“Tak usah salahkan waktu.”
Oleh Taqiya Herman
Malam yang dingin. Hujan turun amat deras. Angin kencang disertai sambaran petir, membuat jendela yang masih terbuka lebar terhempas begitu saja. Menghasilkan dentuman yang memekakkan telinga. Suasana di dalam rumah yang tenang, seketika berubah menjadi gaduh oleh teriakan anak-anak yang ketakutan.
Malam yang mencekam. Namun, cuaca yang buruk, tak sedikit pun mampu mengusik konsentrasi seorang gadis yang saat itu tengah sibuk bergelut dengan tugas sekolahnya. Gelungan rambut yang kusut. Kening yang berkerut. Menjadi gambaran betapa ia dilanda kesulitan oleh tugasnya itu.
“TING!” Satu pesan masuk dari WhatsApp berhasil membuyarkan fokus. Mendadak ia merentak bangun dan meraih ponselnya. Senyumnya mendadak pudar setelah menyadari bahwa bukan notifikasi itu yang sedari tadi ia tunggu.
“Mengapa kau tak tidur saja, Nak?”
Perempuan paruh baya tiba-tiba berdiri di ambang pintu kamar. Wajahnya terlihat bingung setelah melihat ada yang tak beres dari raut wajah anaknya.
“Aku hanya belum mengantuk, Ma,” jawabnya pelan.
Perempuan yang dipanggilnya Mama tersebut menghela nafas dan kemudian berjalan menuju sofa.
“Duduklah, kita sudah lama tak berbicara berdua,” Mama menepuk sofa di sebelahnya, menyuruh duduk. Dengan diliputi keraguan, Salma berjalan mendekat.
“Ceritakan semuanya padaku,” ucap Mama membuka pembicaraan.
“Jika aku ceritakan semua, Mama harus janji tidak akan marah atau pun tertawa,” ia mengulurkan kelingkingnya dengan maksud meminta persetujuan.
Melihat itu Mamanya tertawa. “Ya! Mama bahkan sudah tertawa sebelum aku mulai bercerita,” Salma memanyunkan bibir. Merajuk.
“Baik, baiklah, Mama tak akan tertawa. Cerita lah,” lerai Mama menenangkan suasana.
“Kata temanku, dia menyukaiku,” ujarku. “Sudah beberapa bulan sejak ia menghubungiku, dan mulai mendampingiku menghadapi situasi keras ini. Ia juga menghibur bila aku sedih dan selalu menemaniku di kala sepi. Hebatnya lagi, ia bahkan tak marah saat aku menceritakan tentang teman pria, atau bahkan lelaki lain yang juga menyukaiku, Ma. Pria itu begitu memperhatikanku, bahkan di saat aku saja tak ingin memperhatikan diriku sendiri.” Sejenak gadis itu berhenti bicara, lalu kembali berujar, “tapi Ma, dia begitu jauh, lelaki itu.”
Salma mengambil jeda. Kepalanya tetap menunduk saat bercerita. Seakan tak sanggup menatap mata Mamanya.
“Lalu?”
“Aku hanya gadis biasa yang tak dapat mengelakkan perasaan itu,” ia mengakhiri ceritanya.
“Mama berani bertaruh, kau pasti memutuskan untuk berani menunggunya kembali bukan?”
Salma lantas bungkam. Kehilangan beribu kata untuk menjawab.
“Kau sangat menyukainya, ya?” perempuan paruh baya itu kembali menggoda anaknya, hingga wajahnya memerah.
“Apa Mama tak keberatan dengan keputusanku?” gadis tetap saja takut untuk menolehkan wajahnya.
Mamanya tersenyum takzim. “Salma, aku tahu sekarang kau sudah beranjak remaja. Dan aku pun sudah mengira hari ini pasti akan terjadi. Namun, Nak, kau itu gadis yang cerdas. Sejak kecil kau kubesarkan dari pekat darah dan asin garam kehidupan. Maka tentu tak sulit bagimu untuk menentukan apa yang baik bagi dirimu. Yang kau yakini takkan pernah menghancurkanmu.”
“Kau menyukainya, dan aku pun tak melarang itu,” Mama meraih dan memeluk pundaknya. Dirasakannya jantungnya tak berdetak selamban tadi.
“Tapi, kami akan berjauhan untuk waktu yang sangat lama. Apa itu akan baik-baik saja?” ia bertanya sekali lagi.
“Lalu, apa yang kau takutkan?” Mamanya menyelidik.
“Merindukannya,” jawabnya pelan. Bahkan sangat pelan, hingga suara itu teredam oleh desauan angin.
“Tak usah salahkan waktu. Karena kau juga tak seharusnya menolak rindu. Jarak lah yang mengajarkanmu bagaimana caranya menjaga percaya. Jarak pula lah yang mengajarkan kau untuk bersabar di saat salah satu dari kalian tak sempat memberi kabar.” Kembali Mama mengelus pelan kepala gadis sulungnya.
“Tapi, bagaimana jika semua itu hanya terjadi padaku saja?” tanya Salma.
“Hey, berhentilah mengkhawatirkan hal yang tidak pasti. Khawatirkan saja lah soal besok. Lawan ketakutan itu sampai ia benar-benar sudah berada di hadapanmu.” Mamanya menghibur, memberi semangat.
“Nah, hari sudah sangat larut. Kau tidur lah. Seharian berpikiran buruk pasti membuatmu begitu lelah.” Mamanya berkata seraya melepaskan pelukannya. Gadis itu menurut, lalu berjalan perlahan menuju kamar dengan hati ringan setelah mencium kedua belah pipi perempuan yang amat disayanginya.
Mungkin kisah ini tak seromantis kisah Romeo dan Juliet. Tak juga sedramatis kisah cinta Annelies dan Minke yang penuh perjuangan. Namun, kisah sederhana ini mampu menjadi alasan, mengapa senyum masih diizinkan Tuhan terlukis di wajah gadis kecil tersebut, terlepas dari betapa keras kehidupan telah berlaku padanya.
Ah, kerinduan, mengapa kau sungguh terasa menyesakkan?
Sumber foto @/ukhtihanma
