kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Corona Ini (Tak) Membunuhku

“Kita harus pandai-pandai beradaptasi.”


Oleh Muhammad Iqbal

Di akhir bulan Mei yang lalu, saya menyempatkan diri bersilaturahmi ke rumah seorang kawan, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Selain untuk bersilaturahmi, saya juga diminta oleh Ibu saya untuk mengembalikan rantang makanan ke Ibunya, mengingat Ibu kawan saya itu juga seorang penjual makanan siap hidang di rumahnya.

Dalam obrolan santai kami, kawan saya bercerita bahwa dia baru saja dipecat dari pekerjaannya beberapa hari lalu. Mendengar kabar kurang baik itu, tentu saya turut prihatin atas apa yang telah menimpanya.

Selang berapa lama kemudian, bang Somad, kawanku yang lain, datang dan juga ikutan nimbrung ke dalam obrolan kami. Bang Somad adalah seorang pengusaha makanan kaki lima, sebelum badai COVID-19 ini menyerang, bang Somad mengatakan bahwa dia memiliki 4 buah gerobak makanan yang tersebar di kota Pontianak. “Gara-gara COVID-19, hari ini sisa satu gerobak aja,” ucap bang Somad.

Baik bang Somad maupun kawan saya tersebut juga mengalami permasalahan yang sama akibat terpaan badai Corona atau COVID-19. Ia tidak hanya menyerang perusahaan besar, bahkan telah melumpuhkan banyak sektor ekonomi hari ini. Hal ini tentunya bukan saja dirasakan oleh bang Somad dan kawan saya saja, hampir semua orang merasakan dampak yang sama.

Menurut Kementrian Ketenagakerjaan, hari ini lebih dari 2 juta orang telah mengalami PHK dan angka itu terus bertambah. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah, mengungkapkan data terbaru Kemnaker per-20 April 2020, jumlah pekerja yang terdampak COVID-19 total sebanyak 2.084.593 pekerja dari sektor formal dan informal yang berasal dari 116.370 perusahaan.

Rinciannya jumlah perusahaan dan pekerja formal yang dirumahkan adalah 1.304.777 dari 43.690 perusahaan. Sedangkan pekerja formal yang di-PHK sebanyak 241.431 orang pekerja dari 41.236 perusahaan.

“Sektor informal juga terpukul karena kehilangan 538.385 pekerja yang terdampak dari 31. 444 perusahaan atau UMKM,” demikian tutup Menaker.

Selain permasalahan PHK, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang merupakan wadah untuk mengentaskan kemiskinan pun turut kelimpungan. Pak M. Fahmi S.E, M.M.,Ak.,CA., salah seorang dosen saya, dalam sebuah diskusi terkait dampak COVID-19 terhadap UMKM, menyampaikan data dari UMKM Crisis Center bahwa sampai hari ini terdapat sekitar 6.405 UMKM yang terdampak. Pandemi menambah kesulitan usaha-usaha kecil hingga tingkat menengah untuk bertahan.

Dengan begitu parahnya permasalahan yang ada, pemerintah tentunya berupaya mengambil kebijakan dan langkah-langkah yang dapat membantu masyarakat yang terdampak dari COVID-19 ini. “Ya, walaupun pemerintah sedang menyiapkan rencana untuk bantuan kepada orang-orang yang kena dampak Corona kayak kita, tapi itu kan butuh waktu dan prosedur yang panjang,” ucap bang Somad. Saya mengangguk mendengar perkataan bang Somad tersebut, “bener juga bang Somad nih,” ujar saya dalam hati.

Beberapa hari setelah kami berbincang di teras rumah kawan saya, saya merencanakan untuk menjenguk gerobak bang Somad. Saya betul-betul pengen tahu keadaan bang Somad selama pandemi ini. Sesampainya di tempat bang Somad biasa berjualan, saya melihat beliau telah membuka kembali usahanya, sesuai dengan protokol new normal tentunya. “Mau bagaimanapun halangannya, kita tetep mesti berusaha,” tutur bang Somad. Kemudian ia melanjutkan, “hari ini orang-orang jadi lebih hati-hati, Bal, semua harus higienis”.

Dari pandemi ini, bang Somad belajar bahwa semua harus menyesuaikan diri dari keadaan dan perkembangan. Saat orang-orang tidak perlu keluar rumah misalnya, maka pola jualan online bisa dijadikan alternatif solusi. Berangkat dari situ, bang somad memasukkan produk makanannya ke aplikasi dan platform penyedia makanan secara online. Tidak hanya bang somad, kawan saya yang baru saja di-PHK juga melakukan usaha yang sama, mengingat Ibunya memang handal dalam usaha kuliner, kawan saya tersebut membuat usaha penyedia lauk yang dapat dipesan secara online. Melalui WhatsApp, Instagram ataupun media lainnya yang dapat menjangkau masyarakat luas di kota Pontianak.

Bang Somad dan kawan saya adalah contoh nyata mereka yang “belajar” dari kejadian buruk yang menimpa kita saat ini. Bang Somad yang awalnya “gaptek”, kini ia mulai belajar dan menjadikan teknologi sebagai solusi. Begitu pula dengan kawan saya tadi, yang mengambil peluang dari kemampuan memasak Ibunya.

Sebelum saya pulang dari gerobak makan bang Somad, dia sempat berpesan, “saat ini memang semua lagi susah, dan kalo nunggu bantuan pemerintah, keburu habis kita digilas keadaan. Tapi, sesulit apapun, berhenti bukan jawaban untuk semuanya, kita harus pandai-pandai beradaptasi,” ucap bang Somad kemudian, matanya tajam dan menatap saya dengan tatapan optimis.

Dari bang Somad dan kawan saya tadi, saya percaya bahwa manusia harus terus bergerak melawan segala bentuk kesulitan. Tidak usah menunggu, apalagi bantuan pemerintah yang tidak pasti. Lebih baik percayakan semua pada diri sendiri bahwa kita mampu, minimal untuk sekadar bertahan hidup. Karena, “di atas segalanya”, kata Hemingway, “manusia mesti bertahan,” sesulit apapun itu.


Sumber foto: ig @kopi_rakjat.id

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai