbesit di benak saya barusan. Temannya mengenalkan beliau sebagai Buya Nursamad Kamba. Marja’ Maiyah. Ahli Tafsir. Doktor pula. Saya tertegun. Ternyata ada doktor yang ahli tafsir dengan pembawaan yang tidak membosankan. Jauh dari penampilan yang menyegankan. Hanya dengan koko putih dan celana jeans saja. Namun ilmu dan tingkat peresapan hati saya terhadap kata-katanya, mungkin jauh di atas para da’i mainstream lainnya. Sebuah perjumpaan pertama yang membekas di hati.

Kedua, pengalaman bertanya lewat pesan pribadi Instagram. Hal ini juga membuat saya tertegun. Bagaimana beliau selalu menyempatkan untuk membalas pertanyaan-pertanyaan terkait karyanya maupun hal-hal keagaamaan lainnya (setidaknya menurut pengalaman saya).

Saya sempat bertanya terkait isi bukunya dan terakhir saya juga sempat mendoakan kesehatan beliau saat mendengar tentang kondisi kesehatannya yang memburuk. Saya juga berterima kasih atas jasa beliau menerjemahkan karya yang baru saja saya baca waktu itu, “Sejarah Otentik Politik Nabi Muhammad Saw.” Dan seperti biasa. Beliau selalu membalas dengan penuh keramahan. Walaupun singkat. “Senang mendengarnya, terima kasih”, begitu balasnya.

Terakhir, perjumpaan pamungkas kami di Kenduri Cinta bulan Februari lalu. Ada satu perkataan beliau yang sangat masuk ke dalam hati saya. Saya tetapkan menjadi salah satu dari dasar pembelajaran saya yang tentu masih sangat jauh perjalanannya ini.

Beliau mengatakan: “Jangan pelajari kebenaran dari ahlinya. Tapi belajarlah dari kebenaran supaya kau tahu ahlinya”.

Ya. Begitulah. Dari kebenaran-kebenaran yang saya temui dalam perjalanan hidup sejauh ini, saya yakin betul bahwa beliau ialah salah satu ahlinya. Baru saja beliau merampungkan bukunya yang berjudul, “Mencintai Allah Secara Merdeka”. Kini beliau akhirnya telah merdeka. Menyatu dengan Dzat yang Maha Tinggi.

Selamat jalan, Buya. Sampai jumpa lagi.


Sumber foto: CakNun.com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai